Kisah ini mengikuti perjalanan Karin, seorang gadis yang harus belajar memahami kehilangan, sebelum akhirnya menemukan cara untuk menyembuhkan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Running On, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab : 1
Kita putus.”
Kalimat itu meluncur begitu saja, ringan, seolah hanya membicarakan cuaca.
“Putus? Kenapa?”
Wanita itu menatapnya dengan wajah bingung, alisnya saling bertaut, seakan telinganya salah menangkap kata.
“Putus saja.”
Nada pemuda itu tetap datar. Matanya tidak menunjukkan apa pun—tidak ragu, tidak bersalah.
“Tapi… kenapa?”
Suara wanita itu mulai bergetar. Air mata menggenang di pelupuk matanya saat ia menatap wajah pria yang telah ia cintai selama delapan tahun.
“Apa alasannya?”
“Aku cuma mau putus.”
Nada itu kini sedikit meninggi, seolah pertanyaan itu melelahkan.
“Nggak bisa gitu dong!”
Wanita itu memukul dada pemuda itu berkali-kali, tangisnya pecah.
“Kamu harus kasih aku alasan! Aku punya hak buat tahu!”
Pemuda itu menahan pergelangan tangannya. Pegangannya tidak kasar, tapi dingin.
“Aku nggak punya alasan. Aku cuma mau putus.”
“Nggak mungkin!”
Wanita itu menggeleng keras.
“Kamu bosan sama aku? Atau kamu punya cewek lain?”
“Aku nggak punya wanita lain.”
Ia terdiam sesaat, lalu berkata,
“Aku… aku bosan sama kamu.”
Tamparan itu mendarat keras. Suaranya menggema di ruangan sunyi.
Namun pemuda itu hanya menunduk. Tidak ada amarah di wajahnya, tidak juga rasa sakit. Hanya diam.
“Kurang ajar kamu!”
Wanita itu berteriak sambil menangis.
“Kalau kamu bosan, kenapa kamu pacaran sama aku? Kamu bilang kamu cinta! Mana cinta kamu itu?! Kamu bohong!”
Kakinya melemas. Ia jatuh terduduk di lantai, dadanya sesak oleh isak.
“Aku minta maaf.”
Suara pemuda itu terdengar pelan, hampir tulus.
“Kita udahan sampai di sini aja, Karin. Semoga kamu dapat pria yang lebih baik dari aku.”
Ia menarik napas panjang, lalu berbalik pergi.
“Arka!”
Karin bangkit dengan panik dan mengejar. Ia meraih tangan pemuda itu.
“Aku cinta sama kamu! Aku nggak mau putus!”
Ia menatap mata Arka dengan putus asa.
“Kamu bosan karena aku sibuk kerja, kan? Oke, aku ubah. Mulai besok aku kurangin jadwal. Aku luangin waktu buat kamu. Aku janji.”
Arka melepaskan genggamannya perlahan, tapi tegas.
“Aku bosan bukan karena kamu
sibuk.”Ia menatap Karin sekilas.
“Aku bosan sama kamunya.”
“Nggak… nggak bisa gitu.”
Karin menggeleng cepat.
“Kita udah pacaran delapan tahun! Aku udah rencanain nikah sama kamu!”
Ia mengangkat ponselnya, menunjukkan sebuah foto cincin.
“Aku udah pesen cincin ini buat pertunangan kita.”
Namun Arka hanya berkata dengan suara yang sama dinginnya,
“Aku bosan sama kamu. Cari yang lain. Tolong jangan cari aku lagi.”
Ia melangkah pergi.
“Arka!”
“Arka!”
Arka masuk ke mobil dan melaju tanpa menoleh.
Karin berlari mengejar, tanpa sandal, memanggil namanya berulang kali. Kerikil tajam menggores telapak kakinya, panas matahari membakar kulitnya, tapi ia tak peduli.
“Arka!”
Langkahnya tersandung. Tubuhnya terjatuh di atas bebatuan. Lutut dan telapak kakinya perih, berdarah, namun rasa sakit itu kalah oleh satu hal—
perasaan ditinggalkan.
