NovelToon NovelToon
PRODUSER YANG DIAM DIAM TERLUKA

PRODUSER YANG DIAM DIAM TERLUKA

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

"Aku bukan sekadar asistennya, aku adalah pelarian dari melodi sunyi yang ia ciptakan sendiri."

Ghava Dirgantara adalah produser musik jenius yang memiliki segalanya: kekayaan, bakat, dan visual menawan. Namun, di balik kesuksesannya, ia adalah pria yang "mati rasa". Pengkhianatan sang mantan kekasih di panggung penghargaan tiga tahun lalu membuatnya berubah menjadi sosok dingin yang dijuluki "Kulkas Antartika". Baginya, cinta hanyalah sampah yang merusak frekuensi musiknya.

Hingga muncul Nadine, asisten baru yang ceroboh namun memiliki telinga musik yang tajam. Nadine datang bukan dengan cinta, melainkan dengan luka yang sama dalamnya—ditinggalkan oleh tunangannya tepat sehari sebelum pernikahan.

Awalnya, hubungan mereka hanya sebatas bos galak dan asisten yang tertindas. Mulai dari hukuman membersihkan studio hingga insiden "sambal maut" yang membuat Nadine harus dilarikan ke rumah sakit. Namun, suasana berubah saat masa lalu mereka kembali mengetuk pintu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SANDARAN DI BAHU ANTARTIKA

Pagi itu, suasana di studio Ghava Dirgantara terasa sangat aneh. Nana melangkah masuk dengan setelan kantor yang rapi, wajahnya sudah jauh lebih segar meski guratan pucat sisa sakit kemarin masih sedikit terlihat. Begitu ia melewati meja resepsionis, ia melihat Ghava sedang berdiri di dekat mesin kopi, membelakanginya.

"Pagi, Mas Bos," sapa Nana dengan nada yang berusaha ceria, meski jantungnya berdebar mengingat kejadian "calon suami" semalam.

Ghava berbalik perlahan. Ekspresinya? Datar. Benar-benar kembali ke mode "Kulkas Antartika" level maksimal. Ia hanya melirik Nana sekilas lewat ujung matanya, lalu kembali fokus pada cangkir kopinya.

"Pagi. Kamu sudah sehat? Kalau masih lemas, balik saja. Saya nggak mau ada asisten yang pingsan di atas mixer vokal," ucap Ghava dingin, seolah pengakuan emosional di depan rumah Nana semalam hanyalah mimpi buruk yang ingin ia hapus dari memori.

Nana mengerutkan kening. Lah, ini orang amnesia atau gimana? batinnya kesal.

Di sudut ruangan, Mbak Yane dan Reka sedang berpura-pura sibuk memeriksa tumpukan kabel, padahal telinga mereka berdiri tegak seperti radar. Mereka berdua saling lirik, menyadari ada sesuatu yang sangat janggal.

"Rek, lo ngerasa nggak sih?" bisik Mbak Yane sambil menarik kabel XLR. "Si Bos auranya dingin banget, tapi tangannya gemeter pas tuang gula. Itu kopi atau tremor cinta?"

Reka menahan tawa. "Iya, Mbak. Biasanya kalau Mas Ghava dingin itu karena marah sama klien. Ini dinginnya beda, kayak orang lagi salah tingkah tapi ditutupin pake harga diri setinggi langit. Lihat tuh, dia bahkan nggak berani natap mata Nana langsung."

Nana berjalan menuju mejanya, meletakkan tasnya, lalu mendekati Ghava. "Mas, soal yang semalam—"

"Nadin," potong Ghava cepat, suaranya naik satu oktav. Ia akhirnya menatap Nana, tapi dengan tatapan tajam yang dipaksakan. "Di sini adalah tempat kerja. Tolong fokus pada jadwal recording siang ini. Jangan bahas hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan frekuensi audio."

Nana terdiam, lalu sebuah senyum jail muncul di sudut bibirnya. Ia tahu Ghava sedang melakukan "pertahanan diri". Nana mendekat satu langkah, membuat Ghava refleks mundur hingga mepet ke meja pantry.

