Lin Fan, seorang pekerja kantoran yang tewas karena kelelahan bekerja (tipes dan lembur), bereinkarnasi ke Benua Langit Azure sebagai murid rendahan di Sekte Awan Mengalir. Saat dia bersumpah untuk tidak pernah bekerja keras lagi di kehidupan keduanya, "Sistem Kemunculan Pemalas" aktif. Semakin malas dan santai dia, semakin kuat kultivasinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Seni Mendelegasikan Tugas Tingkat Dewa
Bau hangus bawang putih yang berpadu dengan lemak babi hutan yang terbakar mendadak menyengat hidung, memecahkan keheningan yang mencekik di sudut Dapur Luar Sekte Awan Mengalir. Salah satu murid pelayan di tungku nomor empat rupanya menjatuhkan sutil besinya ke dalam api, terlalu terpaku pada pemandangan di depannya hingga melupakan tumisan dagingnya.
Kepala Koki Wang masih berdiri mematung. Telapak tangannya yang sekasar parutan jahe perlahan turun dari dadanya yang tadi terhantam gelombang Qi. Dia menelan ludah, jakunnya yang besar bergerak naik turun dengan susah payah. Urat-urat ungu di lehernya yang tadi menonjol karena amarah kini perlahan mengempis. Matanya yang sipit dan biasanya memancarkan arogansi seorang penguasa dapur, kini berkedut tak menentu, melirik ke arah tumpukan karung kubis seolah benda itu adalah artefak suci.
Di dunia kultivasi, menerobos tingkat Pemurnian Tubuh memang bukan hal yang langka. Namun, menerobos saat sedang berbaring tidur siang di atas tumpukan sayuran mentah, di tengah omelan yang menggelegar? Itu adalah penghinaan mutlak terhadap akal sehat!
"Kau..." Suara Wang akhirnya keluar, terdengar serak dan tertahan, seperti roda gerobak tua yang kekurangan minyak. Jari telunjuknya yang gemetar terangkat, menunjuk ke arah hidung Lin Fan. "Kau menyembunyikan kultivasimu? Tidak, mustahil. Bakat spiritualmu tidak lebih baik dari seekor cacing tanah. Bagaimana kau..."
Lin Fan menguap begitu lebar hingga air mata terbentuk di sudut matanya. Dia memiringkan kepalanya ke kiri, membiarkan lehernya bersandar nyaman pada karung goni. Tangannya bergerak dengan kelambatan yang memuakkan, mengusap setitik air mata dari sudut matanya, sebelum membalas tatapan Koki Wang dengan sorot mata yang setengah tertutup.
"Koki Wang, dunia ini penuh dengan misteri," gumam Lin Fan, suaranya dihiasi nada malas yang kental. Bahunya merosot ke bawah, benar-benar memancarkan aura seseorang yang otot-ototnya terbuat dari agar-agar cair. "Beberapa orang bermeditasi di bawah air terjun es selama sepuluh tahun untuk menerobos. Saya? Saya menemukan pencerahan dalam pelukan empuk kubis spiritual. Ini disebut harmoni alam semesta. Jangan salahkan saya jika tubuh Anda terlalu kaku untuk memahaminya."
Mendengar kata-kata itu, rahang beberapa murid pelayan di sekitar mereka jatuh semakin rendah. Seorang pemuda kurus kering bernama Zhao Er, yang sedang memegang nampan kayu berisi tahu sutra, tanpa sadar meremas nampan itu begitu erat hingga tahu-tahu di atasnya hancur berantakan menjadi bubur putih yang menetes ke lantai batu. Lutut Zhao Er bergetar hebat. Berani menceramahi Koki Wang tentang 'harmoni alam semesta'? Lin Fan pasti sudah bosan bernapas!
Bibir Koki Wang bergetar hebat. Tangannya mengepal kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih, kuku-kukunya nyaris menusuk telapak tangannya sendiri. Harga dirinya sebagai penguasa Dapur Luar terkoyak, tapi di sisi lain, hukum Sekte Awan Mengalir sangat ketat mengenai potensi murid. Setiap murid yang menunjukkan peningkatan kultivasi, sekecil apa pun, tidak boleh disiksa secara sembarangan hingga bakatnya dinilai oleh tetua.
