NovelToon NovelToon
Dikira Musibah, Nyatanya Berkah.

Dikira Musibah, Nyatanya Berkah.

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / One Night Stand / Cinta setelah menikah
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: cucu@suliani

Mutiara mengira kalau dikhianati oleh kekasihnya adalah hal yang terburuk di dalam hidupnya, musibah yang akan membuat di hidupnya terpuruk. Namun, ternyata hal itu merupakan berkah di dalam hidupnya.

"Kenapa kamu tega, Fajar? Kenapa aku hanya dijadikan lelucon saja di dalam hubungan kita ini?"

Bagaimana kehidupan Mutiara selanjutnya?

Kuy baca, jangan lupa kasih komen yang baik jika suka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DMNB 1

​"Mutiara! Berkas yang aku minta tadi pagi mana?"

​Suara Fajar memotong keheningan kubikel, tajam dan tanpa basa-basi. Mutiara tersentak. Ia hafal nada itu bukan nada suara dari seorang kekasih, melainkan atasan yang sedang kehilangan kendali.

Dengan jemari yang sedikit dingin, ia menyambar map biru di atas mejanya, lalu mengetuk pintu ruangan Fajar dua kali dan melangkah masuk.

​"Ini."

Mutiara meletakkan mapnya di atas meja. Ia berdiri sambil diam, matanya menelusuri rahang Fajar yang mengeras. Terlihat sekali jika pria itu sedang kesal dan menahan amarah di dalam dadanya.

"Kenapa ketus sekali? Ada yang salah dengan laporan itu, atau... ini soal kita?"

​Fajar tidak menjawab. Ia malah memijat pelipisnya, dia menghindari kontak mata dengan Mutiara. Tiga tahun mereka berpacaran, tiga tahun pula mereka menutupi hal itu.

Tiga tahun Mutiara menelan harga dirinya demi kenyamanan bersama, sebuah alasan klasik bagi pria yang belum siap mengakui dunianya.

​"Ayah akan pulang minggu depan," ujar Fajar pada akhirnya.

Matanya beralih ke jendela, dia menatap gedung-gedung tinggi Jakarta dengan pandangan kosong. Mutiara diam dengan sabar menantikan apa yang akan pria itu katakan terhadap dirinya

"Dia berkata akan menjodohkan aku dengan anak dari rekan bisnisnya, itulah kenapa alasan ayah pulang."

​Dada Mutiara seolah dihantam benda tumpul. Bayangan tentang neneknya yang selama ini pengobatannya dibiayai oleh Fajar, serta rasa aman yang ia bangun selama ini mendadak retak.

Walaupun dia belum pernah bertemu dengan ayahnya Fajar, tapi dia sering mendengar dari pria itu kalau ayah Fajar merupakan pria dingin yang memegang kendali.

Meski pria itu berada di luar negeri, tetapi hampir tiap hari dia mendengar cerita tentang pria itu dari kekasihnya tersebut.

​"Lalu aku apa, Jar? Apa aku hanya pajangan atau bawahan di kantor ini?"

Suara Mutiara bergetar, meski ia berusaha keras menahannya. ​Fajar menoleh, lalu menepuk pahanya sendiri. Isyarat yang biasanya menjadi penenang, tetapi kali ini terasa seperti candu yang berbahaya.

Mutiara mendekat, dia duduk di atas pangkuan ptia itu. Lalu, dia mengalungkan lengannya di leher Fajar. Fajar tersenyum, lalu dia memeluk pinggang Mutiara dengan erat.

​Fajar membenamkan wajahnya di ceruk leher Mutiara, dia bahkan mengusakkan wajahnya pada leher wanita itu. Mutiara hanya bisa diam sambil memperhatikan apa yang dilakukan oleh Fajar.

"Peluk aku. Hanya kamu yang bisa bikin aku tenang."

Mutiara meghela napas panjang, lalu tangannya terulur untuk membalas pelukan pria itu. Dia bahkan mengusap-usap punggung pria itu dengan penuh kasih sayang.

Mutiara memang begitu mencintai pria itu, tetapi jika memang mereka tidak berjodoh, Mutiara tidak akan mengekang pria itu.

Dia akan dengan sukarela melepaskannya, karena dia sadar betul posisinya di mana. Antara Fajar dan juga dirinya sudah seperti langit dan juga bumi.

​"Kalau memang tidak ada jalan, lebih baik hubungan kita selesai sampai di sini."

Mutiara berbisik di sela napasnya yang sesak, jemarinya meremas kemeja Fajar. Walau berat, tapi dia akan mencoba untuk tetap menjalani harinya dengan baik.

"Aku tidak mau jadi simpanan di tengah pernikahan orang lain."

​Fajar mendongak, matanya berkilat tidak terima. Dia tak mau melepaskan Mutiara.

"Tidak akan. Aku tidak bisa melepasmu. Kamu yang membangun perusahaan ini bersamaku, kamu yang paling paham aku. Sabar, ya? Beri aku waktu bicara dengan Ayah."

​"Usia aku dua puluh lima tahun, Jar. Aku tidak punya banyak waktu untuk sekadar 'bersabar'."

Dulu Mutiara dan juga Fajar kuliah di tempat yang sama, hanya saja bedanya Mutiara kuliah karena beasiswa. Wanita muda itu memang sangat pandai sekali, dia bahkan lulus dengan nilai terbaik.

Keduanya kuliah di jurusan yang sama, hanya saja saat kuliah keduanya tidak terlalu dekat. Namun, ketika keduanya lulus kuliah, Fajar langsung menghampiri wanita itu dan mengajak wanita itu untuk bekerja di perusahaan yang baru saja dia bangun.

