Hanya karena perbedaan gaya hidup yang kini tak lagi sejalan, Tiffany menceraikan suaminya demi menjaga citra sebagai seorang konglomerat.
Ia bahkan melupakan siapa yang telah berjuang bersamanya dari nol hingga mencapai posisi tersebut.
Hans Rinaldi tidak menyimpan dendam. Ia menerima keputusan itu dengan lapang dada.
Namun, setelah perpisahan mereka, Tiffany tetap menyeretnya ke dalam berbagai masalah. Hingga akhirnya, terungkaplah siapa sebenarnya sosok pria sabar yang selama ini telah ia buang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Putra Keluarga Karimi
Semua orang terpaku ketika melihat Soedjoyo kembali sadar. Para dokter sampai ternganga saat monitor menunjukkan tanda-tanda vital Soedjoyo sudah kembali normal.
Siapa yang menyangka seorang pria muda seperti Hans mampu menyembuhkan penyakit misterius yang membuat seluruh tim spesialis angkat tangan?
Hal seperti ini belum pernah terjadi.
“Luar biasa! Kakek sudah bangun!”
Renatta langsung menangis haru melihat kakeknya pulih. Maureen juga menghela napas lega.
“Tuan Rinaldi, saya tidak tahu bagaimana harus berterima kasih. Mulai sekarang, Anda adalah tamu kehormatan keluarga Wiraningrat.”
Ia membungkuk dalam kepada Hans.
“Terima kasih kembali, Nona Wiraningrat. Ini bukan masalah besar.”
Hans tersenyum kecil. Namun sikap rendah hatinya justru membuat Dr. Setto kesal. Ia dan timnya sudah berusaha sekuat tenaga menyembuhkan Soedjoyo, tetapi pemuda ini menyebutnya “bukan masalah besar”? Jelas itu terdengar seperti sindiran.
“Hei, kamu! Kelabang tadi itu apa sih? Kenapa bisa ada kelabang di tubuh kakekku?” tanya Renatta.
“Itu bukan kelabang biasa. Itu sebenarnya kutukan berbisa.” Hans menoleh ke Soedjoyo. “Tuan Wiraningrat, akhir-akhir ini Anda pergi ke mana? Apakah Anda makan sesuatu yang tidak biasa?”
“Kau tepat. Beberapa hari lalu saya menghadiri pesta di Banten dan minum anggur,” Soedjoyo mengangguk.
“Kalau begitu, kemungkinan besar Anda terkena kutukan,” simpul Hans.
“Kutukan?”
Soedjoyo terkejut. Yang lain saling berpandangan.
“Jangan bicara omong kosong! Tidak masuk akal ini kutukan! Menurut saya, Tuan Wiraningrat pasti tidak sengaja menelan telur kelabang!” sela Dr. Setto.
“Dokter Setto, telur kelabang biasa akan hancur oleh asam lambung. Tidak masalah jika Anda tidak memahami hal ini, tapi jangan menyebarkan informasi keliru,” balas Hans tenang.
“Kamu—” Dr. Setto langsung diam ketika melihat tatapan tajam Maureen.
“Tuan Rinaldi, terima kasih atas diagnosisnya. Saya akan menyelidiki hal ini lebih lanjut,” kata Maureen serius.
Ia pernah mendengar tentang kutukan berbisa, tetapi tidak pernah mengalaminya secara langsung. Siapa sangka kakeknya menjadi korban?
Maureen bertekad membuat pelakunya membayar semua ini.
“Sekarang kutukannya sudah terangkat, berikan ramuan sesuai resep ini selama lima hari untuk membersihkan sisa racun dari tubuhnya.” Hans menulis sesuatu di selembar kertas.
“Terima kasih banyak, Tuan Rinaldi.” Maureen menerima resep itu dengan penuh rasa syukur.
“Baiklah, kalau begitu aku pamit. Tidak ada lagi yang perlu aku lakukan.”
Hans berdiri untuk pergi.
“Biar saya antar,” kata Maureen sambil ikut bangkit.
“Kak, serangga-serangga ini mau diapakan?” sela Renatta.
“Dokter Setto tadi bilang dia akan memakan serangga itu. Karena dia sendiri yang mengatakannya, kita wujudkan keinginannya. Kalian semua, pastikan dia menghabiskan serangga itu sebelum pergi!” kata Maureen dingin.
“Apa?” wajah Dr. Setto langsung pucat.
***
Pada saat yang sama, di ruang rumah sakit lain, kekacauan serupa sedang terjadi.
“Ma! Kenapa Rinaldi berani mukul aku? Tolong, Mama harus kasih dia pelajaran!”
Rorry merengek di ranjang rumah sakit dengan kepala terbalut perban tebal. Hanya hidung dan mulutnya yang terlihat.
