NovelToon NovelToon
Kronik Dewa ASURA:Jalur Penentang Takdir Season 2

Kronik Dewa ASURA:Jalur Penentang Takdir Season 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Epik Petualangan
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: hakim2501

Tagline:
"Ketika Pahlawan jatuh ke Neraka, dia tidak berdoa untuk diselamatkan. Dia bersiap untuk mengambil alih Tahta."

Sinopsis Cerita:

Ye Chen, sang penyelamat Alam Roh Sejati, telah membayar harga termahal demi menyelamatkan dunia dari kehancuran. Akibat memaksakan kekuatan Lima Kunci dan menahan jatuhnya Pulau Langit,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Ngarai Pedang Menangis dan Jejak Bintang Jatuh

Perjalanan ke Utara tidaklah mudah. Gurun Tulang Putih membentang ribuan mil, dipenuhi oleh badai pasir yang mengandung serbuk logam tajam. Angin di sini bisa menguliti manusia biasa dalam hitungan detik.

Namun, bagi Ye Chen yang telah mencapai konversi Qi 40% dan memiliki Tulang Emas, badai ini hanyalah angin sepoi-sepoi yang sedikit kasar.

Dia berjalan menembus badai pasir, jubah abunya berkibar. Di belakangnya, Lilith (yang kini menyamar sebagai pelayan wanita bisu dengan tudung tebal) mengikuti jejak langkahnya, berlindung di balik punggung Ye Chen yang memecah angin.

"Kita hampir sampai," kata Ye Chen, melihat kompasnya.

Di kejauhan, badai pasir mulai mereda, digantikan oleh aura tajam yang membelah awan.

Sebuah gunung raksasa menjulang tinggi, menembus lapisan langit. Uniknya, gunung itu tidak berbentuk kerucut, melainkan berbentuk seperti Bilah Pedang Terbalik yang menancap ke bumi. Lereng-lerengnya curam dan licin, seolah dipotong oleh dewa.

Gunung Meteor (Mount Meteor). Markas Besar Sekte Pedang Bintang Jatuh.

"Energi pedang di tempat ini..." Ye Chen menyipitkan mata. "Sangat kuat. Bahkan tanah di kakiku mengandung Niat Pedang."

Ribuan orang terlihat berkumpul di kaki gunung. Mereka adalah pemuda-pemudi berbakat dari berbagai kota dan klan di wilayah utara Benua Pinggiran, datang untuk mengikuti Ujian Seleksi Murid Luar yang diadakan setiap lima tahun sekali.

Ye Chen dan Lilith bergabung dengan kerumunan.

"Ramai sekali," bisik Lilith lewat transmisi suara. "Tuan, aura di sini berbahaya bagi saya. Ada formasi Anti-Iblis di gerbang utama."

"Tetap di belakangku. Aku akan menutupi auramu dengan Niat Kehampaan," balas Ye Chen.

Mereka mendaftar di meja registrasi.

"Nama?" tanya petugas pencatat tanpa menoleh.

"Ye Gu."

"Asal?"

"Pengembara."

Petugas itu mendengus, memberikan plat kayu nomor 404. "Satu lagi pengembara yang bermimpi jadi naga. Pergilah ke Ngarai Pedang Menangis di sebelah barat. Ujian dimulai satu jam lagi."

Ngarai Pedang Menangis.

Ini adalah celah sempit di antara dua tebing curam di kaki Gunung Meteor. Dinding tebingnya dipenuhi ribuan goresan pedang kuno, peninggalan para leluhur sekte yang berlatih di sana.

Angin yang melewati ngarai ini menghasilkan suara whoooo yang terdengar seperti tangisan—itulah asal namanya.

Ribuan peserta berdiri gugup di mulut ngarai.

"Minggir, Sampah!"

Sebuah kereta kencana yang ditarik oleh Singa Salju mendarat di tengah kerumunan, memaksa peserta lain menyingkir.

Seorang pemuda berjubah sutra biru turun. Wajahnya tampan tapi sombong, memegang kipas giok. Di belakangnya, empat pengawal Spirit Severing Tingkat 3 mengawal ketat.

Zhuo Yun. Tuan Muda Klan Zhuo dari Kota Es Utara.

Tingkat Kultivasi: Spirit Severing Tingkat 4 (Awal).

