"Lin Suyin mewarisi gelang giok dari neneknya—sebuah portal menuju dimensi ajaib tempat waktu berjalan 10x lebih cepat dan semua tanaman tumbuh sempurna. Tapi keajaiban ini membawa bahaya: ada yang memburu gelang tersebut. Bersama Xiao Zhen, CEO misterius dengan rahasia masa lalu, Suyin harus melindungi ruang ajaibnya sambil mengungkap konspirasi kuno yang menghubungkan keluarganya dengan dunia kultivator."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: Malam Sebelum Badai
Jumat pagi, satu hari sebelum acara reuni keluarga Lin.
Suyin bangun dengan perasaan yang aneh—campuran antara gugup, excited, dan tenang dalam satu waktu. Seperti atlet sebelum pertandingan besar yang sudah dia persiapkan selama berminggu-minggu.
Ritual pagi dimulai seperti biasa—sholat subuh, meditasi bersama Xiao Zhen di taman belakang, sarapan dengan semua anggota tim. Tapi ada nuansa berbeda di udara pagi ini. Semuanya lebih serius, lebih fokus.
Di meja makan, Wei Hao melaporkan bahwa semua formasi pelindung sudah terpasang sempurna di lokasi reuni.
"Tiga lapis formasi," jelasnya sambil menyendok nasi goreng. "Lapis pertama di perimeter terluar—akan mendeteksi kultivator yang masuk radius lima puluh meter. Lapis kedua di pagar rumah—akan memperlambat gerakan kultivator musuh sebesar tiga puluh persen tanpa mereka sadari. Lapis ketiga di dalam rumah—akan memberikan kita keunggulan Qi sebesar dua puluh persen."
"Bagaimana dengan tamu biasa yang bukan kultivator? Mereka tidak akan merasakan apa-apa kan?" tanya Suyin khawatir.
"Tidak sama sekali. Formasi ini dirancang khusus hanya bereaksi pada energi spiritual kultivator." Wei Hao tersenyum meyakinkan.
Chen Ling melanjutkan laporan. "Pengintaian semalam menunjukkan jumlah agen Organisasi Bayangan di area meningkat menjadi enam orang. Mereka mengambil posisi di beberapa titik strategis—gedung apartemen seberang jalan, kedai kopi pojok, bahkan salah satu menyewa kamar kos di rumah tetangga."
"Beraninya mereka," desis Zhang Wei.
"Ini sebenarnya menguntungkan kita," ucap Xiao Zhen tenang. "Kita sudah tahu posisi mereka. Chen Ling akan terus pantau pergerakan mereka."
Liu Peng—yang sudah menyusup sebagai karyawan katering—laporan bahwa dia sudah mengenal semua tata letak dapur dan area servis. "Aku bisa bergerak bebas dari dapur ke ruang tamu tanpa dicurigai. Posisi sempurna untuk kejutan kalau mereka menyerang dari arah yang tidak terduga."
Zhao Mei meletakkan beberapa tas kecil di atas meja. "Ini kit ramuan darurat untuk masing-masing. Satu untuk Tuan Muda, satu untuk Wei Hao, satu untuk Chen Ling, satu untuk Zhang Wei, satu untuk Liu Peng, dan dua untuk Suyin—satu untuk dibawa pribadi, satu untuk disimpan di lokasi aman sebagai cadangan."
Suyin mengambil tas kecil yang diserahkan Zhao Mei—di dalamnya tersusun rapi botol-botol ramuan berbagai warna, masing-masing diberi label. Ramuan Pemulih Cepat, Penguatan Qi, Penghilang Racun, dan yang paling penting—Ramuan Penguat Barrier.
"Terima kasih," ucap Suyin tulus.
"Kita satu tim sekarang," jawab Zhao Mei dengan senyum kecil.
Setelah sarapan, semua orang bubar untuk persiapan terakhir masing-masing. Wei Hao dan Zhang Wei pergi ke lokasi untuk cek ulang formasi. Chen Ling melanjutkan pengintaian. Liu Peng sudah harus berangkat lebih pagi untuk shift katering.
Hanya Zhao Mei, Xiao Zhen, dan Suyin yang tinggal di villa.
Xiao Zhen mengajak Suyin ke ruang latihannya untuk sesi terakhir sebelum besok.
"Hari ini kita tidak akan latihan fisik," ucap Xiao Zhen begitu mereka di ruangan. "Hari ini kita latihan mental."
