Demi melunasi hutang ayahnya, Aluna Maheswari terpaksa menandatangani kontrak pernikahan dengan Arkan Wijaya — CEO muda yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh wanita mana pun. Pernikahan itu hanya sandiwara selama satu tahun. Tanpa cinta. Tanpa sentuhan. Tanpa perasaan. Namun siapa sangka, di balik sikap dinginnya, Arkan menyimpan luka masa lalu yang kelam. Dan Aluna… adalah satu-satunya wanita yang perlahan mencairkan hatinya. Masalahnya, mantan tunangan Arkan kembali. Dan rahasia besar tentang kematian ibu Arkan mulai terungkap. Kontrak mereka mungkin hanya satu tahun. Tapi perasaan? Tidak ada tanggal kedaluwarsa.
Permainan Dua Pewaris
Video di layar masih menyala.
Wajah ayah mereka memenuhi ruangan, menatap lurus ke kamera seolah tahu bahwa suatu hari dua anaknya akan berdiri di tempat ini.
Ruangan rapat terasa lebih dingin.
Tidak ada yang berbicara.
Semua orang menunggu kelanjutan kata-kata pria yang telah mati bertahun-tahun itu.
Aluna berdiri tanpa bergerak.
Di sampingnya, Arkan memperhatikan layar dengan wajah keras. Sedangkan Surya menatap monitor sistem, memastikan tidak ada gangguan lain.
Alvino bersandar santai di kursinya.
Seolah semua ini bukan sesuatu yang mengejutkan baginya.
Video kembali berjalan.
Ayah mereka menarik napas panjang sebelum berbicara.
“Jika kalian menonton ini, berarti kalian akhirnya mengetahui sesuatu yang selama ini kusimpan.”
Ia menatap kamera dengan sorot mata yang berat.
“Kalian berdua adalah pewaris Konsorsium.”
Aluna merasakan dadanya menegang.
Di sebelahnya, Alvino hanya tersenyum kecil.
Seolah ia sudah mendengar kalimat itu sebelumnya.
“Namun kalian tidak diciptakan untuk bekerja sama.”
Kalimat berikutnya jatuh seperti palu.
“Kalian diciptakan untuk menguji satu sama lain.”
Surya mengerutkan kening.
“Apa maksudnya?”
Video terus berjalan.
“Konsorsium tidak bisa dipimpin oleh seseorang yang lemah. Dan kelemahan terbesar manusia adalah kepercayaan.”
Ayah mereka menatap kamera lebih tajam.
“Karena itu aku membesarkan kalian dengan cara yang berbeda.”
Ia berhenti sejenak.
“Aluna dibesarkan dalam cahaya.”
“Alvino dibesarkan dalam bayangan.”
Aluna menatap layar tanpa berkedip.
“Aku ingin melihat siapa di antara kalian yang mampu bertahan ketika kebenaran akhirnya terungkap.”
Ruangan kembali hening.
Video hampir selesai.
“Jika kalian menemukan pesan ini, berarti permainan sudah dimulai.”
Kalimat terakhir itu membuat napas semua orang tertahan.
Ayah mereka tersenyum tipis.
“Dan hanya satu dari kalian yang pantas mewarisi semuanya.”
Layar tiba-tiba mati.
Ruangan tenggelam dalam keheningan.
Aluna tidak langsung bergerak.
Ia mencoba memahami apa yang baru saja ia dengar.
Arkan adalah orang pertama yang berbicara.
“Permainan.”
Nada suaranya dingin.
“Dia memperlakukan kalian seperti pion.”
Alvino mengangkat bahu.
“Begitulah cara ayah berpikir.”
Surya menatap mereka bergantian.
“Ini gila.”
Ia menunjuk layar.
“Rollback sistem masih berjalan. Kita punya kurang dari lima menit sebelum seluruh protokol keluarga terbuka.”
Aluna akhirnya bergerak.
Ia menatap Alvino.
“Kau bilang kau bisa menghentikannya.”
“Benar.”
“Lakukan.”
Alvino tersenyum tipis.
“Tergantung.”
Arkan langsung menyela.
“Tidak ada negosiasi.”
Alvino menatapnya malas.
“Kau terlalu protektif.”
“Aku hanya tidak suka permainan.”
