NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Penguasa Langit

Reinkarnasi Penguasa Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Fantasi
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: JUNG KARYA

Ranu Wara lahir di tengah kemiskinan Kerajaan Durja sebagai reinkarnasi Dewa Tertinggi, ditandai dengan mata putih perak dan tanda lahir rasi bintang di punggungnya. Sejak bayi, ia telah menunjukkan kekuatan luar biasa dengan memukul mundur gerombolan bandit kejam hanya melalui tekanan aura.

Menginjak usia tujuh tahun, Ranu mulai menyadari jati dirinya dan menggunakan kekuatan batinnya untuk melindungi orang tuanya dari penindasan pendekar asing. Pertemuannya dengan Ki Sastro, seorang pendekar tua misterius, mengungkap nubuat bahwa Kerajaan Durja berada di ambang kehancuran akibat konspirasi racun dan ancaman invasi. Kini, Ranu harus memilih: tetap hidup tenang sebagai anak saudagar miskin atau bangkit memimpin perjuangan demi melindungi keluarga dan tanah kelahirannya dari lautan api peperangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Getar Rahasia Lembah Durja

Tujuh musim penghujan telah berlalu sejak malam yang mengguncang gubuk Ki Garna. Kerajaan Durja masih tetap sama seperti dulu, tanahnya tetap subur, padi-padinya tetap menguning keemasan, dan ketakutan penduduknya terhadap para pendekar jahat masih tetap menghantui setiap sudut desa. Namun, ada satu hal yang berbeda di pinggiran ibu kota.

Di sebuah ladang jagung yang luas, seorang bocah laki-laki berusia tujuh tahun duduk bersila di atas batu besar.

Bocah itu adalah Ranu Wara. Tubuhnya kecil namun tegap, kulitnya bersih meski sering terpapar matahari. Ciri yang paling mencolok tentu saja matanya.

Sepasang mata putih perak itu kini tidak lagi memancarkan cahaya yang meledak-ledak seperti saat ia lahir, melainkan terlihat seperti telaga yang sangat dalam dan tenang. Penduduk desa awalnya mengira Ranu buta, namun mereka segera sadar bahwa Ranu bisa melihat lebih baik daripada siapa pun, bahkan di kegelapan malam yang paling pekat sekalipun.

"Ranu! Ranu Wara!" teriak sebuah suara dari kejauhan.

Ranu membuka matanya perlahan. Ia menoleh ke arah sumber suara. Di sana, Mbakyu Sari, kakak sepupunya yang berusia beberapa tahun lebih tua, berlari kecil sambil membawa bungkusan kain berisi nasi jagung dan ikan asin.

"Mbakyu Sari, jangan berlari terlalu kencang. Ada akar pohon yang menonjol di depanmu," ucap Ranu dengan suara yang tenang, jauh melampaui usianya.

Sari tersentak dan benar saja, kakinya hampir tersangkut akar jati yang mencuat. Ia berhenti dan mengatur napas. "Aduh, Ranu. Kau ini selalu saja tahu sebelum kejadian. Ini, Nyai Sumi menyuruhku mengantarkan makanan untukmu. Mengapa kau selalu diam di sini sendirian? Anak-anak lain sedang bermain gasing di alun-alun."

Ranu turun dari batu itu dengan gerakan yang sangat ringan, seolah-olah berat tubuhnya tidak sampai menyentuh tanah.

"Ranu sedang mendengarkan napas bumi, Mbakyu. Di sini tenang."

Sari hanya menggeleng-gelengkan kepala. Baginya, Ranu adalah bocah yang aneh. Sejak bisa berjalan, Ranu jarang berbicara dan lebih sering bermeditasi.

Ki Garna dan Nyai Sumi sangat menyayangi Ranu, namun mereka juga merasa segan, seolah-olah putra mereka adalah seorang sesepuh yang terperangkap dalam tubuh mungil.

"Dengarlah, Ranu. Kau harus berhati-hati, ayahmu bilang, ada kabar bahwa pendekar dari Kerajaan Mahesa sedang melakukan perjalanan melintasi Durja. Mereka itu sombong dan sering memukul orang jika jalannya terhalang," bisik Sari dengan wajah cemas.

Ranu hanya tersenyum tipis. "Biarlah mereka lewat, Mbakyu. Selama mereka tidak merusak tanaman bapak, Ranu tidak akan mengganggu."

Sore harinya, saat matahari mulai condong ke barat mewarnai langit dengan semburat jingga, suasana tenang di desa itu pecah oleh derap kaki kuda yang sombong.

Tiga orang pendekar dengan pakaian mewah berwarna merah gelap memasuki area perladangan Ki Garna. Mereka membawa pedang besar di punggung dan memegang cambuk di tangan.

"Hei, orang tua!" teriak salah satu pendekar yang berkumis melintang, memanggil Ki Garna yang sedang mengikat hasil panen.

