Niat hati menjalani KKN dengan tenang, Mikayla (25) malah mencatat skor buruk di hari pertama: memaki pria berjaket denim yang ternyata adalah Alvaro (30), sang Kepala Desa Asih yang dingin dan otoriter.
Bagi Mika, Alvaro adalah penghambat kelulusannya yang sangat menyebalkan. Bagi Alvaro, Mika hanyalah mahasiswi kota manja yang terlalu banyak bicara. Namun, di antara riset perairan dan debu jalanan desa, arus perasaan mulai mengalir di luar kendali. Di Desa Asih, mampukah Mika menaklukkan kerasnya hati Pak Kades, atau justru ia yang tenggelam dalam pesonanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Pagi itu, kabut tipis masih menyelimuti permukaan sungai Desa Asih, menciptakan suasana mistis yang membuat jantung Mika berdegup dua kali lebih kencang. Ia nyaris tidak tidur semalam. Bayangan alat filternya hancur berkeping-keping diterjang arus terus menghantui mimpinya.
Setelah drama kepulangan Amelia—yang sempat bersikeras ingin membawa Mika pulang ke Jakarta karena takut adiknya "hanyut" oleh pesona Pak Kades—Mika akhirnya bisa bernapas lega. Amelia baru saja berangkat pukul enam pagi tadi, setelah Mika menjanjikan akan mengirim laporan harian (dan foto Pak Kades secara diam-diam) kepada kakaknya yang super kepo itu.
Kini, rombongan kecil itu berjalan menyusuri pematang sawah yang licin. Mbah Darmo berjalan paling depan dengan langkah stabil, disusul oleh Alvaro yang pagi ini terlihat sangat maskulin dengan kemeja flanel biru tua yang lengannya digulung hingga siku. Mika berjalan di belakang mereka, tangannya bertaut, bibirnya tak henti menggumamkan doa.
"Tuhan, tolong... kalau alat itu hancur, harga diri saya di depan Pak Kades Dajjal itu bakal ikut hanyut sampai ke laut Jawa," batin Mika penuh harap.
"Kenapa? Takut taruhanmu gagal?" suara berat Alvaro memecah lamunannya. Pria itu sedikit melambatkan langkah agar sejajar dengan Mika.
Mika mendongak, mencoba memasang wajah berani meskipun tangannya dingin. "Nggak ada kata takut dalam kamus saya, Pak. Saya cuma lagi... meditas pasif."
Alvaro terkekeh rendah, suara yang entah kenapa terdengar jauh lebih merdu di pagi hari yang sunyi ini. "Meditasi atau sedang menyusun skenario kalau nanti harus mengecat pagar balai desa sebulan penuh?"
"Dih, percaya diri banget! Kita lihat aja nanti!" balas Mika ketus.
Begitu mereka sampai di tikungan sungai, suasana mendadak hening. Semua mata tertuju pada area di mana konstruksi kayu ulin itu dipasang kemarin. Arus sungai terlihat lebih deras dari biasanya karena hujan ringan di hulu tadi malam.
Mika memejamkan matanya selama beberapa detik, lalu perlahan membukanya.
Di sana, di tengah deburan air yang berwarna cokelat susu, alat itu masih berdiri tegak. Kerangka kayu ulinnya tampak kokoh menantang arus, dan sistem filter yang dirancang Mika terlihat bekerja sempurna, menyaring sampah organik dan eceng gondok yang lewat. Tidak ada satu pun penyangga yang miring.
"BERHASIL!" teriak Mika spontan. Suaranya melengking tinggi, memecah kesunyian pagi.
Rasa lega yang luar biasa meledak di dadanya. Segala rasa lelah, kesal, dan kantuk hilang seketika digantikan oleh euforia kemenangan. Tanpa berpikir panjang, Mika langsung berbalik dan menghambur, memeluk orang yang berdiri tepat di sampingnya dengan sangat erat.
"Akhirnya ya Siti! Kita berhasil Sit! Alatnya nggak roboh! Lo liat kan? Gue bilang juga apa, perhitungan gue nggak pernah meleset!" Mika berseru girang, menengamkan wajahnya di bahu "Siti" sambil melompat-lompat kecil.
Ia merasa orang yang dipeluknya ini sangat kokoh, lebih tinggi dari biasanya, dan... aromanya bukan aroma bedak bayi Siti, melainkan aroma woody maskulin yang bercampur dengan segar hawa pagi.
Mika mengerutkan kening. "Sit? Lo kok diem aja? Kok badan lo keras banget kayak beton? Sit?"
Mika perlahan melepaskan pelukannya dan mendongak. Matanya membelalak sempurna. Jantungnya seolah berhenti berdetak selama beberapa detik.
Bukan Siti. Yang dipeluknya barusan bukanlah Siti, melainkan Alvaro.
Alvaro berdiri mematung dengan kedua tangan yang menggantung kaku di samping tubuhnya. Wajahnya yang biasanya datar kini menunjukkan ekspresi yang sulit dijelaskan—campuran antara terkejut, bingung, dan ada semburat kemerahan tipis di tulang pipinya.
