NovelToon NovelToon
In Your Smile, I Find Warmth

In Your Smile, I Find Warmth

Status: tamat
Genre:Menikah Karena Anak / Anak Genius / CEO Amnesia / Tamat
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Reyhan, pengusaha sukses dengan masa kecil yang pahit, terpaksa menikahi Alya wanita yang pernah ia tinggalkan saat hamil enam tahun lalu. Pernikahan kontrak yang dingin mulai berubah ketika kehadiran putra mereka, Arka, anak jenius dengan IQ 152, perlahan meruntuhkan tembok hati Reyhan.

Di tengah proses belajar menjadi ayah dan suami, luka masa lalu Reyhan mulai sembuh. Ditambah kelahiran putri kecil mereka, Kirana, keluarga yang dulu hancur ini perlahan menemukan keutuhannya.

Kisah tentang kesempatan kedua, penyembuhan luka, dan cinta tanpa syarat yang akhirnya ditemukan setelah sekian lama hilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1 Senyum di Hari Pernikahan

Alya Zahra berdiri di depan cermin panjang kamar hotel yang sederhana namun nyaman. Cahaya lembut dari jendela menyentuh gaun pengantin putih polos yang membalut tubuhnya dengan sempurna. Tidak ada kerumunan make-up artist yang sibuk merias wajahnya, tidak ada tawa ceria para sahabat yang menggoda, dan tidak ada ibu yang dengan mata berkaca-kaca merapikan kerudung pasmina putihnya sambil berbisik doa.

Hanya dirinya sendiri. Dan keputusan besar yang telah ia ambil dengan hati yang berat tiga hari lalu.

Gaun ini ia pilih sendiri di sebuah butik kecil di pinggir jalan. Bukan karena desainnya yang paling indah atau mewah, melainkan karena harganya yang pas dengan anggaran terbatasnya. Kerudung pasmina putih ia pasang pagi tadi mengikuti tutorial YouTube sederhana, tangannya sedikit gemetar saat menyematkan peniti terakhir. Alya menarik napas dalam, mencoba menenangkan gejolak di dada. Ini bukan pernikahan impian setiap gadis yang pernah ia bayangkan saat masih remaja. Bahkan, ini bukan pernikahan yang pernah ia inginkan sama sekali. Namun, bagi Alya, ini adalah satu-satunya jalan untuk melindungi masa depan putranya, untuk memberi Arka kehidupan yang lebih layak.

"Mama cantik sekali." Suara kecil yang polos membuat Alya menoleh dengan cepat. Arka, bocah lima tahun dengan mata bulat penuh kecerdasan yang selalu membuatnya bangga sekaligus khawatir, berdiri di ambang pintu. Ia mengenakan kemeja putih rapi dan celana bahan hitam yang membuatnya terlihat seperti pengusaha kecil yang siap rapat.

Alya tersenyum lembut, meski dadanya terasa sesak oleh campuran rasa haru dan takut. "Terima kasih, sayangku."

Arka melangkah mendekat, tangan kecilnya memegang origami berbentuk mawar yang ia lipat sendiri. Lipatannya rapi dan presisi luar biasa untuk anak seusianya, setiap sudut tajam dan simetris sempurna. "Ini untuk Mama. Aku nggak punya uang buat beli bunga sungguhan."

Mata Alya memanas. Air mata hampir jatuh, tapi ia cepat menahannya. Ia berlutut, menyamakan tinggi badannya dengan Arka, lalu memeluk anak itu erat-erat. Aroma sampo anak-anak yang lembut langsung menenangkan hatinya yang kacau. "Ini jauh lebih berharga daripada bunga mana pun, Arka. Terima kasih, sayang."

Arka membalas pelukan itu sebentar saja sebelum melepaskan diri dengan sedikit canggung, seperti biasanya. Anak itu memang tidak terlalu nyaman dengan sentuhan lama. Alya sudah terbiasa dengan itu. Ia pernah membaca di buku-buku yang diam-diam dipinjamnya bahwa anak-anak dengan kecerdasan di atas rata-rata sering memiliki sensitivitas sensorik yang berbeda.

"Mama yakin mau nikah sama Om Reyhan?" tanya Arka tiba-tiba dengan nada datar yang khas, terlalu logis dan dewasa untuk anak lima tahun.

Alya terdiam sejenak, jantungnya berdegup lebih kencang. Bagaimana menjelaskan pada anak kecil bahwa pernikahan ini bukan tentang cinta, melainkan tentang perlindungan? Tentang jaminan masa depan dan nama keluarga yang bisa menutupi aib masa lalunya yang kelam? "Mama yakin ini yang terbaik untuk kita berdua," jawabnya pelan, suaranya hampir berbisik penuh keyakinan palsu.

