NovelToon NovelToon
Fall In Love With My Lil Sister

Fall In Love With My Lil Sister

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Kehidupan di Kantor / Romantis / Saudara palsu / Rumah Tangga
Popularitas:748
Nilai: 5
Nama Author: Soju Kimchizz

Entah sejak kapan Alessia tumbuh menjadi gadis cantik mempesona. Sepuluh tahun menjaganya sebagai adik, ia baru menyadari debaran jantungnya yang tak karuan. Nathaniel sang anak angkat mulai mendambakan adik angkatnya. Adik yang keluarganya telah menyelamatkan Nathaniel dari jurang keterpurukan. Pantaskah Nathaniel bersanding dengan adiknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pria dari Masa Lalu

Lampu restoran yang temaram seolah berputar di mata Alessia. Gelas wine yang tadi ia banggakan kini sudah kosong, namun dampaknya jauh lebih besar dari yang ia duga. Kepala Alessia terkulai lemas, dan gumaman tidak jelas mulai keluar dari bibirnya yang kemerahan sebelum akhirnya ia benar-benar terlelap di atas meja makan yang mewah itu.

Nathaniel menghela napas panjang, namun kali ini tidak ada nada kesal. Hanya ada kelembutan yang ia simpan rapat-rapat dari dunia luar.

Ia berdiri, meletakkan beberapa lembar uang di atas meja, lalu dengan sigap menyampirkan tas tangan Alessia di bahunya. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah sedang membawa porselen paling berharga di dunia, Nathaniel mengangkat tubuh mungil Alessia dan menggendongnya di punggung.

Langkah kaki Nathaniel terasa mantap menyusuri koridor hotel yang sunyi. Ini adalah posisi yang sangat familiar bagi mereka, namun sudah bertahun-tahun tidak pernah terulang. Di masa lalu, ia sering melakukan ini saat Alessia kecil kelelahan bermain di taman belakang rumah Sinclair. Hanya ada dua orang yang pernah merasakan punggung kokoh Nathaniel: adiknya yang telah tiada, dan gadis di punggungnya saat ini.

Orang-orang di kantor mungkin mengenalnya sebagai "Mesin Tanpa Perasaan" atau "Algojo Berdarah Dingin", namun mereka tidak tahu bahwa pria kaku ini adalah orang yang sama yang akan terjaga semalaman jika Alessia jatuh sakit saat William sedang di luar negeri.

Sesampainya di kamar hotel Alessia, Nathaniel meletakkannya di atas ranjang dengan sangat perlahan. Ia melepas sepatu Alessia dan menyelimutinya hingga sebatas dada.

Nathaniel tidak langsung pergi. Ia berdiri di sisi ranjang, membiarkan matanya menatap wajah tenang Alessia di bawah cahaya lampu tidur yang kuning redup. Riasan tipisnya masih sempurna, namun gurat kelelahan setelah seharian bertarung di dunia bisnis terlihat jelas.

"Kapan kamu tumbuh sedewasa ini, Alessia?" bisik Nathaniel lirih, hampir tak terdengar.

Ia teringat saat pertama kali William membawanya ke rumah, Alessia adalah gadis kecil yang menangis karena es krimnya jatuh. Kini, gadis itu sudah bisa berdiri tegak di depan Tuan Choi dan berbicara soal klausul kontrak dengan tajam.

Ada rasa bangga yang menyesakkan dada, namun di saat yang sama, ada ketakutan yang mulai tumbuh. Semakin dewasa Alessia, semakin dekat saat di mana ia harus melepaskan gadis ini untuk berdiri di puncak takhtanya sendiri.

Nathaniel mengulurkan tangan, ragu sejenak, sebelum akhirnya hanya merapikan anak rambut yang menutupi kening Alessia. Sentuhannya seringan bulu, seolah takut akan membangunkan mimpi indah sang putri.

"Tidurlah yang nyenyak," gumamnya lagi.

Ia berbalik, berjalan menuju pintu dengan langkah berat. Di ambang pintu, ia sempat menoleh sekali lagi, memastikan kunci otomatis sudah terpasang sempurna. Baginya, tugas menjaga Alessia bukan sekadar pekerjaan; itu adalah detak jantungnya yang paling sunyi.

———

Cahaya matahari pagi Jeju yang cerah menembus celah gorden kamar hotel, menyinari wajah Alessia yang langsung mengernyit kesakitan. Kepalanya terasa berat, seolah ada sekelompok penabuh drum yang sedang berlatih di dalam sana.

Namun, rasa pening itu mendadak hilang digantikan oleh sengatan listrik kepanikan saat ia menyadari satu hal: ia berada di ranjangnya, masih mengenakan pakaian lengkap semalam, minus sepatu.

"Hah? Aku mabuk?! Di depan Kak Nathan? Haaaaa gilanya aku!" pekiknya seraya menelungkupkan wajah ke bantal, menendang-nendang udara karena rasa malu yang membuncah.

Bayangan samar dirinya yang meracau tidak jelas di restoran semalam mulai muncul seperti potongan film horor. Dengan gerakan kilat, ia segera berlari ke kamar mandi, mengguyur tubuhnya dengan air dingin untuk mengusir sisa-sisa alkohol dan rasa malunya.

Setelah rapi dengan setelan casual luxury, kaus putih berbahan sutra yang lembut dan celana denim desainer yang harganya setara motor matic, ia melangkah ragu menuju restoran hotel.

Di sana, di meja sudut yang sama seperti semalam, Nathaniel sudah duduk tegap. Ia tampak segar dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, sedang membaca koran bisnis digital di tabletnya.

Nathaniel hanya menatapnya singkat, tatapan tajam yang membuat Alessia ingin menghilang ditelan bumi saat itu juga.

