Bagi orang lain, ia adalah definisi kemandirian yang sempurna. Namun, di balik punggungnya yang tegap, tersimpan luka yang tak pernah dipeluk siapa pun.
Ia tumbuh dalam rumah yang penuh, tetapi merasa seperti yatim piatu di tengah hiruk-pikuknya. Sejak kecil, ia dipaksa menelan rindu pada orang tua yang merantau, hanya untuk kembali dan mendapati dirinya sebagai orang asing yang selalu salah. Tanpa pembelaan, tanpa kasih sayang, ia belajar satu hal: satu-satunya orang yang bisa ia andalkan adalah dirinya sendiri.
Namun, sampai kapan seseorang bisa terus menjadi "langit" yang kokoh tanpa pernah runtuh? Ketika semua keinginan harus dipenuhi sendiri dan setiap air mata harus disembunyikan, ia mulai kehilangan jejak akan perasaannya sendiri.
Di rumah yang seharusnya menjadi pelabuhan, ia justru tenggelam dalam kesepian yang paling sunyi. Mampukah ia menemukan jalan pulang ke dirinya sendiri, ataukah ia akan terus menopang langit itu sampai hancur berkeping-keping?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 11
Setelah makan malam yang emosional itu, Pradipta mengantar Alana kembali ke hotel. Di lobi yang temaram, ia berhenti dan menatap Alana dengan intensitas yang berbeda dari biasanya.
"Saya harus kembali ke Jakarta dengan penerbangan pertama besok pagi, Alana," ujar Pradipta. Suaranya terdengar sedikit berat, seolah ada bagian dari dirinya yang enggan beranjak. "Ada rapat pemegang saham yang tidak bisa saya tinggalkan."
Alana tertegun sejenak. Ada rasa kehilangan yang tiba-tiba menyergap, padahal mereka baru saja menghabiskan beberapa jam yang jujur. "Begitu cepat? Saya pikir Anda akan di sini beberapa hari."
Pradipta tersenyum tipis, lalu mengeluarkan sebuah ponsel kecil dari sakunya—ponsel khusus yang jarang ia gunakan. "Ini nomor pribadi saya. Jika keluargamu mulai melakukan 'serangan' lagi dan kamu merasa goyah, hubungi saya. Kapan pun."
Ia terdiam sebentar sebelum melanjutkan, "Kamu sudah melakukan hal yang benar, Alana. Jangan biarkan mereka menarikmu kembali ke dalam gelap hanya karena mereka takut melihat cahayamu sendiri."
Keesokan harinya, Alana terbangun dalam kesunyian kamar hotelnya. Pradipta sudah terbang kembali ke hiruk-pikuk ibu kota, meninggalkannya sebagai pemimpin tunggal di proyek Bali ini.
Baru saja ia menyesap kopi paginya, ponselnya bergetar hebat. Layarnya menampilkan nama "Ibu". Kali ini, nadanya bukan lagi marah, melainkan isak tangis yang terdengar sangat menderita.
"Alana... Ibu pusing sekali, Nak. Tensi Ibu naik," suara Ibu terdengar lemah di seberang telepon. "Tadi pagi Rian mengamuk karena motornya benar-benar diambil orang leasing. Dia pergi dari rumah, entah ke mana. Ibu sendirian, dada Ibu sesak..."
Dulu, mendengar suara ini akan membuat Alana langsung memesan tiket pulang paling awal. Jantungnya akan berdegup kencang karena ketakutan. Namun sekarang, ia teringat cerita Pradipta semalam tentang ayahnya di rumah sakit.
"Ibu sudah minum obat?" tanya Alana tenang. Suaranya datar, tanpa kepanikan yang biasanya diharapkan Ibu.
"Obat apa, Al? Ibu lemas sekali. Kamu tega biarkan Ibu mati sendirian di sini?" tangisan Ibu semakin keras.
Alana memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam. "Bu, Alana sudah kirimkan uang belanja yang cukup. Jika Ibu merasa sesak, tolong hubungi Pak RT atau ambulans. Alana ada di Bali, Alana tidak bisa sulap sampai di rumah dalam lima menit."
"Kamu... kamu benar-benar sudah jadi batu!" teriak Ibu, tangisannya tiba-tiba hilang digantikan amarah. "Anak durhaka! Kamu lebih sayang kerjaanmu daripada nyawa Ibu!"
Klik.
Alana mematikan sambungan telepon itu. Tangannya sedikit gemetar, bukan karena takut, tapi karena menahan luapan emosi. Ia menyadari satu hal: selama ini Ibunya menggunakan kesehatan sebagai alat kontrol. Begitu kontrol itu hilang, rasa sakitnya pun "sembuh" berganti amarah.
Ia segera mengirim pesan singkat ke Ayahnya.
Alana: Yah, kalau Ibu benar-benar sakit, tolong bawa ke puskesmas. Uang di amplop kemarin cukup untuk biaya berobat. Alana fokus kerja dulu.
Ayahnya hanya membalas dengan singkat: Iya, Al. Ibu cuma lagi emosi. Kerja saja yang benar.
Sore itu, Alana kembali ke lokasi proyek dengan langkah yang lebih ringan. Ia menyadari bahwa memutus rantai manipulasi butuh ketegasan yang menyakitkan. Di sela istirahatnya, ia melihat notifikasi pesan dari Pradipta.
Pradipta: Bagaimana udaranya? Masih bisa bernapas dengan lega?
Alana tersenyum, jari-jarinya menari di atas layar.
Alana: Tadi ada badai kecil dari Jakarta, tapi saya tidak tenggelam. Terima kasih sudah mengingatkan saya untuk tetap di daratan.
Di Jakarta, Pradipta yang baru saja keluar dari ruang rapat melihat pesan itu. Di tengah tekanan para pemegang saham yang kaku, senyum tipis muncul di wajahnya. Ia tahu, Alana bukan lagi wanita yang sama yang ia temui menangis di balik layar monitor minggu lalu.