NovelToon NovelToon
Luka Di Balik Etalase

Luka Di Balik Etalase

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:237
Nilai: 5
Nama Author: saytama

Dua jiwa yang terjepit di antara tuntutan menjadi "Pria Baja" dan "Wanita Porselen" bertemu dalam sebuah kepura-puraan yang menghancurkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

malam pertama

Pernikahan sudah terjadi. Mereka sekarang tinggal di "benteng" mereka sendiri. Konteksnya sekarang berubah dari "menghadapi dunia" menjadi "belajar hidup bersama dalam satu atap dengan segala trauma masing-masing".

Suara gerbang besi yang berderit tertutup di belakang mobil mereka terdengar seperti bunyi kunci sel penjara yang dilepaskan. Di Menteng, pesta mungkin masih menyisakan obrolan para elit, tapi di sini, di pinggiran Jakarta Selatan, hanya ada suara jangkrik dan deru mesin AC yang baru saja dinyalakan.

Laras melangkah masuk ke ruang tamu yang masih berbau cat baru. Ia tidak menyalakan lampu utama, hanya lampu sudut yang memberikan cahaya kuning temaram. Dengan napas berat, ia duduk di lantai beralaskan karpet bulu, tidak lagi peduli pada gaun pengantin seharga ratusan juta yang kini terseret di lantai semen halus.

"Kamu mau minum?" suara Arka terdengar dari arah dapur. Pria itu sudah melepas jas upacaranya, menyisakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku.

"Air putih saja, Ka. Kepalaku rasanya mau pecah," jawab Laras sambil mulai mencabuti jepit rambut yang menusuk kulit kepalanya satu per satu.

Arka datang membawa dua gelas air. Ia memberikan satu pada Laras, lalu duduk di lantai, bersandar pada sofa di samping Laras. Jarak mereka hanya beberapa sentimeter. Untuk pertama kalinya, tidak ada kamera, tidak ada orang tua, dan tidak ada ancaman Doni. Hanya ada mereka berdua dan keheningan yang canggung.

"Kita benar-benar melakukannya," gumam Arka setelah meneguk airnya. "Kita resmi suami istri."

Laras tertawa getir sambil menatap cincin berlian di jarinya. "Suami istri di atas kertas, rekan bisnis di dunia nyata, dan orang asing di bawah atap ini. Sesuai Pasal 4, kan?"

Arka terdiam. Ia memperhatikan Laras yang sedang kesulitan menjangkau resleting di punggung gaunnya. Gerakannya terlihat frustrasi dan lelah.

"Sini, biar kubantu," ujar Arka pelan.

Laras sempat menegang, namun ia kemudian memutar tubuhnya, membelakangi Arka. "Jangan sampai robek. Ibu bakal mengamuk kalau gaun ini rusak."

"Aku tidak peduli pada Ibumu malam ini, Laras," sahut Arka datar. Jemarinya yang masih memiliki bekas luka samar menyentuh kepala resleting di tengkuk Laras.

Saat resleting itu perlahan ditarik turun, udara dingin menyentuh kulit punggung Laras yang selama belasan jam tertutup kain ketat. Laras memejamkan mata, menghela napas panjang seolah seluruh beban hidupnya ikut luruh bersama kain itu. Arka berhenti tepat di tengah punggung, tidak ingin melewati batas yang mereka buat sendiri. "Terima kasih," bisik Laras tanpa berbalik.

"Laras..." Arka memanggil pelan. "Tentang serangan panikku semalam di apartemen... dan ketakutanku di pelaminan tadi. Aku minta maaf kamu harus melihat sisi itu."

Laras membalikkan badannya sedikit, gaunnya kini ia pegang di depan dada agar tidak melorot. Ia menatap Arka dengan tatapan yang jauh lebih lembut dari biasanya. "Ka, aku sudah bilang. Di rumah ini, kamu nggak perlu jadi 'Kapten' atau 'Putra Mahkota'. Kalau kamu mau gemetar, gemetar saja. Aku nggak akan lapor ke Jendral.

" Arka tersenyum tipis, kali ini senyum itu mencapai matanya. "Dan kamu... kalau kamu mau pakai sandal jepit biru itu lagi, atau mau memaki semua orang di proyek, lakukan saja. Aku bakal jadi orang pertama yang tutup telinga kalau kamu butuh berteriak."

Mereka saling pandang. Ada sebuah tarikan gravitasi yang aneh. Di tengah kehancuran mental masing-masing, mereka merasa utuh saat bersama. Bukan karena cinta yang membara, tapi karena rasa aman yang tidak pernah mereka dapatkan dari orang tua mereka sendiri.

"Kamar kamu di atas, sebelah kanan. Aku sudah minta orang memindahkan barang-barangmu ke sana kemarin," kata Arka, memecah suasana yang mulai terlalu intim. "Aku di kamar sebelah kiri. Pintunya punya kunci ganda dari dalam, kalau kamu merasa... ragu."

Laras berdiri, memegangi gaunnya. "Aku nggak ragu sama kamu, Arka. Aku cuma ragu sama dunia di luar sana."

Laras melangkah menuju tangga, namun ia berhenti sejenak dan menoleh. "Selamat malam, Arka. Tidurlah yang nyenyak. Untuk pertama kalinya dalam hidupmu, nggak ada yang bakal bangunin kamu buat minta laporan."

Arka memperhatikan punggung Laras hingga wanita itu menghilang di balik pintu kamar. Ia kemudian mematikan lampu, duduk di kegelapan ruang tamu, dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia bernapas tanpa merasa dadanya sesak.

Namun, di kamar sebelah kanan, Laras tidak langsung tidur. Ia duduk di tepi tempat tidur, menatap kunci rumah yang diberikan Arka. Ia menyadari satu hal yang menakutkan. tinggal bersama Arka mungkin akan jauh lebih berbahaya bagi hatinya daripada tinggal bersama ibunya. Karena melawan kebencian itu mudah, tapi melawan kebaikan dari seseorang yang sama-sama terluka... itu hampir mustahil.

Malam itu, di bawah atap beton yang belum sempurna, dua jiwa yang retak mulai belajar untuk tidak saling melukai. Dan di Menteng, Jenderal Baskoro sedang menatap foto pernikahan mereka di tabletnya, tersenyum puas karena rencananya berhasil, tanpa tahu bahwa di dalam "benteng" itu, anak-anaknya sedang merencanakan cara untuk meruntuhkan kerajaannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!