Lucky Caleb adalah definisi kesempurnaan di Berlin—seorang penyanyi dan aktor papan atas dengan kekayaan melimpah dan popularitas yang menggila.
Namun, di balik kemewahan hidupnya, Lucky adalah pria yang terjebak di masa lalu. Kesuksesan lagu-lagu hitsnya sebenarnya merupakan rahasia yang ia simpan bersama Renata Brox, kekasih masa SMA yang juga merupakan penulis lirik di balik jeniusnya musik Lucky.
Tiga tahun lalu, saat mereka berusia 19 tahun, Renata memilih mundur. Muak dengan tekanan industri dan merasa tidak lagi menjadi prioritas di tengah kesibukan Lucky yang egois, Renata menghilang dan memulai hidup baru sebagai mahasiswi hukum yang cerdas di London.
Di tengah kesepian dan kegagalannya untuk move on, Lucky hanya memiliki Freya, asisten pribadinya yang setia. Freya adalah satu-satunya orang yang mampu menghadapi sisi dingin dan manja Lucky, sosok yang mengatur seluruh hidup sang bintang dan menjadi jangkar di tengah badai ketenaran.
Selamat Bacaaaa 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#29
Dunia di luar sana mungkin sedang terbakar. Di Berlin, tajuk berita utama masih memajang wajah Lucky Caleb dengan narasi pengkhianatan di altar yang menggemparkan. Di Los Angeles, spekulasi tentang kemunculan mendadak putri bungsu Montgomery di publik menjadi santapan empuk media bisnis.
Namun, di dalam sebuah rumah bata merah di pinggiran Oxford, deru dunia itu hanyalah suara latar yang tak mampu menembus tebalnya dinding kebahagiaan yang baru saja dibangun kembali.
Lucky Caleb atau kini ia lebih suka dikenal hanya sebagai Lucky—berdiri di ambang pintu kamar mandi yang uap air hangatnya mulai memenuhi ruangan. Aroma sabun bayi yang lembut dan harum kayu manis menyeruak, menciptakan suasana suci yang jauh lebih mewah daripada wangi parfum mahal di pesta-pesta Berlin.
Di dalam sana, sebuah bak mandi plastik berwarna biru penuh dengan busa. Alistair duduk di tengahnya, tertawa cekikikan sambil mencoba menangkap gelembung sabun yang melayang.
"Siap untuk berenang, Al?" tanya Lucky, suaranya rendah dan penuh kehangatan yang tak pernah ia tunjukkan pada mikrofon mana pun.
Alistair mendongak, matanya berbinar. "Dada! Lihat, busanya besar!"
Kata itu. Dada. Lucky merasa jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat sebelum akhirnya meluap dengan haru. Hanya dalam beberapa hari, bocah itu dengan alami mengganti panggilannya.
Lucky berlutut di samping bak mandi, menyingsingkan lengan kemeja putihnya hingga ke siku. Ia tidak peduli jika kain mahalnya basah kuyup. Ia mengambil sebuah handuk kecil, mencelupkannya ke air hangat, dan mulai mengusap punggung kecil Alistair dengan gerakan yang sangat hati-hati.
Gerakannya melambat. Slow-motion. Lucky memandangi setiap inci punggung putranya. Ada tanda lahir kecil di bahu kiri Alistair—persis seperti miliknya. Ia membasuh lengan mungil itu, merasakan tekstur kulit yang begitu halus dan rapuh. Bagi Lucky, memandikan Alistair adalah sebuah ritual penebusan.
Setiap siraman air hangat yang ia tuangkan ke bahu sang anak adalah cara Lucky membasuh lima tahun ketidakhadirannya.
"Dada, kenapa menangis?" Alistair bertanya pelan, tangan kecilnya yang penuh busa menyentuh pipi Lucky.
Lucky tersenyum, meski matanya basah. Ia mencium telapak tangan kecil itu. "Tidak, sayang. Dada hanya sangat bahagia karena airnya hangat."
Dari ambang pintu, Freya berdiri bersandar pada kusen kayu, memandangi pemandangan di depannya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia masih mengenakan gaun rumah sederhana berwarna krem, rambutnya dicepol asal-asalan, menampakkan leher jenjang yang dulu sering menjadi subjek lagu-lagu Lucky.
