Arsy Raihana Syahira percaya hidupnya akan sempurna. Pernikahan yang tinggal menghitung hari mendadak batal, setelah ia memergoki calon suaminya sendiri berselingkuh dengan sahabat yang selama ini ia percayai dengan sepenuh hati.
Belum sempat Arsy bangkit dari keterpurukan, cobaan lain kembali menghantam. Ayahnya mengalami serangan jantung dan terbaring kritis setelah mengetahui pengkhianatan yang menimpa putri kesayangannya. Dalam satu waktu, Arsy kehilangan cinta, kepercayaan, dan hampir kehilangan orang yang paling ia cintai.
Di tengah kehancuran itu, datanglah Syakil Arrafiy—CEO sekaligus teman semasa sekolah, dan lelaki yang diam-diam telah mencintai Arsy sejak lama. Mendengar kabar tentang Arsy, Syakil datang ke rumah sakit tanpa ragu. Di hadapan ayah Arsy yang terbaring lemah, Syakil mengucapkan sebuah permohonan yang tak pernah Arsy bayangkan sebelumnya: melamar Arsy sebagai istrinya.
Maukah Arsy menerima lamaran pernikahan dari laki laki yang telah lama mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Pak Rahman menatap Arsy cukup lama. Seolah sedang menghafal wajah putrinya untuk yang terakhir kalinya. Setiap lekuk, setiap garis, setiap air mata yang jatuh tanpa suara.
“Nak…” katanya pelan dan napasnya tersendat. “Dengerin ayah baik-baik.”
Arsy menggeleng keras.
“Jangan ngomong gitu, Yah,” pinta Arsy cepat dan panik. “Lebih baik ayah istirahat aja. Ayah masih lemah. Nanti kita ngobrol lagi kalau ayah sudah lebih baikan.”
Pak Rahman tersenyum kecil. Senyum yang membuat dada Arsy terasa nyeri luar biasa.
“Ayah nggak bisa nak, waktu ayah udah nggak banyak lagi.”
“Enggak!” Arsy langsung memotong perkataan ayahnya, suaranya meninggi karena ketakutan. Air matanya jatuh semakin deras.
“Jangan ngomong gitu, Ayah. Arsy nggak mau dengerin itu.”
Pak Rahman menggenggam tangan Arsy dengan sisa tenaganya. Genggaman itu terasa lemah, tapi sarat makna.
“Dengerin ayah, Arsy.” ucap pak Rahman lirih namun tegas. “Ayah mohon.”
Arsy terisak. Dadanya naik turun tidak beraturan. Ia menunduk, keningnya menyentuh tangan ayahnya, membuat pak Rahman menarik napas panjang dengan susah payah, lalu menoleh ke arah Syakil.
“Syakil…” panggilnya pelan dan membuat Syakil tersentak. Ia segera mendekat dan berdiri tegak di sisi ranjang pak Rahman.
“Iya, Pak,” jawabnya dengan suara rendah penuh hormat.
Pak Rahman menatapnya lama. Tatapan seorang ayah yang sedang menilai masa depan anaknya di mata seorang lelaki.
“Ayah ingin kalian menikah,” ucap Pak Rahman terbata-bata. “Sekarang.”
Kata itu jatuh seperti petir di tengah ruangan dan membuat Arsy mengangkat kepalanya dengan cepat.
“Ayah!” serunya panik. “Jangan mikirin itu sekarang. Ayah fokus sembuh dulu, ya. Urusan Arsy nanti saja.”
Pak Rahman menggeleng pelan. Napasnya semakin berat.
“Tidak, Nak… Ayah tidak mau nanti,” katanya lirih. “Ayah ingin melihat kamu menikah dan berada dalam penjagaan laki laki yang tepat sebelum Ayah pergi nanti.”
“Ayah nggak akan pergi ke mana-mana!” tangis Arsy pecah. “Ayah masih harus nemenin Arsy. Ayah masih harus lihat Arsy bahagia. Jangan tinggalin Arsy sekarang yah…”
Tangis Arsy berubah menjadi isakan yang tak tertahan. Tubuhnya gemetar. Tangannya mencengkeram seprai ranjang ayahnya seolah itu satu-satunya penopang hidupnya. Pak Rahman mengangkat tangannya perlahan dan menyentuh pipi Arsy dengan gerakan yang begitu lemah.
“Arsy… Nak… dengerin ayah…”
Arsy menunduk dan menangis di tangan ayahnya.
“Waktu ayah sudah sangat dekat,” lanjut Pak Rahman dengan suara putus putus. “Dan ayah… ayah tidak akan tenang… kalau kamu ayah tinggalkan sendirian.”
Syakil berdiri kaku. Tenggorokannya terasa kering. Hatinya berdenyut keras menyaksikan percakapan yang terlalu sakral untuk disela.
“Ayah ingin kamu punya imam,” kata Pak Rahman pelan. “Laki-laki yang menjaga kamu, yang melindungi kamu, yang mencintai kamu dan bukannya yang menyakiti kamu.”
Arsy menangis semakin keras.
“Arsy belum siap, Yah…” Arsy terisak. “Arsy masih butuh Ayah.”
Pak Rahman tersenyum tipis. Air matanya menggenang di sudut matanya.
