Monitor medis di sudut kamar VVIP sebuah rumah sakit modern di Manhattan berdetak dengan irama yang semakin lambat. Beep... beep... beep...
Di atas ranjang pesakitan, terbaring sesosok pria tua berusia delapan puluh tahun. Rambutnya telah memutih sepenuhnya, kulitnya mengeriput dimakan usia, namun sorot matanya di balik kacamata baca masih menyiratkan ketajaman yang luar biasa.
Namanya Arthur Sterling.
Di dunia bisnis internasional dan bursa Wall Street, namanya adalah legenda—seorang taipan yang mengendalikan gurita bisnis raksasa dari balik layar, pria yang namanya selalu menghiasi halaman utama majalah Forbes sebagai orang terkaya nomor satu di muka bumi.
Namun, di detik-detik terakhir hidupnya, harta triliunan dolar, gedung-gedung pencakar langit di distrik finansial utama dunia, dan kekuasaan mutlak atas pasar keuangan global terasa tidak ada artinya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars Is Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 — Di Antara Dua Kesempatan
Jumat, 14 Oktober 2016.
Arthur Sterling terbangun beberapa menit sebelum alarm ponselnya berbunyi. Cahaya matahari pagi menyelinap melalui celah tirai apartemennya di Queens, membentuk garis tipis di lantai kayu yang sudah kusam.
Selama beberapa detik, ia hanya berbaring sambil memandangi langit-langit.
Enam puluh tahun pengalaman.
Puluhan perusahaan yang pernah ia bangun, ratusan keputusan investasi, negosiasi bernilai miliaran dolar, dan begitu banyak orang yang datang lalu pergi dalam hidupnya.
Semua itu kini berada di dalam kepala seorang mahasiswa berusia dua puluh tahun.
Arthur mengembuskan napas panjang.
Hari ini bukan hanya tentang uang. Ia akan bertemu Richard Coleman, seorang profesional investasi berpengalaman yang tertarik pada transaksi opsi saham yang baru saja dilakukannya. Pertemuan itu bisa menjadi kesempatan untuk mendapatkan akses ke dunia keuangan yang biasanya tertutup bagi mahasiswa tanpa koneksi.
Namun, Arthur tidak boleh menganggapnya sebagai kemenangan yang sudah pasti.
Di kehidupan sebelumnya, ia telah melihat banyak orang pintar menghancurkan masa depan mereka sendiri karena terlalu percaya diri.
Ia bangkit, mandi, lalu mengenakan kemeja biru muda yang telah disetrika seadanya. Jas yang dimilikinya bukanlah jas mahal, tetapi masih cukup pantas untuk pertemuan bisnis. Setelah memeriksa dompet dan ponselnya, ia duduk di tepi tempat tidur.
Ada satu masalah yang harus diselesaikan terlebih dahulu.
Clara Vance.
Mereka telah berjanji bertemu di perpustakaan kampus pukul empat sore untuk belajar penilaian perusahaan. Sementara itu, Richard menjadwalkan pertemuan di kantornya di Midtown Manhattan pada pukul 16.30.
Keduanya tidak mungkin dilakukan dengan nyaman dalam waktu yang berdekatan, terutama dengan perjalanan dari kampus menuju kantor Richard.
Arthur mengambil ponselnya dan membuka percakapan dengan Clara.
Ia mengetik pesan singkat.
Selamat pagi, Clara. Maaf, apakah kita bisa memajukan sesi belajar hari ini menjadi pukul 14.30? Ada urusan yang baru terjadwal pada sore hari. Kalau waktunya tidak cocok, kita bisa memilih hari lain.
Ia membaca ulang pesan tersebut sebelum mengirimkannya.
Arthur tidak ingin membuat alasan palsu. Namun, ia juga belum merasa perlu menjelaskan bahwa seorang direktur investasi Wall Street ingin bertemu dengannya hanya karena sebuah posisi opsi saham kecil.
Beberapa menit kemudian, balasan Clara muncul.
Pukul 14.30 bisa. Aku juga ingin memeriksa beberapa materi sebelum akhir pekan. Sampai jumpa di perpustakaan.
Arthur tersenyum kecil.
Terima kasih. Sampai jumpa nanti.
Ia meletakkan ponsel, lalu mengambil tasnya.