"Oke, Mas Bos. Aku fokus kerja kok," bisik Nana pelan, hanya untuk didengar Ghava. "Tapi makasih ya buat 'calon suaminya'. Akting Mas Bos bagus banget, sampai aku hampir percaya kalau itu jujur."

Ghava tersedak kopinya sendiri. "Uhuk! Nadin, kembali ke meja kamu!"

Mbak Yane dan Reka langsung pura-pura batuk berjamaah.

"Aduh, Rek! Studio kita kayaknya butuh AC baru, kok mendadak panas ya?" sindir Mbak Yane sambil mengibas-ngibaskan tangannya ke wajah.

"Bukan AC-nya Mbak, itu ada yang lagi kebakaran jenggot tapi gengsi mau minta pemadam kebakaran!" sahut Reka sambil tertawa terbahak-bahak.

Ghava memberikan tatapan mematikan pada Reka dan Mbak Yane. "Reka, Yane! Kalau kalian nggak ada kerjaan, silakan bersihkan semua debu di peredam suara studio dua. Sekarang!"

Siang itu, tensi di dalam studio benar-benar berada di titik didih. Deadline proyek iklan dari klien besar tinggal hitungan jam, dan Ghava—dengan sifat perfeksionisnya yang akut—sedang dalam mode "monster kerja". Ia duduk di depan monitor besar dengan puluhan track audio yang rumit, jemarinya bergerak lincah di atas mixer, sementara keningnya berkerut sangat dalam.

"Nadin, Reka! Kalian berdua bisa diam tidak?" bentak Ghava tanpa menoleh. "Kalian cuma bikin fokus saya buyar. Kalau tidak bisa bantu, mending duduk diam di sudut sana atau keluar saja sekalian! Biar saya yang selesaikan sendiri!"

Nana dan Reka yang tadinya sedang asyik merapikan kabel langsung membeku. Mereka tahu kalau Ghava sudah bicara dengan nada "rendah yang mengancam" seperti itu, artinya singa studio sedang lapar mangsa.

"Iya, Mas Bos... galak amat," gumam Nana pelan.

Karena dilarang menyentuh alat dan dilarang bersuara, Nana dan Reka akhirnya duduk di dua kursi kerja beroda yang ada di ruang tengah studio. Awalnya mereka hanya saling lirik dengan bosan. Namun, namanya juga Nana dan Reka—duo perusuh studio—kebosanan adalah awal dari bencana bagi ketenangan Ghava.

Tanpa suara, Reka memberikan kode dengan jarinya: Satu... dua... tiga!

Mereka berdua mulai menjejakkan kaki ke lantai dengan kuat, meluncurkan kursi roda masing-masing melintasi lantai studio yang sangat licin.

Sreeeeeet!

Nana berhasil meluncur dari pojok rak mikrofon sampai ke dekat meja pantry. Reka tidak mau kalah, ia memutar kursinya 360 derajat sambil meluncur kencang hingga hampir menabrak sofa.

"Wuuuuuu!" seru Nana tanpa suara (ia hanya menggerakkan mulutnya lebar-berbar karena takut disemprot Ghava lagi).

Mereka mulai melakukan balapan kursi roda di belakang punggung Ghava. Studio yang seharusnya kedap suara dan sakral itu kini berubah menjadi sirkuit balap dadakan.

Sruk! Sruk! Sruk! Bunyi gesekan roda kursi dengan lantai kayu terdengar berirama.

Ghava yang sedang berusaha menyeimbangkan frekuensi vokal mulai merasakan ada sesuatu yang lewat-lewat di belakangnya. Ia mencoba mengabaikannya, tapi saat Nana meluncur dengan kecepatan penuh dan tidak sengaja menabrak bagian belakang kursi Ghava—Duk!—kesabaran pria itu habis.

Ghava memutar kursi kerjanya dengan gerakan dramatis. Ia melihat Nana dan Reka sedang dalam posisi "siap meluncur" lagi, dengan kaki yang sudah terangkat dan tangan memegang pinggiran kursi.

