Alina Elviana dan Rafael Mahendra menikah karena perjodohan. Namun hati Rafael tak pernah benar‑benar di sini, ia masih menyimpan perasaan pada seseorang di masa lalunya.
Revan Adinata, asisten yang bergabung enam bulan lalu, justru lebih memahami Alina, hadir mengisi kekosongan yang ditinggalkan suaminya. Namun di balik sikap tenang dan setianya, Revan menyimpan rahasia besar yang tak boleh terungkap.
Saat perasaan terlarang mulai tumbuh, Alina harus memilih: bertahan dalam pernikahan yang hampa, atau mengikuti suara hati yang terancam hancur saat kebenaran terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9
"Revan..." Alina mundur setengah langkah. "Kenapa menatapku seperti itu?"
Revan tidak menjawab. Rahangnya justru mengeras. Tanpa kata, ia berjalan mendekat, meraih pergelangan tangan Alina dengan satu genggaman tegas.
"Ikut aku," katanya singkat.
"Revan! Lepas! Mau apa kamu—"
Alina meronta, tapi Revan sudah menuntunnya cepat keluar dari rumah. Ia membuka pintu depan mobil, bukan pintu belakang.
"Masuk," perintahnya pelan tapi tidak bisa dibantah.
"Revan, apa yang kamu—"
"Duduk dulu, Alina."
Dengan sedikit dorongan di punggung, Alina akhirnya terduduk di kursi depan. Sebelum Alina sempat bertanya lagi, pintu dibanting tutup.
Revan masuk ke kursi kemudi dan langsung melajukan mobil keluar gerbang, kencang.
"Revan! Kita mau kemana? Berhenti! Aku bilang berhenti!"
Alina mengguncang gagang pintu, panik. Tapi Revan mengabaikan semua pertanyaan dan rontaannya. Matanya fokus lurus ke depan, ke satu titik, mobil hitam Rafael di depan sana.
"Mobil Rafael belum jauh," gumam Revan pelan, lebih ke dirinya sendiri.
Alina mengikuti arah pandang Revan, dan detik itu juga napasnya tercekat.
Itu mobil suaminya. Yang katanya buru-buru ke kantor. Yang katanya fitting akan di-handle sendiri.
Tapi mobil itu tidak belok ke arah kawasan perkantoran. Mobil itu belok kiri, masuk ke jalan menuju District Residence. Kawasan apartemen.
"Kenapa... kenapa lewat situ?" bisik Alina, suaranya mulai hilang.
Revan tetap diam. Tidak menjelaskan. Ia hanya menjaga jarak, terus membuntuti dari belakang, dua mobil di belakang Rafael agar tidak ketahuan.
Sampai akhirnya mobil hitam itu berhenti tepat di depan pintu lobi gedung apartemen. Satpam membukakan palang drop-off, membiarkan mobil masuk ke pelataran lobi.
Mobil Rafael masuk.
Revan menghentikan mobilnya agak jauh di seberang jalan. Alina tidak perlu diberi tahu lagi. Ia melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.
Rafael turun dari mobil dengan tergesa. Pintu lobi apartemen terbuka, dan seorang wanita keluar berlari kecil menyambutnya, wanita yang Alina lihat di restoran kemarin. Amara.
Amara langsung tersenyum lebar begitu melihat Rafael, dan Rafael mengusap kepala wanita itu lalu membukakan pintu mobil untuknya.
Di dalam mobil, Alina membeku.
"Mereka..." suaranya pecah. "Mereka selingkuh?"
Revan tetap menatap lurus ke lobi apartemen itu. Suaranya tenang. Terlalu tenang.
"Aku tidak bilang mereka selingkuh. Tapi Amara dan Rafael sudah kenal sejak duduk di bangku kuliah," ucap Revan. "Selebihnya, kamu bisa menyimpulkan sendiri."
Alina menoleh cepat ke arah Revan, "Apa maksudmu?"
Revan terdiam sejenak, sudut bibirnya membentuk senyum tipis. Bukan senyum hangat. Senyum yang sudah lama ia tahan selama enam bulan menjadi asisten yang hanya boleh menunduk.
Sejak tiga minggu lalu, saat Amara pertama kali bergabung dengan perusahaan itu, perubahan-perubahan kecil mulai terlihat. Sebagai asisten yang selalu mengawasi jadwal harian Rafael, Revan sudah memperhatikannya diam-diam. Ada hari-hari di mana Rafael tiba-tiba mengubah rencana kerja, pergi sendirian tanpa memberi keterangan ke mana, bahkan beberapa kali ia sendiri yang mengantar-jemput wanita itu pulang ke apartemennya. Hal yang jarang sekali Rafael lakukan untuk siapa pun. Awalnya Revan hanya menganggap itu bagian dari proyek kerjasama yang sedang dijalankan. Namun semakin lama, hal-hal yang tidak masuk akal itu makin bertambah.
"Bukan rahasia lagi bagi saya, bagaimana Tuan Rafael memperlakukannya. Ada perlakuan yang tidak biasa untuk sekedar rekan kerja."
Kalimat itu lebih menyakitkan daripada kata selingkuh.
Alina menatap lagi ke lobi apartemen. Mobil Rafael sudah mulai melaju meninggalkan halaman gedung yang menjulang tinggi itu.
"Revan..." bisik Alina. "Untuk apa kamu menunjukkan semua ini padaku?"
