NovelToon NovelToon
Cinta Diruang Trauma

Cinta Diruang Trauma

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Single Mom
Popularitas:155
Nilai: 5
Nama Author: Anjelisitinjak

Bagaimana rasanya dihancurkan oleh orang-orang yang seharusnya melindungimu? Dari orang tua yang egois hingga 'cinta' yang berujung pada tindak kriminal dan hilangnya kehormatan. Novel ini adalah perjalananku menghadapi kenyataan bahwa dunia tidak pernah adil. Tentang bagaimana berdiri di antara pengkhianatan keluarga dan trauma masa remaja yang merusak harga diri. Saat pintu-pintu baru mulai terbuka, justru ingin lari. Karena tahu, tidak semua yang datang berniat menyembuhkan beberapa mungkin hanya ingin mematahkan apa yang sudah retak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjelisitinjak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 1

 Krrrriiiingggggg!!!!!!

Suara itu melengking, menusuk gendang telingaku untuk kesekian kalinya. Itu adalah alarm ketiga atau mungkin keempat, aku tidak yakin karena jemariku sudah terlalu sering menekan tombol snooze dengan gerakan malas. Mataku masih terasa berat, seolah enggan untuk benar-benar terbuka dan menghadapi kenyataan.

Pukul 06.30.

Aku menghela napas panjang, menatap langit-langit kamar yang masih remang. Rasanya butuh seluruh kekuatan di dunia hanya untuk sekadar bangkit dan duduk di tepi tempat tidur. Dengan wajah kusut dan rambut yang berantakan, aku terdiam sejenak, mengumpulkan kepingan-kepingan jiwaku yang rasanya masih tertinggal di alam mimpi satu-satunya tempat di mana aku merasa aman.

Namun, dunia luar tidak akan menungguku pulih.

Aku bergegas menuju kamar mandi. Guyuran air dingin setidaknya membantu mengusir sisa-sisa sesak yang seringkali muncul tanpa diundang setiap pagi. Hari ini, aku harus terlihat "normal". Aku harus menjadi mahasiswi yang rajin mahasiswi yang tampak baik-baik saja di depan semua orang.

Namaku Hana Alysia Aku adalah mahasiswi semester tujuh yang seharusnya hanya memikirkan revisi skripsi dan judul penelitian. Namun, di balik tumpukan buku dan draf skripsi itu, aku membawa beban lain yang jauh lebih berat. Sebuah "ruang" di dalam hatiku yang penuh dengan luka lama yang belum juga mengering.

Dan hari ini, aku harus keluar lagi dari kamar ini, kembali berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.

Aku melangkah menuruni anak tangga dengan harapan bisa mengisi perut yang sedari tadi keroncongan. Namun, baru saja kakiku menyentuh lantai bawah, sebuah suara pecah dan teriakan yang melengking menghentikan langkahku seketika.

Lagi Suara itu terdengar lagi.

Ayah dan Ibu. Aku tidak tahu sudah berapa ratus kali adegan ini terulang di depan mataku. Mereka seolah memiliki persediaan amarah yang tidak pernah habis, saling melempar kata-kata tajam yang lebih menyakitkan daripada luka fisik. Mereka begitu sibuk saling menyakiti hingga lupa bahwa ada aku di sini putrinya, yang sedang berdiri di balik dinding dengan jantung berdegup kencang dan tangan yang mulai gemetar.

Niatku untuk sarapan menguap begitu saja. Rasa lapar yang tadi mencecap tiba-tiba digantikan oleh gumpalan sesak yang menyumbat tenggorokan. Percuma saja aku di sini, suasananya sudah terlalu beracun untuk dihirup.

Aku berbalik arah menyambar kunci motor di atas meja kecil dekat pintu, dan keluar tanpa pamit. Aku hanya ingin lari.

Suara mesin motor matic-ku menderu, memecah kebisingan dari dalam rumah yang masih saja terdengar hingga ke halaman. Aku memacu motorku membelah jalanan pagi, membiarkan angin dingin menerpa wajahku yang sudah mulai panas karena air mata yang susah payah kutahan.

Bagiku, perjalanan ke kampus bukan sekadar untuk menuntut ilmu. Itu adalah pelarian.

...****************...

Hana!!!"

Sebuah lengkingan suara yang sangat akrab memecah lamunanku di lorong kampus. Aku berbalik dan mendapati Dhea dan Diva sedang berlari kecil ke arahku.

Wajah mereka cerah, kontras sekali dengan suasana hatiku yang baru saja melewati perang di rumah.

"Eh, lo udah selesai tugas belum? Terus gimana kabar skripsi lo? Bab tiga aman, kan?"

Dhea langsung memberondongku dengan pertanyaan, sementara Diva merangkul bahuku dengan akrab.

Aku tersenyum sebuah senyuman yang sudah otomatis terpasang setiap kali aku menginjakkan kaki di gedung ini. Kami mulai berjalan beriringan menuju kelas, bercengkerama tentang dosen yang pelit nilai hingga progres penelitian yang macet.

Di sinilah, di antara tawa Dhea dan celotehan Diva, aku merasa sedikit bernapas. Bersama mereka, aku merasa Normal Aku merasa menjadi Hana yang mahasiswi, bukan Hana yang menjadi saksi bisu kehancuran orang tuanya.

1
li l
next part thor up jam berapa 🤭
Anjeli: hehe ditunggu ya jangan lupa like dan vote nya🫶😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!