Satu masalah selesai.
Sekarang ia hanya perlu memastikan bahwa dirinya tidak menyia-nyiakan kesempatan berikutnya.
Di kampus, suasana pagi berlangsung seperti biasa. Mahasiswa berjalan berkelompok sambil membawa kopi, sebagian sibuk menatap layar ponsel, sementara yang lain terburu-buru menuju kelas.
Arthur tiba lebih awal daripada jadwal kuliahnya.
Ia memanfaatkan waktu untuk mengunjungi laboratorium komputer dan memeriksa perkembangan bisnis kecil yang ia jalankan bersama Daniel Brooks.
Mereka belum memiliki perusahaan resmi, apalagi kantor. Untuk saat ini, layanan pemasaran digital mereka hanya berupa kesepakatan sederhana dengan pemilik usaha lokal.
Namun, Arthur tahu bahwa bisnis besar sering kali berawal dari sesuatu yang tidak menarik perhatian siapa pun.
Ia membuka catatan proyek restoran Samuel Carter.
Daniel telah memperbarui informasi bisnis restoran tersebut, merapikan tampilan halaman daringnya, dan menyiapkan rancangan situs sederhana. Arthur sendiri telah menyusun konsep promosi yang berfokus pada pelanggan lokal, jam ramai, serta penawaran makan siang yang mudah dipahami.
Pekerjaan mereka belum sempurna.
Tetapi hasil awalnya cukup menjanjikan.
Arthur mengirim pesan kepada Daniel.
Bagaimana perkembangan halaman restoran Carter? Ada tanggapan baru?
Balasan datang beberapa menit kemudian.
Pemiliknya bilang beberapa orang menelepon setelah melihat pembaruan informasi restoran. Dia belum tahu apakah semuanya berasal dari pekerjaan kita, tetapi dia senang. Aku sedang menyelesaikan rancangan situsnya.
Arthur membaca pesan itu dengan puas.
Ia tidak mengharapkan keajaiban dalam semalam. Pemasaran bukanlah tombol ajaib yang langsung membuat pelanggan berbondong-bondong datang. Mereka membutuhkan data, pengujian, dan waktu untuk mengetahui strategi mana yang benar-benar bekerja.
Namun, tanggapan positif dari pelanggan pertama mereka memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada sekadar beberapa ratus dolar.
Mereka mulai memiliki bukti bahwa layanan mereka berguna.
Dan bukti adalah sesuatu yang bisa dijual kepada pelanggan berikutnya.
Ketika Daniel akhirnya muncul di lorong kampus, ia membawa dua gelas kopi murah.
Satu disodorkannya kepada Arthur.
"Untuk calon taipan Wall Street," katanya sambil menyeringai.
Arthur menerima kopi itu. "Kalau aku menjadi taipan Wall Street, aku akan mengingat bahwa kau pernah membelikanku kopi paling murah di Queens."
"Bagus. Aku akan menyimpan rekamannya dan menagihmu dengan bunga."
Mereka tertawa.
Daniel kemudian menyandarkan bahu ke dinding.
"Jadi, kau benar-benar akan menemui orang dari perusahaan investasi itu?"
"Ya."
"Bagaimana bisa dia tertarik pada investasimu? Aku bahkan tidak tahu kau punya uang untuk berinvestasi."
"Karena aku mengambil risiko yang menurutku memiliki peluang menguntungkan."
Daniel mengerutkan dahi. "Jawabanmu terdengar seperti kalimat dari buku bisnis."
"Kalau begitu, anggap saja aku sedang berusaha terdengar pintar."
"Usahamu berhasil setengah jalan."
Arthur tersenyum, tetapi Daniel segera menjadi lebih serius.
"Kau yakin tidak sedang melakukan sesuatu yang terlalu berisiko?"
Pertanyaan itu membuat Arthur berhenti sejenak.
Daniel tidak mengetahui masa depan yang tersimpan dalam ingatannya. Baginya, Arthur hanyalah seorang mahasiswa yang tiba-tiba berubah menjadi lebih berani dan mulai mengambil keputusan yang tidak biasa.
"Aku tidak yakin," jawab Arthur akhirnya. "Aku hanya punya alasan untuk percaya bahwa risikonya sepadan. Tapi kalau perhitunganku salah, aku bisa kehilangan uang yang kupertaruhkan."
