NovelToon NovelToon
After Love

After Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Ketos
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aliya sofya Putri

"Ini rumah, bukan sekolah. Tugas lo sekarang sebagai istri, bukan sekretaris lagi." Galvin menyudutkan Khaira di balik pintu kamar mereka.

"Aku juga udah ngelakuin tugas aku sebagai istri, kan? Kecuali—"

"Kecuali apa, hm?"

Khaira langsung menunduk, menggigit bibir bawahnya di balik cadar. Dia juga meremas sebuah proposal yang sejak tadi dia pegang. Jantungnya berdebar, saat Galvin semakin mendekat dan mengikis jarak di antara mereka.

✧✧✧

Khaira Mafaza Lavsha—Sekretaris Glory High School, tiba-tiba dijodohkan dengan Galvin Shaka Athariz—Ketua Osis yang terkenal tampan, dingin dan penuh kharisma.

Perjodohan itu membuat mereka harus menjalani pernikahan rahasia di masa SMA.

Bagaimanakah kehidupan mereka yang semula hanya sebatas Sekretaris dan Ketua Osis, kini berubah menjadi sepasang suami istri? Mampukah mereka menjalaniinya?

*** WARNING ! STOP PLAGIAT !!! ***

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24

✦✦

Dengan perasaan gugup dan kaku, Khaira keluar dari mobil Galvin.

Pembicaraan antara dirinya dan Galvin selama di mobil tadi, berhasil membuatnya merasa canggung setengah mati.

Bahkan setelah kejadian itu, dia tidak berani menatap atau pun berbicara dengan Galvin. Dia benar-benar merasa canggung, bahkan sampai Galvin menurunkannya di dekat gerbang sekolah.

Seperti biasa, dia meminta Galvin untuk menurunkannya di luar gerbang sekolah, supaya tidak ada teman-teman mereka yang mengetahui jika mereka berangkat bersama.

"Sampai ketemu di kelas," ucap Galvin, lewat kaca mobil yang masih terbuka lebar.

Khaira tidak mengatakan apa pun, dia hanya menganggukkan kepala dengan kaku dan perasaan malu.

Tanpa Khaira sadari, Galvin menarik kedua sudut bibirnya, melihat tingkah Khaira yang terlihat begitu menggemaskan di matanya.

Sementara Khaira, pandangannya terus menunduk, sampai Galvin benar-benar menghilang dari pandangannya.

'Astagfirullah, aku sampai lupa berpamitan,' batinnya, begitu mobil Galvin sudah lebih dulu memasuki gerbang sekolah.

Rasa gugupnya berhasil menyita seluruh fokusnya, hingga dia lupa melakukan kebiasaan yang memang biasa dia lakukan.

'Kenapa dia tiba-tiba ngelakuin itu? Apa dia sedang dalam keadaan sadar saat melakukan itu? Atau dia tidak menyadarinya sama sekali?'

batin Khaira kembali, sambil berjalan pelan menuju gerbang sekolah.

'Atau aku hanya berhalusinasi?' batinnya, meragukan pikirannya sendiri.

Entah kenapa, pikirannya tiba-tiba kembali diingatkan oleh bayangan tentang apa yang tadi Galvin lakukan kepadanya di dalam mobil.

Cupp!

Sebuah kecupan hangat tiba-tiba saja Khaira rasakan di bibirnya.

Saat dia disibukkan dengan pikirannya, tiba-tiba Galvin mengecup bibirnya di balik cadar.

Hal itu tidak lagi membuat jantungnya berdetak lebih cepat seperti sebelumnya. Tetapi yang berhasil membuat jantungnya terasa berhenti berdetak selama beberapa saat.

Bahkan dia sampai kesulitan bernapas, karena napasnya mendadak tersengal.

Walaupun Galvin mengecupnya di balik cadar, tetapi kecupan itu terasa begitu jelas di bibir Khaira. Hingga sampai detik ini dia masih mengetahui dengan jelas bagaimana rasa hangatnya.

Bayangan itu terus berputar-putar dalam benak Khaira, hingga dirinya sudah masuk melewati gerbang sekolah.

"Pagi-pagi udah ngelamun. Lagi mikirin apa, sih?" tanya Jenna, yang entah dari mana tiba-tiba muncul begitu saja di belakangnya.

"Ga mikirin apa-apa," jawab Khaira, sambil menggelengkan kepalanya dengan pelan.

"Bohong banget!" ejek Jenna, menatap Khaira dengan tatapan penuh selidik.

