Ling Chen, pemuda cacat yang mati dalam kesepian, terbangun di dunia kultivasi sebagai pengawal rendahan di Kekaisaran Api Agung. Namun sebelum memahami takdir barunya, seorang putri kekaisaran tiba-tiba memilihnya sebagai suami di hadapan seluruh istana.
Di balik tubuh barunya tersembunyi Api Hitam kuno, kekuatan terlarang yang mampu mengguncang kekaisaran dan membakar langit. Terjebak dalam intrik politik, perebutan takhta, dan ambisi para pangeran, Ling Chen harus bangkit dari menantu yang diremehkan, menjadi penguasa yang ditakuti seluruh dunia.
Di dunia di mana kekuatan adalah hukum, ia akan membuktikan, yang hina hari ini, bisa menjadi Kaisar Agung esok hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao Ling'er, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16
Setelah mengalahkan tim Klan Karang Darah, Ling Chen, Qing Lin, dan Bai Yue Chan melanjutkan perjalanan lebih dalam melalui koridor kristal yang semakin gelap. Cahaya dari Trisula Air Biru Abadi di tangan Ling Chen menjadi satu-satunya sumber terang yang stabil, memantulkan kilau biru keemasan di dinding basah. Udara semakin berat, qi air murni bercampur dengan sesuatu yang lebih gelap—aroma amis darah kuno dan hembusan dingin yang tak wajar.
Mereka tiba di sebuah tangga spiral batu yang menurun tajam, dindingnya dipenuhi ukiran relief dewa laut yang sedang bertarung melawan makhluk gelap berbentuk bayangan dengan mata merah. Ukiran itu seolah hidup, mata-mata merah itu berkedip samar setiap kali mereka lewat.
“Ini lapisan kedua: **Gua Penghuni Abadi**,” bisik Qing Lin, suaranya tegang. “Di sini bukan lagi jebakan mekanis. Yang menjaga adalah roh-roh kuno dan… penghuni gua yang tersisa dari era perang dewa laut.”
Bai Yue Chan menelan ludah, tapi tetap berusaha ceria. “Penghuni gua? Kayak hantu atau monster? Aku siap kok! Omong-omong, Saudara Ling, trisulamu bisa nyanyi nggak kalau ketemu hantu?”
Ling Chen tersenyum tipis meski hatinya waspada. “Kita lihat saja nanti. Tetap dekat-dekat. Jangan pisah.”
Mereka menuruni tangga hingga tiba di sebuah gua raksasa yang luasnya tak terlihat ujungnya. Langit-langit gua tertutup stalaktit kristal yang meneteskan air asin, membentuk danau kecil di lantai. Di tengah gua, terdapat sebuah altar batu hitam yang retak, dikelilingi kabut gelap. Di atas altar itu, sebuah sosok duduk bersila—tubuhnya setengah transparan, kulitnya biru kehitaman seperti karang busuk, matanya merah menyala seperti bara api neraka bawah laut.
Itu adalah **Iblis Kuno Laut Dalam**, roh penjaga lapisan kedua yang terperangkap di reruntuhan sejak ribuan tahun lalu. Auranya Realm Raja Dewa awal—jauh di atas kemampuan mereka bertiga.
Iblis itu membuka mata perlahan, suaranya bergema seperti gema ombak yang menghancurkan kapal. “Manusia… kalian berani masuk ke wilayahku? Trisula itu… milikku dulu. Kembalikan, atau aku telan jiwa kalian menjadi makanan abadi.”
Bai Yue Chan langsung mundur setengah langkah. “Wah… ini bukan hantu biasa. Ini iblis beneran! Kak Qing Lin, apa kita kabur aja?”
Qing Lin menggeleng, pedang air kristalnya sudah terhunus. “Tidak bisa. Jalur keluar lapisan ini ada di belakang altar. Kita harus lewati dia.”
Ling Chen melangkah maju, trisula di tangannya bergetar seolah merespons kehadiran iblis. “Kau bilang trisula ini milikmu dulu? Berarti kau pernah jadi pelayan Dewa Laut, tapi sekarang jadi iblis karena dendam atau kutukan?”