Daniel tampak sedikit terkejut.
"Mendengar kau mengaku bisa salah terasa aneh."
"Kenapa?"
"Karena beberapa hari terakhir kau bertingkah seperti orang yang sudah membaca akhir cerita."
Arthur menahan senyum.
Jika Daniel tahu betapa dekatnya pengamatan itu dengan kenyataan, ia mungkin akan mengira sahabatnya kehilangan akal sehat.
"Aku hanya tidak ingin menghabiskan hidup dengan menunggu sampai semuanya terasa aman," jawab Arthur.
Daniel menatapnya selama beberapa detik sebelum mengangguk.
"Baiklah. Tapi kalau kau mulai kehilangan akal sehat, setidaknya beri tahu aku sebelum kita kehilangan pelanggan restoran."
"Kesepakatan yang adil."
Mereka berpisah untuk mengikuti kelas masing-masing.
Namun, sebelum Daniel pergi, Arthur memanggilnya kembali.
"Dan, setelah proyek Carter selesai, kita perlu membuat daftar sepuluh bisnis lokal yang bisa menjadi calon pelanggan."
"Sepuluh?"
"Sepuluh untuk memulai."
Daniel mengangkat kedua tangannya menyerah.
"Baik. Aku akan membuat daftarnya. Tapi kau yang harus meyakinkan mereka agar mau membayar kita."
"Itu memang tugasku."
Untuk pertama kalinya sejak kembali ke masa lalu, Arthur merasakan sesuatu yang berbeda dari sekadar ambisi.
Ia mulai membangun sesuatu bersama orang lain.
Dan kali ini, ia tidak berniat membiarkan kesibukan mengejar kekayaan membuatnya melupakan orang-orang yang penting baginya.
Pukul 14.30, Arthur tiba di perpustakaan kampus.
Clara sudah menunggunya di meja dekat jendela. Di hadapannya terdapat sebuah buku tentang penilaian perusahaan, beberapa lembar catatan, dan laptop berwarna perak.
Rambut gelapnya jatuh melewati bahu, sementara ekspresinya tampak serius ketika membaca sebuah tabel keuangan.
Arthur berhenti sesaat sebelum mendekat.
Ada sesuatu yang menyakitkan sekaligus menenangkan dari pemandangan itu.
Dalam kehidupan pertamanya, ia pernah membayangkan bagaimana rasanya duduk di hadapan Clara tanpa dihantui rasa rendah diri. Ia membayangkan percakapan sederhana, kesempatan untuk mengenalnya lebih dekat, bahkan kemungkinan bahwa perempuan itu akan tertawa mendengar leluconnya.
Namun, ia terlalu takut untuk mencoba.
Sekarang kesempatan itu berada tepat di hadapannya.
Dan Arthur menyadari bahwa ia tidak boleh memperlakukan Clara sebagai kenangan yang harus direbut kembali. Perempuan di hadapannya adalah seseorang yang sedang menjalani hidupnya sendiri, dengan pikiran, harapan, dan pilihan yang belum Arthur ketahui.
Ia harus mengenalnya lagi.
Bukan sekadar mengulang apa yang pernah hilang.
"Arthur?"
Clara mengangkat kepala ketika menyadari kehadirannya.
"Kau datang tepat waktu."
"Aku berusaha mempertahankan reputasiku sebagai mahasiswa yang dapat dipercaya."
Clara tersenyum. "Kalau begitu, mari kita lihat apakah kemampuan analisismu sama baiknya dengan ketepatan waktumu."
Ia memutar laptop ke arah Arthur.
Di layar terdapat ringkasan keuangan sebuah perusahaan teknologi fiktif untuk latihan kelas mereka. Pendapatan perusahaan meningkat selama dua tahun terakhir, tetapi pengeluarannya tumbuh lebih cepat. Perusahaan itu juga memiliki utang yang cukup besar dan arus kas operasional yang belum stabil.
"Menurutmu, perusahaan ini layak dibeli?" tanya Clara.
Arthur menarik kursi dan duduk di sampingnya.
"Belum cukup informasi."
Clara mengangkat alis. "Jawaban yang aman."
