Demi menyelamatkan perusahaan ayahnya, Alina menerima pernikahan kontrak dengan pewaris konglomerat yang dingin dan kejam. Di mata semua orang, ia hanyalah wanita murahan yang menikah demi uang.
Tak ada yang tahu, Alina sebenarnya pewaris keluarga finansial terbesar yang sengaja menyembunyikan identitasnya.
Saat kontrak hampir berakhir dan rahasianya terbongkar, sang suami justru jatuh cinta. Kini, ketika kebenaran terungkap siapa yang sebenarnya sedang mempermainkan siapa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laskar Bintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Antara Dua Nama
Pagi itu, udara Singapura terasa lebih padat dari biasanya.
Di layar televisi hotel, berita bisnis menampilkan judul besar:
Aurora Holdings Umumkan Pengunduran Diri CEO dan Rencana Restrukturisasi Strategis.
Nama Daniel Wijaya disebut dengan nada formal, hampir dingin. Tidak ada pujian berlebihan. Tidak ada drama. Hanya kalimat standar: mengundurkan diri demi kepentingan perusahaan.
Alina berdiri diam di depan layar, tangan terlipat di dada.
“Cepat sekali,” gumamnya.
Arsen keluar dari kamar dengan kemeja yang belum sepenuhnya dikancingkan. “Mereka ingin menunjukkan kontrol.”
Alina mengangguk pelan.
Beberapa menit kemudian, notifikasi masuk bertubi-tubi. Media mulai mengaitkan restrukturisasi itu dengan kemungkinan merger bersama Ardhana. Spekulasi menyebar seperti api di padang kering.
“Aku yakin Daniel tidak pergi dengan sukarela,” kata Arsen pelan.
Alina tidak langsung menjawab.
Ia teringat wajah pria itu malam terakhir mereka bertemu—lelah, tapi masih menyimpan ambisi.
“Dalam dunia seperti ini,” katanya akhirnya, “tidak ada yang benar-benar pergi tanpa meninggalkan jejak.”
Siang harinya, pertemuan resmi dengan dewan Aurora dilakukan secara tertutup di salah satu ruang konferensi hotel.
Kali ini bukan lagi pertemuan diam-diam.
Di hadapan Alina dan Arsen duduk lima orang anggota dewan, masing-masing dengan ekspresi serius dan penuh perhitungan.
“Kami ingin transisi berjalan cepat,” ujar salah satu dari mereka. “Pasar tidak boleh melihat ini sebagai krisis.”
Alina menyilangkan tangan dengan tenang.
“Pasar tidak bodoh,” katanya. “Mereka sudah melihat cukup banyak.”
Beberapa anggota dewan saling pandang.
“Kami siap memberikan Ardhana mayoritas saham dalam entitas baru,” lanjut pria itu. “Namun kami menginginkan jaminan bahwa struktur manajemen akan tetap mempertahankan beberapa posisi kunci dari pihak kami.”
Arsen menatap mereka tanpa senyum.
“Jika kami mengambil tanggung jawab, kami juga yang menentukan arah,” katanya tegas.
Alina mengangkat tangan sedikit, menenangkan suasana.
“Ini bukan soal menang atau kalah,” ucapnya pelan namun jelas. “Jika kita benar-benar ingin merger berhasil, kita butuh transparansi total.”
“Transparansi seperti apa?” tanya salah satu anggota dewan.
Alina menatap mereka satu per satu.
“Audit menyeluruh terhadap semua proyek internasional. Termasuk proyek Eropa yang sedang diselidiki.”
Ruangan itu hening seketika.
“Kami tidak bisa—” salah satu mencoba menyela.
“Kita bisa,” potong Alina lembut. “Atau kita tidak melanjutkan pembicaraan ini.”
Tatapannya tidak keras, tapi tidak bisa ditawar.
Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ketua dewan mengangguk pelan.
“Baik.”
Setelah pertemuan itu, Alina merasa lelah yang berbeda.
Bukan lelah fisik.
Tapi lelah karena menyadari bahwa langkah yang ia pilih jauh lebih besar dari sekadar balas dendam atau pembuktian diri.
Di dalam lift menuju kamar, Arsen menyentuh tangannya.