"Latihan mental?"
Xiao Zhen duduk bersila di tengah ruangan, menepuk lantai di hadapannya—meminta Suyin duduk menghadapnya.
Suyin duduk, kaki bersila, menghadap Xiao Zhen dengan jarak sekitar satu meter.
"Dalam pertarungan kultivator, kekuatan mental sama pentingnya dengan kekuatan fisik. Kalau pikiranmu panik, Qi-mu akan kacau. Kalau Qi-mu kacau, semua teknik yang sudah kamu pelajari akan gagal." Xiao Zhen menatap mata Suyin. "Jadi hari ini, aku akan mengajarimu teknik stabilisasi mental—cara tetap tenang bahkan dalam situasi paling chaos."
"Caranya bagaimana?"
"Meditasi dengan visualisasi. Kamu akan membayangkan situasi terburuk yang mungkin terjadi besok—lalu melatih dirimu untuk tetap tenang menghadapinya." Xiao Zhen mengulurkan kedua tangannya. "Pegang tanganku."
Suyin meraih tangan Xiao Zhen—sensasi hangat yang sudah familiar langsung mengalir.
"Tutup matamu. Tarik napas dalam. Rasakan Qi kita yang mengalir bersama seperti waktu kita kultivasi bersama sebelumnya."
Suyin menutup mata, mengikuti instruksi. Aliran Qi mereka yang bersatu terasa seperti sungai yang tenang tapi kuat—mengalir harmonis tanpa perlawanan.
"Sekarang, bayangkan kamu berdiri di tengah ruang tamu rumah keluarga Lin besok. Ramai dengan tamu. Lalu tiba-tiba, seseorang menyerangmu dari belakang. Apa yang kamu rasakan?"
Suyin membayangkan skenario itu—jantungnya langsung berdebar, napasnya menjadi pendek.
"Aku... panik."
"Itu normal. Sekarang, alih-alih melawan rasa panik itu, terima saja. Rasakan panik itu mengalir dalam tubuhmu seperti ombak—datang, mencapai puncak, lalu surut." Suara Xiao Zhen tenang, membimbing. "Jangan takut pada rasa takut itu sendiri."
Suyin mencoba. Membiarkan rasa panik itu ada tanpa melawannya. Dan anehnya—setelah beberapa saat, rasa panik itu memang mulai surut dengan sendirinya.
"Bagus. Sekarang, dalam kondisi lebih tenang, bayangkan kamu mengaktifkan barrier spiritual. Gerakanmu tidak tergesa. Tidak panik. Hanya refleks yang sudah kamu latih ratusan kali."
Suyin membayangkan tangan terangkat, Qi mengalir keluar, barrier terbentuk—semua dalam gerakan yang tenang dan terkontrol.
"Sempurna." Ada nada puas di suara Xiao Zhen. "Kita akan ulang skenario ini dengan berbagai variasi sampai responmu menjadi otomatis."
Mereka menghabiskan hampir dua jam—waktu nyata—dengan meditasi visualisasi ini. Xiao Zhen membuat berbagai skenario: diserang dari berbagai arah, melihat keluarga dalam bahaya, terkurung di ruangan sempit, bahkan skenario di mana Xiao Zhen sendiri terluka dan tidak bisa membantu.
Setiap skenario, Suyin belajar untuk menerima rasa takut yang muncul, lalu meresponnya dengan tenang.
Saat akhirnya membuka mata, Suyin merasa... berbeda. Lebih mantap. Lebih siap.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Xiao Zhen. Tangan mereka masih saling menggenggam.
"Lebih baik. Jauh lebih baik." Suyin tersenyum. "Terima kasih."
"Sama-sama." Xiao Zhen tidak langsung melepas genggaman tangannya. Dia menatap Suyin dengan tatapan yang sangat dalam—seolah sedang menghafal setiap detail wajahnya.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Suyin pelan.
"Karena..." Xiao Zhen berhenti, seperti sedang mempertimbangkan apakah akan mengatakan sesuatu atau tidak. Akhirnya dia lanjutkan. "...karena aku menyadari betapa beruntungnya aku bertemu denganmu."
Jantung Suyin melompat.
