NovelToon NovelToon
Aku, Kamu,Dan Duniamu Yang Lain

Aku, Kamu,Dan Duniamu Yang Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:375
Nilai: 5
Nama Author: firsty aulia

Sora Kalani menghabiskan hidupnya di antara detak mesin jam, menunggu satu detik di mana Ezrael Vance akan menoleh ke arahnya. Namun bagi Ezra, Sora hanyalah pelabuhan tenang tempatnya bersandar sebelum ia kembali berlayar mengejar Liora—balerina yang menjadi pusat dunianya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon firsty aulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: Gema dari Seberang Samudra ​

​Langkah Sora terhenti di anak tangga besi ketiga. Getaran di saku mantelnya terasa begitu intens, seolah-olah benda mati itu sedang berusaha menarik perhatiannya dengan paksa. Di depannya, Hael menoleh, matanya menyipit tajam menatap saku mantel Sora yang masih berpendar redup di balik kain.

​"Jangan," ucap Hael pendek. Suaranya dingin, lebih dingin dari angin malam yang menerpa wajah mereka. "Satu menit yang lalu kamu meninggalkan koin itu sebagai tanda kebebasanmu. Jangan biarkan getaran itu menarikmu kembali ke dasar jurang."

​Sora menarik napas panjang. Ia ingin mengabaikannya, sungguh. Namun, nuraninya berbisik bahwa panggilan dari nomor internasional di jam sekecil ini biasanya bukan membawa kabar baik. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia merogoh saku dan mengeluarkan ponselnya. Layar itu menampilkan nama yang selama sepuluh tahun ini menjadi pusat gravitasinya: Ezra Vance.

​Sora menekan ikon pesan suara. Ia tidak menempelkan ponsel itu ke telinga, melainkan menyalakannya melalui pengeras suara agar Hael juga bisa mendengar—sebuah bentuk kejujuran pahit bahwa ia tidak punya rahasia lagi.

​Suara statis terdengar sejenak, disusul oleh kebisingan latar belakang yang kacau—suara sirine ambulans yang melengking jauh, teriakan dalam bahasa Prancis yang panik, dan napas yang terengah-engah dari seberang sana.

​"Ra... Sora... tolong jawab..." Suara Ezra terdengar pecah. Tidak ada lagi nada percaya diri sang konduktor hebat di sana. Yang ada hanyalah kerapuhan seorang pria yang dunianya baru saja runtuh. "Liora... dia menghilang dari rumah sakit di Paris tadi pagi. Dia meninggalkan pesan pamit yang mengerikan. Aku baru tahu kalau dia ternyata tidak benar-benar pulang ke Jakarta untuk berobat, dia hanya ingin menjauh dariku... Sora, tolong aku... Dia bilang dia ingin kembali ke 'satu-satunya tempat di mana waktu berhenti'. Hanya kamu yang tahu tempat itu, Ra. Tolong cari dia... Aku mohon..."

​Rekaman itu berakhir dengan suara isak tangis tertahan sebelum sambungan terputus.

​Sora mematung. Ponsel di tangannya hampir saja terjatuh jika ia tidak segera mencengkeramnya erat. "Tempat di mana waktu berhenti," bisik Sora pelan.

​Hael mendengus kasar, ia melangkah mendekat hingga bayangannya menutupi Sora. "Dia memintamu menjadi detektif untuk wanita yang merampas kebahagiaanmu? Ezra Vance benar-benar pria paling egois yang pernah aku kenal. Dia tahu kamu akan selalu bilang 'ya', maka dia memanfaatkan kelemahanmu itu sebagai layanan daruratnya."

​"Hael, ini tentang nyawa orang," Sora menatap Hael dengan mata berkaca-kaca. "Liora pernah bercerita padaku bertahun-tahun lalu, tentang sebuah rumah tua di pinggir sungai dekat mercusuar. Tempat itu adalah bengkel jam kakeknya yang sudah roboh. Dia bilang, jika suatu saat dia tidak bisa menari lagi, dia ingin 'berhenti' di sana."

​"Dan kamu akan pergi?" Hael mencengkeram lengan mantel Sora. "Setelah semua yang kita bicarakan di atas sana? Setelah kamu meninggalkan koin itu?"

​"Aku tidak pergi untuk Ezra, Hael!" teriak Sora, suaranya bergema di antara struktur besi gedung. "Aku pergi karena aku tidak bisa membiarkan seseorang mati hanya karena aku ingin merasa bebas. Jika aku membiarkannya, maka aku tidak lebih baik dari mereka yang egois."

​Hael menatap Sora lama, mencari kebohongan di matanya. Akhirnya, ia melepaskan cengkeramannya dan menghela napas panjang, mengeluarkan uap putih dari mulutnya. "Naik ke mobil. Aku yang setir."

​Sora tertegun. "Kamu mau membantuku?"

​"Aku tidak membantumu mencari Liora," sahut Hael sambil berjalan menuju jipnya dengan langkah besar. "Aku hanya memastikan bahwa setelah kamu menemukan wanita itu, kamu tidak akan membiarkan dirimu hancur lagi saat Ezra menelepon untuk berterima kasih. Aku akan menjadi saksi bahwa ini adalah terakhir kalinya kamu menjadi 'jangkar' untuk mereka."

​Di dalam mobil, kesunyian terasa mencekam. Sora terus menatap layar ponselnya. Satu pesan teks masuk lagi dari Ezra.

Ezra Vance: Sora, kumohon. Aku sudah memesan tiket pulang pertama pagi ini. Jaga dia sampai aku datang. Aku berutang nyawa padamu.

​Sora mematikan ponselnya. Ia tidak membalas. Ia menyadari satu hal; mesin jam di dadanya memang sudah berhenti berdetak untuk cinta yang mengemis. Sekarang, ia bergerak bukan karena putaran kunci Ezra, melainkan karena tanggung jawab moralnya sebagai manusia.

​Jip Hael melaju membelah kegelapan menuju pinggiran kota yang berkabut, menuju sebuah rumah tua di pinggir sungai di mana waktu benar-benar telah berhenti, dan di mana Sora akan menghadapi ujian terakhir untuk benar-benar merelakan masa lalunya.

​"Hael," panggil Sora saat mobil melaju kencang.

​"Hmm?"

​"Kenapa kamu tetap membantuku meskipun kamu membenci situasi ini?"

​Hael tetap menatap lurus ke jalanan yang gelap. "Karena aku ingin melihat momen di mana kamu akhirnya berjalan membelakangi mereka tanpa menoleh lagi. Dan aku ingin berada di sana saat itu terjadi."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!