"Jawaban yang jujur. Pertumbuhan pendapatan saja tidak cukup. Kita harus tahu dari mana pertumbuhan itu berasal, berapa biaya untuk mendapatkannya, apakah pelanggan bertahan, dan berapa lama perusahaan bisa bertahan dengan kas yang dimilikinya."
Ia menunjuk angka pada layar.
"Kalau pendapatannya tumbuh karena perusahaan memberikan diskon besar-besaran, kita perlu tahu apakah pelanggan akan tetap membeli ketika diskonnya berakhir. Kalau pengeluaran meningkat karena investasi yang akan menghasilkan pendapatan di masa depan, situasinya berbeda."
Clara menatap tabel tersebut lebih dekat.
"Jadi, kita tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa perusahaan ini buruk hanya karena pengeluarannya besar."
"Tepat. Tetapi kita juga tidak boleh menganggap pengeluaran besar sebagai tanda bahwa perusahaan sedang membangun sesuatu yang hebat. Kita harus mencari bukti."
Clara terdiam sebentar, lalu mencatat sesuatu.
"Kau selalu menjawab seperti ini?"
"Seperti apa?"
"Seolah-olah setiap pertanyaan memiliki tiga pertanyaan lain di belakangnya."
Arthur tertawa pelan.
"Itu mungkin kebiasaan buruk."
"Menurutku, itu justru berguna."
Kalimat sederhana itu membuat Arthur menoleh kepadanya.
Clara tidak sedang merayunya. Ia hanya memberikan pujian kecil kepada teman sekelasnya. Namun, bagi Arthur yang pernah menghabiskan puluhan tahun menyesali kesempatan yang tidak pernah ia ambil, momen itu terasa jauh lebih berarti daripada yang seharusnya.
Ia mengalihkan pandangan kembali ke laptop.
"Bagaimana menurutmu?" tanyanya. "Apa yang harus kita periksa berikutnya?"
Clara menunjuk bagian utang.
"Jatuh tempo kewajiban mereka. Kalau utang jangka pendeknya besar sementara kasnya menipis, mereka mungkin membutuhkan pendanaan baru."
"Bagus. Lalu kita periksa apakah pendanaan baru itu realistis. Perusahaan yang menjanjikan sekalipun bisa mengalami masalah kalau kehabisan uang sebelum rencananya menghasilkan pendapatan."
Mereka melanjutkan diskusi selama hampir satu jam.
Percakapan itu terasa alami. Clara mengajukan pertanyaan, Arthur memberikan pendapat, dan beberapa kali Clara menemukan kelemahan dalam penjelasannya. Arthur tidak keberatan ketika hal itu terjadi. Sebaliknya, ia merasa senang melihat bahwa Clara memiliki ketelitian yang sama seperti yang diingatnya.
Pada satu kesempatan, Clara menyandarkan punggung ke kursi.
"Aku suka cara kita belajar seperti ini," katanya. "Kebanyakan orang hanya ingin tahu jawaban yang benar untuk ujian. Kau malah membuatku memikirkan alasan di balik setiap angka."
Arthur menatapnya.
"Aku juga menyukainya."
Ada banyak hal yang ingin ia katakan. Tentang betapa berharganya kesempatan duduk di sana. Tentang masa depan yang pernah ia jalani tanpa dirinya. Tentang penyesalan yang selama puluhan tahun tidak pernah meninggalkannya.
Namun, tidak satu pun dari hal itu pantas diucapkan sekarang.
Clara tidak berutang apa pun kepadanya.
Jadi, Arthur hanya tersenyum dan kembali membahas catatan mereka.
Ketika jam menunjukkan pukul 15.40, Arthur mulai mengumpulkan buku dan kertasnya.
"Aku harus pergi sebentar lagi," katanya. "Ada pertemuan yang sudah kujadwalkan."
"Tentu." Clara menutup laptop. "Terima kasih untuk sesi belajarnya."
"Seharusnya aku yang berterima kasih. Aku belajar banyak."
Clara terlihat sedikit terkejut, seolah tidak menduga Arthur akan mengatakan hal itu.
"Lain kali kita bisa membahas perusahaan teknologi yang benar-benar ada," usulnya. "Mungkin perusahaan yang sedang berkembang, bukan contoh dari buku."
"Itu ide bagus."
Mereka berjalan bersama menuju pintu perpustakaan.
