⚠️Area yang khusus orang besar. ^_^ nak kecil hus hus...
Kisah cinta slow-burn antara siswi petakilan dengan guru muda PJOK yang terlalu cool untuk jadi nyata. Isinya 30% latihan fisik, 70% adu mekanik perasaan.
Mulai dari drama salah kirim stiker WhatsApp ke grup kelas, sampai momen panas di gudang sekolah yang hampir bikin profesionalitas Pak Radit runtuh.
Ini cerita tentang masa transisi jadi dewasa, di mana batas antara guru dan murid cuma sebatas "status" yang siap dihapus setelah hari kelulusan.
"Pak, lari keliling lapangan saya sanggup. Asal finish-nya di pelaminan kita." — Gia, 18 tahun, pejuang remedial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11 (Part 1) Plot Twist dari Neraka
Episode 11: The Judas Kiss & The Lion’s Den
Kalau hidup Gia adalah sebuah playlist Spotify, maka Episode 11 ini adalah lagu yang judulnya ".
...
Gia menatap layar ponselnya dengan tangan yang gemetar hebat. Video CCTV itu... sudut pandangnya pas banget dari ventilasi atas ruang alat olahraga. Siapa pun yang naruh kamera di sana, dia niat banget buat ngebidik momen "hampir khilaf" Pak Radit dan Gia.
"S? Siapa sih S? Siska udah kalah, Sarah udah log out. Terus siapa lagi?!" gumam Gia frustrasi.
Dia ngelirik Caca yang lagi asyik nge-scroll TikTok di depannya. Tiba-tiba, rasa curiga yang nggak enak muncul. Tapi nggak mungkin kan Caca? Caca itu sahabatnya dari zaman masih pakai seragam merah putih yang dekil. Tapi di dunia ini, siapa sih yang bisa dipercaya 100%?
"Gi, lo kenapa? Muka lo kayak habis liat hantu penunggu gudang," tanya Caca sambil nyomot kerupuk putih.
"Ca, gue... gue ada urusan bentar. Lo duluan aja ke kelas ya," kata Gia buru-buru. Dia nggak mau Caca terlibat kalau ini beneran berbahaya.
"Eh, mau kemana? Sebentar lagi bel masuk!"
Gia nggak denger. Dia udah lari menuju gedung lama—area sekolah yang udah jarang dipakai sejak renovasi tahun lalu. Area ini sunyi, berdebu, dan kalau di film horor, ini tempat paling pas buat adegan pembunuhan atau... pemerasan.
...
Gia menaiki tangga besi yang berkarat menuju rooftop. Angin sore bertiup kencang, menerbangkan beberapa lembar kertas bekas yang berserakan. Di ujung atap, berdiri sosok cewek yang membelakanginya. Dia pakai jaket hoodie sekolah yang kebesaran.
"Gue udah dateng. Mana videonya?" teriak Gia, suaranya bergetar kena angin.
Sosok itu berbalik perlahan. Begitu wajahnya terlihat, Gia ngerasa kayak ada yang nyiram air es ke punggungnya.
"Sheila?"
Sheila. Teman sekelas Gia yang pendiam, yang selalu duduk di barisan tengah, yang sering dipinjamin catatan sama Gia. Si cewek introvert yang seolah-olah nggak punya presence di kelas.
"Kaget, Gi?" tanya Sheila. Suaranya nggak lembut lagi kayak biasanya. Ada nada sinis dan dingin yang bikin bulu kuduk Gia merinding.
"Kenapa, Sheil? Gue salah apa sama lo? Kita temenan, kan?" tanya Gia, beneran nggak habis pikir.
Sheila ketawa—tipe tawa yang kering dan pahit. "Temenan? Lo pikir gue seneng jadi bayangan lo terus? Gia yang cantik, Gia yang populer, Gia yang selalu dapet perhatian cowok-cowok... dan sekarang, Gia yang dapet Pak Radit."
