NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Pewaris Terkaya Yang Diremehkan

Istri Kontrak Pewaris Terkaya Yang Diremehkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Laskar Bintang

Demi menyelamatkan perusahaan ayahnya, Alina menerima pernikahan kontrak dengan pewaris konglomerat yang dingin dan kejam. Di mata semua orang, ia hanyalah wanita murahan yang menikah demi uang.

Tak ada yang tahu, Alina sebenarnya pewaris keluarga finansial terbesar yang sengaja menyembunyikan identitasnya.

Saat kontrak hampir berakhir dan rahasianya terbongkar, sang suami justru jatuh cinta. Kini, ketika kebenaran terungkap siapa yang sebenarnya sedang mempermainkan siapa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laskar Bintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Sisi yang Sama

Pagi itu terasa berbeda.

Bukan karena matahari yang masuk lewat jendela kamar utama. Bukan juga karena aroma kopi yang biasa disiapkan oleh staf rumah.

Melainkan karena untuk pertama kalinya sejak pernikahan mereka dimulai, Alina bangun tanpa rasa waspada.

Ia membuka mata perlahan dan menyadari sesuatu Arsen masih ada di sampingnya.

Bukan di sofa seperti malam-malam sebelumnya. Bukan menjaga jarak seolah mereka hanya dua orang asing yang terikat kontrak.

Ia tertidur di ranjang yang sama.

Dengan jarak yang nyaris tak ada.

Alina menatap langit-langit sejenak, mengingat percakapan mereka semalam. Semua sudah terbuka. Identitasnya. Tujuannya. Ketakutannya.

Dan Arsen tetap tinggal.

Ia memiringkan kepala sedikit. Wajah pria itu tampak lebih tenang saat tertidur. Tidak ada garis tegang di antara alisnya. Tidak ada sorot dingin yang biasa ia tunjukkan di ruang rapat.

Tangan Arsen masih berada di pinggangnya.

Hangat.

Protektif.

Jantung Alina berdetak pelan.

Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa sedang memainkan peran.

Ia benar-benar menjadi istri seseorang.

Beberapa menit kemudian Arsen bergerak, membuka mata perlahan. Tatapan mereka bertemu dalam jarak yang terlalu dekat untuk pura-pura acuh.

“Pagi,” ucap Arsen serak.

Alina tersenyum kecil. “Pagi.”

Tidak ada kecanggungan. Tidak ada penjelasan panjang.

Hanya keheningan nyaman yang belum pernah ada sebelumnya.

Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.

Ponsel Arsen berdering.

Ia meraih ponselnya, melihat layar, lalu wajahnya berubah serius.

“Rapat darurat,” katanya singkat.

Alina langsung duduk tegak. “Dewan?”

Arsen mengangguk. “Mereka menerima proposal resmi dari Ardhana Capital pagi ini.”

Alina membeku.

“Apa?” bisiknya.

“Aku kira kau sudah mengendalikan mereka.”

“Aku memang sudah,” jawabnya cepat. “Aku tidak memberi izin untuk langkah agresif.”

Arsen menatapnya tajam, tapi bukan dengan tuduhan. Lebih kepada kewaspadaan.

“Artinya ada yang bergerak tanpa sepengetahuanmu.”

Nama itu muncul hampir bersamaan di kepala mereka.

“Pamanmu?” tanya Arsen.

Alina mengepalkan tangan. “Kemungkinan besar.”

Ia bangkit dari ranjang tanpa ragu.

“Siapkan mobil. Aku ikut ke kantor.”

Arsen menahannya lembut. “Ini bisa menjadi perang terbuka antara dua perusahaan besar.”

Alina menatapnya mantap. “Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi tanpa suaraku didengar.”

Ruang rapat utama Wijaya Group sudah dipenuhi ketegangan saat mereka tiba.

Beberapa anggota dewan tampak berbisik ketika Alina masuk bersama Arsen. Sorot mata yang dulu meremehkannya kini dipenuhi rasa ingin tahu dan sedikit kekhawatiran.

Arsen duduk di kursi utama.

Alina berdiri di sampingnya.

Bukan sebagai tamu.

Bukan sebagai istri pajangan.

Melainkan sebagai seseorang yang punya posisi.

“Baik,” kata Arsen tenang. “Kita mulai.”

Salah satu direktur senior membuka map dan berbicara.

“Ardhana Capital mengajukan pembelian saham tambahan sebesar lima belas persen. Jika disetujui, mereka akan menjadi pemegang saham signifikan kedua setelah keluarga Wijaya.”

Ruangan sunyi.

“Dan jika ditolak?” tanya Arsen.

“Mereka mengisyaratkan akan mengalihkan investasi ke kompetitor utama kita.”

Ancaman yang halus.

Alina melangkah maju.

“Saya ingin berbicara,” katanya.

Beberapa orang tampak ragu, tapi Arsen mengangguk.

“Silakan.”

Alina berdiri tegak.

“Proposal itu tidak mewakili keputusan final keluarga Ardhana,” ucapnya jelas. “Ada perbedaan pandangan di internal kami.”

