Alam Atas (Tiga Puluh Tiga Surga) sedang menghadapi akhir dari usianya yang telah berjalan miliaran tahun. Energi Dao mulai membeku. Para Penguasa Purba menyebutnya Kalpa Angin Salju. Untuk bertahan hidup dari kiamat kosmik ini, para penguasa Alam Atas menanam "Ladang Dunia Fana" (seperti dunia asal Shen Yu) untuk memanen energi kehidupan.
Kedatangan Shen Yu (Ketiadaan) dan Lin Xue (Teratai Primordial) adalah anomali. Bagi Alam Atas, Lin Xue adalah kayu bakar abadi yang bisa menghangatkan mereka dari musim dingin kosmik, sedangkan Shen Yu adalah badai salju yang akan mempercepat kehancuran mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Tambang Tulang Naga
Surga Kedua - Pinggiran Hutan Duri Besi Hitam.
Angin di Surga Kedua membawa partikel logam yang terasa seperti serbuk kaca bagi paru-paru yang tidak terbiasa. Tiga ratus kultivator fana masih duduk bersila dalam diam, berjuang menstabilkan meridian mereka di bawah tekanan ruang yang menghancurkan.
Shen Yu berdiri di batas hutan, memandang ke arah utara. Matanya yang hitam legam dan perak tidak menunjukkan sedikit pun kelelahan.
"Mo Han," panggil Shen Yu pelan, namun suaranya memotong udara seperti bilah tajam.
Mo Han, yang baru saja berhasil menghentikan pendarahan dari pembuluh matanya, segera membuka mata dan menunduk hormat. "Hamba menunggu perintah, Tuan Shen."
"Aktifkan formasi penyembunyi aura. Gunakan sisa Kristal Dao dari Surga Pertama jika perlu. Jangan biarkan satu pun dari kalian melangkah keluar dari bayangan hutan ini sampai aku memberikan sinyal," titah Shen Yu. Ia melirik sisa pasukannya. "Jika ada monster liar yang mendekat, bunuh dalam diam. Jika kalian mati di sini, berarti kalian memang tidak pantas menghirup udara Surga Kedua."
"Hamba mengerti! Kami akan mempertahankan posisi ini dengan nyawa kami!" jawab Mo Han tegas.
Shen Yu menoleh pada Lin Xue, yang berdiri dengan tenang di sisinya. Gadis itu telah sepenuhnya menyesuaikan diri; aura teratainya kini menyatu dengan kekerasan hukum alam di sekitarnya, tersembunyi dengan sempurna di balik jubah peraknya yang usang.
"Mari kita lihat seberapa angkuh para penguasa tanah ini," seringai Shen Yu.
Keduanya melesat maju, meninggalkan batas hutan berduri. Berbeda dengan pasukannya, langkah Shen Yu dan Lin Xue di atas tanah sekeras baja itu sangat ringan. Ketiadaan dan Dao Waktu bekerja selaras di dalam Dantian Shen Yu, menelan tekanan gravitasi dan melancarkan aliran Qi-nya seolah ia dilahirkan di dunia ini.
Hanya butuh waktu kurang dari separuh dupa terbakar bagi mereka untuk melihat sumber fluktuasi energi tersebut.
Di ujung cakrawala, terhampar sebuah lembah raksasa. Lembah itu bukanlah bentukan alam biasa, melainkan cetakan dari sebuah kerangka naga kosmik purba yang ukurannya sebesar pegunungan. Tulang-belulang raksasa yang telah memfosil itu memancarkan energi murni yang jauh lebih pekat daripada Kristal Dao biasa.
Di antara rusuk-rusuk naga raksasa tersebut, sebuah kamp penambangan besar telah dibangun. Menara-menara pengawas dari tembaga berdiri kokoh. Ratusan penambang berpakaian compang-camping mengayunkan beliung logam, memecah fosil tulang di bawah cambukan para penjaga berzirah merah tembaga.
"Sebuah klan lokal," bisik Lin Xue, matanya memindai pertahanan kamp. "Penjaganya rata-rata berada di Dewa Fana Tahap Menengah. Dan ada satu fluktuasi yang sangat tebal di tenda utama... Dewa Fana Tahap Akhir."
"Fondasi yang sempurna," kata Shen Yu santai. Ia merogoh jubahnya, mengeluarkan Inti Binatang macan baja yang masih meneteskan darah hitam pekat.
