NovelToon NovelToon
Dibuang Pacar Dinikahi Guru Tampan

Dibuang Pacar Dinikahi Guru Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen / Dunia Masa Depan
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aliya sofya Putri

"Siniin," pinta Dara.
"Cium dulu."
Dara melotot, "lih, siniin!"
"Iya, tapi cium dulu." Rafa menunjuk ke arah pipinya.
Dara mengulum bibir. Malu, dia mulai mendekatkan wajahnya. Hingga saat bibirnya hampir mengenai pipi Rafa, suaminya itu malah menoleh dan akhirnya bibir Dara mendarat di bibir Rafa.



Andara Maheswari (17 tahun) tidak menyangka jika sosok pacar yang dia kira tulus dan juga mencintainya ternyata bertahan dengannya hanya atas dasar rasa kasihan semata.
Dara dihina, diputuskan, atau mungkin lebih tepatnya dibuang oleh pacarnya. Braden selingkuh darinya.
Tidak cukup sampai disitu, sampai di rumah dia pun harus menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya. Kepahitan hidupnya seakan terus berlanjut. Dia terpaksa harus menerima perjodohan dan menikah dengan pria yang sama sekali tidak dia kenal demi menebus hutang yang dimiliki oleh ayahnya.
Dara tidak menyangka, jika pria yang dijodohkan dengannya adalah salah satu guru di sekolahnya. Pria dingin serta jutek yang membenci

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7

Dara pulang sekolah dengan perasaan kesal. Kesal yang tentunya pada sosok Rafa, guru sekaligus suaminya sendiri.

Bahkan, saat masuk ke dalam rumah pun dia langsung ke dapur untuk menyimpan kotak bekal yang tadi dia bawa dengan wajah masam.

"Kamu kenapa?"

Dara tersentak kaget saat tiba-tiba ada yang bertanya padanya. Karena tadi pas dia masuk, tidak ada satu orang pun di rumah.

"Oma? Kapan pulang?" tanya

Dara lalu mencium punggung tangan Oma Atira.

Oma Atira mengulas senyum hangat. "Tadi," jawab Oma Atira singkat. "Kamu kenapa? Kayak kesel gitu?"

Dara menghembuskan napas berat dan menggelengkan kepalanya pelan. "Gak apa-apa, Oma. Cuman pusing aja banyak tugas." Gadis cantik itu nyengir setelahnya.

Keduanya menoleh ke arah depan saat Rafa baru saja pulang.

"Kebetulan kamu juga sudah pulang, Raf. Oma mau bicara sama kalian," ucap Oma Atira.

Ketiganya kini sudah duduk di ruang santai dekat kolam renang.

"Apa yang ingin Oma bicara kan?" tanya Rafa tanpa basa basi. Dia berasa sumpek berada di ruangan yang sama dengan Dara.

"Oma akan langsung saja pada intinya. Apa kamu tidak memberikan nafkah uang sama sekali kepada Dara?" tanya Oma Atira.

Dara yang semula menunduk pun langsung mengangkat kepala. Tidak menyangka kalau Oma Atira mengetahuinya.

"Jawab, Rafa!"

Rafa menghembuskan napas berat dan mengangguk. "Ya. Itu

benar."

Oma Atira memejamkan matanya sejenak lalu terdengar helaan napas panjang keluar dari mulutnya. "Dia istri mu, Rafa. Memberikan nafkah adalah kewajibanmu sebagai seorang suami."

"Tapi Oma tahu sendiri kalau aku terpaksa menikah dengannya. Jadi, rasanya tidak adil jika aku juga harus memberinya nafkah," jawab Rafa tidak ingin disalahkan.

Oma Atira menghembuskan napas berat, "Terpaksa atau tidak. Itu semua tidak bisa kamu jadikan alasan untuk tidak melakukan tanggung jawabmu sebagai seorang suami," ujarnya mencoba

menasehati cucunya tersebut.

Rafa menoleh ke arah Dara yang ternyata juga tengah menatap ke arahnya. Dalam hati, dia merasa yakin sekali kalau Dara sudah mengadu pada sang oma demi mendapat pembelaan.

"Aku gak apa-apa, Oma. Lagian aku masih ada tabungan, kok," ucap Dara yang seolah bisa merasakan aura tajam dari Rafa padanya.

