Di dunia di mana sihir adalah segalanya, kekuatan bukanlah anugerah—melainkan hasil dari latihan dan pengorbanan.
Ia hanyalah seorang siswi Akademi Sihir Arcanova. Tenang. Cerdas. Tak tersentuh. Hingga sebuah simbol tersembunyi muncul di tubuhnya—tanda kutukan dari iblis yang bahkan hanya hidup dalam legenda.
Tak hanya dirinya.
Dua siswa dari sekolah berbeda—termasuk seorang pewaris Akademi Crimson Crest—ternyata memikul kutukan yang sama… namun berasal dari iblis yang berbeda.
Kekuatan mereka luar biasa. Tak terbatas.
Namun setiap kali digunakan, ada harga yang harus dibayar.
Di tengah persaingan dua akademi, pelatihan mematikan di Hutan Abyss, dan rumor tentang iblis berwujud manusia yang belum pernah terlihat…
Pertanyaannya bukan lagi siapa yang paling kuat.
Tapi siapa yang akan bertahan ketika kutukan itu mulai mengambil alih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemangsa Frekuensi Kelam
Keheningan yang menyusul setelah Vivienne membersihkan jubahnya terasa tidak wajar, bahkan untuk standar Hutan Abyss yang biasanya mencekam. Tetesan air dari sihir Vivienne yang jatuh ke tanah hitam mengeluarkan suara tik, tik, tik yang bergema terlalu jauh, seolah-olah hutan ini sedang menahan napasnya sendiri.
Vivienne masih sibuk merapikan kerah jubahnya, namun Lucien tiba-tiba menegakkan tubuh. Bulu kuduk di tengkuknya berdiri. Petir Biru di punggungnya berdenyut pelan, bukan karena ia memanggilnya, melainkan sebagai reaksi peringatan terhadap sesuatu yang sedang mendekat.
"Kalian merasakannya?" bisik Lucien, tangannya perlahan bergerak menuju hulu pedangnya.
"Merasakan apa?" Daefiel menyipitkan mata, api oranye di sekelilingnya sudah padam, namun insting bertarungnya tetap siaga. "Hutan ini memang selalu terasa seperti tempat pembuangan sampah sihir, tapi kali ini... baunya berbeda."
Baunya bukan lagi bau amis lumpur atau busuknya pepohonan mati. Bau yang kini memenuhi udara adalah bau tembaga yang tajam dan aroma ozon yang terbakar, mirip dengan bau saat kilat menyambar tanah. Penggunaan kekuatan Bulan Hitam oleh Vivienne tadi bukan sekadar aksi penyelamatan diri; itu adalah sebuah suar sinyal bagi entitas yang selama ini tertidur di kedalaman Abyss.
Dari balik kabut kelabu yang tebal, muncul sepasang cahaya kembar berwarna ungu pucat. Awalnya mereka mengira itu adalah kunang-kunang hutan, namun cahaya itu berada di ketinggian tiga meter dari permukaan tanah. Perlahan, sesosok entitas mulai mewujud dari kegelapan.
Makhluk itu tidak memiliki bentuk padat yang konsisten. Ia tampak seperti gumpalan asap hitam yang terikat oleh rantai-rantai sihir kuno yang sudah retak. Di tengah dadanya, terdapat sebuah rongga kosong yang terus-menerus menyedot udara di sekitarnya. Ini bukan monster konyol seperti babi berkaki laba-laba tadi. Ini adalah Abyssal Glutton, sebuah entitas parasit yang hanya memakan energi dari dimensi bawah.
"Dia tidak tertarik pada mana kita," ucap Vivienne, suaranya bergetar saat ia merasakan simbol di lehernya kembali memanas. "Dia tertarik pada... tangan bayangan tadi. Dia bisa mencium bau 'iblis' itu."
Abyssal Glutton itu mengeluarkan suara dengusan yang terdengar seperti gesekan logam karat. Matanya yang ungu terkunci pada Vivienne. Baginya, ketiga remaja ini bukan sekadar penyihir akademi yang tersesat, melainkan hidangan utama yang langka—pembawa energi murni dari rumah asalnya.
"Sepertinya monster ini punya selera yang mahal," Daefiel menyeringai, meskipun ada setetes keringat dingin yang mengalir di pelipisnya. Api Hitam di pergelangan tangannya mulai memercikkan api gelap, seolah-olah kekuatan kutukannya pun merasa tertantang oleh kehadiran predator ini. "Dia ingin memakan kekuatan kita? Silakan coba, kalau dia sanggup menelan api yang membakar jiwa."
Makhluk itu bergerak dengan kecepatan yang mustahil. Ia tidak berlari, melainkan ‘meluncur’ menembus dimensi kabut. Dalam sekejap, ia sudah berada di depan mereka, mengayunkan cakar asapnya yang mampu membelah realitas.
