"""Kalau kakak tidak mau, aku saja yang nikah!""
Safira nekad menawarkan diri sebagai pengganti kakaknya untuk menikahi Arga. Bukan karena cinta, tapi demi bebas dari neraka berkedok rumah.
Seumur hidup, Safira diperlakukan seperti budak oleh keluarganya sehingga ketika Arga datang dengan mobil tua dan pakaian sederhana untuk melamar kakaknya yang matre, Safira tahu ini kesempatannya. Tidak peduli bila keluarganya dan orang-orang menghinanya menikahi pria miskin, yang penting ia bebas!
Tapi, adakah yang bisa menjelaskan mengapa tiba-tiba suaminya dipanggil bos dan mertuanya trending di sosial media?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Bab 08 - Jangan Sentuh Istri Saya
Pesanan kebaya hijau sage itu diambil oleh pelanggan tiga hari kemudian.
Namanya Bu Maya, pemilik salon pengantin kecil yang sering memesan pakaian untuk kliennya. Ia perempuan cerewet, tetapi jujur soal kualitas. Kalau jahitan jelek, ia akan bilang jelek. Kalau bagus, ia akan membayar tepat waktu dan membawa pelanggan baru.
Hari itu Bu Maya memegang kebaya Safira sambil mengangguk berkali-kali.
"Ini rapi sekali, Safa. Bagian pinggangnya jatuh bagus. Klienku pasti suka."
Safira tersenyum lega. "Alhamdulillah kalau cocok."
"Tapi aku mau kasih saran."
"Silakan, Bu."
"Tempatmu ini terlalu masuk gang. Pelanggan baru suka ragu. Kamu harus pindah ke tempat yang lebih kelihatan. Minimal ruko kecil dekat jalan besar."
Safira tertawa pelan. "Doakan saja rezekinya."
"Aku serius. Karyamu sudah pantas masuk pasar yang lebih bagus."
Kata-kata itu mengikuti Safira sampai sore.
Ia menatap workshop kecilnya setelah Bu Maya pergi. Dindingnya mulai kusam. Atap belakang pernah bocor. Kalau hujan terlalu deras, suara air di seng membuat pelanggan harus bicara lebih keras. Tapi di tempat inilah ia bertahan ketika keluarganya tidak menganggap desainnya bernilai.
Pindah tempat.
Ia ingin.
Tentu saja ingin.
Tapi sewa ruko dekat jalan besar di Bandung tidak murah. Apalagi kalau harus membeli mesin tambahan dan mempekerjakan asisten.
Safira sedang menghitung kasar di buku ketika pintu kaca dibuka.
Seorang pria paruh baya masuk. Kemejanya rapi, perutnya sedikit maju, dan senyumnya terlalu percaya diri.
"Mbak Safira?"
"Iya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya Heru. Temannya Bu Maya. Katanya Mbak bisa bikin kebaya cepat."
Safira berdiri. "Tergantung model dan tanggal acaranya, Pak."
Pak Heru melihat sekeliling, lalu matanya berhenti terlalu lama pada Safira.
"Saya mau pesan untuk istri. Tapi istri saya sibuk. Mungkin Mbak bisa ke rumah buat ukur?"
"Bisa, asal istrinya ada dan jadwalnya jelas."
"Kalau malam ini?"
Safira menahan rasa tidak nyaman. "Maaf, malam ini saya tidak bisa."
"Sebentar saja. Saya jemput."
"Tidak perlu, Pak. Kalau Bapak mau, silakan minta istri Bapak menghubungi saya langsung."
Pak Heru tertawa kecil. "Mbak ini hati-hati sekali. Saya bukan orang jahat."
Biasanya orang tidak perlu mengatakan itu kalau memang tidak jahat.
Safira menjaga jarak di balik meja. "Itu prosedur saya, Pak."
Pria itu mendekat. "Nomor pribadi Mbak berapa?"
"Nomor workshop ada di kartu nama."
"Saya mau yang pribadi."
"Sama saja."
Pak Heru mengulurkan tangan, seolah ingin mengambil kartu dari dekat Safira, tetapi jaraknya terlalu dekat. Safira mundur. Lututnya menyentuh kursi.
