NovelToon NovelToon
CEO IMPIAN MONTIR IDAMAN

CEO IMPIAN MONTIR IDAMAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ais_26

Ia berlutut pelan di depan ibunya.

“Bu…” suaranya hampir tak terdengar.

Ibunya bergerak sedikit. Mata itu terbuka perlahan.

Butuh dua detik untuk menyadari.

“Ara?”

Ara tersenyum, air mata akhirnya jatuh.

“Iya Bu. CEO-nya belum dapat tapi anaknya pulang dulu”

Ibunya duduk tegak, lalu memeluknya tanpa kata.

“Eleh. Kaya raya siapa yang mau sama modelan kaya kamu tuh? Paling ada Mang Diman. Itu baru kaya tujuh turunan gak habis-habis. Mau Ibu jodohin?” katanya sambil ketawa terbahak-bahak

Ara langsung panik setengah jengkal

“Eh jangan Diman dong Bu! Nanti anak Ibu jadi istri ketiga terus Ara punya anak tiri enam!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais_26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26

Di desa sebelah, rumah Danu sudah seperti rumah hajatan sungguhan.

Sejak pagi, halaman dipenuhi sandal dan sepeda motor saudara. Sepupu, ponakan, tante, dan bude berdatangan tanpa perlu diundang ulang semua tahu dua hari lagi hari besarnya.

Di dapur belakang, wajan besar kembali dinaikkan ke atas tungku.

Hari ini buat dodol harus benar-benar selesai.

“Api jangan terlalu besar!” seru salah satu bude.

“Kalau gosong, ulang dari awal!”

Dua sepupu bergantian mengaduk adonan yang mulai mengental. Keringat membasahi punggung mereka.

“Ini bukan bikin dodol, ini latihan mental,” keluh salah satu.

Tawa pecah.

Di meja panjang, para tante sibuk membungkus jajan pasar untuk pelengkap seserahan. Lemper disusun rapi. Kue lapis dipotong presisi.

“Harus cantik. Ini yang dilihat pertama kali keluarga perempuan,” ujar salah satu tante sambil merapikan susunan.

“Bukan cuma cantik,” sahut yang lain. “Harus manis. Biar rumah tangganya manis juga.”

Danu berdiri di ambang pintu dapur, memperhatikan.

Aroma gula merah, santan, dan daun pisang bercampur jadi satu. Suasana hangat, ramai, penuh canda.

“Dan! Sini coba rasain lagi,” panggil budenya.

Danu mencicipi sedikit.

“Masih kurang?”

“Enggak, Bud. Pas.”

“Yakin? Jangan sampai nanti dibilang kurang manis.”

Danu tersenyum tipis.

“Kalau kurang, nanti saya tambah sendiri.”

Beberapa tante langsung bersorak, menggoda.

“Wah, sudah berani jawab!”

“Dua hari lagi resmi ya!”

Belum lama setelah itu, sebuah mobil berhenti di depan rumah.

Wedding organizer datang membawa hantaran yang sudah dirapikan dari barang-barang yang sebelumnya dibeli.

Kotak demi kotak diturunkan.

Sepatu. Tas. Perlengkapan ibadah. Kain. Perhiasan sederhana. Semua dibungkus kain dan pita yang warnanya serasi dengan tema acara.

Ibunya menyambut dengan wajah campur aduk antara lelah dan haru.

“Taruh di ruang tengah saja, Mbak.”

Ruang tamu yang kemarin masih biasa kini berubah menjadi ruang penuh simbol.

Para sepupu yang tadi sibuk di dapur kini ikut mengerubungi.

“MasyaAllah, cantik banget.”

“Ini nanti dibawa H-1 kan?”

“Iya, besok sore.”

Danu berdiri agak belakang, memperhatikan tanpa banyak bicara.

Dua hari lagi.

Dodol hampir matang.

Hantaran sudah lengkap.

Saudara sudah berkumpul.

Namanya disebut-sebut dalam setiap obrolan.

“Danu nanti duduknya di mana?”

“Waktunya jam berapa?”

“Sudah latihan ijab belum?”

Ia tersenyum tipis setiap kali mendengar itu.

H-2 membuat semuanya terasa lebih dekat.

Bukan lagi hitungan yang terasa jauh.

Dua hari.

Empat puluh delapan jam.

Dan di tengah rumah yang ramai oleh keluarga dan aroma dodol yang manis itu, Danu menarik napas panjang.

Takutnya masih ada.

Deg-degannya makin terasa.

Tapi satu hal semakin jelas—

Ia tidak berjalan sendirian.

Seluruh rumah ikut menguatkannya.

Dan dua hari lagi, ia akan mengucapkan satu kalimat

yang mengubah semuanya.

Belum selesai keramaian itu, sebuah mobil berhenti di depan rumah.

Wedding organizer datang.

Beberapa orang turun membawa kotak-kotak hantaran yang sebelumnya sudah disiapkan dan dipesan. Barang-barang itu kini dikemas rapi—dibalut kain, dihias pita, ditata dengan detail.

Ibunya segera menyambut.

“Silakan, Mbak. Taruh di ruang tengah saja.”

