Hidup Almira dan Debo nyaris sempurna. Tumbuh besar di Washington D.C. dengan fasilitas diplomat, mereka melihat ayah mereka, Pak Baskoro, sebagai pahlawan tanpa celah. Namun, impian itu hancur berkeping-keping dalam satu malam di Bandara Soekarno-Hatta.
Koper yang seharusnya berisi oleh-oleh dari Amerika, berubah menjadi maut saat petugas menemukan bungkusan kristal putih seberat 5 kilogram di dalamnya. Ayah mereka dituduh sebagai kurir narkoba internasional.
Di tengah keputusasaan, teman-teman berkhianat dan harta benda disita. Almira dan Debo dipaksa menghadapi realita pahit: mereka kini adalah anak seorang "kriminal". Di tengah badai tersebut, muncul Risky, seorang pengacara muda yang dingin dan misterius. Risky setuju membantu, namun ia memperingatkan satu hal:
"Kebenaran terkadang lebih menyakitkan daripada kebohongan. Apakah kalian siap menemukan jawaban yang sebenarnya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Matahari mulai tergelincir di ufuk barat Bandung, menyisakan semburat jingga yang jatuh di sela-sela daun pohon mawar yang baru saja dipangkas Pak Baskoro. Suasana tenang ini adalah sesuatu yang sempat terasa mustahil bagi Almira. Namun, di balik senyum ayahnya dan tawa Debo yang sedang asyik memotret kumbang di sudut taman, Almira tahu bahwa kemenangan hukum hanyalah satu babak yang tertutup.
Risky masih duduk di kursi teras, memutar-mutar cangkir tehnya yang sudah kosong. Matanya yang tajam menatap jauh ke arah barisan perbukitan.
"Kau terlihat masih memikirkan sesuatu, Risky," ujar Almira sambil meletakkan tabletnya. "Wirayuda sudah di penjara, asetnya disita. Apalagi yang mengganjal?"
Risky menarik napas panjang, lalu menoleh. "Kau tahu, Al, orang seperti Wirayuda itu seperti puncak gunung es. Dia jatuh, tapi fondasi di bawahnya masih ada. Kemarin aku menerima telepon dari seorang rekan di kejaksaan. Ada beberapa dokumen yang 'hilang' sesaat sebelum penyegelan kantor yayasan itu."
Almira mengerutkan kening. Rasa waspada yang selama ini menemaninya kembali bangkit. "Maksudmu, masih ada orang lain?"
"Mungkin. Tapi jangan biarkan itu merusak sore ini," Risky mencoba tersenyum, meski kali ini senyumnya terasa sedikit dipaksakan. "Aku hanya ingin kau berhati-hati. Jangan terlalu cepat merasa bahwa dunia ini sudah benar-benar aman."
Debo tiba-tiba berlari mendekat dengan wajah berseri-seri. "Kak! Lihat foto ini! Aku baru saja mendapatkan sudut yang sempurna. Ayah terlihat sangat... hidup."
Almira melihat layar kamera Debo. Di sana, Pak Baskoro tampak tertawa lebar sambil memegang gunting tanaman, latar belakangnya adalah rumah baru mereka yang sederhana namun hangat. Foto itu menangkap sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang: kedamaian batin.
"Itu bagus, Deb. Sangat bagus," puji Almira tulus.
"Oh ya, Kak," Debo teringat sesuatu. "Tadi ada paket di depan pagar. Tidak ada nama pengirimnya, hanya tertulis 'Untuk Keluarga Baskoro'."
Jantung Almira berdegup lebih kencang. Ia melirik Risky, yang seketika berubah tegang. "Di mana paketnya?" tanya Risky cepat.
"Sudah kubawa ke ruang tamu. Belum kubuka, kok," jawab Debo heran melihat reaksi kakak dan tamunya itu.
Mereka bertiga masuk ke dalam rumah. Di atas meja jati yang masih berbau pelitur baru, tergeletak sebuah kotak kayu kecil yang dibungkus kertas cokelat polos. Tanpa bicara, Risky mengambil pisau lipat dari sakunya dan perlahan membuka bungkusannya.