Sheila melangkah mendekat. "Lo tau nggak? Gue udah suka sama Pak Radit sejak hari pertama dia masuk. Gue sengaja remedial basket biar bisa deket sama dia, tapi dia malah cuma liatin lo! Lo yang males, lo yang nggak kompeten, lo yang cuma modal liptint!"
"Sheil, cinta nggak bisa dipaksa..."
"Bacot, Gia! Gue nggak butuh ceramah lo!" bentak Sheila. Dia nunjukkin HP-nya. "Video ini... kalau bapaknya Revan liat, Pak Radit bukan cuma dipecat. Dia bisa dipenjara karena dianggap melakukan pelecehan atau tindakan asusila sama murid di lingkungan sekolah. Bayangin skandalnya!"
Gia mengepalkan tangannya. "Lo bilang lo suka sama dia, tapi kenapa lo mau hancurin dia?"
"Kalau gue nggak bisa milikin dia, nggak ada yang boleh milikin dia. Termasuk lo," kata Sheila dengan mata yang berkaca-kaca karena obsesi gila. "Tapi gue masih punya hati. Gue bakal hapus video ini, asal lo lakuin satu hal."
"Apa?"
"Lo harus pindah sekolah. Atau sengaja bikin kasus biar lo dikeluarin. Pokoknya, lo harus hilang dari hidup Pak Radit."
...
Sementara itu, di lantai dua gedung utama, suasana di ruang yayasan jauh lebih dingin daripada di atap.
Pak Radit duduk di kursi kulit di depan meja besar milik Pak Baskoro, bapaknya Revan. Revan sendiri duduk di pojok ruangan dengan muka yang masih lebam dikit dan sorot mata dendam.
"Jadi, Pak Radit," Pak Baskoro memulai, suaranya berat dan berwibawa. Dia memainkan cerutu yang nggak dinyalakan. "Saya denger Anda baru saja mempermalukan anak saya di depan murid-murid lain? Dan Anda menggunakan jabatan Anda buat 'bersaing' memperebutkan seorang siswi?"
Pak Radit menatap Pak Baskoro tanpa rasa takut. "Pertandingan basket itu atas permintaan Revan sendiri, Pak. Dan soal siswi... saya hanya memastikan dia tidak terganggu saat jam pelajaran saya."
"Jangan bohong, Dit!" Revan menyela. "Semua orang tau lo ada main sama Gia! Gue punya bukti-bukti gosip di grup angkatan!"
Pak Radit melirik Revan dengan tatapan meremehkan. "Gosip bukan bukti, Revan. Sebagai anak pemilik yayasan, harusnya kamu lebih cerdas dalam memilah informasi."
Pak Baskoro menggebrak meja. "Cukup! Pak Radit, saya bisa saja memecat Anda sekarang juga. Tapi saya mau denger satu hal. Apakah benar Anda punya hubungan spesial dengan Gianna?"
Pak Radit terdiam sejenak. Dia tau, satu kata yang salah bisa mengakhiri kariernya. Tapi dia juga teringat wajah Gia, semangatnya yang konyol, dan gimana Gia selalu berusaha membelanya.
"Gianna adalah murid yang potensial," kata Pak Radit pelan. "Dan kalau Anda bertanya apakah saya punya perasaan... saya rasa itu bukan urusan yayasan selama saya tetap profesional di dalam kelas."
"Profesional?" Pak Baskoro tertawa sinis. "Saya denger ada video yang bakal segera nyampe ke saya. Video yang nampilin Anda dan Gianna di ruang alat. Kita liat seberapa profesional Anda setelah saya liat video itu."
Jantung Pak Radit berdegup kencang. Video? Siapa yang moto?
.
.
.
.
[To be continued ke Episode Selanjutnya ]
Thor bikin Gia jangan ngejar2 nih guru lagi,Bikin gia cuekin nih guru biar tau rasa dia..