NovelToon NovelToon
Satu Menit Sebelum Mahkota

Satu Menit Sebelum Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Istana/Kuno / Cinta Terlarang
Popularitas:871
Nilai: 5
Nama Author: Ike Diva

Arlo Valerius muak menjadi pangeran. Baginya, mahkota adalah beban dan perjodohannya dengan Putri Helena adalah penjara. Namun, di Sayap Utara istana yang berdebu, ia menemukan dunianya: Kalea Elara, gadis tukang cat yang bicaranya setajam silet.

Di antara debu kapur dan rahasia istana, Arlo belajar tentang kejujuran yang tak pernah ada di balik gaun sutra. Namun, saat Helena mulai mengancam nyawa Kalea, Arlo harus memilih: Tetap menjadi pangeran yang sempurna, atau meruntuhkan tahtanya demi gadis yang ia cintai.

Satu menit sebelum penobatan, Arlo memilih untuk kehilangan segalanya demi satu detik kenyataan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21

Ada sebuah jenis kesunyian yang jauh lebih bising daripada suara ribuan terompet perang. Ia adalah kesunyian yang merayap di sela-sela napas manusia yang sedang menunggu nasibnya diputuskan. Tiga hari mungkin terdengar singkat bagi mereka yang sedang menikmati liburan musim panas, namun bagi seseorang yang sedang menghitung detik menuju kemungkinan kepalanya dipenggal atau tanahnya diratakan, tiga hari adalah keabadian yang menyiksa. Di Aethelgard, waktu tidak lagi diukur dengan perputaran jarum jam di menara kota, melainkan dengan seberapa tajam setiap pria mengasah ujung tombaknya dan seberapa banyak air mata yang diseka oleh para wanita di balik pintu rumah mereka yang terkunci rapat.

 Arlo Valerius duduk di atas balok kayu besar yang melintang di tengah Sayap Utara. Ia tidak lagi peduli dengan debu yang menempel di celana katunnya atau bau keringat yang sudah menjadi aroma tubuhnya sehari-hari. Tangannya yang sekarang penuh dengan kapalan kasar sedang memegang sebuah batu asah kecil. Ia menggosokkan batu itu pada permukaan linggis besinya yang sudah mulai menajam di bagian ujung. Srek. Srek. Srek. Suara itu ritmis, menyatu dengan suara-suara serupa dari seluruh penjuru barak pekerja.

 Ia berhenti sejenak, menyeka peluh yang mengalir dari pelipisnya hingga ke dagu. Arlo menatap telapak tangannya. Noda semen biru tua yang ia dapatkan kemarin masih membekas di sela-sela kukunya, sebuah tato alami yang ia dapatkan dari kejujuran kerja keras. Di istana, ia mungkin memiliki sepuluh pelayan hanya untuk memastikan kukunya bersih. Di sini, noda ini adalah tanda bahwa ia masih memiliki nyawa yang layak untuk diperjuangkan.

 Arlo merogoh saku kemejanya, menyentuh kain kusam yang membungkus koin perunggu pemberian Kalea. Kehangatan dari logam kecil itu seolah-olah memberinya kekuatan untuk tetap menegakkan punggung meskipun otot-ototnya memprotes karena kelelahan yang luar biasa. Ia teringat bagaimana Kalea dulu berdiri di tempat yang sama, mungkin dengan kekhawatiran yang sama tentang masa depan, namun tetap mampu memoles batu dengan keanggunan yang luar biasa.

 "Kau tidak akan bisa memenangkan perang hanya dengan linggis, Arlo."

 Suara itu datang dari bayangan pilar besar di sebelah kiri. Jenderal Marcus melangkah maju, jubah merahnya tampak kusam di bawah cahaya lampu minyak yang berkedip-kedip. Ia tidak lagi memakai baju zirah lengkapnya, hanya pakaian dalam militer berwarna hitam yang memperlihatkan tubuhnya yang masih tegap meski sudah dimakan usia. Marcus berhenti di depan Arlo, matanya menyisir kerumunan pekerja yang sedang sibuk mempersiapkan barikade di kejauhan.