Arka mengangguk pelan, meski matanya masih dipenuhi tanda tanya yang tak terucap. "Kalau Mama yakin, aku ikut saja. Tapi Om Reyhan kelihatannya orang yang serius banget. Dia jarang bicara."

Alya sedikit terkejut, tapi ia tersenyum tipis. "Kamu ketemu Om Reyhan kapan?"

"Waktu Mama ngobrol sama dia di kafe minggu lalu. Aku duduk di sebelah, kan? Dia cuma bilang halo, lalu diam saja. Tapi dia terus memperhatikan aku. Matanya tajam, seperti sedang menghitung sesuatu di kepalanya."

Alya menelan ludah dengan susah payah. Ia ingat pertemuan itu pertemuan ketiga mereka sebelum Reyhan melamar secara resmi. Saat itu, Reyhan memang hanya melirik Arka sekilas tanpa banyak bertanya, seolah keberadaan anak itu bukan urusannya sama sekali.

Tapi ternyata Arka sangat menyadarinya. Alya mengecup puncak kepala Arka lama, menghirup aroma sampo anak-anak yang lembut itu seolah ingin menyimpannya selamanya. "Terima kasih sudah percaya pada Mama. Kita akan baik-baik saja, janji."

"Mama janji nggak bohong?" Arka menatapnya dengan serius, mata bulatnya tak berkedip.

"Mama janji."

Arka tersenyum tipis senyum langka yang selalu membuat hati Alya hangat sekaligus perih. "Oke. Kalau begitu, aku akan jadi anak yang baik. Biar Om Reyhan nggak nyesel nikah sama Mama."

Hati Alya seperti diremas kuat. Kenapa anak sekecil ini harus berpikir sejauh itu? Ia memeluk Arka lagi, kali ini lebih lama. Dan meski tidak nyaman, Arka membiarkannya tanpa protes.

Tiga puluh menit kemudian, di ruang tunggu balai nikah yang sepi dan dingin, Alya duduk dengan tangan terus meremas ujung gaunnya yang kusut. Arka berada di sampingnya, asyik membaca buku ensiklopedia tebal tentang tata surya yang selalu ia bawa ke mana-mana, wajahnya tenang seolah sedang belajar biasa saja.

"Mama tegang ya?" tanya Arka tanpa mengangkat wajah dari bukunya, suaranya tetap datar tapi penuh perhatian.

"Sedikit."

"Nafas dalam-dalam tiga kali, lalu bayangkan hal yang bikin Mama senang. Itu cara mengurangi stres menurut buku psikologi yang aku baca di perpustakaan."

Alya tak bisa menahan senyum kecilnya. "Kamu baca buku psikologi?"

"Di perpustakaan. Bagian anak-anak terlalu membosankan. Aku lebih suka bagian dewasa."

Tentu saja, batin Alya sambil menggeleng pelan.

Pintu ruangan terbuka pelan. Seorang wanita paruh baya berkebaya formal masuk — wali yang ditunjuk Reyhan sebagai saksi. Wanita itu tersenyum ramah, mencoba mencairkan suasana. "Sudah siap, Mbak Alya?"

Alya mengangguk, meski jantungnya berdegup kencang seperti mau loncat keluar. Lalu Reyhan masuk.

Pria itu tampak gagah dan sempurna dalam jas hitam formal dengan dasi abu-abu gelap. Rambutnya disisir rapi ke belakang, sepatu pantofelnya mengkilap sempurna. Wajahnya datar, tanpa ekspresi, seperti seorang CEO yang hendak menghadiri rapat penting, bukan pria yang akan menikah.

Mata mereka bertemu sebentar. Reyhan hanya mengangguk singkat, sopan tapi dingin tanpa kehangatan sedikit pun.

Alya membalas dengan senyum tipis yang tak sampai ke matanya. Ini bukan pernikahan, batin Alya pahit. Ini lebih seperti kesepakatan bisnis yang dingin.

Satu jam kemudian, prosesi ijab kabul berlangsung dengan sangat sederhana di balai nikah itu. Tidak ada resepsi mewah, tidak ada ratusan undangan, tidak ada pelaminan gemerlap dengan bunga-bunga segar. Hanya penghulu, dua saksi, dan Arka yang duduk di baris depan dengan wajah serius seolah sedang menghadiri seminar penting bukan pernikahan ibunya sendiri.

Reyhan Mahardika berdiri di sampingnya, tinggi dan tegap. Jas hitamnya pas di tubuh atletisnya, wajah tampannya terlihat dingin dan terkendali sepenuhnya.

Penghulu membacakan kalimat ijab dengan suara khidmat. "Saudara Reyhan Mahardika, apakah Saudara bersedia menerima nikah Alya Zahra binti Ahmad Zahra dengan mas kawin seperangkat alat shalat, dibayar tunai?"

"Saya terima nikahnya Alya Zahra binti Ahmad Zahra dengan mas kawin seperangkat alat shalat, dibayar tunai."