"Xiao Zhen—"
"Dengarkan dulu." Genggaman tangannya mengerat sedikit. "Tiga minggu lalu, hidupku sangat teratur tapi kosong. Rutinitas yang sama setiap hari. Pekerjaan, kultivasi, kewajiban keluarga. Tidak ada yang membuat aku merasa... hidup. Lalu kamu datang—dengan gelang giok warisan nenekmu, dengan mata yang penuh tekad walau ketakutan, dengan keberanian yang bahkan kamu sendiri tidak sadari kamu punya."
Suyin tidak berkedip, takut melewatkan satu kata pun.
"Dan perlahan, aku menyadari bahwa aku tidak hanya melindungimu karena kewajiban keluarga. Aku melindungimu karena aku tidak tahu harus bagaimana kalau kehilanganmu." Suara Xiao Zhen bergetar sedikit di akhir kalimat.
Air mata menggenang di mata Suyin—bukan air mata sedih, tapi air mata karena mendengar kata-kata yang tidak pernah dia kira akan diucapkan.
"Aku juga..." Suara Suyin hampir berbisik. "Aku juga tidak tahu harus bagaimana kalau kehilangan kamu."
Jarak di antara mereka menipis—Suyin tidak tahu siapa yang bergerak duluan, atau mungkin keduanya bergerak bersamaan.
Kening mereka bertemu, napas bercampur, mata tertutup.
"Setelah semua ini selesai," bisik Xiao Zhen, suaranya hanya untuk Suyin. "Setelah kamu aman dan tidak ada lagi ancaman... aku akan menceritakan semuanya padamu. Tentang masa laluku. Tentang kenapa aku menutup hatiku selama ini. Dan tentang kenapa kamu adalah orang pertama yang bisa membukanya lagi."
"Aku akan menunggu," jawab Suyin dengan suara yang sama lembutnya.
Mereka bertahan dalam posisi itu—kening bertemu, tangan saling menggenggam—entah berapa lama. Waktu terasa berhenti.
Sampai akhirnya Xiao Zhen yang mundur perlahan, melepas genggaman tangan dengan sangat enggan.
"Kamu harus istirahat. Besok akan jadi hari yang panjang."
Suyin mengangguk, berdiri dengan kaki yang sedikit goyah—bukan karena lelah fisik, tapi karena emosi yang masih bergejolak.
Saat Suyin berjalan ke pintu, Xiao Zhen memanggilnya sekali lagi.
"Suyin."
Dia berbalik.
"Apapun yang terjadi besok—jangan pernah melepas gelang itu. Dan jangan pernah ragu untuk meminta bantuanku. Tidak ada yang namanya terlalu kecil atau terlalu memalukan untuk meminta bantuan. Mengerti?"
"Mengerti."
"Bagus."
Sore harinya, Suyin masuk ke ruang dimensi untuk terakhir kalinya sebelum besok.
WUSH!
Ruang dimensi terasa sangat tenang hari ini—seperti dia juga tahu bahwa besok adalah hari besar.
Suyin berjalan ke Pohon Kehidupan yang sekarang sudah setinggi hampir lima meter dengan mahkota daun yang sangat lebat dan indah.
"Pohon Kehidupan."
"Aku di sini, Pemilik Ruang."
"Besok... akan terjadi sesuatu yang besar. Aku takut."
"Takut itu wajar."
"Tapi aku juga siap. Aku sudah berlatih keras. Aku punya tim yang kuat. Aku punya ramuan yang berguna. Dan aku punya..." Suyin berhenti. "...aku punya seseorang yang tidak akan meninggalkanku."
"Xiao Zhen."
"Ya."
Pohon Kehidupan terdiam sebentar—suaranya terdengar hangat saat berbicara lagi.
"Kamu sudah berkembang jauh sejak pertama masuk ke ruang ini tiga minggu lalu. Dari gadis yang baru kehilangan nenek, yang kebingungan dan ketakutan, menjadi wanita yang berdiri tegak menghadapi ancaman dengan kepala tegak. Aku bangga padamu."
Air mata jatuh di pipi Suyin—untuk kesekian kalinya hari ini.
"Terima kasih. Untuk semua yang sudah kamu berikan. Ruang dimensi ini... kamu... semuanya."
"Aku hanya alat. Kamu yang menggunakannya dengan baik. Dan ingat—apapun yang terjadi besok, aku akan selalu ada di sini. Tempat ini akan selalu jadi rumahmu yang aman."
Suyin menyentuh batang pohon dengan lembut—terasa hangat dan bergetar seperti detak jantung.