Salah satu direktur mengernyit. “Dengan segala hormat, Nyonya, dokumen itu sudah ditandatangani oleh perwakilan resmi.”

“Perwakilan tidak selalu berarti pemilik keputusan,” jawab Alina tenang.

Semua mata kini tertuju padanya.

“Saya adalah pemegang saham mayoritas Ardhana Capital,” lanjutnya.

Beberapa orang tersentak.

Meski rumor sudah beredar, mendengarnya langsung tetap memberi efek berbeda.

“Saya tidak berniat mengambil alih Wijaya Group,” katanya tegas. “Sebaliknya, saya ingin kerja sama yang saling menguatkan, bukan saling menekan.”

Arsen memperhatikannya dengan tatapan yang sulit ditebak.

“Jadi apa yang Anda usulkan?” tanya direktur tadi.

“Penundaan pembahasan saham selama tiga puluh hari,” jawab Alina. “Beri saya waktu menyelesaikan konflik internal di pihak kami. Jika setelah itu Anda tetap merasa proposal ini mengancam, saya pribadi akan menarik seluruh penawaran.”

Keheningan panjang.

Tiga puluh hari adalah waktu yang singkat di dunia bisnis.

Namun cukup untuk menentukan arah.

Arsen akhirnya berbicara.

“Kita tunda pemungutan suara,” katanya. “Tiga puluh hari.”

Rapat ditutup.

Ketika ruangan mulai kosong, Arsen tetap duduk di kursinya. Alina mendekat.

“Kau mengambil risiko besar,” katanya pelan.

“Aku tahu.”

“Jika kau gagal mengendalikan Ardhana, saham kita bisa goyah.”

Alina menatapnya. “Percayalah padaku.”

Ia tidak mengucapkannya sebagai rayuan.

Melainkan sebagai janji.

Arsen berdiri dan mendekat hingga jarak mereka kembali tipis.

“Aku sudah memilih untuk percaya,” katanya. “Sekarang jangan buat aku menyesal.”

Alina tersenyum tipis. “Aku tidak akan.”

Namun jauh di dalam hatinya, ia tahu pertarungan yang sebenarnya baru saja dimulai.

Malam itu, di rumah besar keluarga Ardhana, suasana jauh lebih panas.

Pamannya berdiri di ruang kerja dengan ekspresi keras ketika Alina masuk.

“Kau ikut campur dalam keputusan dewan,” ucap pria itu dingin.

“Karena keputusan itu tidak melalui persetujuanku,” balas Alina.

“Kau terlalu emosional karena pernikahanmu.”

“Dan Paman terlalu ambisius karena kekuasaan.”

Mereka saling menatap tanpa kedip.

“Kau menikah dengan pewaris Wijaya. Itu sudah cukup menguntungkan kita. Mengambil alih perusahaannya adalah langkah logis.”

“Logis untuk siapa?” tanya Alina. “Untuk keluarga atau untuk Paman pribadi?”

Wajah pria itu mengeras.

“Kau masih muda. Jangan merasa dunia ada di tanganmu.”

Alina tersenyum tipis.

“Dunia memang tidak ada di tanganku,” katanya. “Tapi Ardhana Capital ada.”

Kalimat itu menggantung berat di udara.

Untuk pertama kalinya, pamannya tampak menyadari bahwa gadis yang dulu dianggap hanya simbol pewaris kini benar-benar siap memimpin.

“Aku memberi waktu tiga puluh hari,” lanjut Alina. “Setelah itu, keputusan final ada padaku.”

Ia berbalik pergi sebelum pamannya sempat menjawab.

Malam semakin larut ketika Alina kembali ke rumah.

Arsen sudah menunggunya di ruang tamu.

“Kau baik-baik saja?” tanyanya.

Alina mengangguk pelan. “Untuk sekarang.”

Ia duduk di sampingnya, kali ini tanpa jarak.

“Kita mungkin akan menghadapi tekanan dari dua sisi,” katanya. “Keluargamu dan keluargaku.”

Arsen menatap lurus ke depan.

“Aku tidak takut tekanan,” jawabnya. “Aku hanya tidak ingin kehilanganmu di tengah semua ini.”

Alina menoleh.

Dan untuk pertama kalinya, ia melihat ketakutan yang tulus di mata pria itu.

Ia menggenggam tangan Arsen.

“Kau tidak akan,” bisiknya.

Namun di balik janji itu, keduanya tahu

Tiga puluh hari ke depan akan menentukan apakah mereka benar-benar berdiri di sisi yang sama…

Atau justru terseret arus ambisi yang lebih besar dari cinta mereka.

(BERSAMBUNG)

1
Osie
mampir nih..baca sipnosis sepertinya seru..so lanjut baca dan moga ini cerita gak ngegantung kayak jemuran 🙏🙏
Nia nurhayati
mampirrr thorr
Lusi Sabila
kayaknya seru nih.. buat bucin yaa Thor tuh yg dingin kayak kulkas 10 pintu Arsen 😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!