Kanaka kecewa berat mengetahuinya jika kekasih sekaligus suster pribadinya, meninggalkannya demi uang 1 milyar tawaran dari Ayahnya. Sejak dia buta karena kecelakaan 2 tahun yang lalu, Zea begitu tulus menjaganya hingga ia jatuh cinta. Namun cinta tulusnya, kalah dengan uang 1 milyar.
8 tahun berlalu, saat Naka sudah bisa melihat setelah menjalani operasi kornea mata, ia bertemu dengan seorang wanita bernama Zara. Janda dengan satu anak laki-laki itu, memiliki suara yang mirip sekali dengan Zea. Fakta akhirnya terkuak, ia tahu jika Zara ternyata adalah Zea. Kebencian pada wanita itu, membuat Naka membalas dendam dengan cara memisahkan Zea dengan putranya. Ia ingin Zea merasakan kehilangan seperti apa yang ia rasakan dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Nisa mendekati Zea yang tertidur di atas sajadah dengan mukena yang belum dilepas. Ia bersimpuh di sebelahnya lalu mengusap bahunya. Setiap menatap Zea, air matanya selalu menetes, tak tega.
"Ze, bangun, makan dulu. Ze," Nisa menepuk bahu Zea pelan. Saat terbangun mau buang air kecil, ia melihat makanan di bawah tudung saji masih utuh, artinya Zea belum makan malam. Sebenarnya bukan hanya malam, siang Zea juga tidak makan.
Zea menggeliat pelan merasakan ada yang menepuk bahu dan memanggilnya. "Arka... " panggilnya dengan suara lemah. "Arka, kamu sudah pulang Nak," membuka mata, memperhatikan sekeliling, berharap ada Arka disana. Namun harapannya hancur, hanya ada dia dan Nisa di ruangan itu.
Pipi Nisa yang baru diseka, kini kembali basah. Ia membantu Zea duduk. Ia benar-benar tak tega melihat kondisi Zea yang seperti tubuh tanpa nyawa. Dunia ibu mana yang tidak runtuh saat anaknya hilang.
"Mana Arka Mbak?" Zea kembali menelisik ke seluruh ruangaan. Ruang kamar tak terpakai yang ia fungsikan sebagai mushola. "Arka sudah pulangkan? Arka, Arka," panggilnya dengan suara menyayat sambil memegangi dada yang sesak.
Nisa menarik bahu Zea, memeluk adik satu-satunya itu sambil mengusap punggungnya, menyalurkan kekuatan.
"Anakku, Mbak. Anakku dimana?" gumamnya di sela-sela isak tangis. "Malam ini dia tidur dimana? Aku takut dia kedinginan, aku takut dia kelaparan. Arka... " panggilnya dengan suara yang nyaris tak bisa keluar lagi. Tiga hari ini, sepanjang harinya selalu ditemani dengan air mata.
Zea melepas pelukan Nisa, mengambil kaos Arka yang ada di samping sajadah, memeluknya erat. "Arka, pulang Nak, Ibu kangen. Pulang Arka, kita beli sepeda baru."
Tak kuat, Nisa menoleh ke arah lain, menyeka air mata yang semakin deras mengalir.
"Arka... " gumam Zea.
Nisa kembali menatap Zea, menyeka air mata di kedua pipi adiknya. "Kamu hanya sarapan pagi tadi, itupun hanya dua sendok. Ayo kita makan Ze, kamu butuh tenaga untuk mencari Arka. Kamu harus tetap kuat demi Arka."
Dengan sisa-sisa tenaganya, Zea menggeleng pelan. Mana bisa ia makan saat tidak tahu apakah anaknya sudah makan atau belum. Saat ia tidak tahu anaknya tidur beratap dan beralas apa.
Tadi siang, ada secercah harapan yang membuat Zea langsung bersemangat. Seseorang meneleponnya, mengatakan jika Arka bersamanya. Ia langsung meminta alamat, ingin datang bersama Gufron untuk menjemput. Namun orang itu menolak memberi alamat, malah minta transferan uang, katanya untuk ongkos mengantar Arka pulang. Andi yang kebetulan ada disana saat orang itu telepon, langsung melarang Zara, ia yakin itu hanya modus penipuan. Arka tak bersama dia, ia yakin. Terbukti saat diminta untuk video call dengan Arka, orang itu menolak, lalu memutus sambungan.
Polisi juga belum memberi kabar baik hingga 3 hari ini meski sudah mengantongi CCTV di lokasi kejadian. CCTV berada agak jauh dari lokasi, namun masih terlihat meski kurang jelas.
Zara dan keluarganya yang diajak melihat rekaman CCTV, kesemuanya tak ada yang mengenali laki-laki yang membawa Arka pergi. Laki-laki itu membukakan pintu belakang untuk Arka, memintanya masuk lalu kembali ke bagian kemudi. Plat yang dipakai mobil itu palsu, sehingga tak bisa dilacak siapa pemiliknya. Ia yakin, ada seseorang di kursi belakang yang mungkin dikenali Arka, tapi siapa?
