Di tengah beban hidup yang menghimpit, Xiao Han— pemuda 22 tahun yang menjadi tulang punggung keluarga, berjuang mati-matian menghidupi ibunya yang lumpuh serta membiayai pendidikan adik perempuannya yang baru kelas 1 SMP. Gaji sebagai tukang antar surat tak pernah cukup untuk menutupi biaya pengobatan dan kebutuhan sehari-hari.
Dengan putus asa namun tekad kuat, Xiao Han akhirnya membuka jasa panggilan pria, dan mempromosikannya secara diam-diam di media sosial. Awalnya hanya sebagai cara bertahan hidup, layanan ini perlahan membawanya masuk ke dunia yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya: pertemuan-pertemuan rahasia, rahasia klien, dan batasan moral yang terus diuji.
Hingga suatu malam, satu panggilan khusus datang, sebuah pengalaman yang tak terduga, penuh risiko, dan emosi yang mengubah segalanya. Pertemuan itu bukan hanya mengguncang hidupnya saat ini, melainkan juga membuka pintu menuju masa depan yang akan mengubah kehidupannya secara drastis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon APRILAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Dua minggu setelah serangan jantung ibunya, kondisinya sudah cukup stabil untuk dipindahkan dari ICU ke ruang rawat biasa. Xiao Han hampir tidak pernah meninggalkan rumah sakit—dia hanya pulang sebentar untuk ganti baju dan mandi, lalu kembali lagi. Lin Qing menepati janjinya: semua biaya perawatan, obat-obatan, dan ruang rawat VIP ditanggung sepenuhnya. Tagihan yang muncul setiap hari membuat Xiao Han merasa seperti mimpi buruk yang tiba-tiba berubah jadi berkah.
Pagi itu, dokter spesialis jantung—dr. Hendra yang sama yang dulu memeriksa ibunya—memanggil Xiao Han ke ruang konsultasi.
“Kondisi Ibu Siti sudah jauh lebih baik. Serangan jantungnya terkendali, paru-parunya juga mulai responsif terhadap terapi oksigen. Sekarang kita bisa lanjut ke tahap berikutnya: prosedur kombinasi terapi sel punca dan stimulasi elektrik untuk saraf tulang belakangnya yang rusak.”
Xiao Han menelan ludah. “Itu… prosedur yang dulu Dokter bilang butuh DP 50 juta, ya?”
Dr. Hendra mengangguk. “Iya. Total paketnya sekitar 200 juta. DP 50 juta harus dibayar di muka untuk booking jadwal operasi dan persiapan sel punca. Kalau sudah lunas DP, kita bisa mulai dalam dua minggu.”
Xiao Han diam sejenak. Dia tahu uang itu besar, tapi selama dua minggu ini, gaji 15 juta dari Lin Qing plus bonus kecil dari perjalanan bisnis singkat ke Surabaya sudah mengumpulkan hampir 35 juta. Ditambah tabungan darurat yang dia sisihkan dari panggilan-panggilan lama sebelum jadi supir, totalnya sudah mencapai 52 juta.
“Ada, Dok,” katanya pelan. “Uang DP-nya sudah terkumpul. Bisa langsung diproses hari ini?”
Dr. Hendra tersenyum lebar. “Bagus sekali. Langsung ke kasir ya, Mas. Saya akan koordinasi jadwal operasi besok pagi.”
Xiao Han keluar dari ruang konsultasi dengan langkah ringan yang sudah lama tidak dia rasakan. Dia langsung ke kamar ibunya. Ibu sudah duduk setengah bersandar di tempat tidur, wajahnya masih pucat tapi matanya lebih cerah. Xiao Mei duduk di samping, membacakan buku cerita anak untuk ibunya.
“Ibu… Dokter bilang kita bisa lanjut terapi sarafnya. DP-nya sudah siap. Dua minggu lagi operasi.”
