NovelToon NovelToon
CINTA DI TEPI DOSA

CINTA DI TEPI DOSA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dosen / Balas Dendam
Popularitas:628
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Nazwa Adzira Putri, atau sering di panggil Zira, adalah seorang wanita yang dulunya berselimut cahaya. Dengan nama pena Nana, dia menginspirasi banyak orang dengan kata-katanya yang bijak dan agamanya yang kuat. Namun, kebenaran pahit tentang ayahnya - seorang yang mengkhianati ibunya dengan perselingkuhan, merobek tirai kesucian itu. Luka itu membawanya ke jurang kegelapan, meninggalkan hijab dan agamanya, dan masuk ke dunia malam yang gelap. Tapi, di tengah-tengah badai itu, ada secercah harapan. Nathan Fernandez, anak kyai yang sholeh dan dingin, menjadi sosok yang menarik perhatiannya. Mata teduh dan menenangkan itu menjadi tempat pelariannya, dan tanpa disadari, cinta mulai tumbuh, membawa harapan baru di tengah-tengah kegelapan. Penasaran dengan kelanjutan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 Bayang - bayang Masalah Lalu

Sesampainya di rumah Nathan, Umi Aisyah mengajak Aryan dan Zira masuk dengan hangat. "Ayok masuk nak, Zira, Aryan," ajak Umi Aisyah sambil tersenyum.

Di ruang tamu, mereka berbincang-bincang. Umi Aisyah meminta maaf karena rumahnya sederhana, "Maaf yah umi, hanya punya ini, biasa rumah anak cowok yang masih lajang jadi gak ada makanan." Zira menjawab dengan senyum, "Tidak apa-apa umi."

Umi Aisyah kemudian bertanya kepada Aryan, "Aryan ini kelas berapa?" Aryan menjawab, "Aryan kelas 3 SMP umi." Umi Aisyah tersenyum, "Brati kakak kelas Putri dong, Putri kelas 2, umi dengar kamu di ajar ngaji sama Bang Nathan?" Aryan mengangguk, "Iyah umi, Aryan belajar ngaji sama Gus Nathan."

Tiba-tiba, Nathan pulang dan menyapa uminya, "Assalamualaikum umi." Umi Aisyah menjawab, "Waalaikumsalam, kamu dah pulang nak, umi gak papa, untung ada nak Zira yang nolong umi."

Nathan tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada Zira, "Alhamdulillah kalau baik-baik saja. Terima kasih sudah menolong umi dan Putri." Zira merasa sedikit gugup, tapi senang karena bisa membantu.

Hari semakin sore, Zira dan Aryan berpamitan ke Umi Aisyah untuk pulang. "Umi, zira sama Aryan pulang dulu yah, udah sore nanti mama nyariin," ucap Zira. Umi Aisyah menjawab, "Yaudah hati-hati yah, atau mau di anter Nathan?" Zira menolak, "Ndak usah usah umi, barang kali Pa Nathan cape baru pulang."

Sebelum pulang, Nathan memberikan undangan pengajian ke Zira. "Hari Minggu datang yah, ini tanda ucapan terima kasih ku karna sudah menolong umi dan putri," ucap Nathan. Zira menerima undangan itu dan berjanji akan hadir.

Hari Minggu pun tiba, Nathan, Umi Aisyah, dan Putri berangkat ke rumah Zira. Sesampainya di rumah Zira, mereka disambut dengan hangat oleh Mama Sarah. Setelah itu, mereka berangkat ke masjid untuk pengajian.

Di masjid, ada seorang anak yang merupakan fans Nana dan memanggil Zira dengan sebutan Nana. Zira tersenyum dan menjawab, "Maaf saya bukan Nana, salah orang." Gadis itu tidak percaya dan meminta foto bersama Zira. Zira akhirnya setuju dan mengambil foto bersama gadis itu.