"Pak, tolong jaga jarak."
"Santai saja. Saya cuma mau lihat contoh kain."
Tangannya bergerak ke arah rak di samping Safira, tetapi tubuhnya menghalangi jalan keluar.
Darah Safira berdesir dingin.
Ia meraih ponsel di meja. Pak Heru melihat, lalu tersenyum.
"Mau telepon siapa? Suami?"
Safira menatapnya.
"Iya."
"Oh, sudah menikah? Sayang sekali."
Kalimat itu membuat perut Safira mual.
Ia menekan nomor Arga.
Panggilan tersambung pada dering kedua.
"Safa?"
Suara Arga membuatnya bisa bernapas.
"Mas, kamu bisa jemput aku sekarang?"
Arga langsung diam sepersekian detik. "Ada apa?"
"Ada pelanggan. Aku tidak nyaman."
Pak Heru tertawa pelan. "Wah, sampai begitu."
Arga mendengar suara itu.
Nada suaranya berubah. "Kunci pintu dari dalam kalau bisa. Saya menuju ke sana."
"Iya."
Safira menutup telepon, lalu berkata kepada Pak Heru, "Suami saya sedang ke sini. Bapak bisa menunggu di luar kalau masih mau konsultasi."
Pak Heru wajahnya berubah. "Saya pelanggan."
"Pelanggan tetap harus sopan."
"Mbak jangan sok jual mahal."
"Silakan keluar, Pak."
Pria itu mendekat lagi. "Kalau suamimu cuma pekerja biasa, jangan merasa punya pelindung besar."
Safira menggenggam gunting kain di meja.
Pintu kaca terbuka keras.
Arga masuk.
Wajahnya tenang. Terlalu tenang.
Bima ada di belakangnya, napas terengah seolah mereka berlari dari parkiran.
"Ada masalah?" tanya Arga.
Pak Heru menoleh, menilai Arga dari kemeja polos dan celana kerjanya. "Anda suaminya?"
"Iya."
"Istri Anda terlalu sensitif. Saya cuma mau pesan baju."
Arga berjalan ke samping Safira. Ia tidak menyentuhnya, tetapi berdiri cukup dekat sehingga tubuhnya menjadi batas.
"Pesan baju tidak perlu memojokkan orang."
"Saya tidak memojokkan."
Bima menunjuk CCTV kecil di sudut ruangan. "Mau kita putar ulang, Pak?"
Safira menoleh. "Itu CCTV mati, Mas."
Bima tersenyum. "Sekarang hidup."
Safira tidak tahu sejak kapan.
Pak Heru ikut kaget.
Arga menatap pria itu. "Anda keluar sekarang. Nomor Anda akan diblokir dari semua kontak usaha istri saya. Kalau masih mengganggu, kami buat laporan."
Pak Heru mencibir. "Laporan? Kamu pikir polisi mau urus hal kecil begini?"
Arga mengambil ponselnya, menekan satu nomor. "Pak Rudi, saya butuh bantuan untuk laporan pelecehan di tempat usaha. Ada rekaman dan saksi."
Pak Heru langsung berubah.
Bima menyilangkan tangan, menikmati.
"Tidak perlu berlebihan," kata Pak Heru.
"Saya yang menentukan perlu atau tidak," jawab Arga.
Pak Heru mundur sambil menggerutu. "Dasar orang kecil belagu."
Arga melangkah sekali.
Pria itu langsung mempercepat langkah keluar.
Pintu tertutup.
Safira baru sadar tangannya gemetar.
Arga menoleh kepadanya. "Kamu terluka?"
"Tidak."
"Dia menyentuhmu?"
"Tidak sempat."
Arga menarik napas panjang. Rahangnya mengeras.
Safira melihat kemarahan yang ia tahan. Bukan kemarahan yang membuat takut. Lebih seperti pagar tinggi yang tiba-tiba dibangun di sekelilingnya.
"Aku baik-baik saja," kata Safira.
"Kamu tidak perlu meyakinkan saya kalau belum baik-baik saja."
