(GERHANA SEMBILAN LANGIT SEASON 2)
Setelah menaklukkan Laut Selatan dan membawa Long Tian ke Ranah Inti Emas, Han Luo menuju Kekaisaran Pusat untuk Turnamen Raja Laut. Di sana, ia mendeteksi potongan Pedang Darah Iblis lain yang dipegang oleh monster Ranah Jiwa Baru Lahir yang juga mengincar Mata Iblis Es.
Turnamen Raja Laut tahun ini akan sangat meriah!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lautan Monster
Pulau Naga bukanlah pulau biasa. Itu adalah punggung naga purba raksasa yang telah membatu menjadi daratan. Di sekelilingnya, ribuan kapal dari berbagai ukuran dan bendera berkumpul, menciptakan lautan layar yang menutupi cakrawala.
Suara terompet kerang bergema, menggetarkan air laut.
Di atas sebuah panggung terapung raksasa, Wasit Agung dari Kekaisaran Pusat berdiri. Suaranya diperkuat oleh formasi sihir, terdengar hingga radius seratus mil.
"Selamat datang di Turnamen Raja Laut! Aturan Babak Penyisihan sederhana: Bertahan Hidup."
Wasit menunjuk ke arah selat sempit di antara dua "Tanduk Naga" di kejauhan.
"Tujuannya adalah Teluk Naga Dalam. Tapi di antara sini dan sana... ada Zona Migrasi Monster Laut. Siapapun yang mencapai teluk sebelum matahari terbenam, lolos ke babak utama. Segala cara diperbolehkan, kecuali membunuh peserta lain secara langsung sebelum zona tempur."
"MULAI!"
DUM!
Meriam penanda ditembakkan.
Ribuan kapal memacu pendorong Qi mereka. Laut bergolak.
Kapal Sang Gerhana (yang sudah dimodifikasi menjadi lebih ramping untuk turnamen) melesat maju. Xiao Ling berada di ruang kendali, matanya yang buta terhubung langsung dengan inti kapal.
"Kecepatan penuh, Xiao Ling!" perintah Han Luo dari anjungan.
Di sampingnya, Su Qingxue (yang menyamar sebagai navigator cadangan) melihat peta.
"Ada arus bawah yang aneh di depan," kata Su Qingxue. "Banyak bayangan besar di bawah air."
Tiba-tiba, air di depan mereka meledak.
Seekor Gurita Besi raksasa muncul, tentakelnya mencoba menghancurkan kapal-kapal kecil di sekitar mereka. Jeritan pelaut terdengar saat kapal mereka remuk.
"Jangan berhenti!" Han Luo tenang. "Hei Long! Bersihkan jalan!"
Long Tian, berdiri di haluan kapal, mencabut pedang besarnya.
"Haaa!"
Dia melompat ke udara, lalu menebas ke arah tentakel yang menghalangi jalur kapal mereka.
SLASH!
Tentakel setebal pohon beringin itu putus. Darah biru muncrat.
Kapal Sang Gerhana menerobos hujan darah itu.
Namun, tantangan sebenarnya bukan monster liar.
Di sisi kiri mereka, sebuah kapal berbentuk hiu biru yang ramping mendekat dengan kecepatan tinggi.
Kapal Pangeran Hiu Biru.
Pangeran Hiu berdiri di geladak, tersenyum mengejek ke arah Han Luo.
"Kalian pikir bisa lewat dengan mudah, Orang Darat?"
Pangeran Hiu mengangkat Trisula-nya. Dia tidak menyerang kapal Han Luo secara langsung (karena aturan melarang pembunuhan langsung di zona awal).
Dia memukul permukaan air.
Teknik Pemanggil Hiu: Amukan Darah.
Gelombang sonik menyebar di dalam air.
Seketika, ratusan sirip hiu muncul di permukaan. Hiu-hiu itu bukan hiu biasa. Mereka adalah Hiu Gigi Gergaji yang dikendalikan oleh Pangeran Hiu.
Mereka tidak menyerang kapal Pangeran Hiu. Mereka menyerbu kapal Sang Gerhana, menggigiti lambung kapal.
"Lambung kapal diserang! Kecepatan menurun!" lapor Xiao Ling panik.
"Dia main kotor," kata Su Qingxue. "Biar aku turun dan membunuh ikan-ikan itu."
"Jangan," tahan Han Luo. "Jika kau turun, kau kena diskualifikasi karena meninggalkan kapal. Itu yang dia mau."
