NovelToon NovelToon
Istri Sementara Di Bawah Hujan Luka

Istri Sementara Di Bawah Hujan Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Balas Dendam
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Di malam ketika hujan mengguyur tanpa ampun, Raya diusir dari rumah yang dulu ia sebut surga. Suaminya menolak kehadirannya hanya karena ia tak mampu memenuhi harapan keluarga—seorang anak laki-laki. Dengan hati hancur dan tubuh gemetar, Raya berjalan tanpa tujuan hingga akhirnya tersungkur di trotoar. Di ambang putus asa, sebuah mobil berhenti di depannya. Pria asing bernama Arya menawarkan sesuatu yang terdengar tak masuk akal: sebuah pernikahan pura-pura sebagai solusi bagi masalah mereka masing-masing.
Arya membutuhkan seorang istri untuk meredam tekanan keluarganya, sementara Raya membutuhkan tempat berlindung dari dunia yang telah menolaknya. Tanpa cinta, tanpa janji manis, hanya sebuah kesepakatan dingin yang mengikat dua jiwa terluka. Namun di balik perjanjian tanpa perasaan itu, perlahan mereka mulai menemukan kehangatan yang tak direncanakan. Dari hubungan yang semula sekadar sandiwara, tumbuh benih perasaan yang menguji batas antara kewajiban dan cinta sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3

Arya segera melajukan mobilnya menuju vila tempat ia menempatkan Raya. Pikirannya masih dipenuhi perbincangan dengan kedua orang tuanya.

Mereka memang menerima siapa pun yang ia pilih, tapi apakah mereka benar-benar akan menerima Raya dengan segala kondisinya? Namun, ia tidak punya waktu untuk memikirkan hal itu terlalu lama. Saat ini, ia harus memastikan bahwa Raya baik-baik saja.

Sesampainya di vila, Arya turun dari mobil dengan langkah cepat. Ia tidak terbiasa mengetuk pintu dan langsung membuka kamar tempat Raya menginap.

Raya yang baru saja selesai mandi sedang berdiri di depan cermin, mengeringkan rambutnya dengan handuk. Saat melihat pintu kamar tiba-tiba terbuka dan sosok Arya berdiri di sana, ia terkejut, matanya membelalak. "Astaghfirullah! Apa-apaan ini?!"

Tanpa pikir panjang, Raya melemparkan handuk yang ada di tangannya tepat ke wajah Arya.

"Aduh!" Arya terkesiap, tangannya meraba wajahnya yang kini tertutup handuk basah. Dengan kesal, ia segera keluar dari kamar dan mendengus sambil mencengkeram handuk itu. "Kau gila ya?!"

Di luar kamar, Irsyad, asisten setianya, menyaksikan kejadian itu. Ia berusaha keras menahan tawa, tetapi sudut bibirnya tetap terangkat. Melihat itu, Arya mendelik tajam ke arahnya. "Apa yang kau tertawakan?"

Irsyad mengangkat tangan tanda menyerah.

"Tidak, tidak ada, Pak. Saya hanya..."

"Pergi sana, sebelum aku membuatmu tidak bisa tertawa lagi!" bentak Arya.

Irsyad segera berbalik dan pergi dengan senyum tertahan. Sementara itu, Arya masih berdiri di depan pintu kamar Raya, menunggu dengan kesal.

Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Raya sudah mengenakan hijab yang langsung dipakainya tanpa banyak persiapan. Ia menatap Arya dengan sorot tajam dan melipat kedua tangannya di depan dada. "Apa kau tidak tahu caranya mengetuk pintu?"

Arya menyeringai tipis. "Aku tidak terbiasa mengetuk pintu di tempatku sendiri."

Raya mengangkat alis, lalu tanpa basa-basi mencubit lengan Arya dengan cukup kuat. "Aduh! Hei!" Arya refleks mundur selangkah sambil mengusap lengannya yang terasa nyeri.

"Itu hukuman karena lancang!" ujar Raya tegas. "Jangan pernah mengulanginya lagi, atau aku akan lebih dari sekadar melempar handuk."

Arya menatap Raya dengan ekspresi campuran antara kesal dan tak percaya. "Baiklah, baiklah, aku mengerti. Kau galak juga, ya?"

Raya mendengus. "Dan kau kurang ajar."

Arya tertawa kecil. "Baiklah, aku minta maaf."

