NovelToon NovelToon
Izinkan Aku Mencinta

Izinkan Aku Mencinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Romansa / Perjodohan
Popularitas:384
Nilai: 5
Nama Author: Amerta Nayanika

Kinan tak pernah siap kehilangan, terlebih dalam satu malam yang mengubah seluruh hidupnya. Kecelakaan itu bukan hanya merenggut tunangannya, tetapi juga meninggalkan trauma yang perlahan hinggap dalam dirinya.

Alana hadir sebagai perawat—sekedar menjalankan tugas, tanpa tahu bahwa langkah kecilnya akan membawanya masuk ke dalam kisah yang rumit. Ketulusan yang ia berikan justru membuat keluarga Kinan memintanya bertahan… bahkan menikah.

Hubungan yang seharusnya sederhana itu berubah menjadi pertaruhan perasaan.
Sebab mencintai Kinan berarti bersedia berbagi ruang dengan masa lalu yang belum pergi.

Akankah Alana mampu bertahan, atau justru terluka oleh cinta yang belum selesai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amerta Nayanika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Prolog

Suara sirine menguar nyaring menusuk telinganya. Gemerlap lampu yang menyapa pandangan bukan lagi berasal dari gedung-gedung bertingkat yang ada di sekelilingnya. Cahaya merah yang terus berkedip membuat kepalanya pening tiada tara.

Nafasnya memburu, Kinan bahkan tidak yakin aroma apa yang dia hirup saat ini. Ada bau bensin menyengat, ada juga bau anyir yang entah dari mana asalnya. Yang pasti, dia merasa kakinya melayang saat berjalan.

"Pak! Tolong jangan tidur! Tetap buka mata anda!" pinta seorang pria yang kini memapahnya dengan seseorang yang lain.

Suara itu terdengar samar, tapi Kinan yakin bahwa pemilik suara sudah berteriak sekecang mungkin di samping telinganya. Sayangnya, matanya terlalu berat untuk terbuka. Kakinya mati rasa. tubuhnya terombang-ambing mengikuti ke mana kedua orang pria ini membawa tubuhnya.

Kinan menaikkan alisnya guna memastikan dirinya tetap terjaga. "Tunangan saya mana, Mas?" tanyanya parau.

Dengan sisa tenaga yang dia punya, Kinan berusaha menolehkan kepalanya yang terasa berat. Dia pandangi mobilnya yang sudah tak berbentuk tertimpa truk yang terguling di jalan yang menanjak.

Di antara kerlip lampu yang terus menyala, Kinan dapat melihat seberkas kilauan perak di balik pecahan kaca dan potongan baja. Benda yang sama seperti yang kini melingkar di jari manisnya. Benda yang mengikat keduanya dalam hubungan menuju pernikahan.

Saat itu juga, Kinan meluruhkan tangannya dari kedua bahu yang memapahnya. "Itu tunangan saya, Pak."

"Olin! Olin!" teriaknya.

Dalam sekejap, tenaganya kembali pulih. Kakinya kini melangkah cepat meski tertatih. Tak dia pedulikan cairan merah yang membasahi dahi dan menetes mengotori kemejanya. Atau bahkan nyeri di kepalanya yang sempat terbentur.

"Pak! Jangan! Bahaya!"

Teriakan itu tak dipedulikan oleh Kinan. Begitu pula kedua pria yang berusaha meraih tubuhnya untuk kembali dipapah menuju ambulance.

Namun, tinggal beberapa langkah tersisa. Saat Kinan sudah dapat melihat helai rambut kekasihnya yang basah bersimbah darah di bawah tumpukan baja. Sebuah ledakan menyuruhnya segera pergi, menjauhkannya dari kekasihnya yang tak lagi dapat membuka mata di bawah kobaran api.

Saat itu pula, pendengaran Kinan kembali tajam. Beberapa teriakan histeris tertangkap pendengarannya. Sementara, matanya menatap kosong pada puing-puing baja yang patah dan semakin menghitam.

"Pak! Dengar saya!" ucap seorang pria yang tadi memapahnya.

Pria itu dengan sigap langsung memutuskan pandangan Kinan dari kobaran api yang menyala di depan sana. "Ini berat, tapi anda harus berusaha ikhlas," lanjutnya iba.

Kini Kinan seolah kehilangan jiwanya. Pandangannya kosong entah lari ke mana. Tubuhnya seolah melayang pergi bersama cintanya yang merenggut nyawa tepat di depan matanya.

"Kenapa kalian menolong saya?" tanyanya lirih.

Hidung Kinan mulai memerah, matanya kian berembun bukan sekedar karena hawa panas yang menyelimuti tubuhnya, tapi juga kesedihan dan kedukaan yang kian menggerogoti hatinya.

"Padahal kalian melihat saya bersama seorang wanita, kenapa kalian lebih memilih menolong saya?" tanyanya sekali lagi.

Kedua pria itu terdiam, mereka mengerti bahwa Kinan masih tak dapat menerima semua ini sebagai kenyataan. Namun, rasa sakit di kakinya yang bersimbah darah tentu tak bisa memungkiri bahwa semua ini bukan sekedar mimpi.

"Anda yang paling mungkin un--"

Kalimat itu terpotong, seorang pria yang berjongkok di depan Kinan menghentikan kawannya untuk menjelaskan. Sepanjang apa pun kalimat yang akan keluar dari bibir mereka, tak akan berarti bagi Kinan.

Pria itu kini menunduk dalam. Air mata yang jatuh ke atas celananya kini berwarna merah. Cukup deras tak terbendung.

Bibir keringnya terus bergerak, merapalkan nama Olin yang sudah tak lagi dapat mendengarnya. Wanita yang dia cintai, pergi dalam sekejap mata. Meninggalkan luka tak terlihat dalam dirinya.

Sepasang baju pengantin yang baru mereka ambil dari butik, ikut menghilang di dalam mobil yang bergeming. Kain putih suci itu kini bersimbah darah. Beberapa titiknya ikut terbakar bersama dengan tubuh sang wanita yang masih terapit patahan baja.

Pernikahan mereka tinggal menghitung hari. Namun, Kinan harus menerima kenyataan bahwa sepasang baju pengantin itu tak akan dapat mereka kenakan lagi. Dan, Kinan akan berdiri di pelaminan seorang diri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!