Shen Yu tidak menyelinap. Ia berjalan secara terbuka menyusuri jalan setapak menuju gerbang utama kamp tersebut, membiarkan jubahnya berkibar ditiup angin pembawa serbuk logam. Lin Xue berjalan setengah langkah di belakangnya, menyembunyikan pedangnya.
Kedatangan dua sosok asing itu langsung menarik perhatian menara pengawas.
"Berhenti di sana, anjing liar!" raung salah satu penjaga dari atas gerbang, menodongkan busur panah besar yang anak panahnya berbalut api tembaga. "Ini adalah wilayah Tambang Tulang Klan Api Tembaga! Melangkah satu inci lagi, dan aku akan memaku tengkorakmu ke tanah!"
Shen Yu menghentikan langkahnya. Bukannya marah, ia justru mengangkat Inti Binatang di tangannya tinggi-tinggi. Energi liar dari inti monster tingkat menengah itu seketika memancar, menarik tatapan serakah dari para penjaga di gerbang.
"Aku adalah pelarian yang baru saja tiba di wilayah ini," kata Shen Yu dengan suara yang sengaja dibuat sedikit serak, memainkan peran sebagai kultivator yang kelelahan. "Aku dan pasanganku memburu monster ini di hutan. Aku ingin menukarnya dengan tempat berlindung dan beberapa keping Kristal Dao."
Mata kapten penjaga di gerbang itu menyipit. Ia merasakan aura Shen Yu dan Lin Xue. Karena Shen Yu menekan kekuatannya, kapten itu hanya bisa merasakan fluktuasi Qi yang tidak stabil, ciri khas kultivator yang baru saja naik dari ranah bawah dan belum beradaptasi.
Kapten itu menyeringai lebar, menoleh pada anak buahnya. "Buka gerbangnya! Bawa dua mangsa bodoh ini ke hadapan Mandor Tong!"
Gerbang besi yang berat itu berderit terbuka. Enam penjaga berzirah tembaga segera mengepung Shen Yu dan Lin Xue, menodongkan tombak mereka dan menggiring keduanya masuk ke pelataran kamp.
Shen Yu dan Lin Xue tidak melawan. Mereka membiarkan diri mereka dibawa melewati barisan budak tambang yang menatap mereka dengan tatapan iba.
Mereka digiring ke depan sebuah tenda sutra mewah yang didirikan di bawah tengkorak naga raksasa. Dari dalam tenda, melangkah keluar seorang pria bertubuh gempal dengan kulit berwarna tembaga mengkilap. Matanya kecil dan licik, memancarkan aura Dewa Fana Tahap Akhir yang sangat menekan.
Inilah Mandor Tong, penguasa absolut di tambang ini.
"Kapten, sampah apa yang kau bawa ke hadapanku?" geram Mandor Tong, mengunyah sepotong daging monster panggang.
"Tuan Mandor, dua orang ini membawa Inti Binatang Macan Baja Menengah yang masih sangat segar!" lapor kapten penjaga dengan semangat. "Dan sepertinya mereka baru saja menembus tabir dari Surga Pertama. Fluktuasi mereka masih berantakan."
Mendengar itu, Mandor Tong mengusap dagunya. Matanya yang mesum langsung tertuju pada Lin Xue. Meski wajah gadis itu tertutup sebagian oleh tudung jubah, keanggunan garis tubuhnya dan kemurnian energinya tidak bisa disembunyikan.
"Menarik," Mandor Tong melangkah mendekati Shen Yu, mengulurkan tangannya yang gemuk. "Serahkan inti itu padaku. Sebagai gantinya, aku akan membiarkanmu hidup sebagai budak penggali di terowongan paling bawah. Sedangkan wanita ini... dia akan menghangatkan tempat tidurku malam ini."
Para penjaga di sekeliling mereka tertawa terbahak-bahak. Ini adalah pemandangan biasa di Surga Kedua. Kultivator rendahan yang mencoba berdagang akan selalu berakhir dirampok dan diperbudak.
Namun, tawa mereka perlahan mereda ketika mereka menyadari bahwa pemuda berambut putih di tengah kepungan itu sama sekali tidak gemetar.
Sebaliknya, dada pemuda itu bergetar pelan. Ia sedang tertawa. Sebuah tawa yang sedingin retakan es di dasar jurang.
"Dunia ini sangat membosankan," gumam Shen Yu, membuang Inti Binatang itu ke tanah seolah itu adalah sampah yang tak berharga. "Tingkat kesombongan makhluk rendahan selalu sama, baik di ranah fana maupun di surga."
