SEKUEL DARI CINTA LAMA BELUM KELAR
Dalam kisah ini didominasi perjalanan cinta antara Sasa dan Sakti, restu orang tua dari Sakti yang belum juga turun, meski pernikahan mereka sudah berjalan kurang lebih 5 tahun, bahkan kedua anak Iswa sudah sekolah, namun hubungan mertua dan menantu ini tak kunjung membaik.
Kedekatan Sakti dan kedua anak mendiang adiknya, Kaisar, Queena dan Athar membuat Sasa overthinking dan menuduh Sakti ada fair dengan Iswa. Setiap hari mereka selalu bertengkar, dan tuduhan selingkuh membuat Sakti capek.
Keduanya memutuskan untuk konsultasi pernikahan pada seorang psikolog yakni teman SMA Sakti, Mutiara,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
REUNI
"Kamu dengan Sasa gimana?" tanya Mutiara yang ikut acara semi reuni ini. Sebenarnya ini bukanlah reuni, tapi lebih tepatnya ada salah seorang teman mereka, yakni Yovie membuat taman buah dan juga villa, hari ini grand launchingnya. Nah dia mengajak teman-temannya untuk berpartisipasi meramaikan sekalian promosi. Teman Sakti jelas sudah banyak yang punya anak, sehingga di taman itu ada pengalaman untuk latihan berkebun dengan media hidroponik, aquaponik, siram area kebun buah, maupun petik buah dan sayur. Bisalah dibuat promosi lah, mereka.
Selain taman buah, dan juga villa, konsep.cafe outdoor di tengah-tengah sungai buatan dan sawah membuat pengunjung semakin betah, sungguh Yovie sangat pintar membaca peluang destinasi liburan keluarga di daerah ini.
"Makin buruk, dia menuduh kita punya hubungan di balik bantuan psikolog yang kamu berikan," ucap Sakti sembari menyeruput kopi latte dengan ditemani sunset di cafe ini.
"Pasti karena kejadian rumah sakit, kalau dipikir memang kita salah, Sakti. Gak seharusnya aku terima bantuan kamu, apalagi sampai kamu menyuapi. Kamu yang gak peka dengan Sasa bisa inisiatif sama aku. Harusnya aku langsung minta maaf pada Sasa baik lisan maupun chat, tapi kamu selalu melarang," ujar Mutiara tak enak hati. Wajar saja dia sebagai perempuan yang pernah dikhianati oleh suami, dan posisinya hampir sama dengan Sasa, melihat suami jalan dengan perempuan lain padahal masih status suami istri, sangat menyakitkan.
"Gak perlu, Ti. Menghadapi Sasa tuh seperti buah simalakama, serba salah. Kalau kita minta maaf, dia akan merasa tinggi dan terus menyalahkan kita. Tapi kalau kita cuek, dia akan gembor-gembor seolah kesalahan hanya pada kita. Jadi mending diam dan tak menggubris."
Mutiara tertawa, "Percaya deh yang pernah jadi suami kecintaan," ledek Mutiara. Sakti hanya tersenyum saja.
"Titik balikku saat adikku meninggal, Ti. Di situ aku merasa kok aku jahat banget jadi anak. Mama dan papa belum tentu menolak Sasa kalau sejak awal aku mengenalkan dengan cara yang baik, tak perlu menuruti overthinkingnya. Cuma aku kok bodoh banget menghargai perasaan Sasa yang ujung-ujungnya tetap aku dianggap tak pernah peka. Mungkin selama ini aku sudah berjalan lurus, jadi cowok baik, gak pa-pa kan sekali melakukan kesalahan dengan pernikahan ini. Aku sadar kok, Ti. Pernikahan ini salahnya di aku," ucap Sakti sepertinya sudah introspeksi.
Mutiara tersenyum melihat temannya yang sudah bisa mengambil pelajaran hidup selama 5 tahun ini. "Hebat, tak semua lelaki mau mengakui kesalahannya seperti kamu. Kebanyakan mereka setelah melakukan kesalahan ya masih menganggap dia benar, dan menyalahkan pihak perempuan."
"Jangan bilang pria itu Karim," sindir Sakti dan Mutiara tertawa.
"Salah satunya," jawab Mutiara bijak.
Keduanya pun masih mengobrol asyik soal kesalahan dalam rumah tangga mereka, saling introspeksi dengan teman yang sefrekuensi begini, sangat plong saja.
Di saat Sakti mulai belajar release uneg-uneg bersama Mutiara, di kantor Sasa bikin masalah. Dia uring-uringan sekali. Hatinya dongkol karena Sakti tak masuk dan membayangkan Sakti akan berdekatan dengan Mutiara atau bahkan perempuan lain, sampai-sampai Aulia dan Mita yang biasanya bercanda dengan Sasa tak berani mendekat.