Mendengar ucapan Dara, Rafa pun berdecih dalam hatinya. Dia yakin kalau Dara pasti sedang pura-pura terlihat baik agar dia sendiri yang terlihat jahat di sana.

"Tidak bisa seperti itu, Sayang. Kalian sudah menikah, Rafa adalah

suamimu sekarang. Jadi sudah menjadi kewajiban dia memberikan nafkah padamu," sahut Oma Atira.

"Bukan hanya nafkah berupa uang, tapi sebagai seorang suami, kamu juga wajib memberikan nafkah kasih sayang kepada istri mu, Nak."

Kening Rafa mengkerut. Kasih sayang? Memberikan nafkah uang saja dia tidak mau. Lalu apa barusan? Kasih sayang? Jangan harap!

"Dasar gadis penjilat. Dia juga yang pasti meminta hal itu kepada Oma," batin Rafa kesal.

"Maaf, Oma. Kalau untuk nafkah uang, oke Rafa akan

memberikannya. Tapi kasih sayang? Rafa tidak bisa!" jawab Rafa dengan nada suara yang terdengar tegas.

"Tapi, Raf-"

"Perjanjiannya adalah aku setuju menikah dengannya sesuai keinginan Oma. Hanya itu dan aku sudah mengabulkannya. Lalu kenapa sekarang semakin banyak saja tuntutan dari Oma padaku?"

"Rafa, tapi-" Oma Atira kembali tidak melanjutkan ucapannya saat melihat Rafa berdiri dari duduknya.

"Pembahasannya sudah selesai, bukan?" tanya Rafa lalu menoleh ke arah Dara. "Ini yang kau inginkan?" tanyanya.

"Apa?" tanya Dara tidak mengerti.

Rafa berdecak pelan dan berbalik lalu pergi dari ruangan tersebut. Tidak peduli dengan sang oma yang sepertinya belum selesai bicara padanya.

"Rafa, Oma belum selesai bicara!" seru Oma Atira.

Dara pun akhirnya memilih untuk menyusul Rafa setelah pamit kepada Oma Atira.

"Tunggu!" Dara mencekal pergelangan tangan Rafa yang hendak membuka pintu kamar.

Dara sendiri langsung melepas pegangannya saat melihat sorot mata tajam bak mata elang itu pada

dirinya.

"Ada apa? Apa kau tidak sabar untuk menerima uang dariku?" tanya Rafa dingin.

"Bisakah Om bicara lebih lembut kepada Oma? Mengapa tidak sopan sekali pergi begitu saja saat Oma belum selesai bicara?" ucap Dara setelah mengumpulkan keberaniannya.

Jujur saja, sorot mata tajam Rafa sempat membuat nyalinya sedikit ciut. Tapi untungnya hanya sedikit saja.

"Apa urusannya denganmu?" tanya Rafa. "Apa kau lupa dengan perjanjian kita yang tidak boleh mengusik urusan pribadi masing-

masing?"

"Jangan pernah merasa di atas angin hanya karena Oma terkesan berada di pihakmu. Ingat! Kau di sini hadir sebagai seorang istri hanya untuk melunasi hutang ayahmu!"

Kedua tangan Dara mengepal, berusaha menahan emosi yang perlahan menguasai dirinya.

"Oh, aku lupa. Kau pasti sudah tidak sabar menginginkan ini, kan?" Rafa mengeluarkan sebuah kartu dari dalam dompetnya dan menyodorkannya kepada Dara.

"Ambil!" titah Rafa. "Bukankah kau menyusul ku untuk meminta ini?"

"Ini kan yang sebenarnya kau inginkan dengan menikah denganku? Kau pasti sengaja mendekati Oma dan mencoba menarik perhatiannya. Kau, ayahmu dan ibumu sekongkol untuk membuat Oma memilihmu menjadi istriku? Kalian sengaja karena ingin mendapatkan uang dari keluarga ini? Begitu kan? Kau-"

PLAK!

"Berhenti merendahkan ku seolah-olah aku lah yang menginginkan pernikahan ini!" ujar Dara setelah melayangkan tamparan di pipi Rafa.

Tangan kanan yang barusan dia gunakan untuk menampar pipi sang suami terlihat gemetar,

bahkan dadanya pun terlihat naik turun. Bagi Dara, Rafa sudah kelewatan batas.