Kotak demi kotak diturunkan. Sepatu, tas, perlengkapan ibadah, kain, dan berbagai barang lain yang sudah dipilih berminggu-minggu sebelumnya kini berubah menjadi susunan hantaran yang cantik.

Para tante yang tadi sibuk di dapur kini bergeser ke ruang tengah.

“MasyaAllah, cantik sekali.”

“Warna bungkusnya cocok ya sama temanya.”

“Ini yang pilih Danu?”

Danu tersenyum kecil. “Bareng.”

Ia berdiri memandangi semua itu.

Danu berdiri cukup lama di ruang tengah, memandangi hantaran yang sudah tersusun rapi.

Kainnya halus. Pitanya terikat presisi. Semua terlihat siap.

Dari belakang rumah, suara dodol yang diaduk masih terdengar berat dan teratur.

“Dan.”

Ia menoleh.

Ayahnya berdiri di pintu, memberi isyarat kecil dengan dagu.

“Ke samping sebentar.”

Danu mengikuti. Mereka berjalan melewati dapur yang masih riuh, lalu berhenti di bawah pohon mangga di samping rumah. Di sana lebih tenang. Hanya suara keluarga yang terdengar samar.

Ayahnya tidak langsung bicara. Ia memperhatikan halaman sebentar, lalu menoleh.

“Rumah yang kamu beli tahun lalu itu… sudah siap ditempati?”

Danu mengangguk.

“Sudah, Yah. Renovasinya selesai tiga bulan lalu.”

Rumah itu bukan rumah besar. Tapi bukan juga kecil.

Satu tahun lalu, saat tabungannya cukup dan pekerjaannya mulai stabil, Danu memberanikan diri membeli rumah sederhana di kota tempat ia bekerja. Awalnya hanya bangunan standar—dua kamar kecil, dapur sempit, halaman seadanya.

Pelan-pelan ia renovasi.

Dinding belakang dibuka, dapur diperluas.

Ia bahkan memilih sendiri warna catnya—putih hangat dengan sedikit sentuhan krem.

Ayahnya mengangguk pelan.

“Kamu setelah nikah jadi langsung pindah apa gimana?”

Pertanyaan itu sederhana. Tapi membuat Danu menarik napas lebih dalam.

“Iya, Yah.”

Ayahnya mengangguk pelan. “Terus kamu sudah omongin sama Ara?”

Danu terdiam sesaat.

“Belum.”

Ayahnya menatapnya, bukan marah—hanya memastikan.

“Belum?”

“Rencananya… setelah beberapa hari nginep di rumah orang tuanya dulu. Baru bilang.”

Angin sore lewat pelan.

Ayahnya menghela napas tipis.

“Kenapa nggak dari sekarang?”

Danu menunduk sebentar, mencari kata.

“Takut bikin dia kepikiran sebelum hari H, Yah. Sekarang saja sudah banyak yang dia pikirkan.”

Ayahnya tidak langsung menyanggah.

Ia menatap Danu sekali lagi, seolah memastikan sesuatu yang belum selesai.

“Jadi Ara juga belun tau?”

Pertanyaannya tenang.

Danu mengerutkan kening sedikit. “Tahu apa, Yah?”

“Kalau kamu sudah beli rumah dan rencananya setelah menikah kalian pindah ke sana.”

Hening.

Suara sendok kayu dari dapur terdengar makin jauh.

Danu menjawab pelan, “Belum, Yah.”

Ayahnya mengangguk kecil. Tidak kaget—seperti sudah menduga.

“Kenapa belum?”

Danu menarik napas. “Danu mau bilangnya nanti saja. Setelah beberapa hari di rumah orang tuanya. Biar dia nggak kepikiran dulu.”

Angin sore kembali berhembus pelan.

Dari dapur terdengar seruan, “Dan! Sini bantu angkat loyangnya!”

Ayahnya tersenyum tipis.

“Jangan tunggu setelah akad untuk mulai belajar jadi suami.”

Danu menghela napas panjang.

“Iya, Yah. Nanti malam saya bicara.”

Ayahnya menepuk bahunya sekali.

“Nah. Itu baru matang.”

Mereka berjalan kembali ke dapur.

Wajan dodol sudah diangkat. Loyang besar menunggu diratakan.

Danu ikut memegang sisi loyang yang masih panas.

Loyang dodol akhirnya diletakkan di meja panjang.

Uapnya masih tipis mengepul. Permukaannya mengilap, cokelat pekat, berat dan manis.

“Ratain yang cepat sebelum keburu keras!” seru bude.

Danu ikut membantu, menekan dan merapikan permukaan dodol dengan sendok kayu besar. Tangannya terasa panas, tapi ia tidak mengeluh.

Kepalanya justru lebih panas oleh satu pikiran—

Aku harus bicara malam ini.

Sepupunya menyenggol bahunya.

“Melamun aja. Kebayang calon, ya?”

Danu tersenyum tipis. “Iya.”

“Tinggal dua hari, lho!”

“Iya.”

Tapi kali ini deg-degannya berbeda.

Bukan soal ijab kabul.

Bukan soal tamu.

Soal percakapan

1
Irmha febyollah
lah kmren si Danu ngantarin gorengan ini ngantar motor SMA karyawan blg gak tau rumah si Ara.
Wati Anja
ko ga ada lanjutannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!