"Ga papa kalau ga percaya," ucap Khaira, sambil sedikit mengendikkan kedua bahunya.

Dia melanjutkan langkahnya, dengan Jenna yang berjalan beriringan di sampingnya.

"Yaudah, percaya, deh!" ucap Jenna, diakhiri oleh sebuah tawa pelan.

Khaira ikut tertawa pelan mendengar tawa Jenna yang sudah meramaikan pagi harinya.

"Oh, ya. Laporan tentang keuangan udah selesai semua?" tanya Khaira, tiba-tiba diingatkan akan hal itu.

Pasalnya, laporan itu harus disiapkan untuk bahan pembicaraan pada rapat forum besok.

"Udah, dong. Udah gue kirim juga lewat email. Pasti belum lo periksa, ya?" selidik Jenna, sambil menyipitkan kedua matanya.

Khaira langsung menggelengkan kepalanya dengan pelan, sambil tersenyum di balik cadar.

"Maaf, aku belum sempat. Nanti aku periksa lagi," ucapnya.

"Udah gue duga, Bu Sekretaris ini emang sibuk banget," ucap Jenna, sambil bercanda ringan.

"Itu kamu tau," balas Khaira, disertai sebuah tawa ringan.

Terlalu banyak pekerjaan yang harus dia selesai kan, sehingga dia tidak sempat membuka emailnya.

Bahkan, pulang sekolah nanti, dia harus mempersiapkan untuk jadwal rapat staff inti OSIS.

Rapat itu diadakan untuk mempersiapkan acara di esok hari.

Di mana acara besok hari merupakan acara para anggota inti OSIS yang melaksanakan rapat tahunan antar sekolah.

Khaira selaku sekretaris yang bertanggung jawab untuk menyimpan semua data, telah menyiapkan dokumen yang mencakup topik-topik yang akan dibahas.

Sementara itu, Jenna, bendahara OSIS, juga sudah melaksanakan tugasnya untuk merekap data yang berhubungan dengan keuangan.

"Selamat pagi Pak Ketua!" sapa Jenna kepada Galvin dengan suaranya yang lantang, begitu kakinya melangka masuk melewati ruang pintu kelas mereka di kelas XII IPA 1.

"Gue ga disapa? Wakil ketua, nih. Senggol dong!" ucap Dafa.

Bruk!

"Lo apa-apaan, Jenna?" kesal Dafa, karena dengan sengaja Jenna menyenggol kursi yang sedang diduduki oleh Dafa, begitu Jenna ingin duduk di kursinya.

"Lo sendiri yang minta buat di senggol, kan?" tanya Jenna, dengan menaikkan salah satu alisnya.

Dia menunjukkan wajah datar dan tidak peduli. Toh, Dafa sendiri yang meminta untuk disenggol. Lalu apa yang salah dengan dirinya? Begitulah pikirnya.

"Lo ga ngerti tren, ya? Gue bilang senggol dong itu bukan berarti gue minta disenggol. Kudet banget lo!" kesal Dafa sambil menatap Jenna dengan tatapan tajam.

"Kocak banget mereka," ucap beberapa siswa yang merupakan teman-teman sekelas mereka.

"Khaira mana? Biasanya kalian masuk kelas barengan," tanya Galvin, dengan ekspresi wajahnya yang biasa tampak datar.

"Ini di—" ucap Jenna, langsung terhenti, saat dia tidak melihat kehadiran Khaira di sampingnya.

Padahal jelas-jelas sejak memasuki gerbang sekolah tadi, dia berjalan bersama Khaira, bahkan mereka juga berbincang.

"Loh, dia ke mana? Barusan dia jalan di belakang gue."

Dia langsung memutar badannya ke belakang, mencari keberadaan Khaira, yang ternyata sudah tidak ada bersamanya.

"Kacau. Masa lo ga sadar Khaira ilang," Dafa menggelengkan kepalanya, menunjukkan rasa jengahnya.

"Barusan dia beneran bareng gue. Bahkan sampai ke depan kelas juga masih bareng," ucap Jenna, meyakinkan.

"Bentar, gue cari dulu." Jenna kembali keluar kelas untuk mencari Khaira, setelah sebelumnya, dia meletakkan tas sekolahnya.

"Bisa-bisanya orang setenang kaya dia," ucap Dafa, melihat ke arah Jenna yang sudah menghilang di balik pintu.

'Apa mungkin dia masih malu karena kejadian tadi?' batin Galvin, tanpa sadar menarik kedua sudut bibirnya dengan samar.