Jika Rafa membencinya tidak apa-apa. Tapi, jika Rafa sampai menghina kedua orang tuanya, jelas Rafa tidak akan terima.

Ayahnya memang bersalah, tapi bukankah kini hutang itu sudah dibayar dengan dia yang bersedia menjadi istri dari pria di hadapannya itu?

"Kau!!" Rafa seakan kehabisan kata-kata karena Dara berani menamparnya. Gadis kecil yang usianya berbeda 7 tahun di bawahnya itu sungguh berani padanya.

"Om jangan lupain satu hal, yang memintaku untuk jadi istri Om itu siapa. Bukan aku atau ayahku yang menyembah bahkan mengemis untuk aku dijadikan istri Om!" ucap Dara, menggebu dan kedua mata yang memerah disertai bulir bening yang menumpuk seolah mendesak ingin keluar.

Setelah mengatakan itu, Dara langsung berbalik dan masuk ke kamarnya lalu tidak lupa mengunci pintu.

Sedangkan Rafa, pria itu masih terpaku di tempatnya. Rafa menyentak napasnya kasar lalu mendongak dengan kedua tangan yang berkacak pinggang.

 

Malamnya, Dara mengerjakan tugas yang diberikan oleh Rafa dengan perasaan yang masih kesal. Berasa ada sesuatu yang menghimpit di dadanya sana dan dia tidak bisa menghilangkannya.

"Sumpah ya! Nyebelin banget. Wajah ganteng bak malaikat, hati kek iblis. Apalagi mulutnya. Ya Tuhaaaan kenapa kau ciptakan makhluk se menyebalkan dia?" gumam Dara.

Belum habis rasa kesalnya karena Rafa memberikan hukuman berupa dia harus mengerjakan soal matematika sebanyak lima halaman, eh malah ditambah lagi dengan ucapan Rafa yang amat tajam dan melukai hatinya.

Dara menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Dia harus bisa berkonsentrasi untuk mengerjakan tugas yang banyak itu.

~❤️~

Paginya, Dara menuruni tangga dengan sedikit berlari, dia bangun kesiangan karena semalam mengerjakan tugas sampai tengah malam.

Pasalnya, bukan hanya tugas berupa hukuman itu yang harus dia kerjakan, melainkan tugas dari guru lain pun ada. Dan keduanya harus dikumpulkan hari ini.

"Aaaaakh gue telat ini," gumam Dara.

"Non kesiangan?" tanya Bi

Inem.

Sambil meneguk segelas susu yang sudah dibuatkan oleh Bi Inem, Dara mengangguk. "Iya, Bi. Aku pergi dulu ya. Ojolnya udah di depan!"

"Eh sarapan dulu!" seru Bi Inem.

"Gak keburu, Bi!" sahut Dara sambil berlari keluar rumah.

Dilihatnya mobil yang biasa digunakan oleh Rafa sudah tidak ada, pasti suaminya itu sudah pergi ke sekolah lebih dulu.

"Gara-gara dia gue jadi kesiangan!" gerutunya menyalahkan Rafa.

"Pak, tunggu! Jangan ditutup dulu!" teriak Dara saat baru sampai di depan gerbang yang sudah hampir ditutup oleh Pak Satpam.

Dara melewati gerbang sekolah dengan napas terengah-engah. Hampir saja dia terlambat. Beruntung tadi ojolnya lewat jalan tikus jadi dia tidak terjebak macet.

"Terima kasih, Pak," ucap Dara pada Pak Satpam

"Tumben baru dateng," ucap Bebi saat Dara baru masuk ke kelas.

"Iya, gue bangun kesiangan gara-gara harus ngerjain tugas dari guru nyebelin itu," sahut Dara. Kalau mengingat Rafa, dia langsung

kesal lagi.

Bebi meringis mendengarnya. Dia mengerjakan dua soal saja sudah pusing, apalagi Dara yang harus mengerjakan lima halaman. Satu halamannya pun terdiri dari lima soal.

"Terus, sekarang tugasnya udah lo kasihin ke Pak Rafa?" tanya Bebi dan langsung mendapat gelengan kepala dari Dara.

"Lho, kenapa? Kan katanya disuruh kumpulin di meja nya. Pak Rafa kan gak ngajar di kelas kita hari ini," ucap Bebi.

