NovelToon NovelToon
CEO IMPIAN MONTIR IDAMAN

CEO IMPIAN MONTIR IDAMAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ais_26

Ia berlutut pelan di depan ibunya.

“Bu…” suaranya hampir tak terdengar.

Ibunya bergerak sedikit. Mata itu terbuka perlahan.

Butuh dua detik untuk menyadari.

“Ara?”

Ara tersenyum, air mata akhirnya jatuh.

“Iya Bu. CEO-nya belum dapat tapi anaknya pulang dulu”

Ibunya duduk tegak, lalu memeluknya tanpa kata.

“Eleh. Kaya raya siapa yang mau sama modelan kaya kamu tuh? Paling ada Mang Diman. Itu baru kaya tujuh turunan gak habis-habis. Mau Ibu jodohin?” katanya sambil ketawa terbahak-bahak

Ara langsung panik setengah jengkal

“Eh jangan Diman dong Bu! Nanti anak Ibu jadi istri ketiga terus Ara punya anak tiri enam!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais_26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31

Malam makin larut.

Di kamar Danu, lampu masih menyala redup. Ia duduk bersandar di dinding, tangan terlipat di dada. Di luar, suara orang-orang yang masih membereskan tenda terdengar samar. Sesekali terdengar suara palu dipukul pelan, atau kursi yang digeser.

Ia memejamkan mata sejenak.

Membayangkan hari itu.

Duduk bersila. Tangan menggenggam tangan wali. Nafas ditarik pelan. Semua mata tertuju padanya. Tidak ada ruang untuk salah.

“Danu…”

Suara Ibu Alya terdengar dari balik pintu.

“Iya, Bu?”

“Sudah istirahat. Besok masih banyak yang harus disiapkan.”

“Iya, Bu.”

Langkah ibunya menjauh. Danu kembali menatap jas yang tergantung. Ia berdiri, merapikan kerahnya pelan, seolah sedang memastikan dirinya siap.

“Aku siap,” gumamnya lirih. Lebih untuk dirinya sendiri.

Di rumah Ara, suasana sudah benar-benar tenang. Lampu ruang tamu dimatikan satu per satu. Hanya lampu kamar yang masih menyala.

Ara duduk di depan meja rias. Rambutnya terurai, wajahnya polos tanpa riasan. Tangannya menyentuh pipinya sendiri.

“lusa…” bisiknya.

Pintu diketuk pelan.

Ibunya masuk, duduk di sampingnya.

“Kamu takut?” tanya lembut.

Ara menggeleng pelan.

“Bukan takut, Bu. Cuma… rasanya besar sekali.”

Ibunya tersenyum.

“Memang besar. Tapi kamu memilihnya dengan sadar. Itu yang bikin kuat.”

Ara menunduk. Ia teringat masa-masa dulu—saat namanya sering dibandingkan, saat keputusannya diragukan, saat orang-orang lebih percaya pada cerita daripada hatinya.

Sekarang, semua itu terasa jauh.

“Bu…” ucapnya pelan.

“Aku nggak salah kan?”

Ibunya menggenggam tangannya erat.

“Kalau kamu tenang, berarti kamu tidak salah.”

Kalimat itu sederhana. Tapi cukup membuat dada Ara terasa ringan.

Keesokan paginya, suasana di rumah Danu kembali riuh. Kali ini lebih teratur. Beberapa orang datang membawa bahan tambahan. Ada yang mengecek sound system. Ada yang memastikan kursi keluarga sudah sesuai daftar.

Fikri mendekat sambil membawa secangkir kopi.

“Mas, minum dulu.”

Danu menerima gelas itu.

“Besok akad ya”

Danu mengangguk.

Di sudut lain, dua orang bapak berbincang.

“Danu sekarang beda ya.”

“Beda gimana?”

“Lebih tenang.”

Danu mendengar sekilas. Ia tersenyum kecil. Mungkin benar. Atau mungkin ia hanya sedang menjaga dirinya agar tidak goyah.

Di rumah Ara, Raina datang lagi pagi itu, kali ini membawa sekotak kue.

“Aku datang cuma mau lihat calon pengantin lagi,” katanya santai.

Ara tertawa.

“Kak, kamu tiap hari datang.”

“Ya mumpung masih boleh ketemu. Besok kan kamu resmi jadi orang.”

Ara tersenyum.

“Orang apaan sih?”

“Istri orang.”

Kata itu terdengar berbeda.

Istri.

Ara menunduk sebentar, mencoba membiasakan diri dengan sebutan itu.

Raina duduk di sampingnya.

“Ra… kamu bahagia?”

Ara mengangkat wajahnya.

“Iya.”

Jawabannya tenang. Tidak ragu.

Raina mengangguk puas.

“Kalau begitu, nggak ada yang perlu ditakutin.”

Sore itu, rumah Ara berubah suasana.

Halaman depan yang biasanya tenang kini dipenuhi kursi berlapis kain putih. Tenda berdiri rapi, dihiasi rangkaian bunga lembut di tiap sudutnya. Beberapa ibu-ibu sibuk mengatur baki hantaran, memastikan kain penutupnya jatuh dengan anggun.

Di dalam rumah, aroma bunga melati terasa lebih kuat.

Hari itu adalah siraman Ara.