Namun sayangnya, sikapnya itu disadari oleh Dafa. "Lo kenapa tiba-tiba senyum ga jelas kaya gitu?" tanya Dafa, sambil mengerutkan keningnya.

"Mata lo bermasalah!" ucap Galvin, langsung mengubur senyumnya dalam-dalam.

"Lo ngapain malah diam di sini, Khai? Kenapa lo ga masuk?" tanya Jenna, begitu sudah keluar dari dalam kelas, dan dia menemukan Khaira yang sedang berdiri bersandar pada dinding depan kelas.

"Lo ada janji sama seseorang?" tanya Jenna kembali.

Khaira langsung menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Kamu duluan aja, nanti aku nyusul."

"Terus lo ngapain di sini?" tanya Jenna, merasa sangat penasaran dengan apa yang Khaira lakukan di sana.

"Aku masih mau menghirup udara segar," jawab Khaira.

Dia tidak berbohong, dia memang butuh udara segar untuk menenangkan hatinya, sebelum bertemu lagi dengan Galvin.

Dia masih tidak tahu apakah kejadian di mobil tadi adalah halusinasi atau nyata terjadi. Yang jelas saat ini, dia sangat malu melihat Galvin.

"Lo mau ke mana?" tanya Jenna kepada Galvin yang tiba-tiba keluar dari dalam kelas, dan berjalan melewati mereka.

"Ruang guru," jawab Galvin.

Dia memang menjawab pertanyaan Jenna, tetapi yang dia lirik bukanlah Jenna, melainkan Khaira.

Khaira otomatis menundukkan kepalanya, begitu Galvin menatapnya.

"Lo masih di sini ternyata. Jenna ninggalin lo, ya? Parah banget. Jangan lagi temanan sama dia," ucap Dafa kepada Khaira, sambil melirik Jenna dengan tatapan sinis.

Begitu Galvin keluar dari kelas, Dafa juga ikut keluar dan mereka mendapati Jenna dan Khaira yang sedang berbicara.

"Kenapa masih di sini?" tanya Galvin, melirik sekilas ke arah Khaira dan juga Jenna, tetapi tatapannya hanya tertuju kepada Khaira saja.

"Katanya, dia masih mau menghirup udara segar," jawab Jenna, mewakilkan Khaira untuk menjawab.

"Di dalam juga segar," timpal Dafa.

"Pimpin doa kalau gue telat ke kelas," pinta Galvin kepada Dafa, dan langsung mendapatkan anggukkan dari Dafa, selaku wakil ketua di kelas dan juga di organisasi.

Galvin memutuskan untuk keluar kelas, bukan tanpa alasan yang jelas.

Selain karena ada yang ingin dia bicara dengan wali kelas, dia juga ingin membuat Khaira nyaman untuk masuk ke dalam kelas, tanpa ada dia di sana.

Walaupun tetap saja mereka akan dalam satu ruangan kelas yang sama, begitu bel musik dibunyikan.

 

Tringg! Tring! Tring!

Bel istirahat berbunyi dengan nyaring.

Bel itu pertanda bahwa jam pelajaran di sesi pertama telah selesai.

Hampir seluruh siswa siswi keluar dari kelas dengan tertib, menuju kantin, lapangan, ruang musik, lab, taman, dan tempat lain yang ingin mereka tuju.

Sama halnya dengan Khaira dan Jenna yang segera keluar kelas begitu mendengar bel itu berbunyi.

"Akhirnya istirahat juga," ucap Jenna, sambil menghembus napas dengan lega.

"Mau ke kantin dulu atau lab bahasa?" tanya Jenna, sambil mengikat rambutnya yang memiliki panjang sehahu.

"Kamu udah laper?" Khaira mempertanyakan hal itu, karena dia tidak ingin mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan keadaan temannya itu.

Jenna berguman sejenak. "Ga terlalu, sih," jawabnya.

"Kalau begitu, kita ke lab bahasa dulu. Gimana?" tanya Khaira, meminta pendapat.

Jenna mengangguk setuju. "Boleh."

Mereka segea melangkah menuju lab bahasa.

Mereka ingin memanfaatkan waktu luang ini untuk belajar bahasa Mandarin.

Kedua sahabat itu telah bergabung dalam ekstrakurikuler bahasa Mandarin dan ingin meningkatkan kemampuan mereka lebih jauh.

Begitu memasuki lab bahasa, Khaira dan Jenna segera mengambil tempat duduk di bagian depan, agar lebih mudah untuk fokus.