Siti, Asia, dan Arga berdiri beberapa meter di belakang mereka dengan mulut ternganga. Siti bahkan menutup mulutnya dengan tangan, matanya seolah ingin keluar dari tempatnya.
Mika buru-buru melepaskan tangannya dari pinggang Alvaro, melangkah mundur hingga hampir terpeleset lumpur. "Loh... loh... kok Bapak?!"
Alvaro berdehem keras, mencoba menguasai kembali ekspresinya yang sempat goyah. Ia merapikan kemejanya yang sedikit kusut akibat pelukan maut Mika tadi.
"Kamu... memang selalu se-ekspresif ini kalau senang?" tanya Alvaro, suaranya sedikit serak.
Mika merasa wajahnya sudah seperti kepiting rebus. Panasnya menjalar sampai ke telinga. Malunya tidak tertolong lagi. Namun, karena tidak mau terlihat lemah, ia malah balik menuduh dengan nada sewot.
"Ihh! Bapak cari kesempatan dalam kesempitan ya?! Kenapa Bapak nggak menghindar pas saya mau meluk? Kenapa malah diem aja kayak patung?!" bentak Mika, mencoba mengalihkan rasa malunya dengan agresi.
Alvaro menaikkan sebelah alisnya, kembali ke mode menyebalkannya yang biasa. "Saya cari kesempatan? Kamu yang tiba-tiba menubruk saya seperti banteng lepas, Mikayla. Saya cuma berusaha tidak jatuh ke sungai gara-gara doronganmu. Lagipula, siapa yang mau menghindar kalau diserang tiba-tiba?"
"Ya tapi kan Bapak bisa dorong saya!"
"Lalu kamu jatuh ke lumpur lagi, terus saya harus meminjamkan jaket lagi? Enggak, makasih. Biaya laundry jaket saya mahal," sahut Alvaro datar, meski ada kilatan jahil di matanya.
Mbah Darmo yang sejak tadi memperhatikan hanya bisa geleng-geleng kepala. "Sudah, sudah. Alatnya bagus. Kamu pinter, Neng. Air di belakang filter itu sudah kelihatan lebih tenang. Saya pegang janji kalian untuk terus pantau ini."
Mika tersenyum haru ke arah Mbah Darmo. "Makasih, Mbah. Pasti kami pantau."
Alvaro berjalan mendekati alat itu, memeriksanya sekali lagi dengan teliti seolah ia adalah inspektur bangunan. Setelah yakin semuanya aman, ia berbalik menatap Mika yang masih berusaha menenangkan detak jantungnya yang kacau.
"Sesuai janji," Alvaro mengeluarkan sebuah map dari balik kemejanya—map yang sejak tadi ia bawa. "Bawa ini ke kantor nanti siang. Saya sudah membubuhkan tanda tangan dan stempel persetujuan untuk seluruh program kerja tim kalian."
Mika menerima map itu dengan tangan yang sedikit gemetar. "Bapak serius?"
"Saya selalu serius dengan ucapan saya. Kamu sudah membuktikan bahwa kamu punya nyali dan otak. Desa Asih butuh orang seperti itu, bukan cuma orang yang bisa mengeluh soal debu ninja," ucap Alvaro.
Alvaro kemudian mendekat, membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh Mika saat teman-temannya mulai sibuk mengambil foto alat tersebut.
"Dan soal pelukan tadi... anggap saja itu bonus karena sudah bekerja keras. Tapi jangan dibiasakan, saya tidak mau warga berpikir saya sedang mengencani mahasiswa KKN."
Mika mendesis kesal, tapi ia tidak bisa menahan senyum tipis yang muncul di bibirnya. "Dih, siapa juga yang mau ngencan sama bapak! Pede banget!"
Alvaro hanya menyeringai, lalu berjalan menuju motornya yang terparkir di atas bukit. Sebelum menaiki motor, ia menoleh sekali lagi. "Jam satu siang di kantor. Jangan telat, atau tanda tangannya saya tarik lagi."
"PAK KADES NYEBELIN!" teriak Mika kencang.
Alvaro tertawa—kali ini benar-benar tertawa lepas—sambil memakai helmnya dan melesat pergi, meninggalkan debu yang kali ini tidak lagi membuat Mika kesal, melainkan membuat hatinya terasa hangat.
"Mik..." Siti mendekat dengan wajah penuh godaan. "Tadi itu... pelukan keberhasilan atau pelukan 'I Love You Mas Kades'?"
"Diem lo, Siti! Gue laper, ayo balik!" Mika berjalan cepat mendahului teman-temannya, berusaha menyembunyikan senyuman yang kini benar-benar tidak bisa ia bendung lagi.
Hari itu, alat filter perairan Desa Asih resmi berdiri. Namun, di saat yang sama, pertahanan di hati Mika terhadap sang Kepala Desa juga mulai menunjukkan keretakan yang cukup besar.