“Sayangnya permainan ini sudah dimulai sejak kita lahir.”
Aluna menarik napas panjang.
“Kau ingin apa?”
Alvino tidak langsung menjawab.
Ia berdiri perlahan dari kursinya dan berjalan mendekati layar server.
Lampu biru dari monitor memantul di wajahnya.
“Aku ingin memastikan sesuatu.”
“Apa?” tanya Aluna.
Ia menoleh sedikit.
“Bahwa kau tidak akan mencoba menyingkirkanku begitu semuanya selesai.”
Aluna menatapnya tajam.
“Jika aku ingin menyingkirkanmu, kau tidak akan berdiri di sini sekarang.”
Alvino tertawa pelan.
“Aku suka jawaban itu.”
Ia mulai mengetik sesuatu di terminal sistem.
Jari-jarinya bergerak cepat.
Baris kode mengalir di layar.
Surya memperhatikan dengan tegang.
“Kau benar-benar tahu sistem ini.”
“Sebagian besar kode dasarnya ditulis oleh ayah,” kata Alvino santai. “Tapi aku menghabiskan sepuluh tahun terakhir mempelajarinya.”
Arkan menyilangkan tangan.
“Sepuluh tahun mempersiapkan diri untuk hari ini?”
“Mungkin.”
Rollback progress: 92%
Surya menelan ludah.
“Kita hampir kehabisan waktu.”
Alvino mengetik beberapa perintah terakhir.
Lalu menekan enter.
Layar berkedip.
Rollback progress berhenti.
Kemudian berubah menjadi pesan baru:
SYSTEM LOCKED — PROTOCOL HALTED
Surya menghembuskan napas lega.
“Berhasil.”
Aluna menatap Alvino.
“Kau baru saja menyelamatkan sistem.”
Alvino tersenyum tipis.
“Anggap saja hadiah perkenalan.”
Arkan masih belum terlihat percaya.
“Aku tidak suka orang yang terlalu mudah membantu.”
“Tenang saja,” jawab Alvino. “Aku juga tidak terlalu percaya pada kalian.”
Keheningan sebentar mengisi ruangan.
Lalu Surya berkata pelan.
“Ada sesuatu yang aneh.”
Semua orang menoleh.
“Rollback memang berhenti,” lanjutnya. “Tapi ada protokol lain yang aktif.”
“Apa maksudmu?” Aluna bertanya.
Surya memutar layar utama.
Sebuah jendela baru muncul.
Di tengahnya ada simbol yang belum pernah Aluna lihat sebelumnya.
Bentuk lingkaran dengan tiga garis bersilangan.
Alvino langsung menegang.
“Tidak mungkin.”
Arkan menyadari perubahan ekspresinya.
“Kau tahu simbol itu?”
Alvino tidak langsung menjawab.
Wajahnya yang sebelumnya santai kini berubah serius.
“Ini protokol yang seharusnya tidak pernah aktif.”
“Kenapa?” Surya bertanya.
Alvino menatap layar dengan mata gelap.
“Karena ini bukan bagian dari sistem ayah.”
Ruangan langsung tegang.
“Kalau bukan ayah yang membuatnya…” kata Arkan pelan.
“Berarti ada orang lain yang mengakses inti Konsorsium.”
Aluna merasakan hawa dingin menjalar di tubuhnya.
“Siapa?”
Surya membaca data di layar.
“Akses berasal dari jaringan internal.”
“Artinya seseorang di dalam perusahaan,” kata Arkan.
Alvino menggeleng pelan.
“Tidak.”
Ia menunjuk kode yang muncul.
“Ini lebih dalam dari jaringan perusahaan.”
“Ini jaringan keluarga.”
Semua orang terdiam.
“Berapa orang yang punya akses itu?” Aluna bertanya.
Surya membuka data.
Beberapa nama muncul di layar.
Namun satu nama membuat ruangan mendadak sunyi.
Arkan menatap layar dengan ekspresi yang belum pernah Aluna lihat sebelumnya.
Dingin.
Tegang.
“Tidak mungkin,” gumamnya.
Aluna mengikuti tatapannya.
Nama itu hanya satu kata.
Cemalia.
Aluna merasakan jantungnya berhenti sesaat.
Wanita itu lagi.
“Dia tidak mungkin punya akses ke jaringan keluarga,” kata Surya.
