Nayara tak pernah menyangka, pria yang dinikahinya dengan penuh cinta, justru tega mengkhianatinya.
Adrian berselingkuh, bahkan menghamili wanita lain, di belakang dirinya.
Di tengah luka dan pengkhianatan, hadir seorang pria yang mencintainya.
Rendra, pria yang mencintai Nayara dalam diam dan bersedia memberinya ketulusan, dan cinta yang tak pernah ia dapatkan dari suaminya sendiri.
Kini, Nayara dihadapkan pada pilihan yang menyakitkan: bertahan demi pernikahan yang telah dikhianati atau pergi bersama luka yang belum sembuh.
Sementara itu, ada hati lain yang menunggunya, berharap suatu hari Nayara mampu membuka kembali pintu cintanya.
Namun, ketika Nayara akhirnya menentukan pilihannya, siapa yang akan ia genggam, suami yang mengkhianatinya, atau pria yang mencintainya? Dan akankah Adrian rela kehilangan istri yang selama ini ia sia-siakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21: Semuanya Bukan Kebetulan
____🌺
Nayara diharapkan tetap menjadi istri sah yang menjaga citra keluarga di hadapan masyarakat.
Tidak ada yang bertanya apakah Nayara sanggup menerima semua itu.
Tidak ada yang peduli apakah hatinya masih bisa disembuhkan setelah dikhianati.
Mereka hanya ingin semuanya tetap berjalan sesuai keinginan mereka.
"Mama memintaku menerima anak dari hasil perselingkuhan suamiku sendiri?" tanya Nayara akhirnya. Suaranya lirih, tetapi setiap katanya menelan kekecewaan yang mendalam.
Ia menatap mertuanya dengan mata berkaca-kaca.
"Mama ingin aku tersenyum di depan orang-orang, berpura-pura bahagia mengasuh anak itu, sementara suamiku membiayai perempuan yang sudah menghancurkan rumah tangga ku?"
"Kamu sabar saja, Nayara ..."
Untuk pertama kalinya, nada suara Marissa terdengar sedikit lebih lembut.
"Dalam pernikahan, seorang istri memang harus banyak mengalah. Anggap saja ini ujian. Turunkan sedikit egomu demi keutuhan rumah tangga kalian"
Marissa mengambil cangkir tehnya kembali.
"Pada akhirnya, kamu juga yang akan membesarkan anak itu. Selena tidak akan berani datang mengganggumu lagi kalau semua kebutuhannya sudah Mama penuhi."
Nayara memandangnya dengan tatapan tidak percaya.
Kemudian, ia berdiri. "Aku bukan perempuan bodoh yang bisa disogok, dengan status Nyonya Mahendra, Ma."
Suaranya terdengar lebih tegas daripada sebelumnya.
"Aku menolak. Aku tidak akan membesarkan anak haram, dari hubungan yang telah menghancurkan rumah tanggaku. Dan aku tidak akan sudi lagi menjadi istri dari anak Mama."
"NAYARA!" teriaknya.
Marissa ikut berdiri. Wajah elegannya memerah karena marah. Ia tidak terbiasa dibantah, terlebih oleh perempuan yang sejak awal dianggapnya tidak sepadan dengan keluarga Mahendra.
"Kamu benar-benar keras kepala!" bentaknya. "Keluarga ini sudah memberimu kehidupan yang nyaman! Adrian bahkan masih mau mempertahankan kamu, meskipun kamu belum bisa memberinya keturunan!"
Marissa menunjuk Nayara dengan tajam.
"Seharusnya kamu bersyukur dan mengikuti aturan keluarga ini!"
"Aturan yang sangat kotor!" balasnya.
Nayara tidak lagi berusaha menyembunyikan kemarahannya.
"Mama dan Mas Adrian, tidak punya perasaan! Mama adalah seorang perempuan. Mama seharusnya tahu betapa sakitnya dikhianati seperti ini!"
Suaranya bergetar, tetapi ia tetap melanjutkan.