Han Luo menatap Pangeran Hiu yang tertawa di kejauhan.
"Dia ingin main panggil-memanggil? Baiklah. Aku juga punya hewan peliharaan."
Han Luo mengeluarkan Pedangnya. Dia tidak mencabutnya sepenuhnya, hanya membiarkan aura haus darahnya bocor sedikit ke dalam air.
Lalu dia meneteskan setetes Darah Esensi Iblis (milik Su Qingxue yang dia simpan) ke gagang itu, lalu mencelupkan ujung gagangnya ke laut.
ZING.
Frekuensi rendah menyebar, yang meneriakkan: "MAKANAN LEZAT DI SINI!"
Tapi Han Luo tidak menargetkan hiu-hiu itu ke kapalnya.
Dia menggunakan Benang Sutra Es-Api untuk "menembakkan" tetesan darah iblis yang terkonsentrasi itu... langsung ke lambung kapal Pangeran Hiu.
SPLAT.
Darah itu menempel di kapal Pangeran Hiu.
Seketika, hidung ribuan hiu di air berkedut. Bau darah iblis murni jauh lebih menggoda daripada perintah tuannya.
Hiu-hiu itu berbalik arah. Mata mereka merah gila.
"Apa?! Kenapa mereka berbalik?!" Pangeran Hiu kaget.
"Tuan! Hiu-hiu itu menyerang kita!" teriak awak kapalnya.
Ratusan hiu mulai menggigiti kapal Pangeran Hiu dengan gila-gilaan, mencoba memakan kayu yang terkena darah iblis.
"Sialan! Pergi! Pergi!" Pangeran Hiu menusuk-nusuk hiunya sendiri dengan trisula, tapi mereka tidak peduli. Mereka lapar.
Di kapal Sang Gerhana, Han Luo tertawa pelan.
"Nafsu makan selalu mengalahkan loyalitas, Pangeran."
"Jalan terus, Xiao Ling! Tinggalkan mereka!"
Kapal hitam itu melesat meninggalkan kekacauan, menuju garis finis.
Namun, saat mereka mendekati Teluk Naga Dalam, Han Luo merasakan hawa dingin yang menusuk tulang belakangnya.
Bukan dari monster.
Dari kapal lain yang berlayar tenang di sisi kanan mereka, jauh lebih cepat dari yang seharusnya.
Kapal itu polos, tanpa bendera. Di geladaknya, duduk seorang pria raksasa dengan zirah hitam penuh duri, sedang meminum arak dari tengkorak.
Jenderal Wu 'Pedang Gila'.
Dia juga ikut turnamen?
Jenderal Wu menoleh. Matanya yang merah menatap lurus ke arah Han Luo (Tuan Mo).
Dia menyeringai. Seringai predator yang menemukan mangsa menarik.
Dia tidak menyerang. Dia hanya mengangkat gelas tengkoraknya, seolah bersulang, lalu kapalnya melesat maju dengan ledakan kecepatan yang membuat air laut terbelah, meninggalkan kapal Han Luo jauh di belakang.
"Dia..." Long Tian gemetar. "Tekanan spiritualnya... bahkan dari jarak segini..."
"Jiwa Baru Lahir," kata Su Qingxue, wajahnya serius. "Dia monster yang sebenarnya di turnamen ini. Jika kita ingin mengambil pedangnya, kita harus membuatnya lengah."
"Atau," Han Luo menyipitkan mata, "Kita buat dia melawan monster lain."
Han Luo melihat ke arah kapal-kapal lain. Ada Biksu Gila dari Sekte Vajra dan Putri Naga yang juga mendekati garis finis.
"Turnamen ini bukan tentang siapa yang terkuat, tapi siapa yang bertahan paling akhir di kolam hiu."
Kapal Sang Gerhana melewati garis finis.
"TIM GERHANA! LOLOS KE BABAK UTAMA!"
Sorak sorai penonton di Pulau Naga terdengar.
Tapi Han Luo tidak tersenyum.
Dia tahu, Babak Penyisihan hanyalah pemanasan. Di Babak Utama, mereka akan dikurung di arena air bersama Jenderal Wu.
Dan di bawah arena itu... Reruntuhan Keempat menunggu untuk dibuka.
"Istirahatlah malam ini," perintah Han Luo. "Besok, kita akan memancing Jenderal Wu."
tpi gw demen....