seorang gadis muslimah Shafira Azzahra 25 tahun yang taat, tinggal dengan orang tuanya dan seorang adik laki yang masih SMA. Ayahnya seorang tukang bersih di rumah Dave dan ibunya adalah ibu rumah tangga. Dave 30 tahun adalah CEO kaya raya, arogan dan antipati dengan wanita yang berhijab. Pertemuan mereka di perusahaan Dave yaitu Mahesa grup. Shafira adalah karyawan di perusahaan itu di divisi keuangan. Dave diminta untuk mencari istri tapi blm ada yang cocok. Orang tuanya selalu mendesak. Dave tidak terlalu paham agama nya meskipun dia adalah muslim. Karena jarang di ajarkan orng tuanya yang sibuk berbisnis. Dave datang di perusahaan itu untuk menggantikan ayahnya yang sdh ingin istirahat. Sebelumnya Dave memimpin perusahaan di luar negeri. Dave tidak suka melihat karyawannya yg berhijab. Menurut dia semua wanita sama hanya menyukai uang. Dia ingin Shafira menanggalkan hijabnya jika msh ingin bekerja di perusahaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19: Sumpah Palsu di Depan Kamera
Udara pagi di studio televisi swasta itu terasa sangat dingin, sedingin tatapan mata Bu Sarah yang sedang duduk di ruang tunggu VIP. Di hadapannya, Yoga duduk dengan tubuh yang gelisah. Pria itu mengenakan kemeja rapi yang baru saja dibelikan oleh asisten Bu Sarah, namun wajahnya tidak bisa menyembunyikan rasa cemas. Di meja antara mereka, terletak sebuah map berisi naskah yang harus dihafal Yoga, beserta sebuah cek dengan angka nol yang sangat banyak.
"Ingat, Yoga," suara Bu Sarah terdengar seperti desisan ular. "Kau hanya perlu menceritakan betapa sakit hatinya kau saat ditinggalkan oleh Shafira demi ambisinya mengejar posisi di Mahesa Group. Ceritakan bahwa jilbabnya hanyalah tameng untuk menarik perhatian pria-pria kaya yang merasa tertantang untuk 'menaklukkannya'. Jika kau melakukannya dengan baik, utang keluargamu lunas hari ini juga."
Yoga menelan ludah. Ia menatap cek itu, lalu menatap foto Shafira yang terpampang di layar ponselnya. Ia teringat masa-masa kuliah dulu, betapa tulusnya Shafira membantunya dalam penelitian. Namun, desakan ekonomi dan ancaman dari orang-orang Bu Sarah telah mematikan nuraninya. "Saya... saya akan melakukannya, Bu," bisik Yoga pelan.
Di apartemen Dharmawangsa, televisi besar di ruang tamu menyala. Dave, Shafira, Pak Devan, dan Arfan duduk membeku di depan layar. Bu Aminah masih beristirahat di kamar, dan Shafira bersyukur ibunya tidak perlu menyaksikan ini. Namun, ketenangan itu hancur saat wajah Yoga muncul di layar kaca dalam acara bincang-bincang pagi yang memiliki rating tertinggi di negara ini.
"Ya, benar. Saya adalah pria dalam foto yang viral itu," Yoga mulai bicara. Suaranya sedikit bergetar, namun di mata penonton awam, itu tampak seperti getaran emosi karena luka lama. "Nama saya Yoga. Saya dan Shafira Azzahra menjalin hubungan selama hampir tiga tahun saat kuliah. Kami sudah berencana untuk menikah."
Shafira menutup mulutnya dengan tangan. Air mata mulai mengalir deras tanpa suara. Arfan berdiri, tangannya mengepal hingga buku-jarinya memutih. "Dia bohong! Kak, dia bohong besar!" teriak Arfan.
Layar televisi terus menampilkan Yoga yang mulai bercerita lebih dalam. "Shafira berubah sejak dia diterima di Mahesa Group. Dia bilang padaku bahwa jilbab yang dia pakai adalah tiket emasnya. Dia tahu bahwa banyak pria kaya menyukai citra 'gadis baik-baik'. Dia memutuskan saya melalui pesan singkat setelah dia berhasil mendekati CEO-nya, Pak Dave Mahesa. Dia bilang padaku, 'Yoga, cinta tidak bisa membayar cicilan rumah, tapi posisi di samping seorang Mahesa bisa memberikan segalanya'."