"Berikan kami air dan makanan terbaikmu! Dan pastikan kudaku mendapatkan rumput yang paling hijau!"

Ki Garna segera membungkuk hormat. "Ampun, Pendekar. Saya hanyalah saudagar kecil yang miskin. Kami hanya punya nasi jagung dan air kendi. Jika Tuan bersedia menunggu, saya akan menyuruh Dinda Sumi untuk menyiapkannya."

"Nasi jagung? Kau pikir kami ini budak?!" bentak pendekar satunya lagi sambil mengayunkan cambuknya ke arah tumpukan jagung hasil panen Ki Garna hingga berhamburan.

Nyai Sumi keluar dari rumah dengan gemetar. "Ampun, Tuan. Jangan rusak hasil panen kami. Itu adalah penyambung hidup kami untuk musim depan."

"Diam kau, wanita tua!" pendekar itu mengangkat cambuknya, hendak melayangkannya ke arah Nyai Sumi.

Namun, sebelum cambuk itu menyentuh kulit Nyai Sumi, sebuah tangan kecil menangkap ujung cambuk tersebut dengan gerakan yang sangat lambat namun pasti.

"Jangan menyakiti ibuku," ucap suara kecil yang dingin.

Ketiga pendekar itu tertegun. Mereka melihat seorang bocah bermata perak berdiri tegak di depan Nyai Sumi. Tangan kecil Ranu memegang erat cambuk kulit yang tebal itu. Pendekar berkumis itu mencoba menarik cambuknya, namun benda itu seolah-olah telah tertanam di dalam gunung karang. Tidak bergerak sedikit pun.

"Lepaskan, bocah sialan! Kau mau mati?!" bentak pendekar itu. Ia mengerahkan tenaga dalamnya, membuat urat-urat di tangannya menonjol. Namun, Ranu tetap berdiri tak bergeming.

"Paman, kesombongan hanya akan menuntun pada kehancuran," ucap Ranu datar.

Ranu sedikit menghentakkan tangannya. Kekuatan yang tak terlihat merambat melalui cambuk tersebut, menghantam telapak tangan si pendekar hingga ia berteriak kesakitan dan terlempar dari kudanya. Dua pendekar lainnya segera menghunus pedang mereka.

"Setan kecil! Kau menggunakan ilmu hitam apa?!" teriak mereka.

Ki Garna sangat ketakutan. "Ranu, jangan! Lari, Nak!"

Sedangkan Ranu malah tidak lari. Ia justru melangkah maju.

Saat itu, tanda rasi bintang di punggungnya yang tertutup baju tipis mulai berdenyut hangat.

Di dalam batin Ranu, memori dari kehidupannya yang lampau sebagai Dewa Penguasa Jagat mulai berbisik.

Meski kekuatannya saat ini hanya seujung kuku dari masa kejayaannya, itu sudah lebih dari cukup untuk menghadapi manusia-manusia serakah ini.

Dua pedang menebas ke arah leher Ranu secara bersamaan. Penduduk desa yang melihat dari jauh sudah menutup mata, tak tega melihat bocah kecil itu terpotong-potong. Namun, suara yang terdengar bukanlah suara daging yang terpotong, melainkan dentingan logam yang nyaring.

Ting! Ting!

Pedang-pedang itu berhenti tepat beberapa senti dari kulit Ranu, seolah-olah ada dinding kaca yang tak terlihat melindunginya. Ranu kemudian menggerakkan jarinya, menyentuh bilah pedang tersebut.

"Hancurlah," bisik Ranu.

Seketika, pedang baja berkualitas tinggi milik para pendekar itu retak dan pecah menjadi ribuan kepingan kecil yang jatuh ke tanah. Para pendekar itu jatuh terduduk, wajah mereka pucat pasi seperti mayat.

Mereka menyadari bahwa bocah di depan mereka bukanlah manusia biasa. Tekanan aura yang keluar dari mata perak Ranu membuat mereka merasa seperti sedang ditatap oleh maut itu sendiri.

"Pergilah dan jangan pernah kembali ke Kerajaan Durja untuk menindas rakyat kecil. Jika aku melihat kalian lagi, nyawa kalian akan menjadi pupuk bagi tanah ini," ucap Ranu dengan wibawa yang membuat bulu kuduk semua orang merinding.

Ketiga pendekar itu tidak banyak bicara. Mereka segera naik ke kuda mereka, bahkan yang tadi terlempar pun merangkak naik dengan susah payah dan memacu kuda mereka secepat mungkin meninggalkan desa.

Suasana menjadi sunyi. Ki Garna mendekati anaknya dengan tangan gemetar. Ia memegang bahu Ranu. "Ranu... apa yang sebenarnya terjadi padamu, Nak?"