Iblis itu tertawa serak, suaranya membuat stalaktit bergetar. “Pintar sekali, anak manusia. Aku adalah **Mo Hai**, jenderal laut pertama yang dikhianati oleh tuannya sendiri. Kutukan membuatku terperangkap di sini, menjaga warisan yang seharusnya milikku! Trisula itu adalah kunci pembebasanku. Serahkan, dan aku biarkan kalian hidup.”
Ling Chen menggeleng tegas. “Tidak. Artefak ini mengakui aku. Jika kau ingin bebas, lawan aku secara adil.”
Mo Hai bangkit perlahan, tubuhnya membesar menjadi sepuluh zhang, tentakel air hitam muncul dari punggungnya seperti cambuk raksasa. “Baiklah! Aku akan hancurkan kalian, lalu ambil trisula itu dari mayatmu!”
Pertarungan dimulai.
Mo Hai melepaskan serangan pertama: **Cambuk Laut Hitam**—puluhan tentakel air gelap menyambar ke arah mereka. Qing Lin langsung membentuk **Perisai Ombak Kristal**, dinding air tebal yang membeku menjadi es untuk menahan serangan. Bai Yue Chan melompat ke samping, melepaskan **Ombak Riak Badai**—gelombang kecil tapi cepat yang mengganggu gerakan tentakel.
Ling Chen memanfaatkan celah itu. Dia melompat tinggi, trisula diayunkan dengan penuh qi. **Gelombang Api Ombak** meledak lagi—ombak jingga kebiruan yang lebih besar dari sebelumnya, membakar tentakel-tentakel hitam saat menyentuhnya. Api leluhur yang ada di tubuhnya bereaksi kuat terhadap kutukan iblis, membuat serangan lebih efektif.
Mo Hai meraung kesakitan. “Api suci leluhur?! Mustahil! Api itu seharusnya punah!”
Ling Chen mendarat di depan altar, trisula menusuk ke arah dada Mo Hai. Iblis itu menghindar, tapi Qing Lin dan Bai Yue Chan bergabung menyerang dari sisi. Qing Lin menusuk dengan pedang air yang membeku, Bai Yue Chan melempar bola ombak peledak yang meledak di punggung Mo Hai.
Iblis itu terpojok. Tubuhnya mulai retak, kutukan kuno yang mengikatnya mulai lepas karena trisula yang kembali “aktif” di tangan pemilik baru.
“Tidak… aku tidak akan kalah lagi!” raung Mo Hai. Dia melepaskan serangan terakhir: **Lautan Kutukan Abadi**—gelombang hitam raksasa yang menelan seluruh gua, penuh racun jiwa yang bisa menghancurkan kesadaran.
Ling Chen menarik napas dalam, mengingat Yue Yan, mengingat janjinya. “Kita lakukan bersama!”
Ketiganya menyatukan qi: api Ling Chen, air lembut Qing Lin, dan ombak energik Bai Yue Chan. Mereka membentuk **Formasi Keluarga Dewa Laut**—trisula di tengah, pedang dan ombak di sisi. Cahaya jingga biru meledak, membentuk perisai raksasa berbentuk teratai ombak yang membakar dan memurnikan gelombang kutukan itu.
Ledakan besar mengguncang gua. Mo Hai meraung terakhir kali sebelum tubuhnya hancur menjadi partikel hitam yang terserap ke altar. Kutukan lepas, dan altar batu hitam retak terbuka, memperlihatkan tangga menuju lapisan ketiga.
Ketiganya terengah-engah, tapi tersenyum lebar. Bai Yue Chan langsung memeluk Ling Chen dan Qing Lin. “Kita menang! Keluarga kita ngalahin iblis kuno! Saudara Ling, kau keren banget tadi!”
Qing Lin menyeka darah di sudut bibirnya, tersenyum lembut. “Terima kasih, Chen. Tanpa trisulamu, kita takkan selamat.”
Ling Chen mengangguk, trisula di tangannya masih bergetar hangat. “Kita bertiga. Tak ada yang bisa pisahkan.”
Di depan mereka, tangga menuju lapisan ketiga terbuka—tempat Kitab Dewa Laut Abadi kemungkinan besar berada. Tapi di kejauhan, suara pertarungan sekte lain terdengar semakin dekat. Persaingan belum selesai.
Mereka bertiga saling pandang, lalu melangkah maju bersama.
“Kita lanjut,” kata Ling Chen tegas. “Untuk warisan… dan untuk keluarga ini.”