NovelToon NovelToon
TERPAKSA MENIKAHI CEO DINGIN

TERPAKSA MENIKAHI CEO DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Percintaan Konglomerat / Cinta setelah menikah / Nikah Kontrak / Nikahmuda
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author:

Demi melunasi hutang ayahnya, Aluna Maheswari terpaksa menandatangani kontrak pernikahan dengan Arkan Wijaya — CEO muda yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh wanita mana pun. Pernikahan itu hanya sandiwara selama satu tahun. Tanpa cinta. Tanpa sentuhan. Tanpa perasaan. Namun siapa sangka, di balik sikap dinginnya, Arkan menyimpan luka masa lalu yang kelam. Dan Aluna… adalah satu-satunya wanita yang perlahan mencairkan hatinya. Masalahnya, mantan tunangan Arkan kembali. Dan rahasia besar tentang kematian ibu Arkan mulai terungkap. Kontrak mereka mungkin hanya satu tahun. Tapi perasaan? Tidak ada tanggal kedaluwarsa.

Perlindungan atau Perang

Pagi datang tanpa benar-benar membawa ketenangan.

Langit kota terlihat pucat ketika Aluna berdiri di dekat jendela apartemen. Ia hampir tidak tidur. Potongan ingatan tentang Raisa dan ayahnya terus berputar di kepalanya.

“Kalau sesuatu terjadi, jaga Aluna.”

Kalimat itu terdengar berbeda sekarang.

Bukan permintaan biasa.

Lebih seperti pesan terakhir.

Arkan keluar dari kamar dengan wajah lelah namun fokus. Jasnya sudah rapi, sikapnya kembali menjadi CEO yang dingin dan terkendali.

“Kita tetap jalankan rencana,” katanya tegas.

Kevin mengangguk pelan. “Konferensi pers dimulai jam sepuluh. Kita umumkan bahwa dokumen asli akan diserahkan ke penyidik jam dua belas.”

“Padahal tidak ada dokumen,” Surya bergumam.

“Justru itu,” jawab Arkan. “Kita memancing.”

Aluna menoleh dari jendela.

“Kalau Raisa benar ingin melindungiku… dia tidak akan muncul untuk menghentikan kita.”

“Dan kalau dia dalangnya?” tanya Surya.

Aluna menatap kosong sesaat.

“Dia akan panik.”

Gedung Arsip Kota sudah dipenuhi wartawan kecil-kecilan ketika mereka tiba. Kevin yang mengatur narasi hukum. Arkan berbicara singkat soal “transparansi dan komitmen terhadap kebenaran.”

Aluna berdiri di sampingnya.

Tatapan kamera terasa menusuk, tapi ia tidak mundur.

“Kami akan menyerahkan dokumen penting yang berkaitan dengan insiden lima tahun lalu kepada pihak berwenang hari ini,” kata Arkan dengan suara mantap.

Ruangan langsung riuh.

Pertanyaan dilontarkan dari berbagai arah.

Namun satu hal yang Aluna perhatikan—

Seorang perempuan berdiri di sudut ruangan.

Topi hitam. Masker putih.

Tatapannya lurus ke arah mereka.

Dan meski hanya terlihat setengah wajah—

Aluna tahu.

Itu Raisa.

Jantungnya berdetak kencang.

“Dia di sini,” bisiknya pada Arkan.

Arkan hanya menjawab dengan gerakan kecil. Ia juga melihatnya.

Namun Raisa tidak bergerak. Tidak panik. Tidak terlihat terancam.

Ia hanya… menunggu.

Jam menunjukkan pukul sebelas lewat tiga puluh.

Kevin berpura-pura menerima panggilan.

“Kita bergerak,” katanya pelan.

Mereka meninggalkan ruang konferensi menuju ruang arsip dalam gedung—tempat yang sudah mereka siapkan sebagai jebakan. Kamera pengawas aktif. Polisi berpakaian sipil tersebar.

Aluna sengaja membawa tas kecil kosong, seolah berisi flashdisk.

Ia merasakan napasnya makin berat setiap langkah.

Pintu ruang arsip tertutup.

Arkan berdiri di sampingnya.

“Siap?” tanyanya pelan.

Aluna mengangguk.

Beberapa menit berlalu dalam sunyi.

Lalu—

Lampu berkedip.

Sekali.

Dua kali.

Kemudian mati.

Ruangan menjadi gelap.

Suara pintu terdengar dikunci dari luar.

Kevin mengumpat pelan.

“Ini bukan bagian dari rencana.”

Suara langkah kaki terdengar di lorong.

Pelan.

Tenang.

Lalu suara perempuan yang mereka kenal terdengar jelas di balik pintu.

“Kalian terlalu lambat.”

Aluna merasakan tubuhnya menegang.

“Raisa,” ia berbisik.

Pintu perlahan terbuka kembali ketika lampu darurat menyala redup.

Raisa berdiri di sana.

Tanpa topi. Tanpa masker.

Wajahnya sama seperti dulu—tenang, lembut, hampir tidak berbahaya.

Namun matanya berbeda.

Lebih tajam. Lebih dewasa.

“Kau tidak panik,” Arkan berkata datar.

Raisa tersenyum tipis.

“Karena memang tidak ada dokumen yang akan kalian serahkan.”

Kevin membeku.

“Kau tahu?”

“Aku tahu segalanya.”

Sunyi menggantung.

Aluna melangkah maju.

“Kau mengirim pesan itu?”

Raisa mengangguk.

“Ya.”

“Kenapa?”