Lucky menoleh, dan waktu seolah kembali melambat. Ia memandangi istrinya—wanita yang telah melalui badai sendirian demi menjaga benih cinta mereka. Freya tampak jauh lebih cantik di matanya sekarang daripada saat ia menjadi asisten bermasker di Berlin. Ada ketenangan dan otoritas seorang ibu yang terpancar dari wajahnya.
"Kau melakukannya dengan baik, Luck," bisik Freya, melangkah mendekat dan meletakkan tangannya di bahu Lucky yang basah.
Lucky mendongak, menatap mata cokelat Freya yang kini tidak lagi menyimpan rahasia atau ketakutan. "Aku baru menyadari, Frey... selama lima tahun aku menyanyi untuk ribuan orang, tapi tidak ada satu pun tepuk tangan yang sebanding dengan suara tawanya saat terkena air."
Freya berlutut di sisi lain bak mandi, membantu Lucky membilas rambut Alistair yang penuh busa. Tangan mereka bersentuhan di dalam air hangat—sebuah sentuhan sederhana yang membawa arus listrik emosi yang sangat kuat. Mereka bukan lagi bintang pop dan asisten, bukan lagi pelarian dan pewaris. Mereka hanyalah dua orang tua yang sedang membasuh masa depan mereka.
Setelah ritual mandi selesai, Lucky membungkus Alistair dengan handuk tebal bermotif singa. Ia menggendong anaknya, membiarkan kepala Alistair bersandar di ceruk lehernya.
Wangi bayi dan air hangat itu meresap ke dalam pori-pori Lucky, memberikan kedamaian yang selama ini ia cari dalam botol wiski dan sorak-sorai panggung.
Mereka pindah ke kamar tidur Alistair yang bernuansa biru muda. Lucky membaringkan Alistair, memakaikan piyama bersih, sementara Freya menyiapkan susu hangat. Di bawah cahaya lampu tidur yang temaram, Lucky membacakan sebuah buku cerita—bukan dengan nada penyanyi profesional, tapi dengan nada seorang ayah yang ingin memastikan anaknya merasa aman.
Lama-kelamaan, napas Alistair menjadi teratur. Matanya yang jernih perlahan tertutup, jemari kecilnya masih mencengkeram ujung jari telunjuk Lucky.
"Dia sudah tidur," bisik Freya, masuk ke kamar dan berdiri di samping Lucky.
Lucky berdiri perlahan, tidak ingin melepaskan kaitan jemari Alistair, namun akhirnya ia berhasil melepaskannya dengan kecupan lembut di kening sang putra. Ia berbalik dan merengkuh pinggang Freya, menariknya ke dalam pelukan yang sangat erat di tengah kesunyian malam Oxford.
"Terima kasih sudah menjaganya, Frey. Terima kasih sudah tidak menyerah padaku," gumam Lucky di rambut Freya.
Freya membalas pelukan itu, menyandarkan kepalanya di dada bidang Lucky. "Kita memulai hidup baru di sini, Luck. Tanpa lampu kilat, tanpa kontrak agensi, tanpa tekanan Montgomery atau Caleb. Hanya kita."
Lucky memandangi ke luar jendela, ke arah jalanan Oxford yang sepi dan diterangi lampu jalan yang kuning keemasan. Ia tidak peduli jika besok pengacara Allen atau ayahnya menelepon. Ia tidak peduli jika karier musiknya dianggap tamat. Di dalam ruangan ini, ia memiliki semua yang ia butuhkan.
Ia memandangi Freya lagi, mencium bibirnya dengan kelembutan yang menjanjikan masa depan. Malam itu, Lucky Caleb akhirnya memahami arti dari lagu yang ia hapus di Berlin. Ia tidak perlu merekamnya agar dunia tahu. Melodi itu kini hidup dalam detak jantung Alistair dan dalam helaan napas Freya di sampingnya.
Di Oxford, di bawah naungan langit Inggris yang damai, sang dadakan—pria yang baru saja menyadari status ayahnya—telah menemukan panggung sejatinya. Sebuah rumah, sebuah keluarga, dan sebuah cinta yang tidak lagi membutuhkan penyamaran.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰
smngt Thor ceritanya bgus bgt