Min Ara wanita yang di jodohkan dengan Jeon Jason, lelaki tampan yang mempunyai kharisma kuat yang merupakan seorang putra tunggal dari keluarga Jeon.
Sebagai syarat lelaki itu mendapatkan seluruh hak warisnya, Jason harus menikah dengan Ara.
Ara mengira kehidupannya akan bahagia dengan menjadi istri Jeon Jason, tetapi semua itu hanya ada dalam angannya saja. Jason yang berstatus suaminya itu, tidak lebih dari seorang iblis yang selalu menyakiti hatinya.
Ara tidak bisa mengelak perasaannya yang mulai terjebak di dalam lingkaran yang di buat Jason, tetapi itu semua adalah sebuah kesalahan besar baginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MTMH18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
07| Iblis Bertopeng Malaikat
Sekelebat bayangan itu datang di otak Ara, Ara membuka kedua matanya dan melihat Jason yang tengah memejamkan matanya sambil terus menciumnya.
Tatapan Ara menjadi kosong, raga memang di situ, tapi jiwanya hilang entah ke mana. Jason menghentikan ciumannya dan matanya menatap kedua mata Ara yang sedang terlihat kosong, lelaki itu mengernyitkan dahinya dengan ekspresi bingung.
“Ara!” panggil Jason, namun Ara tak menjawabnya.
Istrinya masih terdiam membuat Jason semakin bingung. Lelaki itu mengibaskan tangannya di depan wajah Ara, tetapi wanita itu tetap diam.
Tak lama kemudian, mata Ara tertutup dan tubuhnya langsung terjatuh ke dalam dekapan Jason. Lelaki itu terkejut dan langsung menggendongnya ke arah sofa, ia menghubungi dokter pribadinya untuk datang ke kantor.
Sekitar tiga puluh menitan, dokter yang di hubungi Jason sudah tiba dan masuk ke dalam ruangan lelaki itu.
Jason meminta sang dokter untuk memeriksa keadaan Ara. Sudah dua kali Ara pingsan dan itu tidak berlangsung dalam dua puluh empat jam. Sebenarnya ia cukup khawatir saat melihat wajah pucat Ara, tapi egonya menutupi semuanya.
Jason tidak lagi menyiksa Ara seperti sebelumnya, ia ingin bermain-main dengan Ara yang memang sangat cantik.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Jason setelah dokter selesai memeriksa Ara.
“Dia terlalu stress, tubuhnya tidak ada asupan makanan dan juga dia sempat mengalami shock. Aku sudah membuatkan resep obat untuknya dan aku harap dia tidak membebankan pikirannya untuk sementara. Kau bisa memberinya cuti, mungkin dia terlalu stress dengan pekerjaannya,” jelas sang dokter yang di balas anggukan oleh Jason.
“Kau memang cantik! Tapi, kau telah membuatku membencimu. Coba saja kita tidak disatukan dengan cara seperti ini, mungkin saja aku akan jatuh hati kepadamu,” gumam Jason mengusap lembut pipi Ara.
Jason mencium lama kening Ara, sebelum ia menyampirkan jas nya sebagai selimut untuk Ara.
Jason kembali berkutat dengan beberapa kertas di atas mejanya, sesekali ia melirik ke arah Ara yang masih belum sadar juga. Lelaki itu menghela napas panjang dan memijat kepalanya yang terasa pening.
Pikiran Jason mulai kacau, ia tidak bisa membiarkan Ara berada di dalam ruangannya terlalu lama. Karena membuat fokusnya hilang, Jason membuka lemari es kecil di dekat sofa tempat Ara, ia meneguk minuman dingin untuk menenangkan pikirannya. Namun lelaki itu dibuat terkejut saat mendengar ucapan Ara.
“Jangan pergi! Jangan berubah! Kau sudah berjanji untuk selalu bersamaku, tapi kenapa kau malah pergi,” isak Ara membuat Jason menghampirinya dan mengusap puncak kepalanya.
“Tenanglah, aku di sini bersamamu,” bisik lelaki itu yang membuat Ara kembali tenang.
Jason tersenyum kecil dan mengusap jejak air mata di pipi Ara. Lelaki itu dapat melihat seberapa rapuhnya wanita ini, ia juga ingin tahu ada apa sebenarnya dengan Ara.
“Kenapa kau selalu mengatakan jangan pergi? Ada apa sebenarnya?” gumam Jason.
Ara mulai membuka kedua matanya dan Jason langsung beranjak menjauh, lalu kembali ke meja kerjanya.
Ara memegangi kepalanya dan itu tidak luput dari penglihatan Jason. Ara memejamkan matanya dan mulai menurunkan kedua kakinya ke lantai.
“Akhirnya kau sadar juga! Kau membuatku susah!” kesal Jason membuat Ara terperanjat kaget, ia juga terkejut saat menyadari tempatnya berada sekarang.