Nathan bingung dan mengingat saat pertama kali bertemu dengan Nana. "Kak, ternyata masih ada yang kenal kakak," ucap Aryan tidak sengaja di dengar Nathan. "Maksudnya apa yah?" Tanya Nathan. "Hmm, maksud Aryan nama nya sama kayak saya, Gus kan nama depan saya Nazhwa, dari kecil Aryan manggil saya kakak Nana, dia kaget ternyata ada yang manggil nama tersebut. Padahal kan beda orang," jelas Zira.

Ketika masuk ke dalam masjid, Zira tidak sengaja bertemu dengan Maura, mantan asistennya dulu. "Assalamualaikum Tante Sarah," sapa Maura. "Waalaikumsalam, lama gak bertemu Ra gimana kabar mu?," ucap Mama Sarah. "Alhamdulillah sehat Tan, hm na aku seneng kamu kembali ke pengajian," ucap Maura sambil melirik ke Zira.

Zira mengisyaratkan kepada Maura untuk tidak mengungkap kebenarannya. "Maksud saya dulu saya teman pengajian zira, sekarang zira jarang ke pengajian gitu," jelas Maura. "Hmm iya diajak umi Aisyah," jawab Zira.

"Saya masuk dulu, assalamualaikum," ucap Gus Nathan, meninggalkan Zira yang masih berhadapan dengan Maura.

Salah satu jamaah kajian Gus Nathan menyapa Umi Aisyah dengan hangat, "Assalamualaikum umi." Umi Aisyah menjawab dengan senyum, "Waalaikumsalam, Bu." Jamaah tersebut kemudian bertanya, "Ini calonnya Gus Nathan yah?" sambil melirik ke arah Zira, membuat Zira merasa malu-malu.

Umi Aisyah menjawab dengan santai, "Doakan saja Bu." Jamaah itu tidak berhenti di situ, dia melanjutkan, "Padahal ingin saya jodohkan Gus Nathan sama anak saya yang lulusan Kairo umi."

Gus Nathan yang mendengar proposal jodoh itu langsung, "Maaf Bu, saya belum siap untuk menikah." Umi Aisyah dan jamaah tersebut terkejut, tapi tidak memaksa. Jamaah itu menjawab, "Oh, tidak apa-apa Gus. Semoga saja anak saya bisa menemukan jodoh yang tepat." Gus Nathan tersenyum, "Amin, Bu. Terima kasih atas perhatiannya."

Zira yang mendengar percakapan itu merasa sedikit lega, tapi juga merasa aneh dengan reaksi Gus Nathan. Umi Aisyah kemudian berkata, "Yaudah Bu, kita doakan saja yang terbaik untuk Gus Nathan." Gus Nathan tersenyum, "Assalamualaikum, Bu. Saya masuk dulu." Jamaah itu menjawab, "Waalaikumsalam, Gus."

Gus Nathan kemudian berjalan ke arah Zira dan berbisik, "Kamu gak apa-apa kan? ." Zira tersenyum, "Gak apa-apa, Gus. Saya biasa aja." Gus Nathan tersenyum kembali, "Yaudah, jangan berdiri di tengah² jalan kasian yang mau masuk." Ucap Gus Nathan tanpa melihat ke Zira langsung pergi begitu, Zira pun sadar jika dirinya berdiri di tengah² jalan malu sendiri.

Acara pengajian pun selesai, banyak yang minta foto Gus Nathan. Setelah selesai, mereka mampir di restoran untuk makan siang. Pesanan pun sudah datang, "Dek, tolong ambil kan telur dong." Ucap Gus Nathan. "Kak Zira, bisa ambil telur buat Bang Nathan, aku lagi gak mood." Ucap Putri. "Masih marah soal kemarin hm? Yaudah Abang minta maaf." Ucap Gus Nathan.

"Ini Gus, telor nya." Ucap Zira. "Terimakasih." Jawab Gus Nathan. "Kalau umi lihat kalian berdua berasa seperti sepasang suami istri, sudah cocok tau." Ucap Umi Aisyah. "Iyah bener jeng." Jawab Mama Sarah.

