Gendis, mantan analis bank BUMN yang cemerlang, kini terjebak dalam hambarnya kehidupan rumah tangga demi menuruti keinginan suaminya, Indra. Lima tahun dedikasinya sebagai ibu rumah tangga justru dibalas dengan sikap dingin dan tekanan terkait ketidakhadiran buah hati.
Keharmonisan palsu itu runtuh saat Indra pulang membawa aroma alkohol dan parfum vanilla murah. Insting tajam Gendis terpicu ketika menemukan sehelai rambut pirang di kerah kemeja suaminya. Meski Indra mengelak dengan kasar, Gendis berhasil membongkar rahasia di ponsel suaminya: Indra berselingkuh dengan seorang pemandu lagu bernama Cindy.
Melihat foto mesra dan panggilan "Daddy" di layar ponsel tersebut, hancurlah harga diri Gendis. Namun, di atas kepedihan itu, muncul amarah yang terkontrol. Gendis bersumpah untuk berhenti menjadi istri yang tertindas. Malam itu, ia mulai menyusun rencana besar untuk merebut kembali jati dirinya dan membalas pengkhianatan Indra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruby Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Simfoni Keretakan yang Elegan
Rumah itu terasa lebih luas, lebih dingin, namun jauh lebih rapi. Seminggu telah berlalu sejak malam tamparan itu, dan bagi Indra, rumah yang dulunya adalah tempat pulang yang hangat kini berubah menjadi museum yang menyesakkan.
Gendis telah bertransformasi sepenuhnya. Ia tidak lagi menjadi wanita yang menunggu suaminya dengan cemas di balik jendela, ia kini adalah ratu di istananya sendiri, dengan rambut panjangnya yang mengayun anggun setiap kali ia melintas di depan Indra.
Setiap pagi, rutinitas itu tetap sama. Kemeja Indra terseterika licin hingga nyaris tanpa cacat, sarapan tersaji di meja dengan menu yang variatif dan sehat, dan kopi diseduh dengan suhu yang tepat.
Namun, perhatian itu terasa seperti robotik. Gendis melayani Indra dengan efisiensi seorang pelayan hotel bintang lima, bukan seorang istri. Setelah menyajikan sarapan, ia akan duduk di ujung meja lain, membaca majalah bisnis atau memeriksa portofolio investasinya di laptop, mengabaikan Indra yang mencoba memulai percakapan kecil.
"Gendis, malam ini aku ada lembur," ujar Indra suatu pagi, mencoba mencari perhatian.
Gendis hanya menoleh sedikit, memberikan senyum sopan yang tak sampai ke matanya.
"Tidak masalah, Mas. Pintunya akan aku kunci sebelum aku tidur. Pastikan jangan lupa membawa kunci cadangan agar kamu tidak perlu mengetuk."
Jawaban itu mematikan. Tidak ada tuntutan, tidak ada cemburu, tidak ada tanya-tanya di mana dia akan berada. Kebebasan yang diberikan Gendis justru membuat Indra merasa terasing.
Ia merasa seperti orang asing yang menumpang di kediaman seorang wanita yang tidak lagi mengenalnya. Sementara itu, ponsel di saku Indra terus bergetar. Pesan-pesan dari Cindy masuk tanpa henti.
“Sayang, kapan kamu ke apartemen? Kamu bilang mau membelikanku tas itu. Kenapa sejak minggu lalu kamu tidak datang?” atau “Aku bosan, Mas. Datanglah, atau aku akan datang mencarimu.”
Indra hanya membaca pesan itu dengan raut wajah masam. Ia merasa jijik. Bayangan tubuh Cindy yang dulu begitu ia puja kini terasa seperti beban. Terlebih lagi, setiap kali ia memikirkan Cindy, ia teringat wajah tenang Gendis yang begitu anggun dan berkelas.
Membandingkan keduanya membuat Indra sadar bahwa ia telah membuang permata demi segenggam batu kerikil yang berisik. Ia mulai mengabaikan panggilan Cindy, berharap wanita itu akan sadar diri dan menghilang dari hidupnya.
Di sisi lain, Gendis bukan hanya sibuk dengan rencana kehancuran Indra, ia juga sedang digempur oleh "serangan" romantis dari Baskara. Hampir setiap hari, kurir dari toko bunga kelas atas mengantarkan buket peony dan mawar putih ke kediaman Gendis.
Ada juga kiriman makanan dari restoran fine dining yang sengaja dikirimkan agar Gendis tidak perlu merasa kesepian atau stres.