Suara Reyhan tegas dan datar, tanpa getaran emosi sedikit pun, seperti sedang membaca naskah presentasi bisnis.

"Sah," ucap penghulu dengan senyum lega.

Tepuk tangan kecil terdengar dari Arka yang bertepuk dengan antusias namun tetap dengan ekspresi datar. Ia bahkan mengangguk-angguk seolah menyetujui keputusan bisnis penting yang mengubah segalanya.

Alya menunduk, tangannya gemetar di pangkuan. Sekarang ia resmi menjadi istri Reyhan Mahardika. Tapi mengapa rasanya seperti baru saja menandatangani kontrak yang mengikat masa depannya sendiri?

Reyhan hanya menoleh sekilas padanya. Tatapannya kosong, tanpa kehangatan maupun janji. Hanya kepastian bahwa kesepakatan telah terlaksana.

Setelah akad, sesi foto singkat dilakukan di sudut ruangan. Reyhan berdiri di samping Alya tanpa senyum, tanpa sentuhan sama sekali. Bahkan ketika fotografer meminta mereka mendekat untuk "lebih romantis", ia hanya bergeser sedikit, menjaga jarak yang sopan namun terasa sangat dingin dan jauh.

"Sedikit lagi, Pak, Mbak... biar lebih romantis," pinta fotografer dengan nada ceria yang dipaksakan.

Reyhan tidak bergerak sedikit pun.

Alya tersenyum untuk kamera, meski hatinya hampa. Senyum yang sudah ia latih bertahun-tahun untuk menyembunyikan kesedihan dan luka lama.

"Pengantin prianya senyum dong, Pak. Ini hari bahagia," goda fotografer lagi dengan hati-hati.

Reyhan menatap kamera dengan ekspresi datar. "Saya tidak terbiasa tersenyum."

Fotografer tertawa canggung. "Oh... baiklah, Pak. Serius juga terlihat gagah kok."

Klik. Klik. Klik. Foto-foto itu akan terlihat indah di permukaan gaun putih, jas hitam, latar elegan. Tapi siapa pun yang melihat akan tahu: ini bukan pernikahan penuh cinta.

"Mama, aku boleh pegang kameranya nggak?" Arka tiba-tiba muncul di samping fotografer, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu melihat peralatan profesional itu.

Fotografer tertawa kecil. "Wah, adik kecil pintar ya? Ini kamera mahal lho, harus hati-hati banget."

"Aku tahu. Canon EOS R5, sensor full-frame 45 megapixel, bisa rekam video 8K RAW, autofokus dual pixel generasi kedua," jawab Arka dengan santai sambil menunjuk bagian-bagiannya dengan tepat. "Lensanya RF 24-70mm f/2.8 L, berat sekitar 900 gram."

Semua orang terdiam sejenak, terkejut.

Fotografer melongo tak percaya. "Kamu... berapa umur, dek?"

"Lima tahun dua bulan," jawab Arka sambil mengacungkan lima jari dengan presisi sempurna.

Saksi-saksi saling berbisik pelan. Untuk pertama kalinya sejak akad, Reyhan menoleh bukan ke Alya, melainkan ke Arka. Matanya menyipit, ada ketertarikan yang jelas di sana sesuatu yang jarang sekali terlihat di wajah dinginnya.

Alya merasakan keringat dingin di tengkuknya. Jangan perhatikan dia terlalu lama...

"Kamu suka fotografi?" tanya Reyhan tiba-tiba, suaranya sedikit lebih lembut dari biasanya meski tetap formal.

Arka mengangguk. "Suka. Tapi aku lebih tertarik pada teknologinya. Sensor, lensa, aperture, ISO, shutter speed... itu lebih menarik daripada hasil fotonya sendiri."

Reyhan tidak menjawab, tapi Alya melihat kilatan di matanya ketertarikan murni, dan mungkin sedikit kecurigaan yang mulai tumbuh.

Di perjalanan pulang, mereka bertiga duduk dalam keheningan yang tebal di dalam mobil sedan hitam mewah Reyhan. Alya di kursi depan, Arka di belakang dengan sabuk pengaman terpasang rapi, sementara Reyhan mengemudi sendiri tanpa supir. Alya melirik pria di sampingnya dari sudut mata. Reyhan mengemudi dengan tenang dan presisi, satu tangan di setir, yang lain di tuas persneling, gerakannya seperti semua hal yang ia lakukan terkendali sempurna.

Arka yang memecah kesunyian dengan suara polosnya. "Om Reyhan, mobil ini pakai mesin V8 ya?"

Reyhan melirik melalui kaca spion. "Iya. Kenapa?"

"Suaranya khas. Aku suka V8, torsinya besar di RPM rendah, lebih halus tapi bertenaga."