"BIADAB!" Pak Devan menggebrak meja makan dengan sangat keras. "Bagaimana mungkin ada pria sekecil itu di dunia ini?"
Dave tidak bersuara. Matanya terkunci pada layar, namun rahangnya mengeras hingga otot-otot di wajahnya menonjol. Ia tidak melihat ke arah televisi sebagai penonton, ia melihatnya sebagai seorang pemburu yang sedang menandai mangsanya. Namun, di sudut hatinya yang terdalam, ia merasakan sakit yang luar biasa melihat Shafira hancur. Gadis di sampingnya itu kini tertunduk, bahunya berguncang hebat. Fitnah itu terlalu rapi, terlalu kejam, dan menyasar tepat pada harga diri yang selama ini ia jaga dengan darah dan air mata.
"Kenapa, Yoga..." bisik Shafira di sela isaknya. "Kenapa kau lakukan ini padaku?"
Dalam sekejap, dunia digital meledak. Narasi yang dibangun Bu Sarah berhasil dengan sempurna. Komentar di media sosial kini berubah menjadi hujatan massal. Tagar #HijabPalsu dan #ShafiraGoldDigger menjadi trending topic. Masyarakat yang tadinya bersimpati pada kasus tabrak lari Pak Rahman, kini berbalik menghujat. Mereka merasa tertipu oleh penampilan religius Shafira.
"Lihatlah, wanita yang pura-pura suci itu ternyata hanya seorang oportunis," tulis salah satu netizen dengan ribuan like.
"Jilbabnya hanya kostum untuk menipu keluarga Mahesa. Kasihan Pak Dave, dia dikelabui oleh wajah polos ini," tulis yang lain.
Di rumah sakit, beberapa wartawan mulai mencoba menerobos ruang ICU tempat Pak Rahman berbaring. Mereka ingin mendapatkan komentar dari keluarga "wanita skandal" tersebut. Keamanan yang disewa Dave harus bekerja ekstra keras untuk menghalau kerumunan yang haus akan sensasi.
Di apartemen, Dave berdiri. Ia mengambil kunci mobilnya dan mengenakan jasnya kembali. "Arfan, jaga kakakmu dan ibumu. Pak Devan, tolong tetap di sini," perintah Dave dengan nada yang sangat dingin dan berwibawa.
"Bapak mau ke mana?" tanya Shafira, wajahnya pucat pasi, matanya sembab.
Dave berhenti di depan pintu. Ia berbalik, menatap Shafira dengan pandangan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata—campuran antara amarah yang meledak dan perlindungan yang mutlak. "Aku akan menjemput kebenaranmu, Shafira. Aku ingin kau tetap di sini, tetaplah bersujud, tetaplah berdoa. Jangan biarkan mereka mengambil kedamaianmu. Biar aku yang menjadi pedangmu hari ini."
"Jangan gunakan kekerasan, Pak Dave. Saya mohon," rintih Shafira.
Dave tersenyum tipis, sebuah senyum yang tampak berbahaya. "Aku tidak butuh kekerasan untuk menghancurkan kebohongan, Shafira. Aku hanya butuh bukti yang tidak bisa dibeli oleh uang ibuku."
Dave meluncur ke kantor pusat Mahesa Group. Ia tahu Yoga masih ada di gedung televisi yang letaknya tak jauh dari sana. Namun, Dave tidak pergi ke stasiun televisi. Ia justru menuju ruang server rahasia di gedung kantornya. Ia menghubungi Rio yang sudah menunggunya dengan wajah tegang.
"Rio, kau sudah dapatkan rekaman pembicaraan di ruang tunggu VIP stasiun TV tadi?" tanya Dave tanpa basa-basi.
"Sudah, Pak. Beruntung asisten Bu Sarah menggunakan salah satu tablet operasional kantor yang sudah saya pasangi keylogger dan akses mikrofon jarak jauh sejak kasus London. Saya punya rekaman suara Bu Sarah saat memberikan instruksi pada Yoga dan menyebutkan nominal cek tersebut."
Dave menatap layar monitor. "Bagus. Dan bagaimana dengan catatan medis ibu Yoga?"
"Sesuai dugaan Bapak. Ibu Yoga didiagnosis menderita gagal ginjal stadium akhir tiga hari lalu. Dia butuh biaya transplantasi segera. Itulah sebabnya Yoga menyerah pada Bu Sarah."