“Kau baru saja memaksa mereka membuka semua kartu,” katanya.
“Aku tidak ingin mewarisi masalah tersembunyi,” jawab Alina.
Arsen tersenyum samar. “Kau terdengar seperti pemimpin perusahaan global.”
Alina tertawa kecil.
“Lucu. Dulu aku hanya ingin menyelamatkan perusahaan ayahku.”
“Dan sekarang?”
Ia terdiam.
Sekarang ia sedang mempertimbangkan menyatukan dua raksasa industri.
“Sekarang aku ingin membangun sesuatu yang tidak mudah runtuh,” katanya pelan.
Malamnya, saat berita tentang kemungkinan merger semakin ramai, sebuah wawancara lama Daniel kembali muncul di media.
Dalam potongan video itu, ia berkata dengan penuh percaya diri bahwa Aurora akan menjadi penguasa pasar Asia dalam lima tahun.
Alina menonton klip itu tanpa ekspresi.
“Apa kau merasa bersalah?” tanya Arsen tiba-tiba.
Ia menoleh.
“Karena mengambil alih mimpi orang lain?”
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Alina menatap layar yang kini gelap.
“Aku tidak mengambil mimpinya,” jawabnya perlahan. “Aku hanya memastikan mimpinya tidak menghancurkan orang lain.”
Arsen mengangguk.
Dan untuk pertama kalinya sejak awal konflik ini, Alina tidak merasakan amarah ketika memikirkan Aurora.
Hanya perasaan tenang yang aneh.
Keesokan paginya, mereka menerima dokumen resmi draft merger.
Nama entitas baru tercetak di halaman pertama:
Ardhana Aurora Group.
Alina membaca nama itu lama.
Dua nama.
Dua sejarah.
Dua luka.
Arsen berdiri di sampingnya.
“Kau tidak harus mempertahankan nama mereka,” katanya pelan.
Alina menggeleng.
“Ini bukan tentang menghapus masa lalu,” jawabnya. “Ini tentang memastikan masa depan tidak mengulanginya.”
Arsen menatapnya dengan sorot mata yang sulit dijelaskan.
Bangga.
Dan mungkin sedikit kagum.
“Kau berubah,” katanya akhirnya.
Alina tersenyum tipis. “Atau mungkin aku akhirnya menjadi diriku sendiri.”
Sore itu, sebelum mereka terbang kembali, Alina menerima pesan terakhir dari Daniel.
Selamat. Kau memainkan permainan ini dengan lebih baik dariku.
Ia menatap pesan itu cukup lama.
Lalu membalas singkat.
Ini bukan permainan bagiku.
Tidak ada balasan setelah itu.
Dan untuk pertama kalinya, ia tahu bab dengan Daniel benar-benar selesai.
Di pesawat menuju rumah, Alina menyandarkan kepala di kursinya.
Langit di luar jendela berwarna keemasan.
“Apa kau menyesal menerima pernikahan kontrak itu?” tanya Arsen tiba-tiba.
Ia tertawa pelan.
“Kalau aku menyesal, aku tidak akan duduk di sini bersamamu.”
Arsen tersenyum kecil.
“Kontrak kita sudah lama tidak relevan.”
Alina menoleh, menatapnya dengan lembut.
“Kontrak itu menyelamatkanku.”
“Dan sekarang?”
“Sekarang aku tidak butuh kontrak untuk tetap di sisimu.”
Keheningan yang hangat mengisi ruang di antara mereka.
Pesawat terus melaju, membawa mereka kembali ke kota yang akan menyambut dengan berita besar.
Merger.
Struktur baru.
Tanggung jawab baru.
Namun kali ini, Alina tidak lagi merasa seperti wanita yang terpojok dan dipandang rendah.
Ia bukan lagi sekadar istri kontrak.
Bukan lagi pewaris yang bersembunyi.
Ia adalah pemimpin yang memilih jalannya sendiri.
Dan di tengah perubahan besar yang menunggu, satu hal terasa pasti—
Nama mereka mungkin akan berdiri berdampingan di papan perusahaan.
Namun yang benar-benar menyatukan mereka bukanlah strategi atau saham.
Melainkan keputusan untuk tidak lagi berjalan sendirian.
(BERSAMBUNG)