Ranu berbalik, mata peraknya menatap ayahnya dengan penuh kelembutan.

"Kanda bapak, jangan takut. Ranu hanya melindungi apa yang menjadi milik kita. Tapi bapak harus tahu, ketenangan kita mungkin tidak akan lama. Mereka akan kembali dengan jumlah yang lebih banyak."

Nyai Sumi memeluk Ranu sambil menangis. "Dinda takut, Kanda Garna. Anak kita... dia terlalu berbeda."

Malam itu, di bawah sinar rembulan, Ranu kembali duduk di atas batu besar di ladang. Ia menatap ke arah utara, ke arah pegunungan tinggi yang membatasi Kerajaan Durja dengan kerajaan-kerajaan besar lainnya. Ia bisa merasakan energi yang sangat kuat sedang bergerak. Bukan hanya satu, tapi banyak.

"Reinkarnasi ini memang penuh dengan noda darah," gumam Ranu pada dirinya sendiri. "Tujuh bintang di punggungku belum sepenuhnya menyala. Aku harus segera melatih tubuh fana ini sebelum para musuh lama dari alam atas menyadari keberadaanku di dunia rendah ini."

Ranu mulai mengatur napasnya. Di sekelilingnya, tanaman jagung mulai bergoyang pelan, bukan karena angin, melainkan karena tertarik oleh energi murni yang mulai dikumpulkan oleh Ranu. Cahaya perak samar mulai menyelimuti tubuhnya, membentuk formasi pelindung yang sangat rumit.

Namun, di tengah meditasinya, Ranu merasakan kehadiran seseorang. Bukan musuh, melainkan seorang pria tua yang berdiri di bawah pohon beringin tak jauh dari ladang. Pria itu mengenakan jubah lusuh dan membawa tongkat kayu hitam.

"Luar biasa... sungguh luar biasa," ucap pria tua itu sambil melangkah mendekat.

"Sudah ratusan tahun aku melanglang buana, baru kali ini aku melihat seorang anak manusia yang bisa mengendalikan energi alam tanpa perlu diajari oleh guru mana pun."

Ranu tidak membuka matanya. "Siapa kau, Ki? Dan apa urusanmu di tanah milik bapakku?"

Pria tua itu tertawa kecil.

"Panggil saja aku Ki sastro. Aku hanyalah seorang pengelana yang mencari tempat berteduh. Tapi sepertinya, aku justru menemukan mutiara yang tersembunyi di dalam lumpur."

Ranu membuka matanya. Cahaya peraknya menembus kegelapan, menatap langsung ke arah jiwa Ki Sastro.

"Kau bukan pengelana biasa. Kau memiliki bau obat-obatan dan buku tua. Kau seorang tabib sekaligus pendekar tingkat bumi, bukan?"

Ki Sastro tersentak. Ia tidak menyangka identitasnya akan terbongkar begitu saja oleh seorang bocah. Ia segera merangkapkan tangan di depan dada, memberikan hormat yang tulus.

"Mata perak itu... benar-benar bisa menembus segala tabir. Mohon ampun atas kelancangan hamba, Tuan Muda."

"Jangan panggil aku Tuan Muda. Aku hanya Ranu, anak seorang saudagar miskin," jawab Ranu sambil berdiri.

"Apa yang kau inginkan dariku, Ki Sastro?" lanjut tanyanya.

Ki Sastro menatap Ranu dengan serius. "Kerajaan Durja sedang dalam bahaya besar, Ranu. Raja Durja yang sekarang sedang sakit parah karena racun kiriman dari Kerajaan Mahesa. Jika Raja mangkat, maka Kerajaan Mahesa akan melakukan invasi besar-besaran untuk merebut lumbung pangan Durja. Rakyat akan dibantai, dan desa ini akan menjadi lautan api. Aku datang mencari seseorang yang diramalkan akan lahir dengan tanda bintang untuk menyelamatkan tanah ini."

Ranu terdiam. Ia menatap telapak tangannya sendiri. Di kehidupan sebelumnya, ia memimpin jutaan tentara langit. Apakah di kehidupan ini ia harus kembali terjun ke dalam kancah peperangan demi sebuah kerajaan kecil?

"Aku tidak tertarik pada kekuasaan, Ki," ucap Ranu pelan.

"Tapi apakah kau tertarik melihat ibu dan bapakmu dibantai oleh para pendekar haus darah?" tanya Ki Sastro dengan nada tajam.

Rahang Ranu mengeras. Mata peraknya menyala lebih terang dari sebelumnya. "Siapa pun yang menyentuh keluargaku, mereka akan merasakan kemurkaan surga."

......................

1
JUNG KARYA
bantu supportnya kak 🙏
JUNG KARYA
Komentarnya dong kak, juga satu like kalian sangat berarti untuk semangat author ini lho, apalagi kalau mau beri rating di novel ini 😁...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!