Fajar juga berkata sudah lama mengagumi wanita itu dan meminta Mutiara untuk menjadi kekasihnya,awalnya Mutiara ragu untuk menjadi kekasih seorang Fajar.

Karena banyak orang yang berkata kalau Fajar itu anak orang kaya dan rasanya tidak selevel dengan dirinya, tetapi Fajar selalu saja mendekati dirinya dan melakukan banyak kebaikan terhadap dirinya dan juga neneknya, hal itu yang membuat dirinya luluh.

​"Aku tahu. Aku akan cari celah untuk hubungan kita."

**

​Keesokan paginya, udara kantor terasa lebih berat. Kabar kedatangan sang penguasa besar sudah menyebar. Namun, saat Mutiara melangkah masuk ke ruangan Fajar membawa kopi seperti biasa, langkahnya terhenti.

​Seorang wanita dengan setelan mahal duduk di kursi yang biasanya ia tempati saat mendiskusikan laporan. Anggun, muda dan terlihat sangat dekat dengan Fajar.

​"Dia siapa, Jar?" tanya Mutiara, suaranya datar, tetapi sorot matanya menuntut penjelasan.

​Fajar berdiri dengan canggung, melirik wanita itu sebentar sebelum menarik lengan Mutiara keluar ruangan menuju koridor sepi.

​"Itu Rena. Anak rekan bisnis ayah," ucap Fajar cepat, suaranya ditekan sekecil mungkin. "Ayah mengirimnya ke sini untuk jadi sekretaris pribadiku. Mulai hari ini."

​Mutiara tertawa hambar, rasa pahit menjalar di hatinya. Baru saja kemarin pria itu berusaha untuk meyakinkan dirinya, tapi pagi ini Fajar sudah mulai mematahkan hatinya.

"Sekretaris? Lalu aku?"

​"Kamu pindah ke Divisi Pemasaran. Sementara saja, Sayang. Tolong mengerti."

Fajar memegang kedua bahu Mutiara, dia memohon dengan sangat. Mutiara sampai merasa jika pria yang ada di hadapannya bukanlah kekasihnya, karena sikap pria itu tidak seperti biasanya.

"Orang tua Rena yang meminta agar dia belajar di sini, supaya kami bisa saling mengenal. Aku tidak bisa menolak sebelum ayah benar-benar sampai di sini."

​"Supaya kalian bisa saling mengenal, atau supaya aku makin jauh dari kamu?"

​"Jangan kekanak-kanakan. Kamu masih harus bantu aku kalau aku kesulitan soal berkas. Kamu lebih ahli dari dia," rayu Fajar.

Dia mencoba menyentuh pipi Mutiara yang langsung ditepis oleh wanita itu, rasanya dia tidak sudi dirayu dengan hanya disentuh pipinya. Pagi ini dia benar-benar merasa kecewa dengan apa yang dikatakan oleh pria itu.

​"Jadi, aku diturunkan pangkatnya hanya agar kamu bisa bermain aman di depan calon istrimu?"

Mutiara menatap Fajar dengan tatapan yang baru, tatapan yang mulai kehilangan rasa percaya. Bukan tatapan penuh cinta dan percaya seperti biasanya.

​"Bukan begitu! Aku hanya butuh waktu untuk merayu ayah agar membatalkan perjodohan ini. Kamu pindah dulu ke bawah, ya? Tolong, jangan buat ini semakin sulit."

​Mutiara tidak menjawab. Ia hanya menatap pintu ruangan yang kini dihuni wanita lain itu, lalu berbalik tanpa sepatah kata pun. Langkahnya menuju ruang pemasaran terasa sangat jauh, seolah dia dipindahkan ke tempat yang jauh.

1
stela aza
itu pas lagi ngmng di rekam g tue ,,, bisa jadi bukti akurat kalau di rekam
isnaini naini
nah kan ...fjr yg mnghrp kmatian arkan...
stela aza
kenapa g ngawasin si anak pungut udh tau curiga aturan harus bisa lebih hati2 lagi sama si pungut itu ,,, gemes bgt deh ,,, gunakan uangmu biar tau pelaku sebenarnya,,, kurang keren si Arkan ,,,, g kaya CEO2 lain yg tokcer ,, ceritanya trus pinter ya g ketulungan
stela aza
bodoh bgt sie Arkan masa g inget abis di kasih makan sama anak pungut langsung begitu keadaannya masa g g curiga sie ,,, bodohnya g ketulungan,,,🤦
stela aza
kayanya anak pungut yg hilang kendali
isnaini naini
siapa dlng nya thor...fajar ta...emang dsr anak pungut tk tau diri
stela aza
emang di rumah s Arkan g ada cctv lama2 s fajar nggilani ,,, aturan mutiara ngmng sama Arkan kalau dia mau di lecehin sama anak pungutnya biar fajar di kasih pelajaran syukuy2 kasih tau kalau dia cuma anak pungut biar stok terapi 🤦
Wiwi Sukaesih
tenang Arkan it bapak mertua kamu 😁
stela aza
akhirnya bentar lagi ketemu keluarganya
stela aza
dasar bodoh
isnaini naini
nah itu tau...baru nyadar pak..yg km pilih batu kali...
isnaini naini
ksihn amat alice..preman aj gak doyan ...
isnaini naini
jngn2 alice main sm porter kereta...krna gk thn...
Anita Rahayu
Buat alice di penjara da di siksa di sel yg penghuninya korban pelakor thor pasti kena mental👍👍👍👍
isnaini naini
telat pak nyeselnya....
evi solina
pernikahan kok di buat mainan dosa loh
evi solina
move on itu harus elegan bikin goyang perusahaan nya, bukan dgn cara mabok
evi solina
mundu mut harga diri injak kok mau aja, laki pengecut begitu
evi solina
laki pecundang jgn di percaya
sakura
....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!