Sebelum berpisah, Clara memandangnya dengan rasa ingin tahu.
"Arthur, boleh aku bertanya sesuatu?"
"Tentu."
"Kau tampak berbeda dibandingkan awal semester."
Jantung Arthur berdetak sedikit lebih cepat.
"Berbeda bagaimana?"
Clara berpikir sejenak, mencari kata yang tepat.
"Kau lebih percaya diri. Dulu kau sering terlihat ingin mengatakan sesuatu di kelas, tetapi kemudian memilih diam. Sekarang kau tidak ragu mengemukakan pendapat."
Arthur menundukkan kepala sedikit, berpura-pura memikirkan jawabannya.
"Mungkin aku mulai sadar bahwa kesempatan tidak selalu datang dua kali."
Clara tersenyum tipis.
"Kalau begitu, semoga kau terus memanfaatkannya."
Ia melambaikan tangan sebelum berbalik menuju gedung kelas.
Arthur memperhatikannya pergi selama beberapa detik.
Dalam hati, ia mengulang kalimat Clara.
Semoga kau terus memanfaatkannya.
Kali ini, ia akan melakukannya.
Tetapi bukan dengan memaksa masa depan berjalan sesuai keinginannya.
Ia akan memanfaatkan kesempatan untuk mengenal Clara, menjadi seseorang yang layak dipercaya, dan memastikan bahwa ketika bahaya benar-benar datang, ia memiliki kemampuan untuk melindunginya.
Untuk saat ini, itu sudah cukup.
Pukul 16.15, Arthur berada di kereta bawah tanah menuju Midtown Manhattan.
Ia berdiri di antara para pekerja kantoran yang pulang lebih awal dan orang-orang yang masih sibuk memeriksa pesan di ponsel mereka.
Di luar jendela, terowongan gelap sesekali diterangi cahaya lampu yang melintas cepat.
Arthur membuka kembali surel Richard Coleman dan membaca alamat kantor yang tercantum di sana.
Ia telah memikirkan berbagai kemungkinan sepanjang perjalanan.
Richard mungkin hanya ingin mengetahui sumber keyakinannya terhadap perusahaan farmasi tersebut. Ia mungkin juga ingin menilai apakah Arthur memiliki bakat analisis yang tidak biasa. Atau, yang lebih sederhana, Richard mungkin sekadar penasaran mengapa seorang mahasiswa mengambil posisi berisiko pada perusahaan yang jarang dibicarakan investor besar.
Apa pun alasannya, Arthur harus berhati-hati.
Ia tidak bisa menjelaskan bahwa ia mengetahui peristiwa yang belum terjadi.
Ia juga tidak boleh membuat klaim berlebihan tentang kemampuannya.
Pengetahuan masa depan memberinya keunggulan, tetapi keunggulan itu tidak membuatnya kebal terhadap kesalahan. Perusahaan farmasi tersebut masih dapat menghadapi masalah tak terduga, hasil uji klinis bisa mengecewakan, dan harga opsi dapat bergerak melawan posisinya bahkan sebelum kabar yang ia harapkan diumumkan.
Arthur memahami semua itu.
Karena itulah ia membutuhkan modal, bukan hanya uang, melainkan juga reputasi dan akses terhadap informasi yang sah.
Ketika kereta tiba di stasiun yang dituju, ia turun dan berjalan menuju gedung perkantoran tempat Richard bekerja.
Gedung itu tidak setinggi menara-menara terbesar di Manhattan, tetapi cukup mengesankan dibandingkan bangunan-bangunan yang biasa dikunjungi Arthur sebagai mahasiswa.
Ia memasuki lobi, menyebutkan nama Richard kepada petugas resepsionis, lalu menerima kartu pengunjung.
Beberapa menit kemudian, seorang pria berjas abu-abu keluar dari lift.
"Arthur Sterling?"
"Ya."
"Michael Reed." Pria itu mengulurkan tangan. "Saya analis yang bekerja bersama Richard Coleman. Silakan ikut saya."
Arthur menjabat tangannya.
Genggaman Michael tegas, wajahnya profesional, dan tatapannya bergerak singkat menilai penampilan Arthur sebelum kembali netral.
Mereka menaiki lift menuju lantai dua belas.
