Selama dua tahun, aku membiarkan dia mencintaiku sendirian. Bagiku, dia hanyalah pengisi waktu luang, sosok yang kehadirannya tak pernah sanggup menggetarkan jantungku. Aku membalas ketulusannya dengan pengabaian, pesan-pesan yang tak pernah kubalas, dan penolakan yang tak terhitung jumlahnya. Puncaknya, aku mengkhianatinya tepat di depan matanya hanya untuk sebuah rasa penasaran sesaat.
Aku pergi saat melihatnya bersama wanita lain, mengira satu tahun menghilang bisa menghapus semua dosa. Namun, takdir memiliki cara kejam untuk mengingatkanku. Di sebuah gedung pencakar langit Jakarta, gema masa lalu itu kembali. Pria yang dulu kusia-siakan kini berdiri tepat di hadapanku sebagai rekan kerja. Sialnya, dia bukan lagi pria hangat yang kukenal; dia adalah orang asing yang menatapku tanpa rasa sedikit pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Aku mematung di pinggir jalan, membiarkan angin malam Jakarta yang lembap menerpa wajahku yang basah. Mobil putih itu sudah hilang dari pandangan, tapi bayangan senyum Baskara untuk Rasya masih tertancap jelas di ingatanku. Senyum itu dulu adalah duniaku, namun baru sekarang aku menyadari betapa mahalnya harga sebuah ketulusan yang sudah dibuang.
Malam itu, aku pulang ke apartemen dengan perasaan hancur. Sesampainya di kamar, aku tidak langsung tidur. Tanganku bergerak secara impulsif meraih ponsel, membuka kolom pencarian di media sosial.
Sebuah nama yang tadi disebut Baskara: Rasya.
Hanya butuh beberapa menit sampai aku menemukan profilnya. Tidak sulit, karena di foto profilnya, ia tampak tertawa lepas di sebuah kedai kopi—dan di sampingnya, ada potongan bahu pria yang sangat kukenali. Baskara.
Aku menelusuri unggahannya satu per satu. Hatiku terasa seperti diremas saat melihat sebuah foto yang diunggah enam bulan lalu. Foto tangan mereka yang saling bertaut dengan takarir singkat: "Terima kasih sudah memilih untuk sembuh dan melangkah bersamaku."
Kalimat itu telak menghantamku. Baskara benar-benar hancur karena aku, dan wanita inilah yang memunguti kepingan hatinya. Wanita inilah yang membalas pesannya saat aku mengabaikannya. Wanita inilah yang menyambut ajakannya bertemu saat aku selalu menolak dengan ribuan alasan bosan.
Aku melempar ponselku ke atas kasur, menutupi wajah dengan bantal agar isak tangisku tidak terdengar oleh tetangga sebelah. Gema masa lalu itu kini berubah menjadi kenyataan yang pahit; bahwa aku bukan lagi pemeran utama di hidupnya. Aku hanyalah antagonis dalam cerita mereka, sosok masa lalu yang hampir menghancurkan pria sebaik Baskara.
Keesokan paginya, aku datang ke kantor dengan mata sembab yang kusembunyikan di balik concealer tebal. Aku bertekad untuk bersikap profesional, seperti yang Baskara inginkan. Namun, semesta sepertinya belum puas menghukumku.
Di ruang pantri, aku berpapasan dengannya. Ia sedang menyeduh kopi, membelakangiku.
"Bas," panggilku pelan. Aku tidak ingin meminta maaf lagi, aku hanya ingin memastikan sesuatu. "Soal pekerjaan semalam... laporannya sudah aku kirim ke emailmu tepat jam delapan tadi."
Baskara berbalik, memegang cangkir kopinya. Ia mengangguk sekilas, wajahnya kembali ke setelan pabrik: dingin dan datar. "Sudah saya terima. Terima kasih."
Ia hendak melangkah pergi, namun langkahnya terhenti saat melihat kotak bekal kecil yang kupegang—yang rencananya ingin kuberikan padanya sebagai ucapan terima kasih atas roti semalam.
"Aruna," suaranya rendah. "Jangan lakukan apa pun yang membuat Rasya salah paham kalau dia mampir ke kantor nanti. Dia akan sering ke sini karena perusahaannya adalah vendor penyedia aset untuk proyek kita."
Duniaku serasa berhenti berputar. Jadi, bukan hanya rekan kerja dengan Baskara, aku juga harus bekerja sama dengan wanita yang menjadi "rumah baru"-nya?
"Dia... bekerja di sini juga?" tanyaku dengan suara bergetar.
"Sebagai mitra kerja kita," jawab Baskara singkat. "Jadi, simpan semua gema masa lalu itu baik-baik, Aruna. Jangan biarkan itu merusak profesionalitasmu."
Ia pergi meninggalkanku sendirian di pantri yang pengap. Kotak bekal di tanganku kini terasa sangat berat, sama beratnya dengan kenyataan bahwa mulai hari ini, aku harus menyaksikan kebahagiaan mereka setiap hari tepat di depan mataku.