"APA-APAAN INI?" teriak Ghava.

Nana langsung mengerem dengan kakinya sampai hampir terjungkal. "Anu... Mas... katanya disuruh diem di kursi masing-masing, ya udah kita main kursi aja biar nggak ngantuk..."

Reka langsung pura-pura mengecek roda kursinya. "Iya Mas, ini kursinya... kayaknya perlu diminyakin, lajunya kenceng banget."

Ghava berdiri, ia berkacak pinggang sambil mengembuskan napas panjang yang terdengar sangat frustrasi. Ia menatap Nana yang wajahnya masih terlihat polos tak berdosa, lalu menatap Reka yang menahan tawa.

"Kalian ini... saya lagi pusing mikirin kontrak miliaran, kalian malah main balapan kursi?" Ghava berjalan mendekati Nana.

Nana menciut. Ia mengira Ghava akan meledak marah, tapi tiba-tiba Ghava malah menarik kursi Nana hingga gadis itu terbawa mendekat ke arah meja kerjanya.

"Reka, balik ke meja kamu. Urus file mentahnya. Dan kamu, Nadin..." Ghava mencondongkan badannya, menatap Nana dengan jarak yang sangat dekat hingga Nana bisa melihat pantulan dirinya di mata hitam pria itu.

"...karena kamu punya tenaga buat balapan, sekarang bantu saya mixing. Duduk di sini, di sebelah saya. Jangan jauh-jauh, biar saya bisa pantau kelakuan ajaib kamu."

Mbak Yane yang baru masuk membawa kotak donat hanya bisa geleng-geleng kepala. "Ghav, bilang aja lo mau modus biar dia deket terus, nggak usah pake alasan pantau-pantauan!"

Lampu di ruang kontrol studio mulai meredup, hanya menyisakan pendar biru dan kuning dari layar monitor besar serta lampu indikator pada mesin mixer yang berkedip pelan. Suara track instrumen yang sedang diproses mengalun lembut dengan volume rendah, menciptakan suasana yang sangat tenang dan menghanyutkan.

Nadine, yang tubuhnya memang belum pulih seratus persen, mulai merasakan matanya berat. Suara dengung mesin dan melodi yang diulang-ulang oleh Ghava berubah menjadi lagu pengantar tidur yang sempurna. Kepalanya perlahan mulai miring, terkantuk-kantuk, hingga akhirnya—puk—kepalanya mendarat dengan lembut di bahu kokoh Ghava.

Ghava yang sedang serius mengatur equalizer seketika membeku. Jarinya yang berada di atas fader berhenti bergerak. Ia menahan napas sejenak, melirik lewat sudut matanya, dan menemukan Nadine sudah memejamkan mata dengan damai. Napas gadis itu terdengar teratur, menyapu halus permukaan kemejanya.

Reka yang berada di meja seberang baru saja ingin berteriak menanyakan sesuatu, tapi Ghava dengan sigap mengangkat jari telunjuk ke bibirnya. "Ssst!" bisik Ghava dengan tatapan tajam yang seolah berkata: Kalau kamu bersuara satu desibel saja, kontrak kerja kamu saya bakar.

Reka langsung membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan, lalu memberikan jempol sambil tersenyum jahil, perlahan ia mengendap-endap keluar dari ruangan untuk memberi mereka privasi.

Kini tinggal mereka berdua. Ghava, yang biasanya dikenal sebagai pria tanpa ampun jika urusan pekerjaan, perlahan-lahan menurunkan bahu kirinya agar Nadine bisa bersandar dengan lebih nyaman. Ia tidak bergerak sedikit pun, bahkan saat punggungnya mulai terasa pegal karena posisi yang kaku.

Senyum tipis—senyum yang sangat jarang terlihat oleh siapa pun—muncul di bibir Ghava. Ia menatap wajah tidur Nadine yang tampak tenang, jauh dari ekspresi ceriwis atau keras kepalanya saat mereka berdebat.

"Tadi balapan kursi semangat banget, sekarang malah tumbang," gumam Ghava sangat pelan, hampir menyerupai bisikan hati.

