NovelToon NovelToon
Jalan Kaisar Semesta

Jalan Kaisar Semesta

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Anak Genius
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anonim

Shen Yuan berdiri paling DEPAN di antara puluhan ribu kultivator dengan senjatanya dia siap membelah langit jika jalanya hanya ada satu😗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Tarian Angin dan Karang yang Membisu

​Matahari bergulir melewati titik puncaknya, memanggang Alun-Alun Pualam Putih dengan panas yang menyengat. Babak penyisihan telah menggugurkan separuh dari peserta. Bau darah, keringat, dan salep luka menguar kental di udara, bercampur dengan sorak-sorai penonton yang semakin liar seiring ketatnya pertarungan.

​Di sudut area peristirahatan, Shen Yuan duduk bersila di atas selembar tikar jerami yang lusuh. Ia baru saja memenangkan pertandingan keduanya pagi ini dengan cara yang sama membosankannya: satu bantingan kasar yang melempar lawannya keluar dari arena.

​Bagi ribuan pasang mata di alun-alun, pola Shen Yuan sangat mudah ditebak. Pelayan berbaju rami itu adalah seekor beruang bodoh; kuat jika berhasil menangkapmu, tapi sangat lamban.

​Di paviliun kehormatan, Lin Hai tersenyum sinis sambil menuangkan arak ke dalam cawannya. Ia menoleh ke arah seorang pemuda bertubuh kurus jangkung yang berdiri di belakang kursi Lin Feng. Pemuda itu mengenakan jubah hijau lumut, tangannya membelai sebuah cambuk kulit berekor sembilan yang terbuat dari urat Harimau Tutul.

​"Lu Chen," panggil Lin Hai pelan. "Giliranmu di Arena Satu sebentar lagi. Undian telah diatur. Kau akan melawan anjing pelayan itu."

​Lu Chen, murid luar peringkat keempat puluh, menyeringai hingga memperlihatkan gigi taringnya. Kultivasinya berada di Puncak Lapisan Kelima. Di Pelataran Luar, ia dijuluki 'Bayangan Hijau' karena kecepatan geraknya dan serangan cambuknya yang sangat beracun—bukan racun mematikan, melainkan racun yang melumpuhkan saraf penderitaan.

​"Jangan khawatir, Tuan Muda Hai," ucap Lu Chen seraya mengibaskan cambuknya ke udara, menghasilkan suara lecutan tajam yang membelah angin. "Beruang lamban seperti dia adalah mangsa favoritku. Aku tidak akan memukulnya keluar ring dengan cepat. Aku akan mengupas kulitnya sehelai demi sehelai sampai dia mengemis meminta kematian di depan semua orang."

​Lin Feng, yang sedari tadi menutup matanya, tiba-tiba bersuara. "Jangan bunuh dia di atas ring. Tetua Hukum sedang mengawasi. Buat saja meridian di kedua lengan dan kakinya putus. Pelayan yang cacat lebih menderita daripada pelayan yang mati."

​"Dilaksanakan, Tuan Muda Lin," Lu Chen membungkuk hormat, lalu melesat pergi meninggalkan paviliun bagaikan embusan angin puyuh.

​Teng... Teng!

​"Babak Ketiga, Arena Satu! Murid Luar Lu Chen, melawan Pelayan Shen Yuan! Naik ke arena!"

​Sorakan penonton meledak tiga kali lipat lebih keras dari biasanya. Nama Lu Chen cukup terkenal di kalangan murid luar, dan melihat seorang elit menyiksa pelayan yang sedang naik daun adalah hiburan murahan yang disukai banyak orang.

​Shen Yuan bangkit dari tikarnya. Ia berjalan perlahan, menaiki undakan batu arena. Angin siang yang panas meniup ujung seragam raminya yang sudah robek di beberapa bagian.

​Di seberangnya, Lu Chen sudah berdiri dengan postur menyamping. Cambuk urat harimau di tangannya menjuntai ke lantai batu, berdesis pelan seperti ular berbisa yang bersiap mematuk.