Gus Nathan dan Zira saling menatap, merasa sedikit aneh dengan komentar Umi Aisyah dan Mama Sarah. Mereka berdua tidak tahu apa yang harus dikatakan, hanya bisa tersenyum dan melanjutkan makan.

Mereka berdua merasa sedikit gugup, tapi juga merasa nyaman dengan kehadiran masing-masing. Gus Nathan kemudian bertanya, "Kamu gak ikut kajian lagi?" Zira menjawab, "Gak, aku jarang ikut sekarang."

Gus Nathan tersenyum, "Kamu harus ikut lagi, biar gak ketinggalan." Zira tersenyum kembali, "Iyah, aku coba deh." Mereka berdua melanjutkan makan, sambil berbincang-bincang tentang kajian dan kehidupan sehari-hari.

Umi Aisyah dan Mama Sarah saling menatap, merasa senang melihat Gus Nathan dan Zira yang semakin akrab. Mereka berdua berharap agar Gus Nathan dan Zira bisa menemukan jodoh yang tepat. Amin.

Setelah selesai makan siang, Gus Nathan mengantar Mama Sarah dan Zira ke rumah mereka. Sesampainya di rumah, Zira langsung berlari ke kamar, meninggalkan Mama Sarah yang masih berbincang dengan Gus Nathan di ruang tamu.

Di kamar, Zira langsung mengambil ponselnya dan melakukan vidio call ke Aliya dan Zita. Mereka berdua menjawab panggilan itu dengan senyum, "Halo Zi, ada apa?" tanya Aliya.

Zira langsung menceritakan semua yang terjadi hari ini, mulai dari pertemuan dengan jamaah kajian Gus Nathan yang ingin menjodohkan Gus Nathan dengan anaknya, hingga komentar Umi Aisyah dan Mama Sarah yang membuat mereka berdua merasa seperti sepasang suami istri.

Aliya dan Zita mendengarkan cerita Zira dengan sangat antusias, mereka berdua merasa ikut senang dengan apa yang dialami oleh Zira. "Wah, Zir kayaknya kamu, kamu akan menang tantangan kali deh" ucap Zita.

Aliya menambahkan, "Iyah, bener banget! Kami tunggu kabar baiknya zir" Zira tersenyum, merasa sedikit gugup dengan ide itu. "Aku gak tahu, semoga aku berhasil dan mendapatkan tas Gucci dan mobil Lamborghini."

Zita menjawab, "haishhh, pikiran mu itu muluh deh gak ada kah sedikit perasaan untuk pa Nathan hm?." Aliya menambahkan, "Iyah, bener banget! Siapa tau kalian berdua berjodoh."

Zira tersenyum, merasa sedikit lebih percaya diri dengan ide itu. "Aku coba deh, thanks ya, guys!" Aliya dan Zita menjawab, "Yaudah, Zi. Semoga aja berhasil!"

Setelah selesai berbicara dengan Aliya dan Zita, Zira merasa sedikit lebih tenang dan siap untuk menghadapi apa pun yang akan terjadi. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi dia siap untuk menantang diri sendiri.

Gus Nathan yang masih di ruang tamu, merasa sedikit aneh dengan Zira yang langsung berlari ke kamar. Dia bertanya kepada Mama Sarah, "Apa yang terjadi dengan Zira, kok langsung ke kamar?" Mama Sarah tersenyum, "Gak apa-apa, Nathan. Zira mungkin cuma butuh waktu sendiri."

Gus Nathan mengangguk, "Ooh, yaudah. Aku pulang dulu, ya, Bu." Mama Sarah menjawab, "Yaudah, Nathan. Hati-hati di jalan, ya." Gus Nathan tersenyum, "Iyah, Bu. Assalamualaikum." Mama Sarah menjawab, "Waalaikumsalam, Nathan."

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!