Almira menahan napas. Pikirannya melayang kembali ke koper hitam di bandara. Apakah teror ini belum berakhir?
Saat kotak itu terbuka, tidak ada bom atau ancaman mengerikan. Di dalamnya hanya ada sebuah kunci tua berwarna perak dan secarik kertas kecil. Risky mengambil kertas itu dan membacanya dengan suara rendah.
"Keadilan memang sudah tegak, tapi kebenaran tentang ibumu masih terkunci di tempat di mana semuanya dimulai. -H"
Almira merasa lututnya lemas. "Ibu?" bisiknya.
Selama ini, mereka diberitahu bahwa ibu mereka meninggal karena sakit saat mereka masih kecil di Amerika. Pak Baskoro jarang membicarakannya, dan mereka selalu menganggap itu adalah luka lama yang terlalu perih untuk disentuh.
"H? Hermawan?" Debo menebak, suaranya bergetar. "Tapi dia sudah mati."
"Hermawan mungkin sudah mati, tapi dia orang yang sangat teliti," Risky memeriksa kunci perak itu. "Ini kunci loker. Loker lama di gedung Departemen Luar Negeri yang lama, sebelum mereka pindah ke gedung modern yang sekarang."
Almira menatap kunci itu dengan pandangan kosong. Jawaban yang mereka cari tentang narkoba dan Wirayuda mungkin sudah selesai, namun sepertinya hidup baru saja melemparkan teka-teki baru yang jauh lebih personal.
Pak Baskoro masuk ke dalam rumah, menyeka keringat di dahinya dengan handuk kecil. Ia berhenti saat melihat kotak itu dan kunci di tangan Risky. Wajahnya yang semula cerah mendadak pucat pasi.
"Ayah?" panggil Almira pelan. "Siapa 'H' ini? Dan apa maksudnya tentang Ibu?"
Pak Baskoro terdiam, matanya menatap kunci itu dengan ketakutan yang belum pernah dilihat Almira sebelumnya—bahkan tidak saat Ayahnya ditangkap polisi. Ia terduduk di sofa, menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Ada hal-hal yang Ayah sembunyikan demi melindungi kalian," suara Pak Baskoro terdengar sangat tua dan rapuh. "Ayah pikir jika kita menghancurkan Wirayuda, masa lalu itu akan terkubur bersamanya. Ternyata Ayah salah."
Risky meletakkan kunci itu di depan Pak Baskoro. "Pak, kebenaran tidak pernah bisa dikubur selamanya. Dia akan selalu mencari jalan untuk bernapas."
Almira mendekati ayahnya, memegang tangannya yang gemetar. "Katakan pada kami, Yah. Apapun itu. Kami sudah membuktikan bahwa kami bisa menghadapi dunia bersama-sama. Jangan biarkan kami mencari jawaban sendirian lagi."
Pak Baskoro mendongak, matanya berkaca-kaca. Ia melihat ke arah Almira, lalu ke arah Debo. "Ibu kalian tidak meninggal karena sakit, Al. Dia adalah orang pertama yang menemukan jalur penyelundupan itu belasan tahun lalu... dan dia dibungkam."
Ruangan itu mendadak sunyi sesunyi kuburan. Almira merasakan hawa dingin merambat di punggungnya. Ternyata, perjuangan mereka di pengadilan kemarin bukan hanya soal membebaskan Ayah, melainkan kelanjutan dari perang yang dimulai oleh Ibu mereka bertahun-tahun yang lalu.
"Jadi..." Almira berbisik, suaranya hampir hilang. "Jawaban yang sebenarnya baru saja dimulai?"
Risky berdiri, merapikan jaketnya. Matanya kembali menajam, aura pengacaranya yang haus akan kebenaran kembali muncul. "Sepertinya kita harus kembali ke Jakarta, Al. Tapi kali ini, kita tidak hanya mencari keadilan. Kita mencari warisan."
Malam itu, di bawah atap rumah Bandung yang seharusnya menjadi tempat pensiun yang tenang, keluarga Baskoro menyadari satu hal: mencari jawaban adalah perjalanan tanpa henti. Dan selama ada rahasia yang tersisa, mereka tidak akan pernah benar-benar berhenti berlari.