Wang mendengus keras bak kerbau yang marah. Dia menghentakkan kakinya mundur satu langkah, memutar tubuh gempalnya, dan menendang tong kayu pecah di dekatnya hingga serpihannya terlempar ke dinding.
"Bagus! Sangat bagus!" raung Koki Wang, suaranya memantul di langit-langit dapur yang tertutup jelaga tebal. Wajahnya kembali memerah, tapi kali ini dia menahan diri untuk tidak menyerang. "Kau pikir mencapai Tingkat 2 Pemurnian Tubuh membuatmu menjadi Tuan Muda Sekte Dalam?! Kau tetaplah pelayan dapur rendahan! Pergilah ke meja jagal! Seratus pon daging Babi Hutan Berduri! Potong dadu, ukuran seragam! Jika kau gagal menyelesaikannya dalam waktu dua dupa, aku akan memotong jatah makanmu selama sebulan!"
Tanpa menunggu jawaban, Koki Wang berbalik dan melangkah pergi dengan langkah berat yang membuat lantai dapur bergetar, meninggalkan Lin Fan yang masih berbaring di atas kubis.
Lin Fan menghela napas panjang, sebuah embusan udara yang terdengar seperti ban gerobak yang bocor pelan-pelan. Di dalam benaknya, dia mengingat kehidupan masa lalunya. Dulu, jika bosnya berteriak menyuruhnya merevisi laporan ratusan halaman, dia akan menelan pil pahit, meminum tiga cangkir kopi hitam pekat, dan lembur hingga asam lambungnya naik. Tapi sekarang?
Lembur? Bekerja keras? Bermimpilah.
Dengan gerakan yang sangat enggan, seolah gravitasi bumi tiba-tiba meningkat sepuluh kali lipat khusus untuknya, Lin Fan menyeret tubuhnya bangkit dari tumpukan kubis. Jubah abu-abunya berkerut dan dipenuhi debu tanah, tapi dia bahkan tidak repot-repot menepuknya. Dia berjalan dengan menyeret telapak sepatunya di lantai batu yang berminyak, menghasilkan suara srek-srek yang lambat dan mengganggu ritme kesibukan dapur.
Dia tiba di meja jagal. Di atas talenan kayu oak raksasa yang sudah berwarna kehitaman karena darah yang mengering, teronggok seonggok daging merah gelap sebesar anak sapi. Itu adalah daging Babi Hutan Berduri, monster tingkat rendah yang otot-ototnya sekeras kayu jati. Di sebelah daging itu, tergeletak sebuah pisau daging dari besi hitam yang tebal dan berkarat di bagian gagangnya, beratnya tidak kurang dari dua puluh pon.
Lin Fan menatap daging itu. Matanya berkedip lambat. Dia lalu menatap pisau raksasa itu. Tangannya terangkat sedikit, jari telunjuknya menyentuh gagang pisau, lalu dia menarik tangannya kembali dan menghembuskan napas berat.
"Terlalu berat. Mengangkat pisau ini akan membakar setidaknya lima ratus kalori. Sangat tidak efisien," gumam Lin Fan sendirian, bahunya kembali merosot.
Pada saat itu, suara mekanis yang dingin dan jernih kembali bergema di dalam tengkoraknya.
[Ding! Terdeteksi tugas fisik yang sangat melelahkan dan mengancam prinsip kemalasan absolut Host.]
[Misi Harian Kedua Diperbarui: Selesaikan tugas memotong seratus pon daging Babi Hutan Berduri tanpa Host sendiri yang mengangkat pisau daging. Mendelegasikan adalah seni tertinggi dari kemalasan.]
[Hadiah Misi: Teknik Rahasia 'Langkah Awan Menguap' (Tingkat Dasar), Pengalaman Kultivasi +150]
Sudut bibir Lin Fan berkedut ke atas, membentuk senyuman tipis yang hampir tidak terlihat. Matanya yang sayu tiba-tiba memancarkan kilatan kecerdasan licik yang bersembunyi di balik tirai kemalasan.