Ibu menatap anaknya lama, air mata menggenang di matanya. “Han… dari mana kamu dapat uang sebanyak itu?”
Xiao Han tersenyum tipis, duduk di pinggir tempat tidur dan memegang tangan ibunya. “Kerja sama bos saya, Bu. Dia baik. Dia bantu biaya rumah sakit, dan gaji saya sekarang cukup buat nabung cepat.”
Ibu mengangguk pelan, tapi matanya penuh tanya. “Kamu nggak capek, Nak? Kerja malam-malam, sekarang jadi supir orang kaya… Ibu takut kamu kelelahan.”
Xiao Han menggeleng. “Nggak, Bu. Ini yang terbaik buat kita. Ibu harus sembuh dulu. Xiao Mei juga butuh Ibu yang sehat.”
Xiao Mei memeluk ibunya dari samping. “Iya, Bu. Kak Han janji, kalau Ibu bisa jalan lagi, kita jalan-jalan ke pantai bareng!”
Ibu tertawa kecil, suara yang sudah lama tidak terdengar. “Ibu janji bakal usaha keras. Supaya bisa peluk kalian berdua tanpa dibantu.”
Sore itu, setelah transfer DP 50 juta ke rekening rumah sakit, Xiao Han duduk di taman belakang RS Harapan Jiwa. Ponselnya bergetar—pesan dari Lin Qing.
**Lin Qing:**
Sudah transfer DP-nya? Dokter bilang operasi dua minggu lagi. Kamu nggak perlu ke kantor besok pagi. Istirahat aja di rumah sakit nemenin Ibu. Aku urus semuanya dari sini.
Xiao Han mengetik balasan singkat.
**Xiao Han:**
Sudah, Qing. Terima kasih banyak. Ibu senang sekali.
**Lin Qing:**
Jangan bilang terima kasih terus. Ini bagian dari kesepakatan kita. Kamu fokus ke keluarga dulu. Kalau butuh apa-apa lagi, bilang langsung.
Xiao Han menatap layar lama. Kata-kata Lin Qing terasa hangat, tapi tetap ada batas tak terlihat di antara mereka—batas yang dia sendiri yang buat dengan menerima tawaran itu.
Tiba-tiba Hua Ling’er muncul dari arah koridor, membawa dua gelas es teh manis. Dia duduk di sebelah Xiao Han, menyerahkan satu gelas.
“Kak… Ibu gimana? Xiao Mei bilang DP sudah lunas.”
Xiao Han mengangguk, tersenyum lelah tapi tulus. “Iya. Dua minggu lagi operasi. Dokter bilang peluangnya bagus.”
Hua Ling’er memeluk bahu Xiao Han pelan. “Aku senang banget, Kak. Kamu pasti capek. Istirahat ya. Aku nemenin di sini malam ini.”
Xiao Han memandang gadis itu—kekasihnya yang selalu ada di saat-saat terberat, tanpa menghitung apa pun. Dadanya terasa hangat, berbeda dari perasaan rumit yang muncul setiap kali bersama Lin Qing.
“Terima kasih, Ling’er. Kamu… selalu ada.”
Hua Ling’er tersenyum kecil. “Karena aku sayang Kak Han. Dan aku tahu Kak Han juga lagi berjuang keras buat keluarga.”
Mereka duduk diam di taman itu, memandang matahari terbenam yang mewarnai langit jingga. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Xiao Han merasa ada harapan nyata di depan mata—bukan cuma uang, bukan cuma janji, tapi kemungkinan ibunya bisa berjalan lagi, bisa memeluk mereka tanpa dibantu.
Tapi di sudut pikirannya, ada bayangan Lin Qing yang masih menunggu di dunia lain—dunia yang memberinya uang, tapi juga mengingatkan bahwa semuanya ada harganya.
Dan dia tahu, dua minggu lagi operasi ibunya bukan akhir perjuangan, melainkan awal dari pilihan yang lebih sulit.