Shen Yu perlahan mengangkat wajahnya. Mata kirinya yang bercincin perak menatap lurus ke arah Mandor Tong. Niat membunuh yang murni dan absolut, ditekan sedemikian lama, kini meledak keluar seperti gunung berapi yang menghancurkan langit.
Aura Dewa Fana Tahap Menengah yang dipadatkan dengan Dao Ketiadaan menyapu pelataran. Udara di sekitar mereka seketika membeku.
Mandor Tong tersentak mundur, daging di wajahnya bergetar ngeri. Tekanan ini sama sekali bukan milik seseorang yang baru beradaptasi!
"B-Bunuh dia!" raung Mandor Tong dengan suara melengking.
Enam penjaga di sekitar Shen Yu menusukkan tombak mereka secara serentak.
SWUUUSH!
Lin Xue bergerak lebih cepat dari kilatan cahaya. Pedang es teratainya berputar dalam satu lengkungan ungu yang indah. Keenam ujung tombak itu terpotong rapi, dan sedetik kemudian, garis tipis muncul di leher keenam penjaga tersebut. Darah menyembur, membeku menjadi kelopak teratai merah sebelum menyentuh tanah.
"Tikus berani menggigit!" Mandor Tong marah besar. Seluruh tubuhnya berkobar dengan api tembaga yang sangat panas, mampu melelehkan logam bintang. Ia memadatkan kekuatan Dewa Fana Tahap Akhir-nya ke dalam tinju kanannya dan melesat ke arah kepala Shen Yu.
"Mati kau menjadi abu!"
Tinju berapi itu hanya berjarak satu inci dari wajah Shen Yu.
Shen Yu tidak berkedip. Cincin perak di mata kirinya berputar satu kali.
WUSH.
Tinju berapi Mandor Tong tiba-tiba kehilangan kecepatannya, seolah menabrak rawa yang terbuat dari waktu itu sendiri. Apanya tidak padam, namun gerakannya melambat hingga nyaris berhenti di udara.
"Ini... hukum waktu?!" Mandor Tong membelalak ngeri, menyadari ia berhadapan dengan monster sejati.
"Terlalu lambat," bisik Shen Yu di telinga pria gempal itu.
Tangan kanan Shen Yu, yang telah berubah hitam legam menelan cahaya, melesat ke depan. Ia tidak menangkis. Ia menusukkan tangannya langsung ke dada Mandor Tong yang berlapis pertahanan Qi tembaga.
CRASH!
Pertahanan mutlak Dewa Fana Tahap Akhir itu hancur seolah terbuat dari kertas basah. Tangan Shen Yu menembus dada Mandor Tong dan keluar dari punggungnya, menggenggam jantung pria itu yang masih berdetak kencang.
Seluruh kamp tambang terdiam kaku. Ratusan budak dan puluhan penjaga lainnya mematung, menatap pemandangan mengerikan di mana penguasa absolut mereka digantung di udara oleh satu tangan pemuda berambut putih.
"Kau menginginkan Inti Binatang tadi, bukan?" Shen Yu menatap mata Mandor Tong yang perlahan kehilangan cahaya kehidupan. "Kalau begitu, aku akan mengambil intimu sebagai gantinya."
Shen Yu meremas jantung itu hingga hancur. Ketiadaan melahap esensi Dantian Mandor Tong tanpa sisa.
Ia melempar mayat pria gempal itu ke tanah, lalu mencabut Token Komando berwarna tembaga dari pinggang mayat tersebut.
Shen Yu mengangkat token itu tinggi-tinggi. Ia memutar tubuhnya, menatap puluhan penjaga kamp yang kini bergetar ketakutan hingga menjatuhkan senjata mereka.
"Mulai detik ini, kamp ini adalah milikku," deklarasi Shen Yu, suaranya diperkuat oleh Qi yang menggetarkan tulang naga di sekitar mereka. "Yang melawan, akan menemani babi gemuk ini ke neraka. Yang patuh, akan melihat bagaimana aku meruntuhkan Surga Kedua."
Shen Yu berpaling pada Lin Xue, senyum buas sang tiran kembali terukir.
"Xue'er, tembakkan suar apimu ke langit. Beri sinyal pada Mo Han dan yang lainnya. Katakan pada mereka, istana baru kita telah siap."
💪💪💪