"Namun, Mama malah menggunakan kehamilan Selena sebagai senjata untuk menekan dan menghinaku. Mama sama sekali tidak peduli dengan perasaanku!"
"Karena kamu memang punya kekurangan," bentak Marissa menggema di ruang keluarga.
"Kamu tidak punya latar belakang keluarga, atau pengusaha yang sepadan dengan kami! Bisnis almarhum ayahmu sudah hancur! Kalau bukan karena pernikahan ini, kamu tidak akan bisa menikmati kehidupan mewah seperti sekarang!"
Nayara terdiam sesaat.
Ucapan itu menusuk bagian dirinya yang selama ini berusaha ia lindungi.
"Jadi, selama ini Mama menganggap ku, tidak lebih dari perempuan miskin yang beruntung karena bisa menikah dengan anak Mama?"
Marissa tidak menjawab.
Bagi Nayara, diamnya sudah cukup menjelaskan semuanya.
"Aku tidak membutuhkan kemewahan dari uang keluarga ini, Ma. Aku bisa bekerja dan mencari uangku sendiri!"
Ia melangkah menjauh dari meja kaca, meninggalkan amplop hasil pemeriksaan kehamilan yang sejak tadi menjadi pusat pembicaraan mereka.
"Aku akan tetap pergi dari Mas Adrian. Mama tidak berhak menentukan hidupku, dan Mama tidak akan bisa menahan ku, selamanya."
Nayara berbalik menuju pintu keluar.
Tak! Tak! Tak!
Namun, sebelum ia sempat melangkah lebih jauh, suara Marissa kembali menghentikannya.
"Kamu pikir Adrian baru berselingkuh darimu enam bulan belakangan ini?"
Tak!
Langkah Nayara terhenti.
Seolah-olah seluruh udara di ruangan itu mendadak menghilang, ia berdiri kaku dengan punggung menghadap ibu mertuanya.
Perlahan, Nayara memutar tubuhnya.
"Apa maksud Mama?"
Marissa tersenyum miring. Ia berjalan memutari meja kaca, kemudian melangkah mendekati Nayara dengan tenang.
"Kamu pikir Selena tiba-tiba muncul lagi dalam kehidupan Adrian hanya karena kebetulan perusahaan mereka mengerjakan proyek yang sama?"
Nayara tidak menjawab. Ia hanya menatap Marissa, menunggu penjelasan yang mulai terasa menakutkan.
"Kamu terlalu lambat menyadarinya, Nayara."
Jantung Nayara berdegup semakin kencang.
"Mama tahu mereka sering bertemu diam-diam?"
"Bukan cuma sering bertemu."
Marissa berhenti tepat di hadapan menantunya.
"Mama tahu mereka sudah kembali menjalin hubungan sejak lama. Bahkan, Mama sendiri yang memastikan perusahaan tempat Selena bekerja memenangkan tender investasi keluarga kita."
Nayara menatapnya dengan wajah pucat.
Marissa melanjutkan dengan nada yang sama tenangnya.
"Mama ingin Selena punya alasan untuk terus bekerja di dekat Adrian. Dengan begitu, mereka bisa kembali dekat tanpa menimbulkan terlalu banyak kecurigaan."
Dunia Nayara seolah berhenti berputar.
Selama ini, Adrian mengatakan bahwa perselingkuhannya terjadi karena tekanan pekerjaan. Selena menggambarkannya sebagai cinta lama yang kembali bersemi.
Namun, pengakuan Marissa membuat semuanya tampak jauh lebih buruk.
Bukan hanya Adrian yang mengkhianatinya.
Bukan hanya Selena yang masuk ke dalam rumah tangganya.
Ibu mertuanya sendiri ternyata mengetahui hubungan itu dan bahkan membantu membuka jalan bagi keduanya.
"Mama ... yang mengatur semuanya?"
Suara Nayara nyaris tidak terdengar. Ia menatap perempuan di hadapannya seakan sedang melihat orang asing.
"Kenapa, Ma?" tanyanya, air mata kembali menggenang di pelupuk mata. "Kenapa Mama tega melakukan ini kepadaku? Kenapa Mama sengaja membiarkan mereka mendekat lagi?"