Sistem yang luar biasa. Ia benar-benar mengerti esensi dari manajemen sumber daya manusia, pikir Lin Fan sambil terkekeh dalam hati.
Dia memutar kepalanya dengan lambat, pandangannya menyapu area tungku di sekitarnya. Matanya tertuju pada Zhao Er, pemuda kurus yang tadi menghancurkan tahu sutranya dan kini sedang berjongkok di sudut, gemetar ketakutan sambil berusaha mengumpulkan sisa-sisa tahu ke dalam nampan dengan tangan kosong.
Lin Fan menyeret kakinya menghampiri Zhao Er. Berdiri menjulang di atas pemuda yang sedang berjongkok itu, Lin Fan tidak mengatakan apa-apa pada awalnya. Dia hanya memasukkan tangannya ke dalam saku jubah bagian dalam dan, dengan kendali pikiran, mengambil 'Pil Pengumpul Qi Tingkat Rendah' yang dia dapatkan dari misi pertama tadi.
Pil itu bulat sempurna, seukuran kelereng, memancarkan aroma herbal manis yang tipis dan warna hijau kebiruan yang bercahaya redup. Lin Fan melemparkan pil itu ke udara dan menangkapnya dengan mulutnya, mengunyahnya dengan santai seolah itu hanyalah kacang goreng murahan.
Gluk.
Seketika, aliran energi hangat meledak di perutnya. Lin Fan menutup matanya sejenak. Alih-alih duduk bersila dan bermeditasi untuk membimbing energi itu mengalir melalui meridiannya—seperti yang dilakukan kultivator normal mana pun—Lin Fan hanya meregangkan punggungnya sambil berdiri, membiarkan tubuhnya menyerap energi itu secara pasif. Meskipun efisiensinya berkurang, dia terlalu malas untuk berkonsentrasi.
Tiba-tiba, dia bersendawa keras. Sebuah kepulan uap tipis yang mengandung energi spiritual murni keluar dari mulutnya, menyapu wajah Zhao Er yang sedang mendongak menatapnya.
Mata Zhao Er melebar hingga bola matanya nyaris melompat keluar. Hidungnya berkedut liar. "Itu... Saudara Lin... aroma barusan... apakah itu Pil Pengumpul Qi?!" Suara Zhao Er bergetar, tangannya yang berlumuran tahu meremas ujung jubahnya sendiri. Di Dapur Luar, pil seperti itu adalah harta karun yang hanya bisa didapatkan jika mereka memenangkan kompetisi tahunan.
Lin Fan menunduk, menatap Zhao Er dengan mata setengah terpejam. Dia mengusap perutnya yang terasa hangat dan nyaman.
"Adik Zhao," ucap Lin Fan, suaranya sangat pelan, seolah berbicara keras akan membuang energi vitalnya. Dia berjongkok dengan gerakan kaku, menyejajarkan wajahnya dengan Zhao Er. "Apakah kau ingin merasakan bagaimana rasanya Qi mengalir di meridianmu yang kering itu?"
Zhao Er menelan ludah dengan keras. Kepalanya mengangguk patah-patah seperti boneka kayu yang rusuknya ditarik paksa. "Saudara Lin... kau... kau sudah mencapai Tingkat 2. Tolong bimbing aku! Aku sudah terjebak di Tingkat 1 selama lima tahun!"
Senyuman Lin Fan melebar sedikit, meski matanya tetap terlihat mengantuk. Dia menunjuk dengan dagunya ke arah meja jagal raksasa di seberang ruangan.
"Kau lihat daging babi hutan dan pisau raksasa di sana?" tanya Lin Fan, suaranya mengalun seperti bisikan iblis penggoda yang sedang bosan. "Memotong daging monster tingkat rendah bukanlah tugas fisik, Adik Zhao. Itu adalah... latihan spiritual. Ini melatih otot, fokus, dan aliran Qi secara bersamaan. Jika kau memotong daging itu untukku, aku akan mentransfer sedikit aura sisa dari Pil Pengumpul Qi tadi ke dalam tubuhmu untuk merangsang Dantian-mu."