Dia menghabiskan satu jam terakhir—waktu dimensi—hanya duduk di bawah Pohon Kehidupan, menikmati ketenangan, menyimpan kekuatan mental untuk besok.
Saat keluar dari ruang dimensi, malam sudah tiba.
Makan malam berlangsung lebih tenang dari biasanya. Semua orang tahu besok adalah hari yang menentukan. Tidak banyak yang berbicara—tapi ada rasa persaudaraan yang kuat di meja itu.
Setelah makan malam, Zhao Mei memanggil Suyin ke kamarnya.
"Ini." Zhao Mei menyerahkan dua botol kecil berisi cairan hijau. "Ramuan Penguat Qi yang kubilang kemarin. Minum satu botol sebelum tidur malam ini, satu lagi besok pagi setelah bangun. Ini akan stabilkan Qi-mu sepanjang hari besok."
"Terima kasih, Zhao Mei." Suyin menerima botol itu. "Untuk semua bantuanmu."
Zhao Mei tersenyum—senyum yang jauh lebih hangat dari hari pertama mereka bertemu.
"Kita perempuan harus saling jaga, kan?" Dia menepuk bahu Suyin. "Besok, tunjukkan pada mereka bahwa wanita Lin tidak mudah ditaklukkan."
Suyin tertawa kecil. "Akan kulakukan."
Di kamarnya, Suyin meletakkan semua perlengkapan untuk besok dengan rapi di atas meja:
Tas kecil berisi kit ramuan darurat
Liontin pelindung dari Xiao Zhen yang selalu tergantung di leher
Gelang giok yang tidak pernah lepas dari pergelangan tangan
Pakaian yang sudah dipilih—dress sederhana tapi elegan berwarna hijau muda, nyaman untuk bergerak kalau perlu
Semuanya siap.
Suyin minum satu botol ramuan dari Zhao Mei—rasanya seperti teh hijau dengan sedikit rasa manis madu. Hangat menyebar di perutnya.
Dia berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit untuk terakhir kalinya sebelum besok tiba.
Pikirannya melayang ke nenek. Bagaimana reaksi nenek kalau tahu cucunya sekarang sedang bersiap menghadapi kultivator jahat? Mungkin nenek akan khawatir. Tapi mungkin juga nenek akan bangga—karena Suyin tidak lari, tidak menyerah, tapi berdiri menghadapi tantangan.
"Nenek, doakan aku besok ya," bisik Suyin sambil menyentuh gelang giok. "Dan kalau bisa, jaga kami semua dari sana."
Gelang bersinar sangat lembut—sangat samar tapi Suyin melihatnya.
Seperti jawaban dari jauh.
Suyin tersenyum, menutup mata, dan membiarkan tidur membawanya.
Di kamar lain, Xiao Zhen duduk di tepi tempat tidurnya, menatap sebuah foto lama yang dia simpan di laci meja—foto yang jarang dia keluarkan.
Foto seorang wanita muda dengan senyum cerah. Seseorang dari masa lalunya yang tidak bisa dia lupakan.
"Xiu Lan," bisiknya pelan ke foto itu. "Aku harap kamu tidak marah aku akhirnya membuka hatiku lagi. Aku tahu dulu aku berjanji tidak akan pernah mencintai siapapun lagi setelah kehilanganmu. Tapi..."
Dia menatap foto itu lama.
"...tapi aku rasa kamu akan suka Suyin. Dia kuat sepertimu. Berani sepertimu. Dan dia membuat aku merasa hidup lagi setelah bertahun-tahun hanya... bertahan hidup."
Xiao Zhen meletakkan foto itu kembali ke laci dengan hati-hati—seperti menutup satu bab untuk membuka bab baru.
Besok, dia akan melindungi Suyin dengan seluruh kemampuannya.
Besok, dia akan memastikan tidak ada yang terjadi pada wanita yang sudah membuka hatinya yang tertutup selama bertahun-tahun.
Besok, semuanya akan berubah.
Xiao Zhen berbaring, menutup mata, dan bersiap untuk hari yang akan menentukan banyak hal.
Dan di seluruh villa, lima anggota Klan Xiao lainnya juga bersiap dengan cara masing-masing—meditasi, mengasah senjata spiritual, atau hanya duduk diam mengumpulkan kekuatan mental.
Malam berlalu dengan lambat.
Tapi pagi akan datang.
Dan bersamanya, ujian terberat yang pernah Suyin hadapi.