Bram, lelaki yang berperawakan tinggi besar, berwajah dingin, yang berprofesi sebagai penculik orang-orang yang akan memberi imbalan besar untuk tawanan orang yang diculiknya kali ini harus mengalah dengan perasaan cintanya.Ia jatuh cinta dan bergelora dengan tawanannya. Alih-alih menyakiti dan menjadikan tawanannya takut atas kesadisan. Dia malah jatuh cinta dan menodai tawanannya atas nama nafsunya. Ia mengulur waktu agar Belinda tetap jadi sandranya. walaupun harus mengembalikan uang imbalannya dan ancaman dari pembunuh bayaran ketiga, dia tidak peduli. malam itu dia menodai Belinda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CACASTAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MERAJUK
Bram mengambil plester dari kotak obat di tembok.
Belinda masih berdiri menatap Bram dengan wajah kesalnya.
Dia tidak takut sekarang, toh nanti juga akan dibunuh, kenapa takut pikirnya.
Bram, membalut jadinya dengan plester.
Lalu, menarik Belinda ke kasur.
Belinda di letakkan di atas kasur, dicengkeramnya tangan Belinda.
"Kamu pun harus makan adik kecil, kalaupun kamu harus mati nanti di tangan anak buahku!"
"Aku tidak mau mengotori tanganku membunuh gadis manja cengeng seperti kamu!"
"Aku tidak manja!"
"Jangan katakan aku cengeng!"
"Aku sudah bisa merapikan tempat tidurku sendiri!"
"Aku bisa mencuci celana dalamku sendiri sekarang!"
"Hahaha"
Bram tertawa mendengar perkataan Belinda. Anak itu benar-benar lucu. Dia mengutuki dirinya, kenapa sampai harus meladeni anak kecil ini.
Dia berdiri, diambilnya semangkuk bubur yang ada di meja disuruhnya Belinda makan.
Bram memaksa Belinda makan.
Belinda menepis tangan Bram, bubur berceceran di bajunya.
Bram memaksa menyuapinya lagi.
Belinda mengelak, dan tangannya mencoba meraih pistol yang ada di balik kemeja Bram.
Bram terkesiap tidak menduga Belinda akan melakukan itu.
Bram, lalu dengan sigap merampasnya kembali dan menariknya dari tangan Belinda.
Dia lalu berdiri meletakkan pistol di atas lemari.
Dia bergegas berjalan kencang menghampiri Belinda.
Dipaksanya Belinda menyuap makanan yang disendokkannya kembali.
Belinda menangis.
Belinda memukul, mukul badan Bram.
"Kamu lapar bukan, makanlah!"
"Belinda mengunyah makanan sambil terisak.
Air matanya menetes.
Ia memandang wajah Bram, Bram terus menyuapinya makan.
Gilaa, kamu Bram kenapa kamu yang berdarah dingin jadi seperti ini, kalau kaki tangannya melihatnya pasti dia akan menertawakannya.
Belinda makan sesuap demi sesuap.
Bubur yang dengan perlahan disuapi Bram ke mulutnya.
Bram diam saja tidak bergeming.
Matanya memandangi Belinda yang menangis, seperti sedang menangis karena habis dimarahi ayahnya.
Mulutnya mengunyah, tapi hatinya sedih, air matanya menetes.
Bram lalu mengusap air mata Belinda yang menetes itu. Entah setan apa yang membuat pembunuh berdarah dingin itu bisa melunak seperti itu.
Belinda melihat kembali ke arah Bram,
"Paman jangan bunuh aku, yah!" "Pamannn...kasihani aku!" Ujar gadis kecil itu padanya. Belinda memegangi tangan Bram, dia berharap bila dia memohon mungkin Bram akan melepaskannya.
Dia tidak tahu apa motif paman ini dan kaki tangannya menculiknya, dia menduga ada hubungannya dengan jabatan ayahnya.
Daaammmm...gadis ini.
Bram lalu beranjak pergi.
Dia lalu ke luar dari ruangan kamarnya.
"Biarkan gadis itu istirahat!"
"Jangan ada yang masuk!"
"Siap bos!"
....
sepeninggal Bram, Belinda bangun.
Ia meminum segelas air di atas meja.
Dia lalu berjalan ke sekeliling kamar Bram.
Tidak satupun foto di sana.
Ada beberapa buku di atas lemari genre filsafat dan politik di sana.
Belinda berjalan ke arah kamar mandinya ada sebuah bak besar dan sebuah meja kecil ada baku di atas meja itu.
Belinda membacanya.
Buku itu berjudul "Keluarga Kecil" paman itu suka membaca sepertinya.
Beberapa buku ada yang memiliki tanda sudah dibaca halamannya.
Belinda keluar dari kamar mandi lalu kembali tidur di atas tempat tidur.
Belinda agak pusing sepertinya. Dia lalu memejamkan matanya. Rasa kantuk menghinggapinya. Selama empat jam Belinda akhirnya tertidur. Sinar Matahari menerobos masuk dari balik jendela yang tertutup tirainya, namun jendela yang menghadap kelaut dibiarkan tidak tertutup tirai.
minim eksplore gestur, ekspresi, mimik.... jadi pembaca ga bisa membayangkan emosi karakter dan mengenal sifat karakter.
itu seperti membaca cepat tanpa jeda
tidak ada internal monolog yang menguatkan karakterisasi
deskripsi malah lebih menonjol di bagian 'itu' padahal sebagai pembaca aku lebih pengen kenal karakterisasi...
maap kak kalau nda berkenan 🙏
sama chapter ini perlu double check typo 😆