Alvino menyipitkan mata.
“Kecuali…”
Ia tidak melanjutkan kalimatnya.
Aluna menoleh cepat.
“Kecuali apa?”
Alvino menatapnya dalam-dalam.
“Kecuali dia bukan orang luar.”
Arkan langsung menggeleng keras.
“Itu tidak masuk akal.”
“Kenapa?” tanya Alvino.
Arkan tidak menjawab.
Aluna memperhatikan wajahnya.
Ada sesuatu yang ia sembunyikan.
“Arkan.”
Nada suara Aluna membuat semua orang menoleh.
“Kau tahu sesuatu.”
Arkan terdiam beberapa detik.
Kemudian ia menghela napas panjang.
“Ada satu kemungkinan.”
“Apa?” Surya bertanya.
Arkan menatap layar lagi.
“Jika seseorang menikah dengan anggota keluarga inti… mereka bisa mendapatkan akses terbatas.”
Aluna merasakan pikirannya berputar.
“Menikah?”
Alvino menoleh cepat.
“Kau bilang Cemalia dulu bertunangan denganmu.”
Arkan mengangguk pelan.
“Tapi itu tidak pernah terjadi.”
“Tidak pernah resmi,” kata Alvino.
“Tapi mungkin cukup bagi sistem untuk mencatatnya.”
Surya mengetik cepat.
Beberapa data lama muncul.
Kemudian ia berhenti.
Wajahnya berubah pucat.
“Ada catatan lama.”
Semua orang menatapnya.
“Pertunangan Arkan dan Cemalia pernah didaftarkan dalam arsip keluarga.”
Arkan mengumpat pelan.
“Sudah dibatalkan.”
“Tidak sepenuhnya,” kata Surya.
Ia menunjuk layar.
“Statusnya masih tersimpan dalam sistem lama.”
Aluna merasakan sesuatu yang tidak enak di dadanya.
“Artinya…”
Surya menatapnya.
“Cemalia masih memiliki akses ke jaringan keluarga.”
Alvino tertawa kecil.
“Sekarang ini menarik.”
Arkan menatapnya tajam.
“Tidak ada yang menarik dari ini.”
“Oh, aku tidak setuju.”
Alvino menunjuk layar lagi.
“Dia baru saja mengaktifkan protokol yang bahkan aku tidak kenal.”
Aluna menatap simbol di layar.
“Apa yang dilakukan protokol itu?”
Surya mencoba membukanya.
Namun layar tiba-tiba berkedip.
Alarm kecil berbunyi dari sistem.
WARNING — EXTERNAL OVERRIDE
Semua orang langsung tegang.
Surya membaca data dengan cepat.
“Seseorang mencoba mengambil alih server.”
“Cemalia?” tanya Arkan.
“Bukan.”
Surya menelan ludah.
“Akses berasal dari lokasi berbeda.”
“Dimana?”
Surya menatap layar dengan mata melebar.
“Gedung ini.”
Ruangan mendadak sunyi.
Aluna merasakan hawa dingin menjalar di punggungnya.
“Dia ada di sini?”
Arkan langsung menuju pintu.
“Keamanan!”
Namun sebelum ia membuka pintu—
Lampu di seluruh ruangan tiba-tiba padam.
Layar server mati.
Semua sistem berhenti.
Kegelapan menyelimuti ruangan.
Beberapa detik tidak ada suara selain napas mereka sendiri.
Kemudian…
Lampu darurat merah menyala.
Ruangan dipenuhi cahaya merah redup.
Dan di layar utama yang tiba-tiba hidup kembali—
Muncul satu pesan.
WELCOME BACK, HEIR.
Aluna menatap layar dengan jantung berdegup keras.
Namun kata berikutnya membuat semua orang membeku.
Karena sistem tidak memanggil satu nama.
Ia memanggil dua.
WELCOME BACK, ALUNA PRATAMA.
WELCOME BACK, ALVINO PRATAMA.
Lalu satu kalimat terakhir muncul di bawahnya.
FINAL TEST INITIALIZED.
Alvino tersenyum pelan.
“Sepertinya permainan ayah kita… baru saja benar-benar dimulai.”
Dan di lorong luar ruang rapat—
Suara langkah seseorang mendekat dalam kegelapan.
END BAB 25 🔥