Aku punya segalanya, tapi aku tidak punya hak atas hatiku sendiri."
Juliet adalah putri mahkota dari kerajaan bisnis properti yang hidup dalam sangkar emas. Baginya, bunga adalah satu-satunya teman yang tidak pernah menghakimi. Namun, dunianya jungkir balik saat ia mempekerjakan Gaara, tukang kebun misterius dengan tatapan sedingin es namun memiliki sentuhan tangan yang ajaib pada tanaman.
Saat benih cinta mulai tumbuh di sela-sela duri mawar, Adam—tunangan sempurna dari masa lalu—datang menagih janji pernikahan. Di tengah kecemburuan Vina yang licik dan tekanan keluarga, Juliet harus memilih: Menjadi mawar indah di dalam vas kaca milik Adam, atau tumbuh liar dan bahagia di tanah bersama Gaara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: BADAI DI BALIK GERBANG PERAK
Pagi itu, Jakarta diguyur hujan lebat seolah langit sedang ikut berduka. Juliet terbangun dengan perasaan was-was yang tak kunjung reda. Kejadian sore kemarin—ancaman ayahnya, kedatangan ibu Gaara yang tiba-tiba, dan kilatan lampu kilat dari ponsel Vina—terus berputar-putar di kepalanya.
Ia menatap ponselnya. Ada tiga panggilan tak terjawab dari Adam. Hatinya mencelos. Apakah Vina benar-benar sudah mengirim foto itu?
Dengan langkah gontai, Juliet turun ke ruang makan. Ia berharap bisa menghindari ayahnya, namun harapannya pupus. Pak Wijaya sudah duduk di sana, tapi kali ini ia tidak memegang koran. Ia hanya duduk diam, menatap kosong ke arah jendela yang basah oleh air hujan. Di sampingnya, Vina duduk sambil memainkan kukunya, tampak sangat tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja memicu ledakan.
"Duduk, Juliet," suara Pak Wijaya terdengar parau, namun tetap dingin.
Juliet menarik kursi dengan hati-hati. "Pagi, Yah."
"Adam menelpon Ayah sejam yang lalu. Dia membatalkan semua jadwal proyeknya di Australia. Dia akan sampai di Jakarta besok sore."
Juliet merasa seolah ada batu besar yang menghantam dadanya. "Besok? Tapi bukannya jadwalnya bulan depan?"
"Dia melihat sesuatu yang tidak menyenangkan, Juliet," potong Pak Wijaya, matanya kini menatap tajam ke arah putrinya. "Vina mengirimkan foto-foto kalian di taman. Adam mengamuk. Dia pikir calon istrinya sedang bermain api dengan seorang kuli kebun."
Juliet menoleh ke arah Vina dengan tatapan membara. "Puas kau, Vina? Kau senang menghancurkan hidup orang lain?"
Vina mengangkat bahu dengan acuh. "Aku hanya menyelamatkan nama baik keluarga, Jul. Kau seharusnya berterima kasih padaku sebelum kau benar-benar mempermalukan dirimu sendiri."
"Cukup!" Pak Wijaya menggebrak meja. "Aku sudah memanggil agen penyalur itu. Aku meminta mereka menjemput Gaara pagi ini. Dia dipecat. Dan jangan harap dia bisa membawa ibunya yang penyakitan itu kembali ke rumah sakit mana pun di bawah naungan grup Wijaya."
"Ayah, itu tidak adil!" Juliet berdiri, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Dia tidak melakukan kesalahan apa pun! Aku yang mendekatinya! Aku yang memberikan uang itu!"
Pak Wijaya berdiri, wajahnya memerah karena amarah. "Justru karena itu dia harus pergi! Dia racun bagimu, Juliet. Dia membuatmu membangkang pada Ayahmu sendiri. Sekarang, masuk ke kamarmu dan jangan keluar sampai Adam datang besok!"