Revan tidak langsung menjawab, pandangannya tertuju ke arah mobil Rafael yang semakin kecil di tengah keramaian, sampai kendaraan itu benar-benar hilang di balik deretan kendaraan lain. Baru setelah itu ia memutar badan perlahan, menatap Alina yang wajahnya sudah pucat pasi, matanya berkaca-kaca tapi tidak ada air mata yang turun.
"Karena aku lelah melihatmu menunggu janji yang tidak akan pernah ditepati," jawabnya dengan nada rendah, tidak ada nada sopan seperti biasanya. "Enam bulan aku melihatmu bangun pagi, menyiapkan segalanya, berharap dia akan berubah padahal hatinya sudah ada di tempat lain sejak sebelum kalian menikah."
Ia menatap ke arah jalan raya yang ramai itu lagi, sebelum kembali menatap wajah Alina.
"Aku tidak berhak memutuskan apa yang harus kamu lakukan. Tapi aku tidak tahan lagi melihatmu menipu dirimu sendiri, Alina."
Revan mencondongkan badan sedikit ke arah Alina, jarak wajah mereka menjadi dekat. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum yang penuh perhitungan, tatapannya tajam namun ada kilasan harapan di dalamnya.
"Jadi… apa kamu mau mempertimbangkan aku?"
Alina tersentak ke belakang, punggungnya menekan pintu mobil. Napasnya memburu, matanya membesar bercampur kaget dan bingung.
"Mempertimbangkan apa?" suaranya bergetar pelan.
Revan berhenti sejenak, matanya menyapu wajah Alina yang tampak rapuh. Ia menunduk sejenak, lalu mengangkat pandangannya kembali ke arah jalan depan.
"Kalau dia bisa menghabiskan waktunya untuk perempuan lain, kenapa kamu harus menghabiskan waktumu untuk menunggu dia sendirian? Alina, malam ini saja... jangan jadi istri Rafael dulu."
-
-
-
Di lantai dua puluh gedung perkantoran, lampu-lampu studio pemotretan baru saja padam satu per satu. Amara melepas gaun pemotretan berwarna perak itu, lalu mengenakan setelan blazer krem yang lebih nyaman di ruang ganti. Rambutnya yang tadinya disisir rapi untuk sesi foto, kini dibiarkan terurai sedikit di bahu. Ia merapikan lipatan blazernya, matanya berbinar penuh harapan.
Begitu siap, ia berjalan menuju lift kaca di ujung lorong, menekan tombol lantai tiga puluh. Pintu lift terbuka perlahan, lalu tertutup kembali saat ia masuk ke dalam.
Sesampainya di lantai tiga puluh, pintu lift terbuka lebar. Amara langsung melangkah cepat menuju pintu ruangan kerja Rafael. Sekretaris yang sedang duduk di meja depan segera berdiri dan mengulurkan tangan untuk menahannya.
"Nona Amara, maaf, Anda tidak bisa masuk tanpa izin langsung dari Tuan Rafael."
Tapi Amara hanya menggeleng pelan, tidak berhenti melangkah.
"Aku hanya ingin menyampaikan hal singkat saja, tidak akan lama," ucapnya sambil terus berjalan mendekati pintu ruangan kerja itu, lalu mengetuk dua kali dan mendorong pintu hingga terbuka.
Rafael sedang duduk di balik meja kerjanya, matanya terkejut saat melihat Amara masuk tanpa izin.
"Amara?" panggilnya pelan. "Ada apa?"
Amara menatap Rafael dengan tatapan yang penuh harapan, suaranya terdengar lembut namun penuh keyakinan.
"Rafael, nanti sore kamu bisa ke apartemenku sebentar? Ada beberapa detail gaun yang mau aku tunjukkan langsung, lebih enak lihatnya di sana."
Rafael berdiri perlahan dari kursinya, melangkah mendekat dan berdiri tepat di depan wanita itu. Wajahnya tampak bercampur ragu dan bersalah.
"Maaf, Amara. Malam ini aku sudah ada janji makan malam dengan Alina. Kami akan merayakan ulang tahun pernikahan kami yang kedua."
Senyum di wajah Amara seketika memudar. Ia terdiam sejenak, tidak langsung menjawab. Jaraknya dengan Rafael tinggal selangkah. Pelan, ia mengangkat tangan, merapikan sedikit lipatan kerah kemeja Rafael yang miring.
Matanya mulai berkaca-kaca.
"Rafael… selama lima tahun ini, apa kamu tidak pernah merindukan aku?"
-
-
-
Bersambung...
Maybe gt🤭
Konfliknya berlapis, bukan cuma soal Alina - Rafael - Revan. Tapi ada 2 bom waktu di sini:
Cinta terlarang Alina & Revan dan rahasia besar Revan.
Rafael sebagai suami yang dingin karena masa lalu, Revan sebagai penyelamat yang tenang dan setia. Kontrasnya dapet. Alina berada di posisi dilema dengan pilihan berat "bertahan dalam pernikahan hampa atau mengikuti suara hati". Itu bukan pilihan mudah. Apalagi ada embel-embel "Di Bawah Kendali Asisten Suami" - yang mengisyaratkan dominasi, posesif. Ini bukan cerita nikah biasa, ini cerita tentang kekosongan yang akhirnya diisi oleh orang yang seharusnya tidak boleh.
cerita kakak luar biasa. semangat berkarya🥰