Mata Zhao Er berbinar-binar seperti langit malam yang dipenuhi bintang. Tubuh kurusnya yang tadi gemetar ketakutan kini gemetar karena antisipasi dan kegembiraan. Dia tidak memikirkan logika mengapa Lin Fan tidak memotongnya sendiri jika itu adalah 'latihan spiritual' yang bagus. Pikirannya sudah dibutakan oleh godaan energi spiritual.
"Aku akan melakukannya! Saudara Lin, serahkan padaku!" Zhao Er melompat berdiri dengan kecepatan yang tidak sesuai dengan tubuh kurusnya. Dia membuang nampan tahu yang hancur itu begitu saja ke keranjang sampah, berlari terbirit-birit menuju meja jagal.
Lin Fan mengikuti dari belakang dengan langkah menyeret yang lambat. Setibanya di sana, dia tidak berdiri di samping meja jagal. Alih-alih, Lin Fan menarik sebuah bangku kayu panjang yang biasa digunakan untuk meletakkan karung gandum. Dia menjatuhkan dirinya ke atas bangku itu dengan posisi miring, menyangga kepalanya dengan satu tangan, sementara tangan kirinya menjuntai santai di udara.
"Mulailah, Adik Zhao," perintah Lin Fan dari atas bangku, suaranya bercampur dengan uap napas malas. "Gunakan seluruh tenagamu. Bayangkan pisau itu adalah pedang spiritual, dan daging itu adalah musuh bebuyutanmu."
Zhao Er, dengan wajah memerah karena semangat yang membara, meraih gagang pisau besi hitam seberat dua puluh pon itu dengan kedua tangannya. Otot-otot lengannya yang kurus menonjol keluar, urat-uratnya terlihat jelas. Sambil berteriak parau, dia mengayunkan pisau itu ke atas dan membelah daging Babi Hutan Berduri.
TRANG! CRAT!
Suara keras pisau menghantam talenan kayu disusul muncratan darah merah gelap menggema di sudut dapur itu. Zhao Er terengah-engah, keringat dingin mulai sebesar biji jagung mengucur dari dahinya, tapi dia tidak berhenti. Dia mengangkat pisau itu lagi, matanya menyala-nyala oleh ambisi kultivasi.
Sementara itu, Lin Fan yang berbaring di bangku kayu hanya memutar-mutar sepotong ranting kecil di jari kirinya. Sesekali, dia menguap, benar-benar menutup matanya.
"Ya, tepat sekali, Adik Zhao. Potongan yang lebih kecil," gumam Lin Fan dengan mata terpejam, suaranya mendengung seperti lebah raksasa. "Jaga ritme napasmu. Jangan lupa, rasakan... energi di udara."
Para murid pelayan lain di sekitar meja jagal saling pandang dengan tatapan kosong. Mulut mereka ternganga. Mereka sedang menyaksikan pemandangan paling absurd dalam sejarah Dapur Luar: Seorang murid tingkat dua berbaring santai di bangku kayu, sementara murid tingkat satu yang kurus kering mandi keringat dan darah memotong daging monster seberat seratus pon, dan yang lebih anehnya... murid yang memotong itu terlihat sangat berterima kasih!
Setiap kali Zhao Er memotong puluhan bongkahan daging dan nyaris pingsan kelelahan, Lin Fan akan dengan malas menjentikkan jarinya ke udara, melepaskan seutas tipis Qi tak kasat mata—sisa dari energi pil yang berlebih di tubuhnya yang malas dia cerna—ke arah Zhao Er. Energi tipis itu menerpa wajah Zhao Er seperti angin sejuk di musim panas, membuat pemuda kurus itu kembali segar bugar dan mengayunkan pisau dengan semakin beringas, seolah-olah dia kesurupan.
Waktu berlalu dengan cepat. Tepat sebelum dupa kedua habis terbakar di sudut ruangan, potongan dadu daging babi hutan yang terakhir akhirnya jatuh ke dalam baskom kayu raksasa.