Juliet tidak menurut. Begitu ayahnya berangkat ke kantor dengan pengawalan ketat, Juliet langsung berlari menuju paviliun belakang. Ia tidak peduli pada hujan yang mulai membasahi gaun tidurnya.
Ia sampai di paviliun dan menemukan pintu terbuka sedikit. Di dalam, ia melihat Gaara sedang merapikan sebuah tas ransel tua. Ibunya duduk di ranjang kecil, tampak lebih pucat dari kemarin, memegang botol obat dengan tangan gemetar.
"Gaara..." panggil Juliet terengah-engah.
Gaara menoleh. Ekspresinya sangat datar, seolah ia sudah menduga hal ini akan terjadi. "Anda seharusnya tidak di sini, Nona."
"Ayah memecatmu. Dia... dia juga mengancam ibu kalian," Juliet melangkah masuk, mengabaikan genangan air yang terbawa dari alas kakinya. "Maafkan aku, Gaara. Semua ini karena aku."
Gaara meletakkan tasnya dan berjalan mendekati Juliet. Ia berdiri tepat di depan gadis itu. Hujan di luar semakin deras, suaranya menghantam atap seng paviliun dengan bising.
"Jangan minta maaf," ucap Gaara tenang. "Ini bukan karena Anda. Ini karena dosa masa lalu yang akhirnya menagih janji. Ayah Anda takut, Juliet. Dia takut setiap kali melihat wajah saya, dia melihat kejahatannya sendiri."
"Apa maksudmu? Apa yang sebenarnya terjadi antara Ayahku dan keluargamu?"
Gaara menatap ibunya sejenak, lalu kembali menatap Juliet. "Ayah saya adalah otak di balik desain taman-taman grup Wijaya sepuluh tahun lalu. Tapi Ayah Anda menyabotase kontrak kami, menuduh Ayah saya melakukan penggelapan dana, dan mengambil alih seluruh hak paten desainnya. Ayah saya bangkrut dan meninggal dalam keadaan dihina. Dan sekarang, saya kembali ke sini bukan untuk mawar-mawar ini, tapi untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi warisan saya."
Juliet menutup mulutnya dengan tangan. Ia tidak menyangka ayahnya yang ia kenal sebagai pahlawan bisnis ternyata memiliki sisi sekelam itu.
"Lalu kenapa kau tetap di sini saat aku menghinamu? Kenapa kau merawat mawar-mawar itu dengan sepenuh hati?" tanya Juliet lirih.
Gaara tersenyum pahit. Tangan kasarnya perlahan terangkat, merapikan rambut Juliet yang basah karena hujan. Sentuhannya lembut, kontras dengan kata-katanya yang tajam. "Karena mawar-mawar itu adalah milik Ibu Anda. Dan Ibu Anda adalah satu-satunya orang yang membela Ayah saya saat semua orang menjauh. Saya melakukannya untuk menghormati beliau, bukan untuk Ayah Anda."
Tiba-tiba, suara klakson mobil mewah terdengar dari arah gerbang depan. Itu bukan mobil agen penyalur. Itu adalah sedan hitam mengkilap yang sangat dikenali Juliet.
"Adam..." bisik Juliet ketakutan. "Dia datang lebih cepat."
Gaara menarik tangannya kembali. Ia mengambil tas ranselnya dan mengenakannya di bahu. "Waktunya sudah habis, Nona. Pangeran Anda sudah datang untuk menjemput miliknya."
"Jangan pergi seperti ini, Gaara. Aku akan bicara padanya!"
"Jangan," cegah Gaara. Ia menuntun ibunya berdiri. "Biarkan dia melihat saya pergi sebagai pecundang. Itu akan membuatnya merasa menang. Tapi beritahu dia satu hal... mawar yang dipetik paksa hanya akan bertahan sebentar di dalam vas, sebelum akhirnya layu dan mati."
Juliet berdiri mematung di teras paviliun saat melihat Gaara memapah ibunya keluar melewati pintu samping, tepat saat Adam turun dari mobilnya di halaman depan dengan payung hitam besar yang dipegang oleh ajudannya.