Kalimat itu membuat mata Safira panas.
Bima berdeham. "Mbak, maaf. Saya tadi langsung minta orang pasang akses CCTV aktif dari toko sebelah. Besok teknisi datang pasang yang permanen."
"Toko sebelah?"
"Pemilik tokonya kenal... eh, kenal sama teman saya."
Arga menatap Bima.
Bima langsung pura-pura sibuk melihat ponsel.
Safira terlalu lelah untuk bertanya.
Malam itu, Arga tidak langsung membawa Safira pulang. Ia mengajaknya makan soto di warung yang ramai, memastikan ia makan lebih dari tiga suap, lalu mengantar kembali ke rumah.
Di depan pagar kontrakan, Safira akhirnya bicara.
"Mas Arga."
"Hm?"
"Aku tidak mau berhenti kerja hanya karena kejadian tadi."
"Saya tidak pernah meminta itu."
"Aku cuma memastikan."
"Yang perlu diubah bukan pekerjaanmu. Yang perlu diperbaiki adalah keamanan tempat kerjamu."
Safira menatapnya. "Itu butuh biaya."
"Kita cari cara."
"Kita?"
"Iya. Kita."
Safira menunduk, menggenggam tali tas.
"Di rumah Santoso, kalau ada masalah di pekerjaanku, semua bilang itu urusanku."
"Sekarang kamu tidak di sana."
Safira mengangguk pelan.
Besok paginya, saat ia tiba di workshop, pintu gang sudah dipasangi lampu baru. Satpam toko kain di depan menyapanya dan berkata mulai hari ini ia akan ikut mengawasi kalau ada pelanggan aneh. CCTV kecil terpasang di sudut ruangan, tersambung ke ponselnya.
Safira berdiri lama di depan pintu.
Ia tahu Arga melakukan sesuatu.
Ia juga tahu lelaki itu akan mengelak kalau ditanya.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Arga.
`Kalau ada yang membuatmu tidak nyaman, telepon saya. Tidak perlu menunggu sampai takut.`
Safira membaca pesan itu dengan dada hangat.
Lalu ia membalas.
`Terima kasih, Mas. Tapi nanti kita bicarakan biaya CCTV.`
Balasan Arga cepat.
`Istri saya keras kepala.`
Safira tersenyum.
`Suami saya juga.`
Untuk pertama kalinya, kata itu ia tulis tanpa merasa asing.
Sore harinya, seorang ibu dari toko kain depan mampir membawa pisang goreng. Katanya, seluruh gang sudah sepakat kalau ada laki-laki mencurigakan masuk ke workshop Safira, mereka akan pura-pura membeli benang sambil mengawasi.
Safira tertawa malu. "Aduh, Bu. Nanti pelanggan saya kabur karena merasa diawasi satu RT."
"Yang baik tidak akan takut diawasi," jawab ibu itu. "Yang takut ya biasanya memang niatnya aneh."
Kalimat itu sederhana, tetapi menghangatkan hati Safira.
Selama ini, ia sering merasa harus menjaga diri sendirian. Kalau ada pelanggan bicara terlalu dekat, ia yang dianggap terlalu sensitif. Kalau laki-laki bercanda melewati batas, ia yang diminta jangan baper. Hari ini, satu gang kecil yang bahkan bukan keluarganya justru mengerti bahwa rasa tidak nyaman cukup untuk dijadikan alasan bertindak.
Malamnya, ia menceritakan itu kepada Arga.
Arga mendengarkan sambil memotong buah pepaya.
"Bagus," katanya.
"Kamu tidak merasa berlebihan?"
"Tidak. Lingkungan yang baik memang harus membuat perempuan merasa aman."
Safira mengambil potongan pepaya. "Kamu sadar kata-katamu sering membuatku sulit membantah?"
"Saya anggap itu pujian."
"Itu keluhan."
"Keluhan yang terdengar seperti pujian."
Safira melempar biji pepaya kecil ke arahnya. Arga menghindar dengan mudah, lalu untuk pertama kalinya tertawa pelan.
Safira menyukai suara itu lebih dari yang seharusnya.