Marissa berhenti satu langkah di depannya.
Tidak ada rasa bersalah di wajah perempuan itu. Tidak ada pula upaya untuk menyangkal pengakuannya sendiri.
"Nayara," ucapnya pelan, "kamu harus memahami satu hal. Sejak awal, Mama tahu hubungan Adrian dan Selena sudah kembali dekat. Mama bahkan mengetahuinya sebelum kehamilan itu diumumkan."
Nayara merasa lututnya melemah.
Selama ini, ia mengira dirinya adalah istri yang gagal mempertahankan rumah tangganya. Ia menyalahkan dirinya sendiri setiap kali mendengar sindiran tentang keturunan. Ia berusaha memenuhi harapan keluarga Mahendra, berharap suatu hari mereka benar-benar menerimanya.
Ternyata, ketika ia berusaha menjadi menantu yang baik, mereka justru menyembunyikan pengkhianatan di belakangnya.
Marissa tidak hanya mengetahui semuanya.
Perempuan itu telah memilih untuk membiarkannya terjadi.
Dan kini, di hadapan Nayara yang hatinya kembali hancur, Marissa berdiri tanpa sedikit pun menunjukkan penyesalan.
Udara di ruang keluarga itu seolah mendadak menghilang.
Nayara berdiri terpaku di atas lantai marmer yang dingin. Matanya menatap wajah ibu mertuanya tanpa berkedip, berusaha menemukan kebohongan atau setidaknya tanda bahwa perempuan itu sedang melontarkan candaan kejam.
Namun, tidak ada satu pun yang ia temukan.
Marissa justru terlihat begitu tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja mengakui bahwa dirinya ikut membuka jalan bagi perselingkuhan putranya sendiri.
"Mama ... sengaja memasukkan perempuan itu ke dalam proyek perusahaan Mas Adrian?" ulang Nayara.
Suaranya bergetar, tetapi kali ini bukan karena kesedihan semata. Ada amarah yang perlahan membakar dadanya.
"Mama sengaja memberikan jalan supaya Mas Adrian berselingkuh dari istrinya sendiri?"
Marissa berjalan kembali menuju sofa, lalu duduk dengan gerakan anggun. Ia menyilangkan kaki dan meraih cangkir tehnya seolah percakapan mereka tidak lebih dari pembahasan bisnis biasa.
"Jangan menggunakan kata-kata yang terlalu dramatis, Nayara. Mama tidak pernah menyuruh Adrian berselingkuh."
Ia menyesap tehnya sebelum melanjutkan.
"Mama hanya membuka jalan untuk kerja sama bisnis. Perusahaan kita membutuhkan investor, dan kebetulan Selena bekerja di perusahaan yang tepat. Kalau kemudian Adrian merasa nyaman dan kembali menjalin hubungan dengannya, itu pilihan putraku sendiri."
Nayara melangkah mendekati meja kaca. Kali ini, ia tidak lagi berusaha menyembunyikan kemarahannya.
"Mama tahu mereka punya hubungan di masa lalu! Mama tahu Selena adalah mantan pacarnya! Mama juga tahu Mas Adrian sedang sibuk dan tertekan mengurus perusahaan, tetapi Mama justru membawa perempuan itu kembali ke dekatnya!"
Napas Nayara memburu.
"Mama sengaja membiarkan pernikahan anak Mama sendiri hancur!"
"Pernikahan kalian tidak akan hancur kalau kamu tahu bagaimana memposisikan diri sebagai istri!"
Suara Marissa ikut meninggi. Ia meletakkan cangkir tehnya di atas meja dengan kasar.
"Saya hanya ingin putraku bahagia, Nayara! Adrian bekerja keras dari pagi sampai malam. Dia membutuhkan ketenangan, teman diskusi yang memahami urusan bisnis, dan yang paling penting ... dia membutuhkan keturunan!"
Nayara menatapnya dengan tidak percaya.
"Kalau begitu, kenapa Mama repot-repot memintanya menikah denganku dua tahun lalu?!"
Adrian