"Richard sudah membaca beberapa informasi tentang Anda," kata Michael sambil memandang angka lantai yang terus berubah. "Terus terang, kami cukup terkejut ketika mengetahui bahwa Anda masih kuliah."
Arthur tidak tersinggung.
"Itu memang informasi yang paling mudah ditemukan tentang saya."
Michael meliriknya.
"Dan investasi Anda?"
"Posisi pribadi dengan modal terbatas."
"Anda memahami bahwa opsi saham dapat kehilangan seluruh nilainya?"
"Saya memahami risikonya."
"Bagus." Michael kembali memandang pintu lift. "Richard lebih tertarik pada proses berpikir Anda daripada jumlah uang yang Anda investasikan."
Pintu lift terbuka.
Mereka melewati lorong dengan dinding kaca dan beberapa ruang kerja yang dipenuhi layar komputer. Di salah satu ruangan, sejumlah analis sedang membahas laporan keuangan. Di ruangan lain, seseorang berbicara melalui telepon dengan nada serius.
Arthur mengenali suasana itu.
Ia pernah menghabiskan bertahun-tahun di dunia yang jauh lebih besar daripada tempat ini. Namun, ia tidak membiarkan kenangan masa depannya membuatnya meremehkan orang-orang di sekelilingnya.
Setiap perjalanan besar dimulai dari suatu tempat.
Michael berhenti di depan sebuah pintu.
"Silakan masuk. Richard sedang menunggu."
Arthur menarik napas perlahan, merapikan manset kemejanya, lalu mengetuk pintu.
"Masuk," terdengar suara dari dalam.
Ia membuka pintu.
Richard Coleman duduk di belakang meja kerja dengan beberapa lembar dokumen di hadapannya. Pria itu tampak berusia sekitar lima puluh tahun, dengan rambut mulai memutih di pelipis dan sorot mata seseorang yang terbiasa mempertanyakan setiap klaim sebelum mempercayainya.
Richard berdiri dan mengulurkan tangan.
"Arthur. Senang akhirnya bertemu langsung."
"Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk saya."
"Duduklah."
Arthur mengambil tempat di seberang meja.
Richard menyatukan kedua tangannya di atas dokumen.
"Saya akan langsung ke pokok persoalan," katanya. "Anda mengambil posisi opsi pada sebuah perusahaan farmasi kecil. Dari informasi yang tersedia, investasi itu tampak jauh lebih berisiko daripada yang biasanya dipilih oleh seseorang dengan modal terbatas."
Arthur mengangguk.
"Benar."
"Namun, Anda tetap melakukannya."
"Ya."
Richard memandangnya beberapa saat.
"Lalu saya ingin tahu satu hal, Arthur. Apa yang Anda ketahui tentang perusahaan itu yang tidak diketahui oleh sebagian besar investor lain?"
Pertanyaan itu akhirnya tiba.
Arthur menatap Richard dengan tenang.
Ia tidak bisa mengungkapkan kebenaran yang sebenarnya.
Namun, ia juga tidak perlu berbohong.
"Saya tidak bisa memastikan bahwa saya mengetahui sesuatu yang tidak diketahui investor lain," jawabnya. "Yang bisa saya jelaskan adalah alasan saya menilai peluangnya menarik, asumsi yang saya gunakan, dan risiko yang mungkin membuat analisis saya salah."
Untuk pertama kalinya sejak pertemuan dimulai, ekspresi Richard berubah sedikit.
Ia menyandarkan punggung ke kursinya.
"Jawaban yang menarik."
Richard menarik satu lembar dokumen dari tumpukan di hadapannya, lalu meletakkannya di atas meja.
"Kalau begitu, mari kita mulai dari sana. Jelaskan analisis Anda kepada saya."
Arthur memandang dokumen itu, lalu kembali menatap pria di hadapannya.
Di luar jendela, Manhattan berkilau diterpa cahaya matahari sore.
Pertemuan ini bisa menjadi awal dari sesuatu yang besar.
Atau sekadar percakapan singkat yang tidak menghasilkan apa-apa.
Arthur tidak tahu bagaimana akhirnya.
Tetapi untuk pertama kalinya dalam dua kehidupan, ia tidak membutuhkan kepastian untuk mengambil langkah berikutnya.
Ia mulai menjelaskan.