"Ujian tahun ini milikku," kata Zhuo Yun keras-keras. "Kalian semua hanya akan berebut posisi kedua."

Matanya menyapu kerumunan, lalu berhenti pada Lilith yang berdiri di belakang Ye Chen. Meskipun tertutup tudung, postur tubuh Lilith yang menggoda menarik perhatiannya.

"Hei, kau!" Zhuo Yun menunjuk Ye Chen. "Pelayanmu itu... jual padaku. Aku butuh penghangat tempat tidur selama ujian."

Ye Chen bahkan tidak menoleh. Dia sedang menatap dinding tebing, mempelajari goresan pedang di sana.

"Aku bicara padamu, Tuli!" Zhuo Yun marah. Dia memberi isyarat pada pengawalnya. "Beri dia pelajaran."

Seorang pengawal maju, hendak mencengkeram bahu Ye Chen.

TAP.

Ye Chen hanya menggeser kakinya sedikit. Bahunya luput dari cengkeraman pengawal itu.

"Jangan sentuh aku," kata Ye Chen datar.

"Kau berani menghindar?" Pengawal itu menghunus pedangnya.

"CUKUP!"

Suara menggelegar turun dari atas tebing.

Seorang pria tua dengan jubah abu-abu dan pedang besar di punggungnya melayang turun. Auranya tajam dan berat.

Tetua Jian Gu (Tulang Pedang). Pengawas Ujian.

Tingkat Kultivasi: Spirit Severing Tingkat 9.

"Dilarang bertarung sebelum ujian!" bentak Tetua Jian Gu. "Siapapun yang melanggar akan dipotong tangannya dan diusir!"

Zhuo Yun mendengus, memanggil mundur pengawalnya. "Kau beruntung, Pengembara. Tunggu sampai kita di dalam."

Ye Chen tidak peduli. Matanya kembali ke dinding tebing. Goresan-goresan itu... ada pola yang familiar. Mirip dengan teknik dasar Dewa Pedang Cang Qiong.

"Ujian Tahap Pertama dimulai!" teriak Tetua Jian Gu.

"Tugas kalian sederhana: Berjalan melewati Ngarai ini sampai ke ujung. Jaraknya 1.000 langkah."

"Tapi ingat... Dinding tebing ini memancarkan Niat Pedang Leluhur. Semakin jauh kalian melangkah, semakin kuat tekanan mental dan fisiknya. Yang tidak kuat, mundurlah atau jiwamu akan teriris!"

"Mulai!"

Ribuan peserta mulai bergerak maju.

10 langkah pertama, mudah.

50 langkah, beberapa kultivator Nascent Soul mulai pucat dan gemetar.

100 langkah, orang-orang mulai jatuh berlutut, muntah darah. Tekanan Niat Pedang itu seperti pisau tak kasat mata yang menyayat kulit.

Zhuo Yun berjalan dengan percaya diri di depan, dilindungi oleh Artefak Giok di pinggangnya yang memancarkan perisai cahaya. Dia sudah mencapai langkah ke-300.

"Hahaha! Lemah sekali!" ejek Zhuo Yun melihat peserta lain bertumbangan.

Ye Chen berjalan di barisan belakang. Dia berjalan santai, tangannya di belakang punggung. Lilith berjalan di belakangnya, berlindung di dalam "bayangan" aura Ye Chen agar tidak terkena tekanan.

"Tuan, Niat Pedang ini... tajam," bisik Lilith.

"Tajam? Ini tumpul," komentar Ye Chen pelan. "Goresan di dinding ini penuh keraguan. Pemiliknya tidak memiliki hati pedang yang murni."

Ye Chen mempercepat langkahnya.

Langkah 200... 300... 400...

Dia melewati peserta demi peserta. Dia berjalan seolah-olah sedang jalan-jalan sore, tidak terpengaruh sama sekali.

Zhuo Yun di depan mulai berkeringat di langkah ke-600. Artefak pelindungnya mulai retak.

"Sial... Tekanannya makin kuat..."

Tiba-tiba, Zhuo Yun merasakan seseorang melewatinya.

Seorang pemuda berjubah abu-abu.

Ye Chen melewatinya tanpa melirik sedikitpun.

"K-Kau?!" Zhuo Yun kaget. "Bagaimana kau bisa berjalan secepat itu tanpa artefak?!"