Nisa membantu melipat mukena Zea, lalu mengajak adiknya itu ke meja makan. Ada nasi dengan lauk ayam goreng ungkep dan sambel.
Zea mulai memakan ayam ungkep buatan Kakaknya, resep turun temurun dari alm. Sang Ibu yang rasanya masih sama. Sudah sangat lama sekali ia tak masak makanan itu, karena setiap memasaknya, ia akan teringat Naka. Naka sangat menyukai ayam ungkep buatannya.
"Naka," gumam Zea pelan.
Ia tiba-tiba teringat laki-laki itu. Mungkinkah orang yang ada di bangku belakang mobil hitam kemarin, adalah Naka. Dari sikap Naka waktu bersamanya, ia yakin Naka mencurigainya sebagai Zea. Berkali-kali laki-laki itu menyindir soal uang 1 milyar. Tapi kemudian, laki-laki itu pergi begitu saja, seperti tak ada apa-apa. Mungkinkah Naka yang menculik Arka? Mungkinkah dia sudah tahu jika Arka adalah anaknya?
Zea meletakkan sendok, bangkit lalu bergegas ke kamar.
Brakk
Saking tergesa-gesanya, ia sampai menabrak meja, tapi alih-alih mengeluh kesakitan, ia terus saja berlari menuju kamar.
"Ada apa, Ze?" Nisa sampai bingung. Ia ikut meninggalkan meja makan, masuk ke kamar Zea.
Dengan tangan gemetar dan jantung berdebar, Zea menghubungi Naka. Tak peduli ini tengah malam, ia harus bisa bicara dengan Naka malam ini. Panggilan kedua hingga ke 4 masih tidak dijawab, namun pantang baginya menyerah. Ia akan terus melakukan panggilan hingga bisa bicara dengan Naka.
"Kamu nelponin siapa, Ze?" tanya Nisa yang duduk di samping Zea.
"Naka, Mbak."
"Naka?" kening Nisa mengkerut. "Ayahnya Arka?" ia tahu semua cerita soal adiknya. "Kamu punya nomor teleponnya?"
Zea mengangguk, "Minggu lalu, kami bertemu."
"Astaga!" Nisa terkejut, memegangi dada. "Ze, jangan cari masalah lagi dengan keluarga mereka. Kita cari Arka sendiri. Mbak takut kalau Naka tahu Arka anaknya, dia akan mengambil Arka dari kamu."
"Aku malah kepikiran, Naka yang culik Arka, Mbak," menoleh pada Nisa.
Zea terus menelepon Naka, hingga akhirnya, entah panggilan yang keberapa, Naka menjawab panggilannya.
"Hallo."
Suara bariton Nakan membuat jantung Zea langsung berdegup kencang. "Dimana anakku? Dimana Arka?"
Nisa yang di samping Zea ikut tegang, menggenggam sebelah tangan adiknya tersebut.
"Kamu pasti tahu, dimana Arka," ujar Zea dengan suara bergetar.
"Arka? Kenapa kamu bertanya soal anakmu padaku? Apa kita kenal dekat?" di seberang sana, Naka tengah tersenyum simpul. "Bukankah urusan kita sudah selesai. Kita gak saling kenal, hanya ada urusan sedikit soal pesanan es teh, bukan begitu?"
"Naka... " panggil Zea dengan suara rendahnya, suara orang putus asa. Ia berusaha menahan diri untuk tidak menangis. "Tolong jujur padaku, apa kamu yang menculik Arka?"
"Culik?" Naka tertawa. "Ngapain aku nyulik anak kamu. Emang kamu sekaya apa hingga orang menculik anakmu. Kayak yang kamu punya uang 1 milyar buat nebus aja," ia terkekeh pelan. "Gak usah menuduh. Tuduhan tanpa bukti, namanya fitnah. Kalau anakmu hilang, telepon polisi, bikin laporan, jangan telepon aku."
Zea meremat sprei, menarik nafas dalam lalu membuangnya perlahan. Semua jawaban Naka yang tenang dan terkesan mengejek, justru membuat ia semakin yakin Naka pelakunya. Kalau pun Naka tidak mengenalinya, setidaknya akan kaget saat tahu Arka diculik, setidaknya menunjukkan sedikit empati, bukan malah kesannya seperti nyukurin seperti barusan.
"Dimana Arka? Dimana anakku, Naka?" Zea mengiba.
"Aku tidak tahu."
"Naka... aku mohon," Zea terisak. "Arka segalanya bagiku, dia duniaku."
Naka membuang nafas kasar, "Menangislah. Sekarang kamu tahukan, bagaimana rasanya kehilangan orang yang dicintai," telapak tangannya terkepal kuat. "Bagaimana rasanya kehilangan belahan jiwa kamu, Ze? Bagaimana, Ze?" ulangnya sambil menyeringai.
Tangis Zea semakin tumpah.
"Kamu hanya kehilangan Ze, bagaimana dengan aku. Aku kehilangan sekaligus dikhianati dalam waktu bersamaan. Datanglah ke Jakarta jika ingin bertemu dengan Arka."
o...o'o... kycduk kalian....
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
itu sih Aku ya Ze😄🤣