Di dunia ini, ada aturan yang tidak tertulis namun absolut: Terang tidak akan pernah bisa bersatu dengan gelap, dan nyawa seorang mafia tidak akan pernah bisa terlepas dari belenggu keluarganya.
Bagi Kaelan, aturan itu adalah kutukan.
Di dalam ruang rapat utama kediaman klan, yang dihiasi lampu gantung kristal senilai ratusan juta, udara terasa mencekik. Lima pria tua dengan jas rapi duduk mengelilingi meja mahoni panjang. Mereka adalah para Tetua—urat nadi dari bisnis gelap yang Kaelan pimpin. Di atas meja, tergeletak sebuah foto wanita bergaun sutra merah dengan senyum anggun yang memuakkan.
"Isabella dari klan Vivaldi. Cantik, penurut, dan yang paling penting... dia akan memperkuat aliansi bisnis senjata kita di Eropa, Kaelan," ucap salah satu Tetua dengan suara seraknya yang penuh tuntutan. "Pernikahan kalian akan dilangsungkan bulan depan. Tidak ada penolakan."
Kaelan bersandar di kursi kebesarannya. Mata elangnya menatap foto itu d
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saerin853, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Satu minggu.
Sudah tujuh hari berturut-turut Kaelan "menghilang".
Biasanya, Milo hanya muncul selama satu malam, paling lama dua puluh empat jam sebelum Kaelan kembali mengambil alih kendali. Namun kali ini, perang berdarah dengan Paman Arthur tampaknya telah menguras habis energi fisik dan mental sang Ketua Klan. Otak Kaelan memutuskan bahwa tubuhnya membutuhkan waktu penyembuhan yang sangat panjang, dan satu-satunya cara adalah membiarkan Milo memegang kemudi.
Selama tujuh hari itu, vila di pulau pribadi tersebut berubah drastis dari markas mafia yang sunyi menjadi lokasi syuting acara reality show liburan musim panas.
Milo benar-benar memaksimalkan waktunya. Ia merombak menu makanan Ragas menjadi penuh dengan dessert manis dan smoothie bowl warna-warni. Ia memaksa Rico—yang terpaksa work from island mengurus sisa-sisa klan—untuk memakai kemeja hawaii saat rapat online. Dan tentu saja, Milo menjadikan Anya sebagai boneka barbie hidupnya.
Sore itu, di teras belakang yang menghadap kolam renang, Milo sedang duduk bersila di atas karpet berbulu tebal. Pria bertubuh kekar itu mengenakan kaus v-neck kuning cerah dan celana pendek putih. Di pangkuannya, tergeletak tangan kanan Anya.
Milo sedang sangat fokus mengoleskan kuteks berwarna maroon gelap pada kuku-kuku tangan gadis tomboy itu, lidahnya sedikit menjulur keluar saking konsentrasinya.
"Sempurna," gumam Milo puas, meniup pelan kuku Anya agar cepat kering. "Warna ini sangat cocok dengan undertone kulitmu, Anya. Jauh lebih elegan daripada hitam matte kemarin."
Anya duduk bersandar di sofa rendah, menatap tangan raksasa yang sedang memegangi jari-jarinya dengan sangat hati-hati itu. Wajahnya datar, matanya memancarkan kekosongan yang tak biasa.
Tujuh hari bersama Milo memang sangat menyenangkan dan bebas tekanan. Milo tidak pernah membentaknya, tidak pernah menatapnya dengan aura membunuh, dan tidak pernah memaksanya membaca buku tebal tentang sejarah mafia. Milo selalu tertawa, memujinya, dan mengajaknya melakukan hal-hal konyol seperti maskeran bersama atau menonton drama Korea maraton sampai jam tiga pagi.
Milo adalah teman liburan yang sempurna.
Namun... Anya tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Ada lubang besar yang menganga di dadanya.
Ia merindukan bau kopi hitam ekstra pahit di pagi hari. Ia merindukan omelan tajam tentang cara berjalannya yang seperti preman. Ia merindukan latihan bela diri yang memar-memar namun membuatnya merasa hidup. Ia merindukan tatapan tajam bermata elang yang selalu berhasil membuat jantungnya berdebar gila-gilaan.
Anya merindukan Si Kaku. Sang Bos Es. Suaminya.
"Milo," panggil Anya pelan, suaranya terdengar sedikit parau.
Milo mendongak, matanya yang berbinar jenaka bertemu dengan tatapan sendu Anya. Senyum lebar di wajah pria itu perlahan memudar, digantikan oleh kerutan halus di dahinya. Insting Milo yang sangat peka terhadap emosi langsung menangkap kesedihan gadis itu.
"Ada apa, Anya? Warnanya kurang bagus? Atau kau mau kuoleskan glitter di atasnya?" tanya Milo dengan nada khawatir, meletakkan botol kuteksnya.
Anya menggeleng pelan. Ia menarik tangannya dari pangkuan Milo, lalu meremas pelan bahu pria itu yang terasa jauh lebih rileks daripada saat dikendalikan Kaelan.