Mereka mengeluarkan buku teks dan kamus Mandarin yang telah disiapkan sebelumnya, dan mulai membahas materi yang baru saja dipelajari di kelas ekstrakurikuler.

"Khai, gimana cara baca karakter ini?" tanya Jenna sambil menunjuk ke sebuah karakter di buku teksnya.

Khaira mengerutkan keningnya sejenak, lalu menjawab, "Itu dibaca 'zhǐ', artinya kertas."

Jenna mengangguk, lalu melanjutkan membaca kalimat berikutnya.

Sementara itu, Jenna mencoba menghafal kosakata baru yang dia temukan di kamus.

Mereka saling membantu satu sama lain dalam memahami tata bahasa dan melafalkan kata-kata dengan benar.

Di tengah kesibukan mereka, beberapa murid lain mulai berdatangan ke lab bahasa. Mereka terbagi dalam kelompok-kelompok kecil, ada yang belajar bahasa Inggris, Jepang, dan bahkan Korea.

Lab bahasa menjadi semakin ramai, namun Khaira dan Jenna tetap fokus pada pelajaran bahasa Mandarin mereka.

Setelah hampir tiga puluh belajar bersama, Khaira dan Jenna merasa cukup puas dengan kemajuan yang telah mereka capai.

Mereka berjanji untuk kembali ke lab bahasa di waktu istirahat berikutnya dan melanjutkan pembelajaran bahasa Mandarin.

Dengan langkah ringan, mereka meninggalkan lab bahasa dan bergabung kembali dengan teman-teman mereka di kantin untuk mengisi tenaga sebelum kelas berikutnya dimulai.

"Pelajaran tadi nguras energi banget," keluh Jenna.

Khaira mengangguk setuju. "Iya, kamu benar."

"Makanya kita harus isi tenaga kita lagi sampai full," ajak Jenna, melangkah menuju kantin.

Sesampainya di kantin, mereka mencari tempat duduk yang nyaman dan memesan makanan favorit mereka.

"Eh, itu Galvin dan Dafa. Mau gabung bareng mereka?" tanya Jenna, meminta persetujuan dari Khaira.

Khaira langsung menggelengkan kepalanya. "Di sini saja," jawab Khaira.

Dia sedang menghindar dari Galvin, jadi tidak mungkin saat ini dia tiba-tiba menghampiri Galvin.

Lagi pula Khaira tidak pernah berkumpul dengan teman-teman laki-laki di kantin. Sudah dapat dipastikan, pandangan semua orang akan langsung tertuju kepadanya, jika hal itu terjadi.

"Oke, deh. Kita di sini aja," ucap Jenna, menyetujui keputusan Khaira.

"Lo mau pesen apa? Sekalian gue pesenin," tawar Jenna.

"Tunggu sebentar," ucap Khaira, sambil membaca buku menu yang tersedia di meja kantin mereka.

"Aku pesan ini aja." Khaira menunjuk sebuah menu makanan yang ada di sana.

Dia memilih nasi goreng spesial sementara Jenna memesan ayam bakar dengan sambal matah.

Mereka menunggu makanan mereka datang sambil berbicara-cakap tentang kegiatan yang mereka lakukan di hari besok.

"Menurut lo, acara besok bakal kaya gimana, Khai?" tanya Jenna penasaran.

"Gimana apa maksudnya?" Khaira menaikkan salah satu alisnya.

"Bakal berjalan baik atau ga?" tanya Jenna, menegaskan pertanyaan sebelumnya.

Entah mengapa, dia merasa akan ada sesuatu yang terjadi yang membuat hatinya gundah kali ini. Namun, dia juga tidak tahu apa yang akan terjadi.

"Berdoa aja semoga Allah mempermudah dan memperlancar urusan kita," ucap Khaira.

"Semoga saja," sahut Jenna, sambil menganggukkan kepalanya beberapa kali.

 

Tak lama kemudian, makanan mereka tiba. Aroma lezat yang keluar dari piring mereka membuat perut mereka semakin tidak tahan ingin segera makan.

Mereka pun mulai menyantap hidangan di hadapan mereka dengan lahap. Sambil makan, mereka terus berbicara tentang berbagai topik, mulai dari pelajaran sekolah hingga rencana akhir pekan mereka.

Sambil menikmati hidangan, Khaira menyadari ada seseorang yang terus memperhatikannya secara diam-diam sejak tadi.

Khaira memberanikan diri untuk menoleh ke orang itu dan orang itu tidak lain adalah Galvin.