 Arlo tidak segera menjawab. Ia kembali menggosok linggisnya, membiarkan percikan api kecil muncul saat besi bertemu dengan batu asah. "Aku tidak sedang mencoba memenangkan perang, Marcus. Aku sedang mencoba mempertahankan apa yang sudah seharusnya menjadi milik mereka. Kadang-kadang, satu linggis yang digerakkan oleh harga diri lebih berbahaya daripada seribu pedang yang digerakkan oleh perintah."

 Marcus duduk di samping Arlo, bahunya yang lebar tampak sedikit merosot. Ia menghela napas panjang, sebuah napas yang sarat dengan beban berat. "Raja mengurung diri di kamarnya sejak kau menolak ekstradisi itu. Beliau memerintahkanku untuk menyerahkanmu dengan cara apa pun jika pasukan Vandellia benar-benar terlihat di cakrawala. Beliau takut, Arlo. Sangat takut."

 Arlo menoleh, menatap mata Jenderal yang telah menjadi mentornya sejak kecil. "Dan kau? Apa yang kau takutkan, Marcus?"

 Marcus terdiam cukup lama. Ia mengambil sebuah kerikil kecil dari lantai dan melemparkannya ke kegelapan lorong. "Aku takut aku harus memilih antara sumpah setiaku pada tahta dan apa yang aku lihat benar di depan mataku sekarang. Aku melatihmu untuk menjadi raja yang kuat, Arlo. Tapi aku tidak pernah menyangka kau akan menjadi pemimpin dengan cara... seperti ini."

 "Cara yang membuatmu harus bersembunyi dari rajamu sendiri?" Arlo tersenyum tipis, sebuah senyum yang pahit.

 "Cara yang membuatku menyadari bahwa istana itu sebenarnya sudah runtuh jauh sebelum kau membacakan dekritmu," Marcus menepuk bahu Arlo. "Aku sudah menempatkan beberapa pengintai di jalur perbatasan. Jika pasukan Vandellia bergerak, kita akan tahu dua jam sebelum mereka sampai. Tapi Helena... dia licik. Dia tidak akan hanya menyerang dari depan."

 Arlo teringat ancaman Helena tentang "darah rakyat". Ia tahu wanita itu tidak akan ragu untuk membakar pemukiman pekerja hanya untuk memancingnya keluar. Ia berdiri, meletakkan linggisnya di samping balok kayu, lalu mengajak Marcus berjalan menuju sudut aula yang lebih tersembunyi.

 Di sana, Mandor Thomas sudah menunggu dengan sebuah peta besar yang dibentangkan di atas meja kerja kayu yang penuh dengan noda cat. Thomas mengangguk hormat pada Marcus, meskipun ada sedikit keraguan di matanya. Baginya, Marcus tetaplah bagian dari institusi yang menindas mereka, namun keberpihakan sang Jenderal kemarin telah memberi mereka sedikit ruang untuk bernapas.

 "Jalur bawah tanah sudah siap, Arlo," bisik Thomas sambil menunjuk garis-garis merah pada peta. "Kami sudah memperkuat penyangga di lorong pembuangan lama. Anak-anak dan wanita akan dipindahkan ke sana malam ini juga. Jika terjadi sesuatu, mereka bisa mencapai pantai dalam waktu tiga puluh menit."

 Arlo mencondongkan tubuhnya di atas peta, jemarinya menunjuk ke arah dermaga nelayan. "Bagaimana dengan utusan yang kukirim ke Solandis? Apakah ada kabar?"

 "Dia sudah berangkat dua jam yang lalu dengan perahu nelayan terkecil yang kita miliki," jawab Thomas pelan. "Dia membawa surat darimu. Tapi perjalanannya berisiko. Kapal patroli Vandellia mulai menutup jalur laut utama. Jika dia tertangkap..."

 "Dia tidak akan tertangkap," potong Arlo, suaranya penuh dengan keyakinan yang ia paksakan sendiri. "Dia adalah anak nelayan yang paling tahu setiap celah karang di laut ini. Dia akan sampai sebelum matahari terbit besok."