​"Kudengar tinjumu lumayan keras, Pelayan," ejek Lu Chen, matanya menyipit meremehkan. "Tapi otot sebesar apa pun tidak berguna jika kau hanya bisa memukul angin."

​Shen Yuan menatap cambuk di tangan Lu Chen. Indranya yang setajam elang langsung mendeteksi lapisan Qi tipis berwarna hijau kotor yang melumuri ujung-ujung cambuk tersebut. Racun kelumpuhan.

​Logika Shen Yuan berputar dingin. Lapisan Kelima. Senjata jarak menengah. Ahli kecepatan. Ini pasti anjing suruhan Lin Feng untuk mematahkan kakiku.

​Shen Yuan menangkupkan kedua tangannya. "Pelayan nomor tujuh, Shen Yuan. Mohon bimbingannya."

​"Bimbingan? Aku akan membimbingmu ke neraka!"

​Bersamaan dengan teriakan wasit yang memulai pertandingan, Lu Chen menghilang dari tempatnya.

​Wush!

​Langkah Lu Chen memang cepat. Ia menggunakan Langkah Angin Mengejar Daun, sebuah teknik gerakan yang sangat gesit. Dalam sekejap, ia sudah berada di sisi kiri Shen Yuan. Pergelangan tangannya berputar, dan cambuk urat harimau itu melesat membelah udara dengan suara ledakan sonik yang memekakkan telinga.

​CTAAAARR!

​Ujung cambuk itu merobek bahu kiri seragam Shen Yuan, meninggalkan garis merah panjang yang segera meneteskan darah.

​Shen Yuan terhuyung mundur setengah langkah. Ia mencoba meraih cambuk itu dengan tangan kanannya, namun Lu Chen sudah menariknya kembali dan berpindah ke titik buta di belakang punggung Shen Yuan.

​CTAAAARR!

​Satu lecutan lagi mendarat di punggung Shen Yuan, menyobek kain raminya hingga memperlihatkan kulit punggungnya.

​Sorak-sorai penonton pecah. Tawa mengejek terdengar dari segala penjuru.

​"Lihat! Beruang itu hanya bisa berputar-putar kebingungan!"

"Sudah kubilang, kekuatan fisiknya tidak ada gunanya melawan Bayangan Hijau!"

​Di tepi arena, Li Mu menggigit jarinya hingga berdarah, wajahnya pucat pasi melihat sahabatnya dijadikan bulan-bulanan. Di paviliun kehormatan, Lin Hai tertawa puas, menyandarkan punggungnya sambil menikmati pertunjukan.

​Namun, di tengah arena yang dihujani lecutan cambuk, ekspresi Shen Yuan sama sekali tidak berubah.

​Bagi mata penonton, ia terlihat seperti orang bodoh yang berusaha menangkap bayangan. Ia terhuyung, mencoba meninju angin, dan terus menerima sabetan cambuk Lu Chen hingga seragamnya berubah menjadi kain lap berdarah.

​Namun, tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik sepasang mata sehitam obsidian itu.

​Terlalu banyak gerakan sia-sia, batin Shen Yuan dingin. Dia memutar pinggulnya setengah inci terlalu lebar setiap kali melompat. Tarikan napasnya terputus saat cambuknya kembali. Kecepatannya... tidak lebih dari seekor lalat yang membanggakan sayapnya di depan badai.

​Luka-luka di tubuh Shen Yuan terlihat mengerikan, memerah dan berdarah. Namun racun kelumpuhan yang dibanggakan Lu Chen sama sekali tidak menembus aliran darahnya. Begitu racun itu menyentuh kulit Shen Yuan, Benih Hitam di dalam perutnya langsung menyedot dan menggilingnya menjadi energi murni yang justru menyembuhkan rasa sakitnya secara perlahan.