Aku menarik napas panjang, lalu membuang kotak bekal itu ke tempat sampah di sudut pantri. Bunyi debuk pelan dari kotak plastik itu seolah menjadi penanda bahwa Aruna yang penuh penyesalan semalam sudah mati.
Jika Baskara ingin profesionalitas, maka dia akan mendapatkannya. Jika dia ingin aku menyimpan gema masa lalu itu, maka aku akan menguncinya di dasar hati yang paling dalam. Aku tidak akan membiarkan diriku terlihat menyedihkan di depan pria yang kini sudah punya "rumah baru" itu.
Aku membenahi letak blazerku, mengangkat dagu, dan berjalan keluar pantri dengan langkah tegap. Tatapan mataku yang tadinya sembab kini berubah menjadi tajam dan tidak terbaca. Aku kembali ke meja kerjaku, mengabaikan segala bisikan di kepala tentang betapa jahatnya aku dulu.
"Aruna, tim vendor sudah sampai. Kita rapat di ruang Sakura sepuluh menit lagi," panggil manajerku.
"Baik, Pak. Saya segera ke sana," jawabku singkat, suaraku datar tanpa emosi.
Di dalam ruang rapat, aku duduk di kursi paling ujung. Tak lama kemudian, pintu terbuka. Baskara masuk lebih dulu, diikuti oleh seorang wanita yang mengenakan setelan formal berwarna peach yang cerah. Rasya. Dia tersenyum ramah kepada semua orang, tipe wanita yang kehadirannya langsung menghangatkan suasana—sangat berbanding terbalik denganku.
Baskara menarikkan kursi untuk Rasya dengan gerakan yang sangat alami. Hatiku sedikit berdenyut melihatnya, tapi aku segera mematikan rasa itu. Aku membuka laptop dengan gerakan efisien, wajahku sedingin es.
"Perkenalkan, ini Rasya dari pihak vendor kreatif," Pak Hendra membuka rapat.
Rasya tersenyum ke arahku. "Halo, saya Rasya. Senang bisa bekerja sama dengan tim kalian."
Aku hanya mengangguk sekilas tanpa membalas senyumnya. "Aruna. Silakan dimulai presentasinya, waktu kita tidak banyak."
Aku bisa merasakan tatapan Baskara padaku. Tajam dan penuh selidik. Mungkin dia terkejut melihat perubahanku yang begitu cepat, kembali ke mode cuek dan dingin seperti saat kami masih bersama dulu. Bedanya, dulu aku bersikap begini karena tidak cinta, sekarang aku melakukannya agar tidak hancur.
Selama rapat berlangsung, aku terus memotong pembicaraan dengan argumen teknis yang kaku. Aku bersikap sangat perfeksionis, mengkritik beberapa poin dalam proposal Rasya tanpa basa-basi.
"Maaf, Mbak Rasya, tapi aset desain ini tidak efisien untuk jangka panjang," ucapku dingin sambil menunjuk layar.
"Oh, begitu? Menurut saya ini sudah paling optimal, tapi saya bisa revisi kalau—"
"Tentu saja harus direvisi. Kami membayar mahal untuk hasil terbaik, bukan hasil yang 'menurut saya sudah optimal'," potongku tajam.
Ruangan mendadak hening. Rasya tampak sedikit terkejut dengan ketegasanku yang cenderung kasar. Aku melirik Baskara. Rahangnya mengeras. Ia tampak ingin membela kekasihnya, namun ia menahannya karena kami sedang di depan atasan.
"Saya setuju dengan Aruna. Kualitas adalah nomor satu," sahut Pak Hendra menengahi.
Rapat berakhir satu jam kemudian. Saat semua orang mulai beranjak, aku langsung mengemasi barang-barangku tanpa menoleh sedikit pun ke arah mereka. Namun, suara Baskara menghentikan langkahku di depan pintu.
"Aruna," panggilnya rendah.
Aku berbalik lambat, menatapnya dengan pandangan kosong yang dulu selalu ia benci. "Ya? Ada masalah dengan datanya, Pak Baskara?"
Baskara berdiri di samping Rasya, matanya menatapku penuh kekecewaan. "Kamu tidak perlu bersikap sekasar itu pada Rasya. Dia hanya menjalankan tugasnya."
Aku menyunggingkan senyum tipis—senyum sinis yang dulu sering kuberikan saat menolak pesannya. "Ini dunia kerja, Bas. Kalau dia tidak bisa menerima kritik profesional, mungkin dia salah tempat. Permisi."
Aku melangkah keluar dengan kepala tegak, meninggalkan mereka berdua. Gema itu masih ada, sangat bising, tapi aku sudah memutuskan untuk menjadi dinding batu. Aku lebih baik dianggap jahat dan dingin, daripada harus terlihat lemah dan memelas di depan pria yang sudah tidak lagi mencintaiku.