Dara mendesah kasar, dia malas sekali kalau harus melihat wajah suaminya itu. Menurutnya

sudah cukup dia melihat wajah Rafa di rumah, kenapa di sekolah pun masih harus melihat wajahnya?

Dengan malas, Dara mengeluarkan buku dari dalam tas dan membawanya keluar kelas. Dia berjalan menuju ruang guru yang ada di lantai satu dan letaknya pun berada di dekat lapang basket. Jadi, Dara harus muter dulu.

Dara masuk ke ruang guru setelah mengucap permisi sebelumnya, atensinya langsung tertuju pada meja yang ada di sudut ruangan dan Rafa yang entah sedang apa.

"Ini tugasnya, Pak."

Rafa yang sedang

membereskan buku karena hendak pergi ke kelas pun mendongak dan melihat Dara, istri kecilnya mengulurkan sebuah buku.

Tidak langsung mengambil, Rafa malah terus menatap Dara, membuat gadis itu merasa heran sekaligus risih.

"Pak," panggil Dara.

Barulah Rafa tersadar dan mengambil buku yang diberikan Dara.

"Tunggu!" cegah Rafa saat Dara sudah berbalik dan hendak pergi.

Dara memutar tubuhnya dan melihat ke arah Rafa yang sejak tadi terus memperhatikannya. Entahlah kenapa, Dara juga bingung.

"Ada apa, Pak?" tanya Dara karena Rafa tidak kunjung mengatakan apa pun.

Rafa terdiam sejenak dan menggelengkan kepalanya. "Gak jadi. Kamu boleh pergi."

Dara menganga karena heran. Meski begitu dia memilih untuk pergi dari sana.

Melihat tubuh istri kecilnya mulai menghilang, Rafa menghembuskan napas berat. Hatinya terus merasa tidak nyaman sejak kemarin. Yang pasti, bayangan kedua mata Dara yang terlihat berkaca-kaca terus mengusik pikirannya.

Dara berjalan agak cepat karena dia melihat Bu Indah berjalan di depannya. Bu Indah jadwal mengajar di kelasnya.

"Jangan sampai gue telat masuk dan Bu Indah pun ngasih hukuman ke gue kayak guru nyebelin itu," gumam Dara.

"Awww!" jerit Dara saat tiba-tiba saja ada bola basket yang menghantam kepalanya dengan lumayan kencang. Dara bahkan sampai terjatuh dan dia meringis karena kepalanya terasa pusing.

"Aduh. Maaf ya gak sengaja," ucap Monica menghampiri Dara.

Dara mendesis kesal. Yakin

kalau Monica sebenarnya sengaja melempar bola basket itu padanya. Bisa Dara lihat kalau Monica malah tersenyum miring padanya.

"Hm, gak apa-apa," jawab Dara.

"Ada apa ini? Dara, kamu kenapa?" Rafa datang dan langsung berjongkok di depan Dara. Dia bahkan secara tidak sengaja menyenggol Monica hingga gadis itu sedikit mundur.

Mendapat perhatian seperti itu, Dara jelas heran. Kemarin, Rafa masih mengeluarkan kalimat pedas padanya. Bahkan, masih pula Dara ingat tatapan tajam penuh kebencian di mata Rafa untuknya.

Tapi lihatlah sekarang, pria

tampan itu malah terkesan sangat perhatian padanya.

"Saya gak apa-apa," jawab Dara ketus lalu bangun dan menepuk-nepuk rok yang kotor terkena debu.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Dara berlalu pergi meninggalkan Rafa dan Monica yang termenung di tempatnya. Ada pula Braden yang melihat dari lapang sana.

"Kalau main hati-hati! Perasaan ring ada di sebelah sana, kenapa kamu lempar ke sebelah sini?!" ucap Rafa tegas pada Monica.

"Saya gak sengaja, Pak," balas Monica sambil memainkan rambutnya. Dia mencari perhatian

pada Rafa, guru tampan yang sudah menarik perhatiannya sejak kemarin Rafa mengejar di kelasnya.

Rafa tidak menghiraukan ucapan Monica dan langsung berlalu pergi karena harus masuk kelas.

"Gilaaa. Diliat dari deket ganteng banget astaga!!" pekik Monica sambil tersenyum lebar.

"Pelipis lo kenapa?" tanya Bebi saat Dara sudah duduk di sampingnya.