​Shen Yuan sengaja menerima semua cambukan itu. Ia sedang membangun narasi. Jika ia tiba-tiba menjadi sangat cepat sejak detik pertama, penonton akan curiga. Ia harus terlihat seperti "sedang dipojokkan dan meledakkan seluruh tenaga fisiknya dalam satu keputusasaan".

​"Hahaha! Ada apa, Pelayan? Di mana tinju mautmu?!" tawa Lu Chen menggelegar. Ia melompat ke udara, memusatkan seluruh Qi Lapisan Kelimanya ke tangan kanannya. "Akhiri lelucon ini! Tebasan Cambuk Ular Hijau!"

​Cambuk di tangannya menegang layaknya tombak besi. Lu Chen mengarahkannya lurus dari atas ke bawah, menargetkan tulang selangka Shen Yuan. Lecutan ini dirancang untuk mematahkan bahu dan menghancurkan organ paru-paru.

​Ini adalah momennya. Jarak mereka kini hanya tiga tombak. Lu Chen berada di udara, tidak memiliki pijakan untuk menghindar.

​Shen Yuan menghentikan akting kepanikannya. Punggungnya yang sedari tadi membungkuk menahan cambukan, tiba-tiba tegak lurus sekeras tebing karang. Matanya mengunci sosok Lu Chen yang sedang melayang turun.

​Di dalam Dantian-nya, Benih Hitam melepaskan setetes energi emas gelap, mengalirkannya langsung ke otot betis kanannya. Ia tidak menggunakan sirkulasi lengkap Langkah Penghancur Bayangan. Ia hanya memampatkan energi itu ke dalam urat dagingnya, memalsukannya sebagai "ledakan tenaga otot murni".

​Shen Yuan menginjak lantai arena.

​BOOM!

​Batu pualam di bawah kaki kanannya retak seketika, membentuk jaring laba-laba selebar setengah meter.

​Dalam sepersepuluh kedipan mata, tubuh Shen Yuan melesat ke atas, membelah lintasan cambuk yang sedang turun. Kecepatannya begitu mengerikan hingga meninggalkan suara robekan angin yang tumpul.

​Tawa di wajah Lu Chen seketika membeku. Matanya melebar penuh horor melihat sesosok siluet berlumuran darah tiba-tiba muncul tepat di depan wajahnya, mengabaikan hukum gravitasi.

​"Mustahil—!"

​Sebelum Lu Chen bisa menarik cambuknya atau mengucapkan satu patah kata pun, tangan kanan Shen Yuan melesat menembus pertahanan udaranya. Kelima jari Shen Yuan yang kasar dan penuh kapalan mencengkeram leher Lu Chen dengan cengkeraman besi.

​Momentum lompatan Shen Yuan tidak berhenti di situ. Dengan Lu Chen berada di genggamannya, Shen Yuan membalikkan tubuhnya di udara, memanfaatkan gaya tarik bumi, dan menghantamkan tubuh kurus Lu Chen lurus ke lantai arena pualam.

​BRAAAKKK!!!

​Suara benturan tubuh manusia dengan lantai batu menggema layaknya ledakan meriam. Debu pualam mengepul ke udara.

​Seluruh alun-alun terdiam. Tawa para penonton tersangkut di tenggorokan. Ribuan mulut ternganga lebar tanpa bisa mengeluarkan suara.

​Perlahan, debu di tengah Arena Satu mulai menipis.

​Shen Yuan berdiri dengan satu lutut ditekuk. Tangan kanannya masih mencengkeram leher Lu Chen dan menekannya ke lantai batu. Lantai pualam di bawah punggung Lu Chen telah hancur dan melesak ke dalam sedalam satu inci.

​Lu Chen terbaring tak berdaya. Matanya putih semua, mulutnya berbusa, dan cambuk kebanggaannya tergeletak tak bertuan dua tombak darinya. Tulang punggungnya selamat berkat Qi pelindung Lapisan Kelimanya, namun benturan fisik itu telah mengocok organ dalamnya hingga ia kehilangan kesadaran seketika.