Lalu ditangannya ada jas milik suaminya. Jason beranjak dari duduknya dan langsung merampas jasnya dari tangan Ara.
“Aku kenapa?” tanya Ara yang memang tidak mengingat apa yang sudah terjadi.
“Kau pingsan dan itu sangat merepotkanku!”
“Maaf,” cicit Ara yang di balas senyuman miring oleh Jason.
Jason mendekatkan tubuhnya ke arah Ara. Ia menahan bahu sang istri dan mengunci tatapan wanita itu, tapi Jason dibuat terkejut saat melihat betapa indahnya manik mata milik Ara.
“Kau mau apa?” suara Ara menyadarkannya.
“Ayah meminta kita untuk menginap di rumahnya dan aku ingin kau berakting di hadapan mereka nantinya! Ingat kau tidak boleh mengatakan tentang Heori yang menginap atau pun sekretarisku!” ancam Jason yang membuat Ara tersenyum kecut.
Ara bangkit dari duduknya, namun tubuhnya tidak seimbang membuat hampir terjatuh kalau Jason tak menahan tubuhnya. Lelaki itu memeluk erat pinggang Ara dan merapatkan tubuh mereka, Ara mencoba untuk melepaskan diri, namun tidak bisa, karena tubuhnya masih lemas.
“Kau selalu merepotkanku!” kesal Jason.
“Maaf dan terima kasih untuk tadi,” ucap Ara mencoba melepaskan pelukan sang suami, namun Jason tak kunjung melepasnya.
“Terima kasih saja tidak cukup,” balas Jason membuat Ara mendongak menatapnya.
“Lalu?” bingung wanita itu.
“Dengan ini,” Jason kembali mencium Ara, namun kali ini ciumannya itu begitu lembut membuat Ara memejamkan matanya dan meremas kemeja yang di pakai Jason.
...***...
Kali ini Ara berada di mobil yang sama dengan Jason, karena mereka akan langsung ke rumah tuan Jeon. Ara hanya terdiam menatap jalanan di malam hari yang kebetulan juga sedang turun hujan, tubuhnya cukup kedinginan, karena pendingin di mobil Jason di hidupkan, padahal di luar sedang turun hujan yang cukup deras.
Ara memeluk tubuhnya sendiri, beberapa saat kemudian Jason mematikan pendingin dan menarik tubuh Ara ke dalam dekapannya. Wanita tersenyum kecil merasakan tubuhnya begitu nyaman di dekapan sang suami.
“Anggap saja ini sebagai hadiah untukmu yang akan berakting nanti,” ujar Jason yang membuat senyum Ara memudar.
Ara menarik tubuhnya dan memilih kembali menatap ke arah jalanan.
“Kita sudah sampai!” seru Jason yang langsung keluar dari mobil, ia mengitari mobilnya dan membukakan pintu untuk Ara.
Ternyata akan di mulai, Ara melihat ayah dan ibu Jason tersenyum melihat kedatangan mereka, apalagi Jason memeluk mesra pinggangnya. Sudah sangat meyakinkan kedua orang tuanya kalau mereka berdua sangat bahagia.
“Akhirnya kau membawa menantu Ibu yang cantik ini ke sini juga,” ujar senang ibu Jason langsung menghampiri Ara dan memeluk erat tubuh menantunya.
“Kau terlihat semakin kurus? Apakah Jason melukaimu?” tanya ibu mertuanya yang dibalaas gelengan kepala oleh Ara.
“Tidak, Ara hanya kurang bernafsu untuk makan,” jujur Ara membuat ibu mertuanya itu mengembangkan senyumnya dan menariknya sang menantu masuk ke dalam di susul oleh suami dan putranya.
“Kau pasti akan menyukai masakan Ibu dan kau harus makan yang banyak!” ibu Jason mengambilkan nasi untuk menantunya dan Ara langsung mengerjap kaget saat melihat porsi yang begitu banyak di piringnya.
“Ibu, itu kebanyakan dan Ara tidak akan sanggup menghabiskannya,” ujar Ara yang di abaikan oleh ibu mertuanya.
“Pokoknya Ibu ingin semua lauk dan nasi ini habis!” Kata ibu mertuanya, Ara menelan ludahnya dengan susah payah, karena ia tidak akan bisa menghabiskannya.
“Kita makan berdua saja!” kata Jason yang kini mengambil alih piring Ara dan menyendokkan nasi, lelaki itu juga berinisiatif untuk menyuapi Ara dan dengan ragu wanita itu menerima suapan tersebut.
“Wah, akhirnya kalian bisa seperti ini juga. Ayah ikut senang melihat kalian seperti ini,” ujar tuan Jeon.
Jason tersenyum sambil melirik tajam ke arah Ara.
“Kita selalu seperti ini, jika di rumah,” bohong Jason.
Ara menganggukkan kepalanya, saat ia meremas kuat di pinggangnya.
Bersambung...