Di bawah terik matahari, Karin menangis sendirian, sementara mobil itu semakin jauh, membawa pergi cinta yang tak lagi menoleh ke belakang.
___
Sejak putus dengan Arka, hidup Karin seperti berhenti di satu titik.
Hari-harinya hanya diisi dengan menangis, melamun, dan kehilangan selera makan. Tubuhnya ada, tapi jiwanya seperti tertinggal di masa lalu.
Kadang ia tertidur sambil menatap foto Arka di layar ponselnya, berharap wajah itu masih bisa memberinya rasa aman. Kadang ia mendatangi tempat-tempat yang dulu sering mereka kunjungi—kafe kecil di sudut jalan, bangku taman yang pernah mereka duduki berjam-jam tanpa bicara. Semua tempat itu kini terasa asing, meski kenangannya masih terlalu akrab.
Dan yang paling menyakitkan, kenangan itu datang tanpa diundang.
Saat makan, ia teringat Arka yang dulu menyuapinya sambil tersenyum, berkata agar ia tidak makan terlalu cepat.
Saat berbaring di tempat tidur, ia teringat sentuhan tangan Arka yang mengelus kepalanya sampai ia terlelap.
Kenangan-kenangan itu muncul satu per satu, menghantamnya tanpa ampun. Karin hanya bisa menangis, membiarkan dirinya hancur sedikit demi sedikit.
Kadang ia menelepon Arka—puluhan, bahkan ratusan kali.
Tak satu pun panggilan dijawab.
Rasa rindu yang tak tertahan membawanya ke rumah Arka. Rumah itu kini kosong. Tidak ada lagi lampu yang menyala, tidak ada suara, tidak ada Arka.
“Kenapa kamu bikin aku hancur, Arka?”
Suaranya pecah di depan rumah yang sunyi.
“Kenapa kamu perlakuin aku kayak gini? Kenapa kamu jahat banget sama aku, Arka…”
Hanya kalimat-kalimat itu yang keluar dari bibirnya—pertanyaan yang tak pernah mendapat jawaban.
Di bawah langit yang gelap, Karin berjalan sendirian. Langkahnya gontai, matanya kosong, seolah hidup tak lagi punya tujuan. Hujan turun deras, membasahi tubuhnya, menyamarkan air mata yang terus jatuh.
“Arka! Kamu pergi ke mana?!”
Ia berteriak di tengah hujan, lalu tersungkur ke aspal yang basah.
“Kamu jahat, Arka! Kamu tega!”
Tangisnya pecah.
“Kenapa kamu bikin aku jadi kayak gini…”
“Arka… aku nggak bisa melupakan kamu.”
Hari berganti, tapi Karin tetap sama. Tidak ada yang berubah. Setiap sudut ruang yang pernah ia bagi dengan Arka selalu membawa kenangan kembali. Kadang ia tertawa sendiri mengingat momen-momen lucu mereka, lalu sesaat kemudian menangis karena sadar Arka bukan lagi miliknya.
Pekerjaannya terbengkalai. Ia tak peduli pada wajahnya yang kusam, rambutnya yang berantakan, atau tubuhnya yang semakin lemah. Kadang ia jatuh sakit, bukan karena cuaca, tapi karena pikirannya tak pernah berhenti memikirkan Arka.
Ia sering menatap ponselnya lama-lama, berharap satu nama itu muncul di layar.
Namun layar tetap sunyi.
Ia mulai mengirim email panjang kepada Arka—panjang seperti surat pengakuan yang tak pernah dibalas.
“Arka, apa kabar?”
“Kamu di mana?”
“Hari ini aku sakit.”
“Aku masih cinta kamu.”
“Aku minta maaf kalau aku ada salah.”
“Aku kangen.”
“Tolong… marah lagi sama aku.”
Ia menulis dan menulis, seolah dengan begitu Arka masih ada dalam hidupnya.
Begitulah hari-hari Karin berlalu—
terjebak dalam rindu, tenggelam dalam kenangan,
mencintai seseorang yang mungkin sudah lama berhenti memikirkannya.