"Maaf, Kak Nathan... jadi harus gendong aku lagi setelah sekian lama," kata Alessia pelan sembari menunduk dalam, tangannya meremas ujung kausnya.

Nathaniel tidak langsung menjawab. Ia meletakkan tabletnya perlahan, lalu menunjuk kursi di hadapannya dengan dagu.

"Duduk... sudah aku pesankan menu tanpa sayur," ucap Nathaniel datar.

Mata Alessia seketika berbinar melihat piring berisi omelet lembut, sosis premium, dan kentang goreng tanpa sehelai pun warna oranye dari wortel yang ia benci. "Makasih, Kak!" ujarnya ceria, kembali ke mode Alessia yang biasanya, seolah rasa malunya tadi menguap begitu melihat makanan favoritnya.

Namun, keceriaan itu terhenti saat Nathaniel mencondongkan tubuhnya ke depan. Atmosfer di meja itu mendadak berubah menjadi sangat serius.

"Jangan pernah minum sembarangan di mana pun, paham?!" Tegas Nathaniel. Suaranya rendah namun penuh otoritas yang tak terbantahkan.

"Semalam kau beruntung karena bersamaku. Tapi di luar sana, orang-orang seperti Tuan Choi tidak akan menggendongmu pulang ke tempat tidur yang aman. Mereka akan menyeretmu ke tempat yang tidak ingin kau bayangkan. Dunia bisnis bukan tempat bermain, Alessia."

Alessia terdiam dengan garpu yang menggantung di udara. Ia bisa melihat kilat kemarahan di mata Nathaniel, namun ia juga melihat sesuatu yang lain di sana: rasa takut yang tulus akan keselamatannya.

"Paham, Mentor," jawab Alessia lirih namun sungguh-sungguh.

Nathaniel kembali menyandarkan punggungnya, wajahnya sedikit melunak meski tetap kaku. "Habiskan makananmu. Pesawat kita berangkat dua jam lagi. Dan jangan harap ada wine di pesawat nanti."

Alessia terkekeh pelan, merasa hangat di hatinya. Meskipun Nathaniel adalah pria paling dingin yang pernah ia temui, ia tahu bahwa di balik teguran keras itu, ada sebuah janji perlindungan yang tidak akan pernah luntur.

Suasana sarapan yang tenang itu mendadak pecah oleh suara langkah kaki yang terburu-buru. Seorang pria muda dengan setelan kasual namun sangat modis, khas pemuda kaya yang baru kembali dari luar negeri, berhenti tepat di samping meja mereka.

Matanya membelalak, menatap Alessia dengan binar kerinduan yang tak tertutup-tupi.

"Al..." ucap pria itu, suaranya terdengar lembut namun penuh keterkejutan.

Alessia menoleh, dan seketika wajahnya yang tadi pucat karena hangover berubah menjadi sangat cerah. Ia hampir melompat dari kursinya.

"Woah! Noah!" pekik Alessia senang. Ia berdiri dan tanpa ragu menyambut jabatan tangan pria itu dengan antusiasme yang jarang ia tunjukkan pada rekan bisnis mana pun.

"Kak... kenalin ini Noah. Teman kuliahku dulu di Amerika. Dia penerus bisnis mobil ayahnya, The Maverick Automotive," jelas Alessia sembari beralih menatap Nathaniel, memperkenalkan Noah dengan nada bangga.

Noah tersenyum sopan, mengalihkan pandangannya pada pria kaku di hadapan Alessia. "Selamat pagi, Kak," sapa Noah ramah, namun ia tetap bisa merasakan aura dingin yang memancar dari Nathaniel.

Seketika, jiwa Nathaniel berteriak. Ia tidak bergerak, tangannya yang memegang cangkir kopi masih tetap tenang, namun di dalam dadanya, ada gemuruh yang tidak bisa ia jelaskan. Ia memperhatikan Noah dari ujung rambut hingga ujung kaki: tampan, berpendidikan tinggi, berasal dari keluarga yang setara dengan Sinclair, dan yang paling menyakitkan bagi Nathaniel... Noah memiliki sejarah masa muda yang sama dengan Alessia.

Apakah pria ini yang paling cocok bersanding dengan Alessia? tanya Nathaniel pada dirinya sendiri.

Logikanya menjawab 'ya'. Noah adalah definisi dari pasangan ideal bagi seorang putri mahkota Sinclair. Mereka memiliki dunia yang sama, bahasa yang sama, dan masa depan yang selaras tanpa ada bayang-bayang hutang budi yang membelenggu.

"Senang bertemu denganmu, Tuan Noah," sahut Nathaniel dengan suara baritonnya yang dalam, memberikan jabatan tangan yang singkat namun sarat akan kekuatan. Matanya mengunci mata Noah, mencoba membaca apakah pemuda ini benar-benar layak untuk menjaga Alessia.

"Al, aku tidak menyangka bertemu dengamu di Jeju! Kebetulan sekali, aku baru saja menyelesaikan pameran mobil di sini. Mau ikut denganku ke Seoul? Aku bawa jet pribadi," tawar Noah dengan sangat santai, seolah menawarkan tumpangan sepeda motor.

Alessia tampak ragu, ia melirik Nathaniel yang wajahnya kini kembali menjadi "tembok berjalan".

"Maaf, Noah. Ms. Sinclair sudah memiliki jadwal penerbangan resmi bersama saya," potong Nathaniel cepat, bahkan sebelum Alessia sempat membuka mulut. "Kami masih memiliki laporan yang harus diselesaikan di perjalanan."

Alessia mengerucutkan bibirnya, menatap Nathaniel dengan tatapan protes, namun Nathaniel tetap tidak bergeming.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!