NovelToon NovelToon
Cuz I'M Your Home

Cuz I'M Your Home

Status: tamat
Genre:Menjadi Pengusaha / Cintamanis / Menikah dengan Kerabat Mantan / Tamat
Popularitas:661
Nilai: 5
Nama Author: Hyeon Gee

Karena pertumbuhan anak laki-laki terkadang memang sedikit lambat dari anak perempuan. Dan tinggi 182 sentimeter setelah 20 tahun berlalu, sudah lebih dari cukup untuk tidak membuat malu pemilik tinggi 160 sentimeter dengan kecentilannya…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyeon Gee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

“Aku telat, ya, Cha? Maaf, ya.”

Hari di mana suaminya meninggalkan dunia. Aku, entah senang atau sakit. Semua rasa itu menjadi satu…

“Makan dulu, Gar.”

Melihat Echa menyuguhkan dua teh hangat dan sup dengan nasi di depan semua orang serta seluruh keluarganya yang menatap mereka pun berusaha Garra abaikan, mengingat Echa hari itu hanya sedang berusaha kuat di hadapan pria kecil berumur lima tahun yang sedari tadi membuntutinya.

“Kalo mau bantu-bantu di belakang gak apa-apa, Cha. Ada Joo Heon sama aku,” ujar Garra diikuti senyum serta anggukan pria di sisinya.

“Ya sudah, aku tinggal, ya.”

Sejenak, Garra memandangi langkah Echa ke dapur sampai Joo Heon menyenggol lengannya.

“Ini boleh di makan?” bisik Joo Heon.

“Dih,” cibir Garra, “makan sudah.”

Senyum mengembang di wajah Joo Heon yang langsung menaruh nasi cukup banyak di mangkuk supnya. Sementara, Garra yang hanya mengambil nasi seperlunya tampak melamun memandangi lantai yang terkadang tampak bayangan orang berlalu lalang di hadapannya.

“Di Indonesia kalau ada yang meninggal juga makan-makan kaya di Korea, ya. Ngomong-ngomong sup-nya enak,” celoteh Joo Heon dengan suara amat pelan.

“Hmm,” sahut Garra yang masih makan sambil melamun.

“Itu yang kamu buatkan klinik?”

“Iya, sudah rampung?”

“Kata Min Gyu baru 65%.”

“Habis ini kita ke sana. Aku mau liat. Terus, tolong urus surat pengunduran diri Echa di Samboja. Aku mau dia keluar dari sana.”

“Siap. Nanti aku hubungi Yeon Jun biar dia uruskan semua.”

Sejenak, Echa terlihat memperhatikan perbincangan Garra serta temannya dari dapur. Dia menghela napas usai mengalihkan pandangan walau sebenarnya tidak mendengar apa yang tengah mereka perbincangkan dan kembali fokus memotong buah semangka. Seakan, tidak ada jawaban yang dia dapat dari memandangi mereka.

“Mbak ijin sampai kapan?” tanya Ayik, Kakak Sepupu Echa.

“Kalo gak ada halangan tiga hari, Kak.”

“Itu teman Mbak yang kuliah sama kerja di Korea itu, kan?”

“Iya, Kak. Itu Garra.”

Ada rasa terkejut usai mendengar jawaban datar Echa namun, Ayik yang tengah membantu memotong semangka berusaha menahan diri tatkala melihat kondisi Adiknya yang belum siap untuk menjawab apapun yang ada di kepalanya saat itu.

“Mbak, itu siapa?” tanya Lina, istri Kakak Sepupunya yang lain dan tiba-tiba ikut bergabung dengan mereka.

“Sagarra, Kak. Temen.”

Seakan tidak ingin menanggapi sosok di hadapannya, Echa pun memilih beranjak dan meninggalkan pekerjaannya. Echa menarik anaknya dan mengajaknya masuk ke kamar.

“Mami, Papi sudah sama Tuhan, ya.”

“Iya, Nak. Doakan Papi, ya. Adek tidur dulu, ya. Istirahat. Nanti malam banyak lagi Kakak yang lain ngumpul di rumah.”

Ada rasa sesak di dada tatkala Echa memeluk anak lima tahun yang perlahan memejam itu, dan perlahan ia pun ikut menutup mata ingin beristirahat sejenak.