Dave terdiam sejenak. Ada rasa iba yang melintas, namun rasa itu segera tertutup oleh bayangan air mata Shafira. "Rio, siapkan tim hukum. Kita tidak akan merilis ini di media sosial. Kita akan membawanya langsung ke dewan etik pers dan kepolisian atas tuduhan kesaksian palsu dan penyuapan. Tapi sebelum itu... aku ingin bicara empat mata dengan Yoga."
Satu jam kemudian, di sebuah kafe tertutup di belakang gedung televisi, Yoga duduk dengan gemetar. Di depannya, Dave Mahesa duduk dengan tenang, menyesap kopi hitamnya. Dua pria berbadan tegap menjaga pintu keluar.
"Tuan... Tuan Dave, saya... saya hanya mengatakan yang sebenarnya," suara Yoga mencicit.
Dave meletakkan cangkirnya dengan perlahan. Bunyi keramik yang bersentuhan dengan meja terdengar seperti suara vonis di telinga Yoga. Dave kemudian mengeluarkan sebuah alat perekam dan memutar satu bagian suara: "...Ingat Yoga, kau hanya perlu menceritakan betapa sakit hatinya kau... utang keluargamu lunas hari ini juga." Suara Bu Sarah terdengar sangat jelas.
Yoga mendadak lemas. Wajahnya berubah menjadi seputih kertas.
"Aku tahu tentang ibumu, Yoga," ujar Dave pelan. "Aku tahu kau butuh uang untuk menyelamatkannya. Tapi kau mencoba menyelamatkan satu nyawa dengan cara membunuh jiwa orang lain. Kau tahu betapa Shafira sangat menghormatimu sebagai teman?"
Yoga menundukkan kepala, ia mulai menangis tersedu-sedu. "Saya terpaksa, Pak. Saya tidak punya pilihan. Mereka mengancam akan mengeluarkan ibu saya dari rumah sakit jika saya tidak menurut."
Dave condong ke depan, menatap tepat ke manik mata Yoga. "Aku akan memberimu pilihan kedua. Pilihan yang tidak akan membuatmu terbangun setiap malam karena rasa bersalah. Bersihkan nama Shafira di depan publik sore ini juga, ceritakan yang sebenarnya, ceritakan tentang tekanan yang kau terima dari ibuku. Jika kau melakukannya, aku secara pribadi yang akan menanggung seluruh biaya pengobatan ibumu hingga sembuh total di rumah sakit terbaik di Singapura. Dan aku akan memberikan perlindungan hukum padamu dari tuntutan ibuku."
Yoga mendongak, matanya penuh keraguan. "Tapi... Bu Sarah sangat berkuasa. Dia bisa menghancurkan saya."
"Aku adalah Dave Mahesa," ujar Dave dengan nada sombong yang kali ini terasa sangat menenangkan. "Di perusahaan ini, namaku ada di atas namanya. Pilihlah, Yoga. Menjadi pengkhianat yang kaya tapi dihantui dosa, atau menjadi pria sejati yang menyelamatkan ibunya dengan jalan kebenaran."
Sore harinya, badai yang lebih besar kembali menghantam publik. Namun kali ini, arah anginnya berubah 180 derajat. Yoga, melalui sebuah video pernyataan resmi yang didampingi oleh pengacara Dave, membongkar semua skenario Bu Sarah. Ia menunjukkan foto cek yang diberikan dan menceritakan bagaimana ia diancam.
Kejutan ini membuat bursa saham Mahesa Group sempat bergejolak, namun publik justru berbalik mendukung Dave dan Shafira. Citra Shafira sebagai wanita yang terzalimi namun tetap diam dan berserah pada Tuhan justru semakin menguat.
Di apartemen, Shafira menyaksikan video pernyataan Yoga tersebut. Ia jatuh tersungkur di atas sajadahnya, menangis syukur. "Alhamdulillah... Alhamdulillah ya Allah..."
Pintu apartemen terbuka. Dave masuk dengan wajah lelah namun matanya bersinar lega. Ia melihat Shafira yang masih bersimpuh di sajadah. Dave berhenti di ambang pintu, tidak berani mengganggu momen suci itu.
Namun, kedamaian itu kembali terusik. Arfan berlari keluar dari kamar Pak Devan dengan wajah panik. "Kak! Pak Dave! Bapak... denyut jantung Bapak di monitor rumah sakit yang tersambung ke ponselku... angkanya turun drastis! Dokter bilang Bapak kritis!"
Wajah Shafira mendadak pucat. Kebenaran baru saja terungkap, namun maut kini kembali mengetuk pintu.
.