Kening Reyhan berkerut tipis. "Kamu tahu dari mana?"

"YouTube dan spesifikasi di website resmi. Kartun membosankan, plotnya mudah ditebak. Aku lebih suka yang ada data dan fakta."

Reyhan menatap Arka lebih lama melalui spion. Ada rasa penasaran yang mulai terlihat jelas di matanya yang biasanya acuh tak acuh.

Alya menggigit bibir bawahnya, jemarinya meremas tas di pangkuan. Ini baru hari pertama, tapi Reyhan sudah mulai memperhatikan Arka lebih dalam. Dan itu membuatnya takut.

Sesampainya di rumah Reyhan, Alya terpana sesaat. Rumah itu sebuah mansion modern minimalis dengan banyak kaca dan marmer putih mengkilap. Dingin, luas, dan teratur sempurna. Tidak ada nuansa hangat keluarga, hanya kesan mewah yang steril seperti kantor eksekutif.

"Kamar kalian di lantai dua, sebelah kanan," kata Reyhan sambil melepas jasnya dengan gerakan lelah. "Aku di sebelah kiri. Kalau butuh apa-apa, panggil Mbak Tari. Dia yang mengurus rumah, datang pagi pulang sore."

"Kamar kami?" tanya Alya pelan, meski hatinya sudah tahu jawabannya.

"Iya. Kamu dan Arka satu kamar." Reyhan melepas dasi dan membuka kancing atas kemejanya. "Ini pernikahan kontrak. Aku nggak berencana tidur bersama. Kita tidak perlu berpura-pura."

Kata-kata itu dingin tapi jujur, menusuk tepat di hati Alya. "Aku mengerti," jawabnya pelan, berusaha menyembunyikan rasa sakit yang mulai merayap.

Sebelum Reyhan naik tangga, Arka bertanya dengan polos tak berdosa, "Om Reyhan nggak tidur sama Mama? Kenapa? Bukannya suami istri itu tidur bareng?"

Reyhan membeku di anak tangga pertama.

Alya langsung memegang tangan Arka dengan lembut. "Arka"

"Orang dewasa punya aturan sendiri," potong Reyhan, suaranya masih dingin meski ada sedikit ketidaknyamanan yang tersirat.

Arka mengangguk santai. "Oh. Seperti ayah ibu yang pisah rumah sebelum cerai ya? Aku pernah baca di buku sosiologi keluarga."

Hening yang canggung langsung menyelimuti ruangan luas itu.

Reyhan berbalik dan menatap Arka dengan tatapan tajam bukan marah, tapi menyelidik. "Kamu pernah lihat ayah-ibumu bercerai?"

"Aku nggak pernah punya ayah," jawab Arka enteng, seperti membicarakan fakta cuaca saja. "Cuma baca di buku dan jurnal psikologi online."

Dengan santai, Arka naik tangga menuju kamar mereka, meninggalkan Alya dan Reyhan dalam keheningan yang berat.

Reyhan menatap Alya lekat-lekat, tatapannya menusuk. "Arka... anak siapa sebenarnya?"

"Anakku," jawab Alya tegas, berusaha terlihat tenang meski jantungnya berdebar.

"Ayahnya?"

"Sudah tidak ada."

Reyhan tidak bertanya lagi, tapi tatapannya menyiratkan bahwa ia belum puas dengan jawaban itu. Akhirnya ia berbalik dan naik ke kamarnya tanpa kata lagi. Pintu kamar tertutup dengan suara klik yang terdengar begitu final.

Alya berdiri sendirian di ruang tamu yang luas dan dingin, memeluk tubuhnya sendiri. Selamat datang di pernikahan tanpa cinta, batinnya pahit.

Malam itu, di kamar yang baru, Alya berbaring di sisi tempat tidur king size yang terlalu luas untuknya dan Arka. Anaknya sudah Tertidur nyenyak di sampingnya, napasnya teratur dan tenang. Alya mengusap lembut rambut Arka dengan penuh kasih sayang, air matanya jatuh pelan tanpa suara.

Semua ini aku lakukan untukmu, sayang. Supaya kamu bisa sekolah di tempat terbaik, hidup layak, dan punya masa depan yang cerah. Mama akan kuat, demi kamu.

Sementara itu, di kamar seberang, Reyhan Mahardika duduk di tepi ranjangnya yang dingin. Ia menatap foto di ponselnya foto seorang wanita muda dari enam tahun lalu. Wanita dengan senyum hangat dan mata berbinar penuh harapan.

Wanita yang pernah ia tinggalkan tanpa penjelasan sedikit pun.

Reyhan menutup ponsel dengan pelan, memijat pelipisnya dengan lelah.

Kenapa wajah Alya terasa sangat familiar? Seolah ia pernah melihatnya di suatu tempat, di masa lalu yang ia coba lupakan.

1
tia
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!