Aku…masih berharap ini hanya mimpi. Karena setiap kali aku tidur memeluk Rouwheen, kau selalu hadir memelukku dari belakang.

Batin Echa memecah isaknya, perlahan tetesan air mata membasahi pipinya. DIa tetap memejam dan menangis dalam diam, memeluk erat buah hatinya yang telah terlelap nyaman.

TOK! TOK! TOK!

Perlahan Echa bergerak mendengar ketukan lembut dari luar, ia duduk di tepi ranjang dan melangkah pelan kearah pintu lalu membukanya dengan hati-hati.

“Kenapa, Ma?”

Diana, Mamanya tampak begitu teduh menatapnya.

“Rouwheen tidur?” tanya Diana.

“Iya, Ma, Kenapa?”

“Nanti Mama awasin. Mama duduk depan kamarmu sambil ngupasin bawang. Pintunya buka aja. Kamu ke depan, temanmu mau pamit.”

“Oh! Iya, Ma.”

“Eh, Mbak tapi, itu siapa? Garra?” tanya Diana berusaha meyakinkan hatinya.

Dibalik wajah murung dan kedua mata sembab sejak menerima kabar kematian suaminya, ada senyum yang terukir di wajahnya kali ini.

“Iya, Ma. Itu Garra. Dari awal Ibu gak pernah liat Garra ataupun David tapi, Mama satu-satunya orang yang percaya kalo mereka ada. Aku dibilang pembohong tapi, kali ini, Garra datang buatku, Ma.”

Ada air mata yang tertahan di pelupuk mata Echa, dan Diana pun tersenyum menepuk pelan lengannya serta mengangguk setuju dengan semua pernyataan Sang Anak.

“Mama, akan percaya apapun yang anak Mama ucap serta lakukan, selama itu tidak menyakiti atau merugikan orang lain.”

Bergegas Echa menghapus air matanya yang sempat mengalir.

“Sudah, temui Garra dulu. Habis itu bantu-bantu lagi, ya. Kita usaha supaya gak nyusahin orang biar Zayn pun enak di sana. Kuat, ya, Nak. Demi Rouwheen.”

“Iya, Bu. Mbak ke depan bentar, ya.”

Melangkah ke teras rumah, Echa bisa melihat Garra tengah tertawa kecil bersama Joo Heon yang tampak begitu semangat bercerita.

“Mau pulang, ya?”

Teguran Echa seketika membuat tawa Garra berubah jadi senyum riang.

“Iya, Cha. Aku masih ada kerjaan. Kalo gak ada halangan besok malam aku ke sini. Aku ngajak dia lagi sama temanku satu, ya.”

“Kamu ngomong gitu kaya miskin banget, Gar.”

Ucapan Echa hampir membuat tawa Garra lepas namun, ia tahan dengan senyum tipis.

“Ya, udah, aku pamit, ya.”

Baru Garra akan melangkah, tangan Echa yang mengayun tidak sengaja menyentuh kelingking kanan Garra.

“Oh! Kenapa, Cha?” ujar Garra yang kembali berbalik.

“Oh! Gak, gak sengaja. Aku mau garuk tanganku. Gak sengaja ngenain tanganmu.”

“Oh! Kirain. Ya sudah, aku pamit, ya.”

“Mmm…Gar?”

Sontak Garra menghentikan langkahnya dan menatap Echa yang tampak tidak nyaman.

“Aku cuma mau bilang, makasih banyak sudah datang dari subuh terus bantu-bantu sampai selesai.”

“Oh! Santai, Cha,” ujar Garra sambil mengusap sesaat lengan kanan Echa, “dah, aku pamit, ya.”

“Iya, hati-hati, ya.”

Ada masa di mana aku selalu menunggu membuktikan semuanya benar dan hari ini, Tuhan mendengar doaku walau di saat yang kurasa kurang tepat…

“Sudah kamu kabarin Yeon Jun?” tanya Garra usai mereka sudah berjalan cukup jauh dari rumah Echa.

“Udah. Lagi proses. Jadi, kita ke mana? Pulang ke rumah atau langsung ke lokasi?” tanya Joo Heon yang masih fokus menyetir.

“Ke rumah aja. Ada yang mau aku siapkan dulu.”

1
Amiera Syaqilla
beautiful story💕
goyangi13: thank u 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!