Raya tetap menatapnya curiga. "Ada apa sebenarnya kau datang pagi-pagi begini?"

Arya menghela napas, lalu menatap Raya dengan serius. "Ada sesuatu yang harus kita bicarakan."

Wajah Raya sedikit mengeras. Ia sudah menduga bahwa tidak mungkin Arya datang hanya untuk mencari masalah dengannya. Namun, apa yang ingin dikatakan pria itu? Apakah tentang perjanjian mereka? Atau ada sesuatu yang lebih besar menanti di depan?

Raya dan Arya kini duduk berhadapan di ruang tamu vila yang terasa begitu luas dan mewah. Di antara mereka, sebuah dokumen perjanjian terbuka di atas meja. Raya baru saja selesai membacanya, dan ekspresinya berubah drastis. Matanya menatap Arya dengan keterkejutan yang tak bisa ia sembunyikan.

"Apa ini?" tanyanya tajam, suaranya mengandung ketidakpercayaan.

Arya tetap tenang, menyandarkan punggungnya di sofa. "Perjanjian kita."

Raya menatap dokumen itu lagi. "Di sini tertulis bahwa setelah aku melahirkan, aku harus menikah denganmu. Dan aku harus bertahan di sisi sampai kau menemukan wanita yang kau cintai. Jika kau sudah menemukannya, barulah aku boleh pergi bersama anakku."

Ia mengangkat kepalanya, menatap Arya tajam.

"Kau pikir aku ini apa? Aku bukan boneka yang bisa kau simpan sementara, lalu kau buang begitu saja saat kau menemukan seseorang yang lebih baik."

Arya tetap bersikap dingin. "Aku hanya ingin memastikan orang tuaku senang dan mendapat cucu. Kau bisa tinggal dengan nyaman, dan aku akan memberikan semua yang kau butuhkan. Itu keuntungan untukmu, bukan?"

Raya mendengus sinis. "Keuntungan? Bagaimana kalau kau tidak pernah menemukan wanita yang kau cintai? Aku akan terpenjara selamanya?"

Arya tersenyum tipis, matanya masih menunjukkan ketenangan. "Tenang saja. Aku akan menemukannya. Aku bukan pria yang sulit jatuh cinta."

"Kalau kau tidak sulit jatuh cinta, kenapa sampai sekarang kau belum mempunyai istri?"

"Ya karena belum bertemu jodoh," jawab Arya santai.

"Ish, bilang aja nggak laku," ucap Raya pelan.

"Kau bilang apa? Aku ini laku ya, cuma tidak mau sembarangan memilih wanita. Yang ada aku kayak mantan suamimu. Dapat wanita galak sepertimu."

"Kau--"

"Ibu hamil dilarang marah-marah."

Raya mengerutkan kening. "Bagaimana kalau kau tidak menemukan wanita yang kau cintai?"

Arya mengangkat bahu santai. "Maka kau akan semakin kaya. Aku akan memberimu 100 juta setiap bulan, di luar semua kebutuhan anak mu. Itu jumlah yang besar, bukan?"

Raya menatapnya dengan penuh amarah. "Kau pikir semua ini bisa diselesaikan dengan uang? Aku tidak akan menandatangani ini!"

Arya menatapnya tanpa ekspresi. "Kau tidak punya pilihan lain, Raya."

Ketegangan menyelimuti ruangan itu.

Raya masih berusaha mengendalikan emosinya. Tawaran Arya terdengar gila. Mana mungkin ia menyetujui perjanjian semacam itu? Namun sebelum ia bisa berdiri dan meninggalkan tempat itu, Arya menahan tangannya.

"Kau benar-benar menolak tawaran ini?"

Raya menepis tangannya dengan kasar. "Aku tidak tertarik."

Arya menghela napas lalu bersandar santai di sofa. "Aku tahu kau masih menyimpan dendam pada keluarga Hartawan. Pada suamimu, mertuamu, iparmu... Mereka semua membuangmu hanya karena kau mengandung anak perempuan."

Raya terdiam, hatinya mencelos mendengar kenyataan yang memang tidak bisa ia pungkiri.

Arya melanjutkan, suaranya tenang tetapi mengandung jebakan halus. "Apa kau tidak ingin melihat mereka menyesal? Mereka semua mata duitan, bukan? Bisa kau bayangkan jika suatu hari nanti kau kembali dengan kekayaan yang mereka tidak pernah bayangkan? Aku yakin mereka akan merangkak padamu, meminta belas kasihan."