“Tenang saja, Mama pasti balas untuk kamu!” Sarrah menenangkan Rorry dengan lembut.
“Nyonya Rasheed, benar-benar tidak masuk akal Hans berani memukul Anda dan Rorry!” Seorang pria tampan berjas angkat bicara. Ia adalah putra kedua keluarga Karimi, Othan Karimi. Ia juga sudah lama tergila-gila pada Tiffany.
“Othan, kamu gak akan percaya. Berandal itu tiba-tiba mengamuk dan menghajar anakku seperti orang gila. Gak ada yang bisa menghentikannya!” Sarrah menggertakkan gigi.
“Benarkah? Segila itu?” Othan mengernyit. “Saya kenal beberapa preman yang bisa memberinya pelajaran. Perlu saya bantu, Nyonya Rasheed?”
“Wah, itu bagus sekali!” Sarrah langsung tersenyum.
“Othan, pastikan dia kapok. Patahkan satu dua tulangnya!” geram Rorry.
“Tenang saja. Saya jamin, hidupnya bakal sengsara,” Othan tertawa sinis.
Sejujurnya, sejak dulu Othan tidak pernah terima Hans menikahi Tiffany. Bagaimana mungkin pria tak berguna seperti itu mendapatkan wanita secantik dan sesukses Tiffany?
Ia tidak akan melewatkan kesempatan untuk menghajar Hans.
“Rorry, bagaimana keadaanmu?”
Tiffany tiba-tiba masuk ke ruang rawat. Ia mengenakan gaun hitam yang menonjolkan lekuk tubuhnya. Mata Othan langsung berbinar.
“Tiffany, akhirnya kamu datang! Lihat kondisi aku, parah banget!” Rorry langsung duduk dan menunjuk kepalanya yang terbalut perban.
“Sudahlah. Hans sudah menelepon dan minta maaf. Kita lupakan saja,” kata Tiffany menenangkan.
“Lupakan?” suara Rorry meninggi. “Tiffany, kamu bercanda? Aku dihajar sampai babak belur! Cuma minta maaf doang cukup? Kamu anggap aku apa?”
“Lalu kamu maunya apa?”
“Aku mau dia berlutut di depan aku dan minta ampun!”
“Dia masih ipar kamu. Jangan dibesar-besarkan.”
“Jangan bohong! Aku tahu kalian sudah cerai!”
“Bagaimanapun juga, kita pernah jadi keluarga. Lagi pula, kamu juga ada salahnya.”
“Tiffany, kenapa kamu malah bela dia? Aku salah apa? Aku cuma mecahin kalung bodohnya! Emangnya kenapa?” bentak Rorry.
“Tunggu. Kamu bilang kalung?” Tiffany mengernyit.
“Kalung yang dulu sering kamu pakai itu. Dia bilang itu pusaka keluarga, tapi menurut aku cuma barang murahan,” gumam Rorry.
“Kamu menghancurkan kalung itu?” tanya Tiffany tajam.
“Iya! Dia kurang ajar banget. Berani nolak kasih kalung kristal itu ke aku, makanya aku banting ke lantai!” jawab Rorry keras kepala.
“Kamu emang cari masalah!”
Mendengar itu, Tiffany murka. Setelah mengetahui semuanya, ia akhirnya paham kenapa Hans sampai memukul Rorry. Rorry-lah yang memaksa dan menghancurkan kalung kristal berharga itu.
Orang lain mungkin tidak mengerti arti kalung itu, tetapi Tiffany tahu. Kalung itu bukan sekadar pusaka keluarga. Itu satu-satunya peninggalan yang mengingatkan Hans pada ibunya. Simbol kasih sayang terakhir dari sang ibu. Saat mereka bercerai, Hans tidak meminta apa-apa selain kalung itu. Dari situ jelas bahwa kalung kristal itu sangat berarti baginya.
“Cuma kalung doang, Tiffany! Kenapa kamu marah-marah ke aku?” rengek Rorry.
“Betul! Apa barang remeh itu lebih penting daripada nyawa adikmu?” tuntut Sarrah.
“Nanti aku urus kalian berdua!”
Tiffany tidak melanjutkan perdebatan dan langsung pergi. Ia sudah tidak punya tenaga untuk bertengkar dengan adiknya yang manja dan ibunya yang keras kepala. Selain itu, di dalam hatinya sendiri, ada perasaan campur aduk yang sulit ia jelaskan.
Dalam kemarahannya, ia telah melukai Hans dengan kata-katanya. Sekarang setelah memikirkannya kembali, Tiffany menyesal telah mengucapkannya. Dengan sifat Hans yang sebenarnya, ia tidak mungkin kehilangan kendali semudah itu. Ia telah melakukan kesalahan.