“Kamu harus siap, Nak,” katanya lembut. “Ayah yakin kamu adalah perempuan yang kuat dan lebih kuat dari yang kamu kira.” pak Rahman menoleh kembali ke arah Syakil.
“Syakil…” panggilnya lagi. “Mendekat lah.”
Syakil melangkah lebih dekat. Ia bahkan berlutut sedikit agar sejajar dengan pandangan Pak Rahman.
“Saya di sini, Pak,” ucapnya lirih dan membuat pak Rahman menatap Syakil dalam-dalam.
“Bapak minta tolong sama kamu buat jagain Arsy,” katanya dengan suara gemetar. “Dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit. Jangan pernah kau biarkan dia menangis sendirian lagi.”
Syakil menelan ludahnya dengan berat. Matanya tampak berkaca-kaca.
“Saya bersumpah, Pak,” ucap Syakil dengan tegas. “Akan selalu menjaga Arsy dengan segenap hidup saya.”
Pak Rahman mengangguk pelan, lalu kembali menatap Arsy.
“Ayah ingin… Ayah sendiri yang jadi wali nikah kamu,” katanya lirih. “Itu permintaan terakhir Ayah.”
Kalimat itu menghantam Arsy tanpa ampun.
“Ayah…” Arsy menggeleng keras. “Jangan bilang itu permintaan terakhir, Arsy mau ayah sembuh dan terus nemenin Arsy.”
Pak Rahman tersenyum lagi. Senyum yang kali ini benar-benar terasa seperti perpisahan.
“Jika kamu menolak, Ayah akan pergi dengan hati yang gelisah,” katanya pelan. “Tolong kabulkan permintaan ayah ya, nak.”
Tangisan Arsy pecah sepenuhnya. Tubuhnya condong ke depan, dahinya menempel di tangan ayahnya.
“Kenapa ayah jahat banget sama Arsy,” isaknya lirih. “Kenapa Ayah minta Arsy untuk hidup sendirian di dunia ini tanpa kehadiran ayah,”
Pak Rahman mengusap kepala Arsy sekuat tenaga yang ia punya.
“Karena ayah sayang sama kamu, nak.” katanya pelan. “Sudah saatnya ayah kembali untuk menemani mama kamu diatas sana.”
Arsy terdiam cukup lama. Tangisnya berubah menjadi isak pelan yang tersengal. Dadanya terasa seperti diremas tangan tak kasat mata. Ia menoleh ke arah Syakil. Lelaki itu menatapnya dengan mata yang penuh ketulusan, tanpa paksaan, tanpa tuntutan.
“Arsy…” panggil Syakil pelan. “Apa pun keputusan kamu, aku akan menghormatinya.”
Kata-kata itu justru membuat tangis Arsy kembali pecah. Ia kembali menatap ayahnya. Wajah yang selama ini membesarkannya. Tangan yang selama ini menjadi tempat ia pulang.
“Ayah…” katanya dengan suara yang nyaris tak bersisa. “Kalau itu yang Ayah mau, kalau itu yang bikin Ayah tenang,” Arsy menarik napas panjang, sangat panjang, seolah sedang menguatkan dirinya untuk sebuah keputusan yang akan mengubah seluruh hidupnya.
“Arsy… bersedia.”
Pak Rahman membeku untuk sesaat. Lalu, senyum paling lega terukir di wajahnya. Sementara air mata jatuh dari sudut matanya.
“Alhamdulillah…” bisiknya lirih.
Tangannya mencengkeram tangan Arsy dan Syakil sekaligus, menyatukan keduanya dengan sisa tenaga yang ia miliki.
“Terima kasih udah mau kabulkan permintaan terakhir ayah ya, Nak…” ucap pak Rahman pelan. “Terima kasih.”
Arsy menangis tanpa suara. Dadanya sesak, hatinya hancur, tapi di balik semua itu ia tahu, ia baru saja mengabulkan permintaan terakhir seorang ayah yang mencintainya lebih dari hidupnya sendiri.
Ruangan IGD kembali terasa sunyi, meski sebenarnya dipenuhi suara mesin yang berdetak, langkah suster yang tergesa-gesa diluar, dan napas berat Pak Rahman yang kian tak teratur. Waktu seakan menahan dirinya sendiri, menunggu satu keputusan yang telah diucapkan, tapi belum sepenuhnya diterima oleh hati Arsy. Dokter yang sejak tadi berdiri di sisi ranjang memperhatikan kondisi Pak Rahman dengan sorot mata yang berbeda dari sebelumnya. Ia bukan hanya melihat seorang pasien kritis, tapi seorang ayah yang sedang menuntaskan amanah terakhirnya di dunia.
“Dokter…” suara Pak Rahman terdengar sangat lemah. “Tolong… bantu saya.”
Dokter mendekat dan berlutut sedikit agar sejajar dengan wajah Pak Rahman.
“Iya, Pak Rahman. Kami di sini.”
Pak Rahman menelan ludahnya dengan susah payah. Dadanya naik turun tidak beraturan.
“Saya ingin… menikahkan anak saya sekarang,” katanya dengan terbata bata. “Di sini… sebelum saya benar-benar… pergi.”
Ruangan itu kembali hening. Bahkan suara monitor jantung terdengar lebih pelan dari biasanya dan membuat dokter menghela napas panjang. Ia menoleh pada suster di sampingnya. Mata mereka sama-sama berkaca-kaca.