Ia duduk di kursi rendah yang telah dihias, mengenakan kain sederhana dan kebaya tipis warna lembut. Rambutnya dibiarkan terurai panjang sebelum nanti dirapikan. Wajahnya tanpa riasan tebal—hanya senyum tenang yang sejak pagi tak banyak berubah.

Ibunya berdiri di sampingnya.

“Tegang?” bisiknya pelan.

Ara menggeleng kecil. “Enggak, Bu… cuma rasanya makin nyata.”

Beberapa kerabat mulai duduk melingkar. Suara pembawa acara terdengar lembut, menjelaskan makna setiap rangkaian.

Air dalam kendi itu bukan sekadar air.

Ia adalah simbol doa.

Satu per satu orang tua yang dituakan maju.

Air disiramkan pelan ke kepala Ara.

Dingin.

Tapi menenangkan.

Saat ibunya mendapat giliran, tangan beliau sedikit bergetar.

Air mengalir pelan, bercampur dengan doa yang tak seluruhnya terdengar. Ara memejamkan mata.

Bukan karena takut.

Tapi karena ia ingin mengingat rasa ini.

Rasa dilepas dengan ikhlas.

Rasa dipercaya sepenuhnya.

Selesai siraman, Ara berdiri dibantu Raina yang sejak tadi menahan haru.

“Besok kamu sudah bukan anak kecil lagi,” bisik Raina sambil tersenyum.

Ara tertawa pelan. “Dari dulu juga bukan.”

“Iya… tapi sekarang resmi.”

Di sudut ruangan, beberapa orang berbisik kagum.

“Ara kelihatan beda ya hari ini.”

“Lebih matang.”

Ara mendengar sekilas, tapi tidak lagi terganggu seperti dulu. Ia tidak sedang membuktikan apa pun pada siapa pun.

Ia hanya sedang melangkah.

Menjelang magrib, acara selesai. Tamu mulai pulang. Sisa bunga dan kain dekorasi masih tertata rapi, menunggu hari berikutnya.

Ara kembali ke kamarnya setelah berganti pakaian.

Rambutnya masih sedikit basah.

Ia duduk sebentar di tepi ranjang, menatap pantulan dirinya di cermin.

Bukan lagi gadis yang sering ragu pada keputusan sendiri.

Bukan lagi gadis yang menunggu validasi.

Sore itu, di rumahnya sendiri, ia benar-benar merasa siap.

Besok, bukan hanya statusnya yang berubah.

Tapi cara ia memandang dirinya sendiri.

Dan untuk pertama kalinya, ia tidak bertanya lagi, “Aku nggak salah kan?”

Karena sore itu, jawabannya sudah jelas.

Sementara itu, di rumah Danu, sore juga berjalan khidmat—dengan cara yang berbeda.

Jika di rumah Ara air mengalir pelan membawa doa, di rumah Danu suasana lebih banyak diisi suara laki-laki dewasa yang berbincang tenang.

Hari itu giliran Danu menjalani siraman dan doa keluarga.

Halaman rumahnya juga sudah dipasangi tenda sederhana. Tidak seramai di rumah Ara, tapi tetap tertata. Kursi-kursi disusun menghadap ke satu titik di mana sebuah kursi kayu rendah diletakkan.

Danu duduk di sana, mengenakan kain dan baju putih polos.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir, ia tidak memikirkan teknis acara.

Ketika air pertama kali disiramkan ke kepala Danu oleh Ibunya, ia tersentak sedikit karena dingin.

Beberapa sepupunya tersenyum kecil.

Tapi Danu tidak bercanda seperti biasanya.

Ia memejamkan mata.

Air itu mengalir dari kepala ke wajahnya, turun ke bahu, membawa rasa yang sulit dijelaskan.

Bukan takut.

Bukan sedih.

Lebih seperti… sadar.

Sadar bahwa setelah ini, ia tidak lagi berdiri hanya untuk dirinya sendiri.

Saat giliran Ayahnya tiba, suasana sedikit lebih sunyi.

Air disiramkan perlahan.

Air disiramkan perlahan.

“Jadi laki-laki itu bukan soal keras,” ucap Ayah pelan, cukup untuk didengar Danu.

“Tapi soal konsisten.”

Kata itu menancap.

Konsisten.

Dalam menjaga.

Dalam bersikap.

Dalam bertanggung jawab.

Setelah prosesi selesai, Danu berdiri dan mencium tangan kedua orang tuanya.

Ibunya memeluknya lebih lama dari biasanya.

“Besok kamu jadi imam,” bisiknya pelan. “Jangan cuma kuat di depan orang. Kuat juga di depan istrimu.”

Danu mengangguk.

“InsyaAllah, Bu.”

Menjelang magrib, tamu-tamu bubar perlahan. Tenda masih berdiri, angin sore membuat kainnya bergerak pelan.

Danu kembali ke kamarnya.

Rambutnya masih sedikit basah.

Ia berdiri di depan cermin.

Wajahnya sama seperti kemarin.

Tapi tatapannya berbeda.

Lebih dalam.

Lebih sadar.

Ia duduk di tepi ranjang, menarik napas panjang.

1
Irmha febyollah
ko di ulang2 kk
Irmha febyollah
lah kmren si Danu ngantarin gorengan ini ngantar motor SMA karyawan blg gak tau rumah si Ara.
Wati Anja
ko ga ada lanjutannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!