"Menghindar!" teriak Lucien.
Pertarungan kali ini tidak akan semudah sebelumnya. Mereka tidak lagi menghadapi monster tersesat, melainkan penjaga gerbang yang haus akan energi yang mereka sembunyikan. Kehadiran Abyssal Glutton ini memaksa mereka pada satu pilihan sulit: menggunakan sihir akademi yang lemah dan berisiko mati, atau melepaskan kekuatan kutukan mereka sepenuhnya dan mengundang lebih banyak pemangsa ke tempat ini.
Serangan Abyssal Glutton itu bukan sekadar cakaran fisik; setiap ayunannya membelah ruang, meninggalkan retakan udara yang mengeluarkan suara mendesis. Lucien, Vivienne, dan Daefiel terpental ke tiga arah berbeda saat entitas itu menghantam tanah tempat mereka berdiri sebelumnya, menciptakan kawah hitam yang berasap.
"Sial, dia terlalu cepat untuk sihir biasa!" teriak Daefiel sembari berguling di tanah.
Lucien berdiri dengan tatapan dingin. Ia menyadari bahwa sihir pedang murninya tidak akan mampu menembus wujud asap makhluk itu. Ia menarik napas panjang, membiarkan segel di punggungnya berdenyut dengan ritme yang menyakitkan namun bertenaga.
"Jangan menahan diri lagi," perintah Lucien, suaranya terdengar berat dan bergema. "Jika kita tidak menghancurkannya sekarang, dia akan menghisap mana kita sampai kering!"
Seketika, atmosfer di dalam hutan itu berubah total. Tiga kekuatan terlarang meledak secara bersamaan.
Di pergelangan tangan Daefiel, Api Hitam yang selama ini ia tekan kini meluap hebat. Api itu tidak lagi berwarna oranye terang, melainkan hitam pekat dengan inti ungu yang membara. Daefiel menyeringai liar, ia meluncur maju seperti peluru kendali. "Makan ini, asap sialan!" Daefiel menghantamkan tinjunya, menciptakan ledakan api hitam yang membakar udara di sekitar Abyssal Glutton.
Makhluk itu mengerang, namun ia mencoba menyerap api tersebut. Di saat itulah, Vivienne beraksi. Bulan Hitam di lehernya bersinar ungu gelap yang menyilaukan. "Kau ingin energi? Ambil ini sampai kau hancur!" Vivienne merentangkan tangannya, dan bukan hanya satu, melainkan empat tangan bayangan raksasa muncul dari tanah, mencengkeram rantai-rantai sihir yang mengikat makhluk itu, menahannya agar tidak bisa melarikan diri ke dalam dimensi kabut.
"Sekarang, Lucien!" teriak Vivienne dengan wajah yang mulai memucat karena tekanan energi.
Lucien menghunuskan pedangnya ke langit. Petir Biru dari punggungnya merambat dengan liar ke bilah pedangnya, mengubah logam perak itu menjadi instrumen kehancuran yang berkilauan listrik biru gelap yang pekat. Ia melompat tinggi, tubuhnya diselimuti aura petir yang membelah kegelapan Abyss.
"Vlad Technique: Abyssal Rupture!"
Lucien mengayunkan pedangnya dalam satu tebasan vertikal yang sempurna. Petir biru itu menyambar tepat di rongga dada makhluk tersebut, bertemu dengan api hitam Daefiel dan cengkeraman bayangan Vivienne. Terjadi tabrakan frekuensi yang luar biasa keras—sebuah ledakan energi yang jauh lebih dahsyat daripada dengungan di asrama tempo hari.
BOOOMMM—!
Gelombang kejutnya meratakan pepohonan hitam di sekitar mereka. Abyssal Glutton itu tidak sempat melarikan diri. Tubuhnya yang berupa asap terobek-robek oleh petir biru, dibakar oleh api hitam, dan ditarik hancur oleh tangan bayangan. Dalam jeritan terakhir yang melengking tinggi, makhluk itu meledak dan memudar menjadi abu hitam yang sangat tebal, sebelum akhirnya benar-benar lenyap ditelan kegelapan hutan.
Hening kembali menyelimuti mereka. Napas ketiganya memburu.
Lucien menyarungkan pedangnya, tangannya sedikit bergetar. Daefiel menatap api hitam di tangannya yang perlahan padam dengan tatapan takjub sekaligus ngeri. Vivienne terduduk lemas, menyentuh simbol di lehernya yang kini terasa dingin kembali.
Mereka baru saja menyadari sesuatu yang menakutkan: kombinasi kekuatan mereka bukan hanya sekadar pertahanan diri. Itu adalah kekuatan penghancur yang bisa melenyapkan apa pun yang menghalangi jalan mereka.