Beruntung Bu Indah tidak mempermasalahkan Dara yang masuk terlambat. Karena Bu Indah melihat Dara tadi ada di ruang

guru.

"Kena lemparan bola basket," jawab Dara ketus. Bukan karena kesal Bebi bertanya padanya, melainkan saat mengingat seringai Monica tadi, dia jadi tambah kesal.

"Kok bisa?" tanya Bebi dan Dara hanya mengedikkan bahunya.

Jam istirahat kedua, Bebi dan Dara sudah berada di kantin. Karena tidak sarapan, Dara kini merasa perutnya sangat lapar. Beruntung pagi tadi ayahnya ada mentransfer sejumlah uang ke rekeningnya. Dia jadi tidak usah berhemat lagi. Tidak harus juga menerima kartu yang diberikan

oleh Rafa kemarin.

"Ini pesenan baksonya, Non."

"Makasih, Bu."

Baru saja Dara hendak menyuapkan potongan bakso ke mulutnya, tiba-tiba Monica dan Braden duduk di depannya.

"Kenapa? Gak boleh gue sama Braden duduk di sini?" tanya Monica saat Dara melihatnya.

"Terserah!" balas Dara memilih untuk acuh tak acuh. Menurutnya dua manusia di depannya itu sangatlah tidak penting dan urusan perutnya jauh lebih penting.

"Braden, nanti sore kita jadi kan nonton dulu?" tanya Monica.

"Jadi dong, Babe."

Bebi melirik ke arah Dara yang nampak cuek makan meski Monica dan Braden terlihat seperti pamer kemesraan di depannya.

Sedangkan Dara, entah mengapa dia tidak merasa sedih atau sakit hati mendengar serta menyaksikan aksi Braden dan Monica di depannya.

"Kelas yuk!" ajak Dara pada Bebi.

"Eh, mau ke mana dulu? Kok buru-buru banget sih?" tanya Monica.

Dara melirik sinis. "Bukan urusan lo!" Dia kemudian pergi dengan Bebi.

Kedua tangan Monica mengepal. Bukankah harusnya dia bisa melihat raut wajah Dara yang sedih dan hancur barusan? Mengapa gadis itu terlihat biasa-biasa saja? Bahkan Dara terkesan berani padanya.

Tidak berbeda jauh dengan Monica, Braden pun sedikit merasa terusik dengan sikap Dara. Dia tampan, keren, ketua OSIS pula. Sedangkan Dara? Culun begitu. Braden yakin, kalau Dara tidak mungkin secepatnya move on darinya. Dara pasti hanya pura-pura kuat di depannya.

 

Dara pulang agak telat karena tadi dia dan Bebi pergi dulu ke toko

buku untuk berburu komik keluaran terbaru. Ayah Aldi tadi mengirimkan uang agak lebih, katanya untuk membeli komik kesukaannya.

Dara jelas tersentuh. Ternyata sang ayah masih mengingat kesukaannya. Bahkan tahu kalau komik yang dia tunggu kelanjutannya hari ini mulai berbedar di pasaran.

"Oma." Dara mencium punggung tangan Oma Atira yang sedang duduk di sofa ruang tengah.

"Dapet komiknya?" tanya Oma Atira.

Dara tersenyum dan mengangguk. "Dapet, Oma. Meski tadi harus rebutan." Dia nyengir setelahnya.

Dara memang selalu pamit kepada Oma Atira setiap dia mau pergi ke mana pun. Dia sudah berusaha untuk menerima takdirnya karena harus menikah dengan Rafa. Meski suaminya itu terkesan jutek, dingin, bahkan bermulut pedas. Tapi, ada Oma Atira yang perhatian dan terlihat menyayanginya.

"Ya sudah, sekarang kamu istirahat aja," ucap Oma Atira.

Dara mengangguk dan menaiki undakan tangga menuju kamarnya. Saat sampai, di lantai atas, langkahnya terhenti saat melihat Rafa berdiri sambil bersandar ke

tembok di dekat pintu kamarnya.

"Mau apa dia?" batin Dara heran.

1
falea sezi
enak bgt si aldi najis pas sakit ke istri pas seneng2 ke. selingkuh an jangan. bego erina np erina di buat bloon sih
falea sezi
erina mending cerai duda tua banyak ngapain suami mu bekas. jalang lu mau
Ikky
dipersilahkan
Ikky
3
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!