​Shen Yuan melepaskan cengkeramannya, perlahan bangkit berdiri. Napasnya terengah-engah—sebagian besar adalah akting untuk menunjukkan betapa 'menguras tenaga'-nya serangan tadi. Darah dari luka-luka dangkal di tubuhnya menetes membasahi batu pualam, membuatnya terlihat seperti dewa perang barbar yang baru merangkak keluar dari tumpukan mayat.

​Ia menoleh ke arah wasit yang masih mematung, lalu mengangkat tangannya yang gemetar.

​"Pelayan... menang," ucap Shen Yuan serak.

​Wasit itu menelan ludah, lalu buru-buru mengangkat benderanya. "Pemenang! Pelayan Shen Yuan!"

​Kali ini, tidak ada sorak-sorai yang riuh. Kerumunan murid luar menatap Shen Yuan dengan campuran antara rasa takut dan tidak percaya. Mereka baru saja melihat seekor beruang yang terluka tiba-tiba menerkam seperti kilat.

​Di tribun kehormatan, Tetua Sekte yang sedari tadi setengah terpejam kini membuka matanya sepenuhnya. Ada ketertarikan yang langka di matanya yang tua.

​"Otot dan tulang yang sangat unik," gumam Tetua itu pelan, membelai janggut putihnya. "Di saat terdesak, dia memaksakan seluruh tenaga kakinya hingga memecahkan lantai demi satu lompatan putus asa. Benar-benar kasar, brutal, tapi sangat efektif. Sayang sekali kultivasinya rendah. Jika dia memiliki fondasi Qi yang baik, tubuh fisik seperti itu adalah harta karun."

​Di sisi lain alun-alun, Lin Hai tanpa sadar berdiri dari kursinya, tangannya gemetar memegangi pinggiran meja. Lu Chen kalah? Dalam satu serangan?

​Lin Feng meletakkan cangkir tehnya dengan bunyi klak yang keras. Retakan halus menjalar di permukaan cangkir porselen tersebut. Matanya yang sipit kini terbuka lebar, menatap lurus ke arah Shen Yuan yang sedang berjalan menuruni arena.

​"Menarik," desis Lin Feng dingin, bibirnya melengkung membentuk senyum yang sangat kejam. "Sangat menarik. Harapan memberinya keberanian palsu. Biarkan dia lolos hingga ke babak utama. Aku sendiri yang akan mematahkan lehernya di depan seluruh sekte."

​Rencana Shen Yuan berjalan sangat sempurna. Luka-luka di tubuhnya adalah harga yang murah untuk menutupi teknik gerakannya, sekaligus memastikan bahwa Lin Feng tidak akan mengirim anjing suruhan lagi. Sang harimau kertas kini telah terpancing keluar dari sarangnya, dan mereka akan segera berhadapan di atas panggung yang sesungguhnya.

1
@arv_65
Salam Untuk pembaca, mohon maaf karena beberapa hal author iseng, mengunakan istilah modrn di bab 1-100 dan nantinya kedepanya istilah itu author kurangi karena di bab keatasnya adalah mendalami sebuah Dao, jadi mohon maaf jika pembaca agak tidak enak membacanya dan mohon maaf juga jika nantinya bab untuk MC di sekte ada 80+ bab namun author sudah melakukan uplod lebih dari dua bab setiap harinya agar pembaca tidak bosan mohon maaf dari author🙏
Hazard
seru bangettt
A 170 RI
tolong jangan hiatus lg ya thor net💪💪
@arv_65: iya maaf sebelumnya karena bencana jadi hiatus, ini untung akunya masih bisa di pulihkan🙏🏽
total 1 replies
Kaisar Abadi
bang mampir bang
@arv_65: okeeh
total 1 replies
Aisyah Suyuti
seru
@arv_65: Terima kasih🤭
total 1 replies
Blue
Hasil Ai
Blue
Hasil Ai
@arv_65: tapi tenang cuma sebatas perbaikan kata👍
total 2 replies
@arv_65
😴
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!