Pertanyaan itu bukan penuh amarah.

Lebih pada kebutuhan untuk mengerti.

Raisa menatapnya lama.

“Aku ingin kalian berhenti bermain setengah-setengah.”

“Bermain?” Surya menyela.

“Kalian semua masih menahan diri. Masih takut membuka semuanya.”

“Dan kau tidak?” Arkan menatapnya tajam.

Raisa menggeleng pelan.

“Aku sudah kehilangan segalanya.”

Udara terasa berat.

“Ini balas dendam?” Kevin bertanya.

Raisa menatapnya datar.

“Kalau aku ingin balas dendam, kalian sudah hancur sejak lama.”

“Lalu apa ini?” Aluna bertanya lirih.

Raisa melangkah lebih dekat.

“Perlindungan.”

Satu kata itu membuat ruangan kembali hening.

“Perlindungan seperti apa yang membuat kami saling curiga?” Arkan menekan.

“Perlindungan dari musuh yang belum kalian lihat.”

Semua membeku.

“Pak Aditya bukan puncaknya,” Raisa melanjutkan. “Dia hanya salah satu pemain.”

“Masih ada lagi?” Surya berbisik.

Raisa mengangguk.

“Ayah Aluna menemukan jaringan lebih besar. Bukan hanya korupsi perusahaan. Tapi pencucian uang lintas negara.”

Kevin menegang.

“Tidak ada data tentang itu di fileku.”

“Karena file yang kau simpan bukan versi lengkap.”

Dunia terasa kembali berputar.

Aluna merasakan kepalanya pening.

“Versi lengkap ada di mana?” Arkan bertanya.

Raisa menatap Aluna.

“Di tempat yang bahkan kau tidak sadari.”

Jantung Aluna berdetak keras.

“Apa maksudmu?”

Raisa tersenyum samar.

“Ayahmu tidak pernah mempercayakan semuanya pada orang lain.”

Ia melangkah lebih dekat lagi.

“Dia mempercayakan sebagian padamu.”

Keheningan pecah oleh suara napas Aluna yang tidak stabil.

“Aku… tidak pernah menerima apa pun.”

“Bukan secara sadar.”

Kepala Aluna berdenyut hebat.

Tiba-tiba potongan kecil muncul di ingatannya.

Hari ulang tahunnya seminggu sebelum kebakaran.

Ayahnya memberinya kalung kecil berbentuk liontin.

“Ini hanya kenang-kenangan,” katanya waktu itu.

Aluna refleks menyentuh lehernya.

Kalung itu.

Ia masih memakainya.

Raisa melihat gerakan itu.

“Ya,” katanya pelan.

“Di situ.”

Arkan menatap kalung itu.

“Mustahil.”

“Itu bukan hanya perhiasan,” Raisa berkata tenang. “Itu penyimpanan mikro.”

Kevin terdiam total.

“Tidak mungkin… itu terlalu berisiko.”

“Justru karena terlalu berisiko, tidak ada yang mencarinya di sana.”

Aluna merasa tangannya gemetar ketika melepas kalung itu perlahan.

Liontin kecil berbentuk lingkaran perak.

Benda yang ia pakai hampir setiap hari.

“Kalau ini benar…” suaranya nyaris pecah.

Raisa menatapnya dengan lembut—lebih lembut dari sebelumnya.

“Ayahmu ingin kau menjadi kunci. Bukan korban.”

Air mata menggenang di mata Aluna.

“Kenapa kau tidak bilang dari dulu?”

“Karena kau belum siap.”

“Siapa yang menentukan aku siap atau tidak?” Arkan memotong tajam.

Raisa menatapnya tanpa gentar.

“Situasi.”

Surya bersandar lemah ke dinding.

“Kalau ini benar… berarti semua orang mengejar benda itu.”

“Belum,” Raisa menggeleng. “Hanya aku yang tahu.”

Kevin memicingkan mata.

“Dan sekarang kami juga tahu.”

Raisa tersenyum tipis.

“Karena aku memilih memberitahu.”

Aluna menatapnya lama.

“Kau bisa mengambilnya diam-diam.”

“Aku tidak ingin mencuri.”

“Lalu apa?”

“Aku ingin kau memutuskan.”

Sunyi kembali turun.

Arkan memandang Aluna.

Keputusan itu kini benar-benar di tangannya.

Bukan lagi milik ayahnya.

Bukan milik Rendra.

Bukan milik Pak Aditya.

Bukan milik Raisa.

Miliknya.

Namun sebelum ia sempat berbicara—

Suara tembakan terdengar dari luar gedung.

Kaca jendela retak.

Semua refleks merunduk.

Arkan menarik Aluna ke lantai.

Surya mengumpat keras.

Raisa berdiri diam sesaat, lalu ekspresinya berubah serius.

“Mereka menemukan kita lebih cepat dari yang kupikir.”

“Mereka siapa?!” Kevin berteriak.

Raisa menatap pintu.

“Orang-orang yang tidak ingin dokumen itu pernah muncul.”

Suara langkah kaki berlari di lorong.

Teriakan.

Kekacauan.

Arkan menggenggam tangan Aluna.

“Keputusanmu harus sekarang.”

Liontin itu terasa berat di telapak tangannya.

Untuk pertama kalinya dalam lima tahun—

Ia bukan lagi korban tragedi.

Ia adalah pusatnya.

Dan di luar pintu—

Musuh yang belum mereka lihat sedang mendekat.

END BAB 17 🔥

1
Veline
Semangat Author untuk Karya nya 🔥🔥💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!