Ia mengulurkan tangan kanannya dengan sangat hati-hati, meraih mouse untuk mematikan suara track yang bising dan menggantinya dengan melodi piano tanpa judul yang ia buat malam itu. Ghava membiarkan melodi itu mengalun sangat kecil, hanya sebagai latar belakang tidur Nadine.

Tanpa sadar, Ghava sedikit memiringkan kepalanya, menyentuhkan pelipisnya pada rambut Nadine. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun setelah dikhianati, Ghava merasa studionya bukan lagi tempat persembunyian yang dingin, melainkan sebuah rumah yang hangat karena kehadiran gadis di bahunya ini.

Pintu studio terbuka sedikit dengan bunyi klik yang sangat pelan. Mbak Yane melangkah masuk dengan terburu-buru, tangannya memegang ponsel Ghava yang terus bergetar hebat. Di layarnya terpampang nama salah satu klien besar yang paling cerewet dan tidak suka menunggu.

"Ghav, ini si Pak—"

Kalimat Mbak Yane terputus di udara. Kakinya mendadak terpaku di lantai kayu studio. Matanya membelalak melihat pemandangan langka yang tersaji di depan meja mixing.

Di sana, dalam remang cahaya indikator audio, Ghava—si pria yang biasanya lebih memilih memeluk monitor daripada manusia—sedang duduk diam dengan posisi bahu sedikit diturunkan. Kepalanya bersandar pada puncak kepala Nana, sementara Nana sendiri tampak tertidur pulas di bahu Ghava. Napas keduanya terdengar seirama, menciptakan kedamaian yang terasa begitu sakral di tengah ruangan yang biasanya penuh dengan ketegangan kreatif.

Mbak Yane membeku. Ia melihat tangan Ghava yang tidak bergerak sama sekali, seolah takut jika satu inci pergeseran saja akan merusak mimpi indah asistennya itu. Ghava menyadari kehadiran Mbak Yane, ia menoleh sedikit dan memberikan tatapan tajam yang memberikan isyarat jelas: 'Jangan bersuara dan jangan berani mengganggu.'

Mbak Yane menahan senyum yang hampir meledak. Ia mengangkat ponsel itu, menunjuk layar yang masih menyala, lalu memberikan isyarat jempol sambil berbisik tanpa suara, "Gue yang urus."

Tanpa menunggu jawaban, Mbak Yane mundur perlahan dan menutup pintu studio selembut mungkin. Begitu pintu tertutup rapat, ia menghela napas lega dan segera menggeser tombol hijau pada ponsel Ghava.

"Halo, selamat siang Pak? Ah, maaf sekali, Pak Ghava sedang ada sesi recording yang sangat krusial dan tidak bisa diinterupsi sama sekali," ucap Mbak Yane dengan suara profesionalnya yang paling meyakinkan sambil berjalan menjauh. "Biar saya yang handel dulu ya, Pak..."

Di dalam studio, Ghava kembali memejamkan matanya sejenak. Ia tidak peduli jika Mbak Yane akan menggoda atau menginterogasinya habis-habisan nanti. Untuk saat ini, ia hanya ingin menikmati momen di mana "kulkas" di hatinya benar-benar telah mati, digantikan oleh kehangatan dari gadis yang masih terlelap di bahunya.

1
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
falea sezi
lnjut banyakk
Pa Muhsid
jangan jangan mantan nana nih kalo iya sikat ghav na jangan kasih kendor
falea sezi
di kubur gmn gav kenyataan lu dlu. pcrn ma. nadin sering tidur bareng kan hmmmmm km. itu g cocok buat Nadine pantes surya ngotot gk. kasih restu wong qm bukan cowok baik dih/Puke/
falea sezi
g rela deh klo dpet gava laki. bekas dih
falea sezi
berarti gava ma selya uda sering nganu dih g sepolos yg q bayangin
falea sezi
cwek ga tau malu si selya
falea sezi
baru nyimak
yoke oktaviansyah
💕💕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!