 Marcus memperhatikan peta itu dengan saksama. Ia menyadari bahwa strategi Arlo bukan untuk menyerang balik, melainkan untuk melakukan evakuasi massa besar-besaran sambil melakukan pertahanan statis di gerbang Sayap Utara. Sebuah strategi yang sangat berisiko, namun satu-satunya yang masuk akal bagi pasukan yang hanya terdiri dari buruh bangunan.

 "Kau berencana mengosongkan tempat ini saat mereka masuk?" tanya Marcus.

 "Aku berencana membiarkan Helena masuk ke sebuah aula kosong yang sudah dipasangi jebakan debu kapur," Arlo menjawab, matanya berkilat di bawah cahaya lampu. "Dia ingin Aethelgard yang indah? Aku akan memberikannya Aethelgard yang paling berdebu yang pernah dia lihat. Begitu mereka masuk, kita akan menutup semua akses dari dalam dan keluar melalui jalur bawah tanah. Mereka akan terjebak di sini sementara kita sudah berada di pelabuhan untuk mengamankan kapal-kapal rakyat."

 Marcus menggelengkan kepala, terkesan dengan kenekatan rencana itu. "Kau benar-benar sudah belajar banyak dari tukang cat itu, ya? Cara menggunakan lingkungan sebagai senjata."

 Arlo tidak menjawab, namun wajahnya sedikit melunak saat mendengar sebutan "tukang cat itu". Pikirannya melayang pada Kalea. Ia membayangkan apa yang akan dikatakan gadis itu jika melihatnya sekarang—berlumuran debu, merencanakan perang gerilya di aula yang seharusnya mereka hias. Kalea mungkin akan menyebutnya pangeran bodoh lagi, namun kali ini mungkin dengan nada yang berbeda.

 Malam itu, proses evakuasi dimulai. Arlo berdiri di depan gerbang lorong bawah tanah, membantu para ibu menggendong anak-anak mereka menuruni tangga batu yang gelap. Ia melihat wajah-wajah yang lelah namun penuh kepercayaan. Seorang anak kecil sempat berhenti di depannya, menyerahkan sebuah ukiran batu kecil berbentuk singa yang sangat sederhana—sebuah mainan yang dibuat dari sisa-sisa batu renovasi.

 "Untuk Tuan Pangeran, agar singanya tidak sedih lagi," bisik anak itu dengan polos.

 Arlo menerima mainan batu itu, tenggorokannya terasa tersumbat oleh emosi yang menyesakkan. Ia membungkuk, menatap mata anak itu. "Terima kasih. Aku akan menjaga singa ini sebaik mungkin."

 Setelah gerbang lorong ditutup dan dikunci dari dalam, Sayap Utara menjadi sangat sunyi. Hanya tersisa sekitar tiga ratus pria dewasa yang memilih untuk tinggal bersama Arlo untuk melakukan pertahanan terakhir. Mereka duduk berkelompok di sekitar api unggun kecil yang dibuat dari potongan kayu bekas perancah. Tidak ada suara tawa. Yang ada hanyalah suara asahan besi dan doa-doa pendek yang diucapkan dalam hati.

 Arlo berjalan berkeliling, menyalami satu per satu pekerjanya. Ia tidak lagi memberikan pidato kepahlawanan yang muluk. Ia hanya menepuk bahu mereka, menanyakan kondisi keluarga mereka, dan memastikan setiap orang memiliki pasokan air yang cukup. Kehadirannya di antara mereka, dengan pakaian yang sama kusamnya, memberikan dampak psikologis yang jauh lebih besar daripada seribu perintah kerajaan.

 Saat ia sampai di barak paling ujung, ia menemukan Jenderal Marcus sedang duduk sendirian, menatap pedang tuanya yang ia letakkan di pangkuan.

 "Kau tidak harus tinggal di sini, Marcus," ucap Arlo, duduk di samping sang Jenderal. "Kau masih bisa kembali ke istana utama. Raja butuh seseorang untuk menjaganya jika segalanya memburuk."