Ye Chen terus berjalan.

Langkah ke-700.

Langkah ke-800.

Di atas tebing, Tetua Jian Gu yang sedang mengawasi mulai berdiri tegak. Matanya menyipit menatap Ye Chen.

"Anak itu... Dia tidak melawan Niat Pedang. Dia... menyatu dengannya?"

Di langkah ke-900, Ye Chen berhenti.

Bukan karena tidak kuat. Tapi karena dia melihat sesuatu di dinding tebing.

Di antara ribuan goresan pedang yang kacau, ada satu goresan vertikal yang sangat dalam dan bersih. Goresan itu berbeda dari yang lain. Goresan itu memancarkan aura kesunyian dan kehampaan.

Ye Chen mendekati dinding itu. Dia mengulurkan tangannya, menyentuh bekas goresan itu.

ZING!

Liontin Pedang Naga Langit di lehernya bergetar hebat. Resonansi!

"Ini..." mata Ye Chen berbinar. "Ini jejak pedang yang ditinggalkan oleh orang yang sama dengan pemilik warisanku. Mungkin murid Dewa Pedang? Atau... Dewa Pedang sendiri saat dia muda?"

Ye Chen memejamkan mata. Dia menyalurkan sedikit Niat Pedang Kehampaan-nya ke dalam goresan itu.

RUMBLE...

Seluruh ngarai tiba-tiba bergetar.

Ribuan pedang yang tertanam di tanah dan dinding mulai berdengung serentak. Suara tangisan angin di ngarai berubah menjadi Nyanyian Pedang.

Cahaya perak memancar dari goresan yang disentuh Ye Chen, menyelimuti tubuhnya.

"Apa yang terjadi?!" Peserta lain panik. "Gempa?!"

Di atas tebing, Tetua Jian Gu terbelalak shock.

"Resonansi Leluhur?! Goresan itu... itu adalah Goresan Pendiri Sekte yang tidak pernah bereaksi selama seribu tahun!"

Tetua Jian Gu melompat turun dari tebing, mendarat di dekat Ye Chen.

"BERHENTI!" teriak Tetua itu.

Ye Chen menarik tangannya. Cahaya dan getaran itu perlahan mereda.

Ye Chen berbalik, menatap Tetua itu dengan wajah polos (dibuat-buat).

"Maaf, Senior. Saya hanya penasaran dengan goresan ini. Apakah saya merusaknya?"

Tetua Jian Gu menatap Ye Chen dengan tatapan menyelidik yang tajam. Dia memeriksa kultivasi Ye Chen.

"Spirit Severing Tingkat 2 (disamarkan). Tulang fisik yang kuat. Dan pemahaman pedang yang... aneh."

"Siapa namamu, Bocah?" tanya Tetua Jian Gu serius.

"Ye Gu."

"Ye Gu..." Tetua itu mengangguk pelan. "Kau lulus tahap pertama. Dan kau... langsung masuk ke Daftar Perhatian Khusus."

Zhuo Yun, yang baru saja sampai di langkah ke-900 dengan napas hampir habis, melihat pemandangan itu dengan iri dan benci.

"Dia mencari perhatian dengan trik murahan!" batin Zhuo Yun. "Tunggu saja di tahap kedua... Ujian Pertarungan. Aku akan menghancurkanmu."

Tetua Jian Gu mengibaskan tangannya.

"Semua yang mencapai langkah 500, lulus! Sisanya, pulang!"

"Tahap Kedua akan diadakan di Arena Meteor. Ye Gu, ikut aku."

Ye Chen mengikuti Tetua itu, sementara Lilith berjalan di belakang sambil menunduk, menyembunyikan senyum licik.

"Langkah pertama berhasil," batin Ye Chen. "Aku sudah menarik perhatian petinggi. Sekarang tinggal mencari cara untuk masuk ke Perpustakaan Terlarang sekte ini."

Tapi Ye Chen tidak tahu, resonansi tadi tidak hanya membangunkan perhatian Tetua.

Di kedalaman gunung, di dalam gua tertutup es abadi, sepasang mata tua terbuka.

"Aura ini... Kunci Bulan? Dan... Pedang Langit? Mereka datang kepadaku?"

Leluhur Sekte Pedang Bintang Jatuh telah terbangun.

(Akhir - Bab 17)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!