Ya, sejak Khaira memasuki kantin, setiap gerakannya tidak terlepas dari perhatian Galvin.

Galvin memperhatikan Khaira dengan sangat hati-hati, sehingga tidak ada siapa pun yang menyadari, selain Khaira sendiri.

'Kenapa dia terus liat ke sini,' batin Khaira.

Dia mendadak gugup. Dia ingin segera menghabiskan makanannya dan kembali ke kelas.

"Khai, tumben banget lo makan buru-buru kaya gitu. Tentang aja, waktu istirahat kita masih banyak," ucap Jenna, begitu menyadari tingkah Khaira yang sedikit berubah, dan terkesan terburu-buru.

"Lapar banget, ya?" tanya Jenna kembali.

Khaira tidak menjawab. Dia hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan.

Dia sisi lain, ada seseorang yang terhibur oleh tingkah lucu Khaira. Tidak ada alasan untuk Galvin tidak memperhatikan Khaira. Khaira terlalu menarik untuknya.

Dengan perasaan gugup yang Khaira rasakan selama makan, akhirnya dia berhasil menghabiskan makanannya.

"Mau kembali ke kelas sekarang?" tanya Jenna, begitu Khaira bangkit dari kursi itu. Dia juga sudah menghabiskan makanannya.

"Iya, Jen. Sebentar lagi masuk," jawab Khaira.

Jenna langsung mengangguk setuju, sambil ikut bangkit dari tempat duduknya.

Kemudian mereka sana-sama keluar meninggalkan are kantin.

 

Di kelas 12 IPA 1 SMA Glory, Khaira sibuk dengan buku pelajarannya, berusaha untuk menghindari tatapan Galvin yang duduk beberapa bangku di sebelahnya.

Tidak hanya di kantin saja, bahkan di dalam kelas pun, Khaira merasa jika Galvin terus memperhatikannya.

Mungkin hari-hari sebelumnya, Galvin memang selalu memperhatikannya, tetapi hal itu sama sekali tidak Khaira sadari, karena tidak ada kejadian apa pun yang membuatnya canggung.

'Sudah, Khaira. Jangan hiraukan dia,' batin Khaira, mencoba mengembalikan fokusnya kepada buku-buku pelajarannya.

Kejadian pagi tadi di dalam mobil masih terus terngiang di benaknya, saat Galvin menciumnya di balik cadar, membuat pipinya selalu memerah setiap kali dia mengingat kejadiannya.

'Kenapa hal ini bisa terjadi? Kenapa tiba-tiba dia—,' batin Khaira, tidak mampu melanjutkan isi hatinya.

Galvin memang suaminya, tetapi dia tetap saja merasa malu karena ini adalah kali pertama Galvin menciumnya seperti itu.

Walaupun tidak langsung merasakannya, karena ada cadar yang menghalangi mereka, tetapi hal itu terus-terusan menganggu pikirannya.

"Gal? Lo lagi liatin siapa, sih? Kenapa ngadep ke sana mulu?" tanya Dafa, sambil menepuk pundak Galvin.

Pasalnya, sejak tadi Galvin membelakanginya, sehingga dia tidak memiliki teman untuk diajak berbicara.

Galvin mengubah pandangannya, melirik sekilas ke arah Dafa, yang kini tengah duduk di kursi sampingnya.

"Apa?" tanya Dafa, karena Galvin hanya meliriknya saja, tanpa menjawab pertanyaannya.

"Ga jelas lo," Dafa menggelengkan kepalanya, karena tidak mengerti dengan sikap Galvin.

Sementara Galvin, dia sama sekali tidak memperdulikan Dafa yang menatapnya heran.

"Selamat siang anak-anak!" sapa guru yang mengajar mereka siang ini.

"Siang, Bu." Semua siswa yang masih berpencar, tiba-tiba langsung menertibkan diri, dan duduk siap di kursi mereka.

'Akhirnya jam pelajaran akan dimulai,' batin Khaira, sedikit merasa lega begitu guru mereka tiba.

Setidaknya, dia tidak akan merasa jika Galvin terus memperhatikannya, karena mereka akan fokus kepada materi pelajaran yang akan disampaikan oleh guru mereka.

'Lo menarik, Khaira!'

Seolah-olah mengerti perasaan Khaira, dia hanya menatap Khaira dengan senyum simpul dan sangat samar, sehingga siapa pun tidak akan menyadari senyumannya.

Sementara Khaira, hatinya yang semula berdebar, kini perlahan mereda dan kembali berdetak seperti semula, tidak seperti sebelumnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!