 Marcus tidak segera menoleh. Ia mengusap bilah pedangnya dengan kain bersih. "Aku sudah cukup lama menjaga sebuah bangunan yang kosong, Arlo. Malam ini, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku merasa sedang menjaga sesuatu yang punya nyawa. Aku tetap di sini."

 Arlo mengangguk kecil. Kehadiran Marcus di sisinya adalah satu-satunya hal yang membuatnya merasa sedikit lebih tenang. Marcus adalah simbol dari masa lalunya yang kini bersatu dengan masa depannya.

 "Tidurlah, Arlo," perintah Marcus pelan. "Besok adalah hari kedua. Helena mungkin akan mulai melakukan intimidasi psikologis. Kau butuh pikiran yang jernih."

 Arlo mengikuti saran itu. Ia kembali ke dipan kayunya di Sayap Utara. Ia berbaring, menatap langit-langit aula yang kini penuh dengan bayangan-bayangan gelap dari perancah besi yang belum dilepas. Ia meraba mainan singa batu di sakunya, lalu menggenggam koin perunggu Kalea di tangannya yang lain.

 Di luar sana, angin malam bertiup kencang, membawa aroma badai yang sedang mendekat dari arah laut. Arlo tahu bahwa Helena mungkin sedang duduk di dalam tenda mewahnya di perbatasan, merencanakan bagaimana cara paling menyakitkan untuk menghancurkannya. Ia juga tahu ayahnya mungkin sedang menangis di balik gorden sutranya, meratapi hilangnya masa depan yang ia rancang.

 Tapi di dalam aula yang sunyi dan berdebu ini, Arlo Valerius merasa sangat siap.

 Ia tidak lagi takut pada kehilangan. Ia tidak lagi takut pada kemiskinan. Karena ia telah menemukan bahwa di balik setiap retakan dinding, ada kekuatan yang tidak bisa dihancurkan oleh ribuan pasukan bersenjata. Kekuatan itu bernama kejujuran, dan malam ini, kejujuran itu sedang beristirahat bersamanya di bawah atap yang hampir runtuh.

 Tiba-tiba, suara kepakan sayap terdengar dari arah jendela atas. Seekor burung merpati mendarat di ambang jendela batu. Arlo segera bangkit, jantungnya berdegup kencang. Ia memanjat tangga kayu dengan cepat untuk mengambil burung itu.

 Tidak ada pesan tertulis kali ini. Hanya ada sebuah pita biru kecil yang diikatkan di kaki burung itu—pita yang sama dengan yang digunakan para pelaut Solandis untuk menandai kapal yang akan segera berlabuh.

 Arlo memejamkan mata, menempelkan pita itu ke bibirnya. Pesan itu sudah sampai. Kalea tahu. Bantuan mungkin sedang dalam perjalanan, atau setidaknya, Kalea sedang mendoakannya dari seberang laut.

 "Tunggu aku, Kalea," bisik Arlo di tengah kesunyian malam. "Aku akan meruntuhkan seluruh dunia kebohongan ini sebelum mereka sempat menyentuhmu."

 Arlo kembali ke dipannya, namun kali ini ia tidak memejamkan mata. Ia menatap kegelapan, menunggu datangnya fajar hari kedua. Fajar yang akan membawa mereka selangkah lebih dekat menuju badai, namun juga selangkah lebih dekat menuju kebebasan yang sesungguhnya.

 Hari pertama telah berlalu, dan Aethelgard sedang bergetar di bawah beban takdir yang mulai bergeser. Arlo Valerius, sang pria tanpa mahkota, kini benar-benar telah menjadi retakan yang paling nyata dalam sejarah kerajaannya sendiri. Dan ia tidak akan berhenti sampai seluruh bangunan kebohongan ini runtuh dan menyisakan tanah yang benar-benar jujur bagi rakyatnya.

 Tidur Arlo akhirnya datang di saat fajar hampir menyingsing, diiringi oleh suara debu kapur yang jatuh perlahan dari langit-langit, seperti salju yang memberikan kedamaian di tengah persiapan perang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!