Adam tampak sangat rapi. Setelan jas mahalnya tidak tersentuh setetes air pun. Ia melangkah menuju teras rumah utama, namun matanya langsung tertuju pada Juliet yang berdiri jauh di belakang, basah kuyup di dekat paviliun.
"Juliet!" teriak Adam.
Adam berlari menghampiri Juliet, mengabaikan sepatu kulit mahalnya yang kini kotor terkena lumpur. "Apa yang kamu lakukan di sini? Kamu basah kuyup! Di mana si kurang ajar itu?"
Juliet menatap Adam. Pria di depannya ini sangat tampan, sangat mapan, dan sangat mencintainya—setidaknya menurut standar Adam sendiri. Tapi di mata Juliet, Adam terlihat seperti orang asing yang mencoba memiliki sesuatu yang tidak dia mengerti.
"Dia sudah pergi, Adam," ucap Juliet dengan suara kosong.
Adam mencengkeram bahu Juliet, matanya dipenuhi kecemburuan yang meledak-ledak. "Bagus! Dia seharusnya membusuk di penjara karena berani menyentuhmu. Aku melihat foto itu, Juliet. Apa yang dia lakukan padamu? Apa dia mengancammu?"
Juliet melepaskan cengkeraman Adam dengan perlahan. "Dia tidak melakukan apa pun, Adam. Dia hanya merawat bunga yang selama ini aku telantarkan. Sama seperti kamu merawatku... kamu hanya peduli pada tampilannya, bukan pada apa yang ada di dalamnya."
"Apa katamu?" wajah Adam memerah. "Aku terbang ribuan kilometer hanya untuk memastikan kamu baik-baik saja! Aku mencintaimu!"
"Cinta tidak butuh pengawasan 24 jam, Adam. Dan cinta tidak butuh foto dari Vina untuk membuktikan kesetiaan."
Juliet berjalan melewati Adam, masuk ke dalam rumah. Ia mengabaikan panggilan Adam yang berkali-kali meneriakkan namanya.
Di dalam, Vina berdiri di dekat tangga, tersenyum sinis melihat sepupunya yang menyedihkan. "Drama yang bagus, Jul. Tapi sayangnya, pemeran utamanya sudah pergi ke jalanan."
Juliet berhenti di depan Vina. Tanpa peringatan, ia menyiramkan sisa air hujan dari rambutnya ke wajah Vina.
"Selamat bersenang-senang dengan kemenanganmu, Vina. Tapi ingat, tanah yang kau injak hari ini mungkin akan menguburmu besok," ucap Juliet dingin sebelum melangkah ke kamarnya.
Malam itu, taman mawar terasa sangat sunyi. Tidak ada senandung rendah, tidak ada cahaya senter kepala yang bergerak di antara dedaunan. Juliet meringkuk di tempat tidurnya, mendengarkan suara hujan yang tak kunjung reda.
Ia membuka laci mejanya dan mengeluarkan mawar kering pemberian Gaara. Ia menyadari satu hal: Gaara mungkin sudah pergi secara fisik, tapi pria itu telah menanam sesuatu di dalam hati Juliet yang tidak bisa dicabut oleh siapa pun—bahkan oleh Adam dengan semua hartanya.
Di tempat lain, di sebuah kontrakan kecil yang pengap di pinggiran kota, Gaara duduk di lantai, menatap jendela yang bocor. Ia meraba sakunya dan mengeluarkan sebuah foto Polaroid tua—foto Juliet yang sedang tertawa di taman yang ia ambil secara diam-diam.
"Tunggu aku, Juliet," bisik Gaara pada kegelapan. "Aku akan kembali, bukan sebagai tukang kebunmu, tapi sebagai seseorang yang akan meruntuhkan istana ayahmu."
Duri telah menancap, dan luka mulai bernanah. Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai.
...****************...