Zhao Er menjatuhkan pisau berdarah itu, tubuhnya ambruk ke lantai batu dengan napas terengah-engah seperti anjing di tengah gurun. Seluruh jubahnya basah kuyup oleh keringat dan noda merah, kedua tangannya gemetar hebat karena kelelahan otot yang ekstrem. Tapi, meskipun wajahnya pucat pasi, senyuman lebar dan puas terpampang di bibirnya. Dia bisa merasakan hawa hangat yang samar mulai terbentuk di Dantian-nya, tanda bahwa dia semakin dekat dengan pencerahan.
Lin Fan membuka matanya perlahan. Dia meregangkan tubuhnya di atas bangku kayu, otot punggungnya berbunyi 'krek' pelan.
[Ding! Misi Harian Kedua Selesai!]
[Mendelegasikan tugas berat tanpa mengeluarkan setetes keringat pun adalah esensi dari seorang Penguasa Pemalas.]
[Menerima Pengalaman Kultivasi +150]
[Menerima Teknik Rahasia: 'Langkah Awan Menguap' (Tingkat Dasar).]
Seketika, gelombang informasi yang rumit tentang teknik pergerakan kaki membanjiri benak Lin Fan. Anehnya, teknik langkah ini tidak mengharuskan pengguna untuk mengerahkan tenaga ledakan. Sebaliknya, teknik ini mengajarkan cara bergerak menggunakan aliran angin terkecil, membiarkan tubuh 'terseret' oleh energi alam tanpa usaha fisik yang berarti. Benar-benar keterampilan yang diciptakan khusus untuk orang yang malas berjalan!
Lin Fan menatap Zhao Er yang terkapar di lantai. Dia mengangguk pelan dengan ekspresi penuh wibawa palsu.
"Kerja bagus, Adik Zhao. Tubuhmu sudah menyerap pelajaran berharga hari ini," kata Lin Fan, suaranya tetap monoton. Dia perlahan menurunkan kakinya dari bangku, bersiap untuk mencari tempat tidur siang yang baru karena bangku kayu ini terlalu keras untuk punggungnya.
Namun, sebelum sepatu Lin Fan menyentuh lantai, suara dentang lonceng perunggu bergema keras dari arah pintu masuk utama Dapur Luar, membelah kebisingan wajan dan kompor seketika.
TENG! TENG! TENG!
Seluruh aktivitas di dapur mendadak terhenti total. Bahkan Kepala Koki Wang, yang sedang mencicipi kaldu di ujung ruangan, langsung meletakkan sendoknya, wajahnya memucat pasi. Tangannya yang besar dengan sigap membersihkan celemeknya yang kotor.
Langkah kaki yang halus dan ritmis, sangat kontras dengan langkah kasar para pelayan dapur, terdengar bergema. Udara di dapur yang semula panas dan pengap, tiba-tiba menjadi dingin, membawa aroma bunga teratai es yang menusuk hidung.
Seorang gadis muda melangkah melewati ambang pintu ganda. Dia mengenakan jubah sutra berwarna biru es yang bersulam awan perak di bagian ujungnya—seragam resmi Murid Inti Sekte Awan Mengalir. Rambut hitamnya dibiarkan tergerai panjang bagai air terjun malam, diikat sebagian dengan pita sutra putih. Wajahnya bak pahatan giok berkualitas tinggi, cantik namun memancarkan aura dingin yang membekukan jiwa, membuat siapa pun tidak berani menatapnya lebih dari sedetik.
Gadis itu berdiri diam, sepasang mata sebiru es yang setajam pedang menyapu seluruh ruangan yang kini sepi senyap. Setiap murid pelayan, termasuk Zhao Er yang setengah mati, segera berlutut dan menundukkan kepala mereka dalam-dalam, tubuh mereka gemetar ketakutan.
Hanya satu orang yang tidak berlutut.
Lin Fan, yang baru saja duduk di tepi bangku kayu, masih mengangkat kakinya setengah jalan ke arah lantai. Dia menatap gadis Murid Inti itu, menguap panjang tanpa repot-repot menutup mulutnya, lalu menyandarkan sikunya kembali ke lututnya sendiri, menopang dagunya dengan tangan.
Mata biru es gadis itu terkunci tepat ke arah Lin Fan. Alisnya yang lentik berkerut tajam, memancarkan niat membunuh tipis yang membuat suhu di sekitar meja jagal anjlok seketika.