Raya mengepalkan tangannya. Ia membenci kenyataan bahwa kata-kata Arya menggoyahkan hatinya.

Arya tersenyum melihat reaksinya. "Bahkan, kau bisa lebih dari itu. Kau bisa menghancurkan mereka."

Raya mengernyit. "Apa maksudmu?"

"Bukankah suamimu dan keluarganya punya perusahaan? Apa kau tidak ingin membuat mereka bangkrut? Membuat mereka merasakan penderitaan yang kau rasakan?"

Raya menatap Arya dengan curiga. "Kau membual."

Arya tertawa kecil. "Kau tidak percaya padaku?

Baiklah, cari sendiri siapa aku."

Ia mengambil ponselnya, menyerahkannya pada Raya. "Ketik namaku di internet."

Dengan ragu, Raya mengambil ponsel itu dan mengetik 'Arya Atmawijaya' di mesin pencari. Dalam hitungan detik, sederet artikel muncul di layar.

Matanya melebar membaca berita-berita itu.

Arya Atmawijaya, CEO muda jenius dengan jaringan bisnis luas.

Anak tunggal keluarga Wijaya Group, salah satu keluarga terkaya di negeri ini.

Arya Atmawijaya, pria berpengaruh di dunia bisnis yang mampu menjatuhkan siapa pun.

Tangannya sedikit gemetar saat mengembalikan ponsel itu kepada Arya. "Jadi... kau benar-benar..."

Arya menyeringai. "Sekarang, apakah kau masih berpikir aku membual?"

Raya menelan ludahnya, pikirannya berkecamuk. Tawaran ini bisa mengubah hidupnya. Bisa menjadi kesempatan untuk membalas mereka yang telah menghancurkannya.

Arya menatapnya dengan penuh keyakinan.

"Jadi, bagaimana? Apakah kau ingin mengambil kesempatan ini?"

"Sebelum aku menandatangani perjanjian ini, aku ingin tahu satu hal."

Arya menaikkan alisnya, terlihat tenang. "Apa itu?"

Raya menatapnya dengan serius. "Bagaimana caramu membantuku membalas dendam? Aku tidak ingin terjebak dalam rencana yang hanya berakhir sia-sia."

Arya tersenyum miring, lalu bersandar di sofa.

"Aku tahu kau wanita yang cerdas. Jadi, dengarkan baik-baik."

Ia mengambil sebuah tablet dari meja dan menunjukkan sebuah dokumen tender kepada Raya.

"Perusahaan Hartawan, milik keluarga suamimu, ikut masuk dalam tender proyek pembangunan hotel senilai enam puluh miliar yang akan diberikan oleh perusahaan Atmawijaya."

Raya menyipitkan mata. "Dan?"

Arya menatapnya dengan pandangan penuh percaya diri. "Setelah kau melahirkan nanti, aku akan mengumumkan kepada semua orang bahwa yang berhak menentukan siapa yang mendapatkan proyek ini adalah kau."

Mata Raya membesar. "Aku?"

Arya mengangguk santai. "Ya. Kau yang akan memegang kendali penuh atas proyek ini. Bukan aku. Dengan begitu, kau bisa menyaksikan dengan mata kepalamu sendiri bagaimana keluargamu yang serakah itu jatuh dan menyesali apa yang telah mereka lakukan padamu."

Raya terdiam sesaat. Ia membayangkan bagaimana ekspresi suaminya, mertuanya, dan semua yang telah mengusirnya ketika mengetahui bahwa satu-satunya harapan mereka untuk mendapatkan proyek besar justru ada di tangannya.

Arya menyandarkan tubuhnya dan melanjutkan dengan nada datar. "Dan aku akan memastikan mereka tahu bahwa proyek ini bukan berada di bawah kepemimpinanku, melainkan di bawah kepemimpinanmu. Kau, Raya, yang akan memutuskan segalanya."

Sebuah senyuman perlahan muncul di wajah Raya. "Aku suka rencana ini."

Arya terkekeh. "Tentu saja kau suka. Jadi, apa kau sudah siap menandatangani perjanjian ini?"

Tanpa ragu, Raya mengambil pena yang disodorkan Arya. Jari-jarinya sedikit gemetar, bukan karena takut, tetapi karena kegembiraan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Saat pena menyentuh kertas, ia tahu bahwa ini adalah awal dari babak baru dalam hidupnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!