Gendis menerima semua itu dengan senyum tipis yang penuh perhitungan. Namun, jauh di lubuk hatinya, ada rasa getir yang menyeruak.
Setiap kali ia melihat kartu ucapan dari Baskara, ingatan masa SMA-nya dipaksa keluar dari kotak memori yang terkunci rapat. Ia teringat koridor sekolah yang pengap, tawa mengejek Baskara dan gerombolannya saat mereka sengaja menumpahkan susu ke seragam putihnya atau mengunci dirinya di ruang loker yang gelap.
Trauma itu nyata, berakar kuat, dan meski Baskara kini menunjukkan sisi penyesalannya, Gendis tidak bisa begitu saja melupakan bagaimana pria itu pernah menjadi sumber penderitaannya.
“Dia pikir bunga dan makanan bisa menghapus bertahun-tahun trauma?” batin Gendis sinis. Ia menghargai bantuan Baskara dalam misinya menjatuhkan Indra, tapi ia tidak akan pernah benar-benar memaafkan pria itu. Ia hanya memanfaatkan pion yang tepat untuk menggerakkan bidak di papan caturnya.
Siang itu, matahari terik membakar lokasi proyek properti prestisius yang sedang dikelola oleh firma tempat Indra bekerja. Indra sedang berdiri di tengah kerumunan kontraktor dan arsitek, menjelaskan detail struktur bangunan dengan penuh percaya diri. Ia ingin menunjukkan kepada atasannya bahwa ia layak dipromosikan ke posisi direktur.
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang nyaring dan tidak sinkron memecah konsentrasi rapat. Cindy muncul di sana, mengenakan dress ketat yang tidak pada tempatnya dan riasan wajah yang berlebihan. Matanya berkilat marah.
"Indra!" teriak Cindy, suaranya melengking tinggi, memancing perhatian seluruh staf proyek yang berada di sana. Tak ada lagi panggilan Daddy seperti biasa.
Wajah Indra memucat seketika. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia menoleh dengan panik, melihat atasan-atasannya mulai menoleh ke arah sumber suara.
"Indra, kenapa kamu mengabaikanku? Aku sudah mencoba menghubungimu selama berhari-hari! Dan sekarang kamu malah berpura-pura tidak mengenalku di depan mereka?" Cindy berjalan mendekat, wajahnya dipenuhi amarah yang tidak terkendali.
"Apa yang kamu lakukan di sini, Cindy? Keluar sekarang!" bisik Indra dengan suara tertahan, tangannya mencengkeram lengan Cindy, mencoba menariknya menjauh dari kerumunan.
"Tidak! Aku tidak akan pergi! Kamu harus tanggung jawab!" Cindy berteriak lagi, kali ini lebih keras. "Kamu pikir bisa membuangku begitu saja setelah kita menghabiskan waktu bersama?"
Dunia Indra seakan runtuh. Keheningan yang mencekam menyelimuti lokasi proyek. Para petinggi perusahaan menatap Indra dengan tatapan tajam dan penuh tanya. Reputasi Indra yang selama ini ia bangun dengan susah payah, sebagai pria berkeluarga yang mapan dan berintegritas, seketika hancur berkeping-keping.
Di sebuah mobil sedan hitam yang terparkir cukup jauh dari lokasi, Gendis duduk tenang dengan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya. Ia menyaksikan adegan itu melalui teropong kecil. Ia melihat kepanikan di wajah Indra, melihat Cindy yang histeris, dan melihat kehancuran karier suaminya yang sedang diproses di depan mata.
Gendis tersenyum. Itu bukan senyum kemenangan yang meledak-ledak, melainkan senyum puas yang dingin dan elegan. Ia tidak perlu turun tangan, tidak perlu berteriak, dan tidak perlu kotor tangan. Ia hanya membiarkan kebenaran terungkap dengan caranya sendiri.
"Selamat jalan, Indra," bisiknya lirih di dalam mobil yang sunyi. "Ini baru permulaan."
Ia kemudian mengambil ponselnya, mengetik pesan singkat kepada seseorang: “Satu bab selesai. Lanjutkan rencana tahap kedua.”
Gendis menyalakan mesin mobilnya dan pergi meninggalkan lokasi itu, meninggalkan Indra yang kini terjebak dalam pusaran masalah yang ia buat sendiri, sementara ia melangkah maju menuju tujuan akhirnya, kebebasan yang mutlak.
..