"Kok lama-lama Mbak Sasa seperti ODGJ ya, Mit. Gampang banget emosi," ujar Aulia sembari mengetik kerjaannya, dengan sedikit melirik pada tempat kerja Sasa.
"Sst, gak usah dibahas. Kemarin aku dengar orang-orang grasak-grusuk, Mbak Sasa diceraikan Pak Sakti karena dia mulai gini," ujar Mita sembari memberi kode miring di keningnya.
"Gila?" spontan Aulia berteriak sedikit keras, namun buru-buru dibungkam. Mita mengangguk pelan.
Aulia menatap Sasa sebentar, dan kembali lagi pada Mita. "Apa yang membuat dia tertekan samapi miring ya, Mit. Sedangkan segala macam kemewahan dan harta Pak Sakti banyak, beliau bukan tipe orang pelit deh. Mobil Mbak Sasa saja sebagai karyawan biasa gak mungkin kebeli."
"Kita gak tahu rumah tangga orang, Aul. Siapa tahu masalah komunikasi. Pak Sakti tegas dan kaku, sedangkan Mbak Sasa kita tahu sendiri sedikit keras kepala juga kan," ujar Mita membaca karakter masing-masing dan diangguki oleh Aulia.
"Padahal kalau aku sebagai Mbak Sasa tinggal nurut saja sih, asalkan uang masih mengalir. Alihkan saja buat healing atau nyalon!" ujar Aulia membayangkan sesimpel itu mengatasi permasalahan rumah tangga.
"Itu mah kamu!" ujar Mita sembari menyenggol pundak rekan kerjanya.
"Ingat Sayang, harta dan tahta, jelek tak pa-pa, asalkan ada duitnya," ujar Aulia menirukan sebuah lagu. Keduanya cekikikan, namun beberapa detik kemudian terdengar perdebatan lagi.
Sasa membentak salah satu anak magang, karena kesalahan print menggunakan F4 harusnya A4. "Kamu itu paham gak sih, sudah aku tuliskan kertas A4, kenapa harus print F4?" sentak Sasa sembari melempar bandel kertas itu.
"Maaf, Bu. Setting di berkasnya F4, saya pikir pakai kertas itu!"
"Ya kamu gak baca atau tanya saya, main print. Harusnya kalau kamu masih magang, gak usah ambil keputusan sendiri. Masih magang saja sok tahu," ujar Sasa lepas kontrol sampai merendahkan anak magang. Aulia dan Mita pun memberi kode pada anak magang tersebut untuk diam saja, tak perlu dibantah.
"Gak usah minta kerjaan kalau kamu gak becus," lanjut Sasa lagi. Anak Magang tersebut hanya diam saja. Aulia dan Mita merasa kasihan, dia calon sarjana S1 gak sepatutnya ditegur seperti itu.
Sasa masih mengomel, senior yang lain hanya menggelengkan kepala saja. "Kerja sama orang gini amat sih," ujar si anak magang frustasi. Aulia dan Mita tak menggubris hanya menepuk pundak dan menyodorkan sebungkus permen cokelat sembari berbisik, sabar.
Suasana kantor masih tegang, mereka tak berani atau mungkin malas berurusan dengan mantan istri Pak Bos. Bisa sajakan Sasa masih punya power, cerai juga baru beberapa hari. Sekertaris Sakti terpaksa membalas dengan jujur saat Sakti tanya soal kantor.
Sebenarnya kantor aman sih, Pak. Bahkan Pak Fandy yang menggantikan meeting Anda, juga beres. Hanya saja Bu Sasa, Pak. Yang membuat kantor semakin tegang.
Kenapa? balas Sakti. Sekertaris Sakti kemudian menceritakan perdebatan Sasa dengan beberapa rekan lain, puncaknya pada anak magang.
Biarkan saja. Usahakan gak usah berkaitan dengan Sasa dulu, thanks laporannya. Besok saya belum bisa masuk, kalau ada apa-apa langsung kirim kabar.
Baik, Pak.
Baru saja saja menutup room chat dengan Sakti, Sasa datang dan langsung menodong pertanyaan pada sang sekertaris. "Pak Sakti kasih kabar gak?" tanya Sasa dengan nada lembut.
Tentu saja sekertaris Sakti gelagapan, jangan sampai Sasa minta dibacakan chat Sakti pada sang sekertaris.
"Hah? Hoh, tadi Bu Sasa!" ucapnya sedikit gugup.
"Bilang apa?" tanya Sasa kepo sembari menatap perempuan muda itu dengan tajam.
eh kok g enak y manggil nya