"Bukan itu," Anya menghela napas panjang, menatap lurus ke dalam mata hitam legam yang sama persis dengan milik Kaelan, namun memancarkan jiwa yang sepenuhnya berbeda. "Sudah satu minggu, Milo. Ini rekor terlama kau berada di luar, kan?"
Milo menunduk, memainkan tutup botol kuteks di tangannya dengan gelisah. Telinganya sedikit memerah. "Ya... biasanya si Kaku itu sangat pelit memberiku waktu. Dia benci saat aku memakai bajunya atau menghabiskan uangnya untuk ke salon."
"Apakah dia baik-baik saja di dalam sana?" tanya Anya, nada suaranya tak bisa menyembunyikan getaran kerinduan yang mendalam. "Maksudku... dia tidak mati suri, kan? Dia hanya sedang tidur panjang karena lelah, kan?"
Milo mengangkat wajahnya lagi. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat langka; senyuman yang menyiratkan kedewasaan di balik sikap kekanak-kanakannya.
"Dia baik-baik saja, Anya," Milo mengusap punggung tangan gadis itu dengan ibu jarinya yang besar. "Pikirannya hanya sedang sangat lelah. Kejadian dengan pamannya itu... membuka kembali banyak luka lama di kepalanya. Jadi, aku mengambil alih untuk membiarkan sistem sarafnya beristirahat total. Memblokir semua rasa sakit dan stresnya."
Anya menelan ludah. Rasa bersalah sedikit mencubit hatinya. Kaelan mengalami semua itu demi melindunginya, demi menepati janji untuk membersihkan jalan mereka.
"Tapi..." Milo memiringkan kepalanya, menatap Anya dengan senyum menggoda yang sangat tidak biasa. "Sepertinya ada yang sudah tidak sabar ingin dimarahi oleh bos mafia galak itu, ya?"
Wajah Anya memanas seketika. "S-siapa yang rindu?! Aku cuma bosan! Kau tahu, main kuteks dan menonton drakor seharian itu lama-lama membuat ototku lembek! Aku butuh samsak tinju bernapas!" sangkal Anya dengan gagap, memalingkan wajahnya ke arah kolam renang dengan gaya tengil andalannya.
Milo tertawa renyah, tawa yang bergema memenuhi teras belakang. Ia bangkit berdiri, lalu secara mengejutkan, mengacak-acak rambut wolf-cut Anya dengan gemas hingga berantakan.
"Dasar gengsian," goda Milo, matanya menyipit karena tertawa. "Sama saja seperti si Kaku itu. Kalian berdua memang sangat cocok. Preman pasar yang gengsian dan mafia es yang kaku."
Anya memberengut, menepis tangan Milo dari kepalanya. "Jangan samakan aku dengan kulkas dua pintu itu!"
Milo tersenyum lembut, lalu berjalan ke arah pinggir kolam renang, merentangkan kedua tangannya menikmati angin sore.
"Kau tahu, Anya," ucap Milo tanpa menoleh, suaranya kini terdengar sangat pelan, nyaris berbisik bersama angin. "Aku bisa merasakan perasaannya dari dalam sana. Si Kaku itu... dia sangat mencintaimu. Jauh lebih besar dari yang dia perlihatkan. Kau adalah alasan dia mampu bertahan dari perang kemarin malam."
Anya terdiam membeku. Jantungnya berdetak satu ketukan lebih cepat. Mendengar pengakuan itu dari mulut alter ego Kaelan sendiri terasa... sangat intim dan jujur.
"Dan kurasa..." Milo perlahan menurunkan tangannya. Postur tubuhnya yang tadinya santai dan sedikit gemulai, tiba-tiba mulai menegang. "Kurasa waktu liburanku sudah hampir habis."
Anya mengernyitkan dahi, bangkit dari sofa dan melangkah maju. "Milo? Apa maksudmu?"
Milo memejamkan matanya erat-erat. Ia mencengkeram kepalanya dengan kedua tangan, rahangnya mengeras. Napasnya mulai memburu, tidak teratur.
"A-Anya..." erang pria itu, suaranya berubah drastis. Melengking, serak, dan penuh rasa sakit yang tertahan. "Kepalaku... rasanya berat sekali. S-si Kaku... dia sedang meronta. Dia ingin keluar."
Kepanikan menyergap Anya seketika. Transisi ini terlihat jauh lebih menyakitkan dari biasanya. Tubuh besar pria itu mulai gemetar hebat, otot-otot di leher dan lengannya menonjol keluar.
"Kaelan?!" seru Anya, berlari menghampiri pria itu dan memegang bahunya. "Milo?! Tahan, jangan bergerak terlalu banyak!"
Pria itu jatuh berlutut di atas lantai kayu pinggir kolam renang. Ia mengerang keras, sebuah erangan maskulin yang sangat dalam dan berat, benar-benar melenyapkan sisa-sisa suara ceria Milo. Tangan besarnya meremas kemeja kuning cerah yang ia kenakan seolah ingin merobeknya dari tubuhnya sendiri.
Transisi yang tertahan selama tujuh hari itu akhirnya meledak, membawa sang Ketua Klan Obsidian kembali ke permukaan dunia yang kejam.